Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 45 : Memperdayai


__ADS_3


"Hahahaha haahaahaa hahahaha... Bagus Tanti... Aku benar-benar menyukai cara kerja kamu."


Suara gelak tawa Karta menggema memenuhi ruang tamu miliknya. Suara tawa yang sedari tadi tiada henti Karta serukan, tatkala melihat gadis pujaan hatinya kini telah berhasil ia dapatkan. Ya, setelah sampai di kediamannya, Karta sengaja menempatkan Mara di sebuah kamar yang terlihat begitu mewah. Dan saat ini ia duduk menemui Tanti untuk menyelesaikan semua yang telah ia janjikan kepada wanita paruh baya itu.


Tanti dan juga Puspa juga tiada henti tertawa. Keduanya terlihat begitu puas, karena kali ini pekerjaan mereka sukses besar.


"Terimakasih banyak untuk apresiasinya, Juragan. Seperti yang saya janjikan kepada Juragan, bahwa saya akan membawa Mara di hadapan Juragan." Tanti menjeda sejenak ucapannya sembari tersenyum manis. "Untuk uang lima milyar yang telah menjadi kesepakatan kita bagaimana, Juragan?"


Karta terbahak. Ia memanggil salah satu anak buahnya dan memintanya untuk mengambil sebuah tas berisi uang yang telah ia siapkan. "Tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."


Setelah sang anak buah membawa sebuah tas berisi uang senilai lima milyar, gegas Karta serahkan kepada Tanti. "Ini uang lima milyar yang telah aku janjikan. Saat ini kalian benar-benar telah menjadi orang kaya."


Tanpa malu-malu, Tanti menerima tas pemberian Karta itu dan dengan bersemangat ia membukanya. Matanya terbelalak sempurna. Bibirnya menganga lebar dan membentuk huruf O. Tidak hanya dia seorang, Puspa pun juga memasang ekspresi wajah yang sama. Ini merupakan kali pertama bagi keduanya melihat secara langsung wujud uang cash senilai lima milyar di hadapan mereka.


"Juragan, apakah ini semua asli?" ucap Tanti sambil mengambil beberapa gepok uang dari dalam tas itu dan memperhatikan dengan lekat.


Karta hanya tergelak pelan. "Itu sudah pasti. Semua harta yang aku miliki tidak ada yang tipu-tipu. Jadi aku bisa memastikan bahwa itu semua adalah asli."


"Ya Tuhan... Ini banyak sekali Bu. Kita benar-benar telah menjadi orang kaya," celetuk Puspa dengan wajah berbinar.


"Betul sekali itu Pus. Dengan uang ini kita bisa menjalani hari-hari kita dengan penuh kebahagiaan dan kemewahan."


"Betul Bu. Aku sudah tidak sabar untuk bisa sepenuhnya menikmati uang ini."


Tanti tersenyum simpul. Ia tautkan pandangannya ke arah Karta. "Juragan, karena tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri terlebih dahulu. Setelah ini, saya maupun anak saya ingin menikmati uang lima milyar ini."


Sembari mengepulkan asap dari pipa rokok yang ia hisap, Karta menanggapi santai ucapan wanita di depannya ini. "Silakan nikmati hasil kerja keras kalian. Dan selamat bersenang-senang."


Tanti mengangguk mantap. "Terimakasih banyak Juragan. Kalau begitu saya pamit undur diri. Juragan juga selamat bersenang-senang dengan gadis itu. Saya bisa menjamin bahwa Mara masih bersegel, pastinya bisa membuat Juragan lebih bahagia."

__ADS_1


"Hahahaha... Hahahaha... Benar yang kamu katakan. Memang itulah yang aku cari. Gadis bersegel."


Tanti dan Puspa bangkit dari posisi duduknya. Kemudian keduanya pamit undur diri untuk keluar dari rumah Karta. Setelah itu bayang tubuh kedua manusia itu hilang di balik pintu.


***


"Tuan mencari keberadaan gadis yang beberapa hari sempat bersama dengan Tuan?"


Selepas pulang dari kediaman Karta, Puspa dan Tanti bergegas menjalankan rencana mereka untuk mendekati Dewa. Entah apa yang terjadi dengan ibu dan anak itu, rasa-rasanya setiap apa yang menjadi sumber kebahagiaan Mara, ingin mereka rampas semua tanpa sisa. Oleh karena itu setelah berhasil menyerahkan Mara ke hadapan Karta, Tanti dan Puspa melanjutkan rencana mereka dengan mencoba menarik perhatian Dewa.


Dewa yang masih duduk termenung sembari menatap gulungan-gulungan ombak yang ada di hadapannya ini hanya sedikit melirik ke arah Tanti dan Puspa berada. Setelah itu ia kembali fokus dengan laut lepas yang terbentang di hadapannya ini.


"Kalian siapa? Dan ada hubungan apa kalian dengan gadis itu?"


Tanti dan Puspa saling melempar pandangan. Setelah itu keduanya sama-sama tersenyum simpul. Bagi mereka inilah waktu yang tepat untuk bisa mempengaruhi lelaki dewasa dan tampan yang sedang terduduk lesu di bibir pantai ini.


"Kami adalah tetangga Mara. Kemarin, tanpa sengaja kami sempat melihat kebersamaan Tuan dengan gadis itu. Hal itulah yang membuat saya merasa iba kepada Tuan," ucap Tanti mencoba memancing rasa ingin tahu yang dimiliki oleh Dewa.


"Apa maksud kalian?"


Tanti menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan. "Begini Tuan, di kampung saya Mara terkenal dengan sebutan gadis yang licik meskipun wajah dan perilakunya terkesan polos."


Dahi Dewa mengernyit. "Licik? Maksud kamu?"


Tanti berupaya sebaik mungkin untuk merangkai kata-kata agar bisa membuat Dewa percaya. Layaknya seorang penulis novel, ia mulai mengarang cerita seperti yang ia mau.


"Juragan Karta sudah sejak lama menaruh hati kepada Mara, dan ia bermaksud untuk menikahi gadis itu. Suatu hari, juragan Karta datang menemui ayah Mara untuk meminang secara langsung gadis itu. Keduanya pun menyetujuinya, namun dengan sebuah syarat."


Tanti sengaja menjeda ucapannya dengan maksud mempermainkan rasa ingin tahu Dewa. Ia benar-benar berharap lelaki ini penasaran.


"Syarat? Syarat apa maksudmu?"

__ADS_1


Tanti tersenyum simpul. "Mara meminta uang sebesar lima milyar kepada juragan Karta sebagai syarat bisa menikahinya."


Dewa mulai terjebak oleh ucapan Tanti. Ia bahkan ingin tahu kelanjutan cerita dari wanita paruh baya yang tiba-tiba datang menemuinya ini. "Lalu?"


"Beberapa hari yang lalu, juragan Karta datang dengan membawa sejumlah uang yang diminta oleh Mara sebagai syarat menikah. Namun setelah uang itu berhasil ia dapatkan, gadis itu kabur dengan membawa uang itu dan juga ayahnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Mara melarikan diri bersama salah satu orang kepercayaan juragan Karta."


"Orang kepercayaan juragan Karta? Siapa dia?"


"Lelaki itu bernama Pramono. Tanpa diketahui oleh banyak orang, ternyata Mara diam-diam memiliki hubungan khusus dengan lelaki yang bernama Pramono dan secara diam-diam pula mereka menyusun rencana untuk membawa kabur uang lima milyar itu. Dan malam itu Mara, ayahnya dan juga Pramono benar-benar menjalankan rencana mereka."


Kedua bola mata Dewa membulat penuh. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut wanita yang berada di hadapannya ini. Juragan Karta, Pramono dan sang ayah benar-benar sama persis dengan sepenggal cerita yang sempat diceritakan oleh Mara. Namun Dewa sendiri belum bisa memastikan kebenarannya.


Dewa masih tak bergeming sedikitpun. Ia mencoba untuk mencerna kata demi kata yang telah diucapkan oleh wanita paruh baya ini. Namun semakin ia berupaya untuk mencerna, maka yang tersisa hanyalah sebuah pembenaran dari semua yang terucap dari bibir wanita paruh baya itu. Semua yang diucapkan oleh wanita ini benar-benar masuk akal.


"Dan apakah Tuan tahu mengapa Mara menghilang?"


Dewa terkesiap. "Memang alasan apa yang membuatnya tiba-tiba menghilang?"


"Beberapa saat yang lalu, saya melihat Pramono datang menjemput Mara, dan mereka pergi begitu saja. Mungkin, Mara sudah berhasil memperoleh banyak keuntungan dari Tuan sehingga ia memutuskan untuk menghilang dari hadapan Tuan. Dan saya rasa, Pramono juga sudah menemukan tempat yang layak, yang bisa ia gunakan untuk hidup bersama Mara. Tentunya sambil menikmati uang lima milyar yang mereka dapatkan dari juragan Karta itu."


Dada Dewa seketika bergemuruh, layaknya sebuah ombak besar yang bergulung-gulung memecah pantai. Dalam kepalanya dipenuhi oleh kekalutan yang luar biasa. Mendengar penuturan Tanti, ia semakin larut dalam ekspektasinya sendiri bahwa Mara memang lah gadis yang pura-pura polos untuk bisa mengambil keuntungan darinya.


Rahang Dewa terlihat mengeras, dan tangannya mengepal. Ternyata seorang nona asing yang baru beberapa hari ia kenal ini bisa menjungkirbalikkan serta memporak-porandakan hati dan juga dunianya dalam waktu sekejap. Rasa simpati dan mungkin setitik rasa cinta yang sempat hadir untuk gadis itu, kini seketika berubah menjadi rasa benci hingga ke sudut hatinya yang paling dalam.


Tanpa ia sadari bahwa wanita paruh baya yang berada di hadapannya ini bersorak gembira di dalam hati, karena telah berhasil memperdayai seorang lelaki bernama Rangga Danabrata Dewandaru.


.


.


. bersambung....

__ADS_1


Mara masih terkena efek obat bius yang diberikan oleh Tanti, jadi ia masih belum bisa muncul di part ini ya Kak.. Hehehehehe... Inshaallah di part selanjutnya, gadis itu akan kembali hadir 😘😘


__ADS_2