Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 142 : Keliling Kota


__ADS_3

"Mas.... Mengapa sedari tadi mie ayam pak Kliwon tidak kamu temukan juga? Anak kita sudah sangat lapar, Mas!"


Menaiki mobil pribadi miliknya, Dewa dan istri sejak pukul dua siang tadi berkeliling kota, mencari warung mie ayam. Di kota ini banyak yang menjual mie ayam namun hingga pukul lima sore, mie ayam pak Kliwon seperti yang diinginkan oleh sang istri belum juga ia dapati. Dewa hampir menyerah. Namun atas nama cinta yang ia persembahkan untuk istri dan calon anaknya, lelaki hampir berusia kepala empat itu tetap bersemangat menyusuri setiap ruas jalan dan setiap sudut tempat yang berada di kota ini. Hanya untuk mencari warung mie ayam yang pemiliknya bernama pak Kliwon.


Dewa menghentikan laju mobilnya. Ia tautkan pandangannya ke arah wajah sang istri yang terlihat sedikit kesal itu. Sampai saat ini Dewa masih belum bisa memahami jika sedang ngidam, keinginan yang aneh-aneh seperti ini adalah keinginan siapa? Calon anaknya? Atau sang istri? Masa iya jika merupakan keinginan sang anak, anaknya itu bisa mengenal nama Kliwon dari mana? Padahal nama ayahnya saja tidak ia kenal. Sungguh sangat sulit dilogika.


"Sayang, kita ganti nama saja ya. Jangan pak Kliwon. Mungkin pak Budi, pak Rudi, pak Sardi, atau pak Didi yang sebelumnya sudah kita datangi. Dengan begitu anak kita sudah bisa menikmati mie ayam, Sayang."


Dengan wajah sedikit memelas, Dewa mencoba kembali bernegosiasi dengan sang istri. Berharap ia melupakan nama Kliwon dan menggantinya dengan nama yang lain. Dengan begitu, ia tidak perlu lagi dipusingkan dengan permintaan sang istri yang sedikit aneh ini.


Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, aku tidak mau. Aku maunya makan mie ayam yang penjualnya bernama pak Kliwon. Tidak mau yang lain."


Dengan bibir sedikit mengerucut dan sembari bersedekap di dada, wanita itu tetap tidak mau untuk bernegosiasi dengan sang suami. Hal itulah yang semakin membuat Dewa hanya bisa mengelus dada untuk meluaskan kesabarannya.


Ya Tuhan, sebenarnya apa yang menarik dengan nama Kliwon? Sampai-sampai istri dan anakku begitu mengidolakannya? Mengapa tidak nama Dewa saja sih? Dengan begitu aku bisa membuatkan mie ayam untuk mereka.


Dewa sibuk bermonolog dalam hati. Saking sibuknya, ia sampai tidak sadar jika sedari tadi Mara menatap lekat wajahnya.


"Mas... Kok malah bengong? Sebenarnya kamu itu sayang tidak sih sama aku dan calon anak kita?" Mara merengek sembari mencubit perut Dewa. Cubitan sang istri itulah yang membuatnya tersentak seketika.


"Eh? Apa Sayang? Kamu bicara apa?" Dewa bertanya sembari mengerjabkan mata. Calon papa itu seperti tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.


Mara mendengus lirih. "Sebenarnya kamu itu sayang tidak sih Mas sama aku dan calon anak kita?"


Dewa tersenyum simpul. Perlahan, ia tarik lengan tangan Mara dan ia bawa ke dalam pelukannya. "Kok pakai tanya sih Sayang? Ya jelas aku sayang dan cinta sama kamu dan calon anak kita ini. Apa lagi yang masih membuatmu ragu Sayang?"


"Kalau sayang, ayo kita cari mie ayam pak Kliwon, Mas. Aku sudah sangat lapar."


Dewa mencoba untuk tersenyum meski sedikit menahan rasa gemas dalam hati. Dengan penuh sayang lelaki itu mengecup pucuk kepala sang istri. "Ya sudah, ayo kita keliling lagi Sayang. Semoga sebentar lagi kita menemukan mie ayam pak Kliwon ya."


Mara kembali mengangguk girang. Seketika rona wajahnya kembali berbinar. "Ayo Mas, ayo! Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bersegera menikmati mie ayam pak Kliwon."


Ya Tuhan, bisa sebahagia ini istriku melihat aku bersemangat untuk mencari mie ayam pak Kliwon. Ahhhhh... aku merasa bersalah jika sampai tidak dapat menemukan mie ayam pak Kliwon itu.


***


Sudut-sudut kota telah dilewati oleh Dewa. Kini, ia arahkan laju kemudinya ke area pinggiran kota. Sudut tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Air langit mulai turun perlahan, yang membuat hawa dingin terasa semakin menusuk tulang.


Sorot mata Dewa menangkap sebuah warung mie ayam tenda yang terletak tidak jauh dari posisi mobilnya saat ini. Perlahan, ia menginjak pedal gas untuk bisa mendekat ke arah warung mie ayam itu. Setelah posisi mobilnya tepat berada di depan warung tenda itu, Dewa menghentikan laju kendaraannya.

__ADS_1


'Mie Ayam pak Edi'


Tulisan itulah yang terpasang di tenda warung mie ayam itu.


"Aahhhh pak Edi... Bukan pak Kliwon!" monolog Dewa lirih.


Dewa melirik ke arah samping, dan terlihat sang istri tengah tertidur pulas dan larut dalam lautan mimpinya.


"Ahaaa! Aku punya ide bagus!"


Entah apa yang dialami oleh Dewa, tiba-tiba di dalam otaknya muncul sebuah ide yang begitu cemerlang. Posisi Mara yang tengah terlelap, akan ia gunakan untuk menjalankan rencananya itu.


Dengan gerak perlahan, Dewa membuka pintu mobil dan mulai berjalan ke arah penjual mie ayam ini. Bapak dan ibu paruh baya, nampak duduk bersisihan dan terlihat seperti sedang melepas lelah.


Dewa melirik ke arah gerobak yang ada di depannya. Sudah tidak nampak mie yang terpajang. Lelaki itu berasumsi bahwa mie ayam ini sudah sold out. Namun tidak tidak ada salahnya juga jika ia bertanya terlebih dahulu, barangkali masih ada sisa yang masih belum terjual.


"Selamat sore Pak, Bu... Saya mau beli mie ayam. Apakah masih ada?"


"Sudah habis Pak," jawab si ibu singkat.


Wajah Dewa berubah sedikit pias mendengar si ibu mengatakan kata 'habis'. Ia seperti berputus asa karena tidak tahu lagi kemana harus mencari satu mangkuk mie ayam untuk sang istri. Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam petang, jadi sangat wajar jika stok mie ayam ini sudah habis.


"Benarkah sudah habis Pak, Bu? Apakah tidak ada sisa satu porsi saja?" Dewa berujar sembari berharap jika di dalam gerobak penjual mie ayam ini masih ada sisa yang belum diolah.


Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Pak, istri saya sedang ngidam ingin makan mie ayam yang penjualnya bernama pak Kliwon. Jadi, saya rasa tempat yang paling tepat adalah warung milik Bapak ini."


Bapak dan ibu penjual itu saling melempar pandangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa lelaki ini buta huruf. Sang istri menginginkan mie ayam pak Kliwon tapi ia malah mendatangi pak Edi. Jelas-jelas jauh berbeda.


"Tapi nama saya Edi, Pak, bukan Kliwon. Apa Bapak tidak bisa membaca? Ckkkccckkk sayang ya, kemana-mana naik mobil tapi tidak bisa membaca. Atau jangan-jangan Anda ini hanya sopir pribadi?"


Dewa terperangah. Ingin rasanya ia menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Namun, kali ini bukanlah waktu yang tepat. Saat ini ia harus berhasil untuk membujuk penjual mie ayam ini untuk menjual sisa mie yang masih ia simpan.


"Saya benar-benar membutuhkan mie ayam itu Pak. Tolong jual mie ayam itu untuk saya. Karena hanya tinggal warung Bapak dan Ibu inilah yang menjadi satu-satunya harapan saya."


"Kalau saya jual mie ayam itu, lalu bagaimana dengan nama yang tertuang di tenda depan itu Pak? Karena suami saya ini bernama Edi, bukan Kliwon," sambung si ibu sedikit kebingungan.


"Saya punya caranya Pak, Bu. Yang jelas saya minta tolong, jual sisa mie ayam itu untuk saya."


Sepasang suami istri itu masih saling melempar pandangan. "Tapi, sisa mie ayam itu untuk anak-anak kami di rumah, Pak."

__ADS_1


"Bapak tenang saja. Satu porsi mie ayam yang Bapak dan Ibu jual untuk saya, akan saya ganti dengan beraneka makanan. Jadi anak-anak Bapak dan Ibu tidak hanya makan mie ayam saja."


Memang Dewa rajanya bernegosiasi kecuali di hadapan sang istri. Jika dengan relasi-relasinya lelaki itu sangat pandai bernegosiasi namun ketika di hadapan sang istri, hemmmm jangan sekali-kali bertanya ya para pembaca, karena sudah pasti ia kalah telak. Sebenarnya bukan kalah, melainkan mengalah. Jika ia tidak mengalah pastinya tidak akan pernah mendapatkan jatah untuk menjamah.


Pada akhirnya penjual mie ayam ini mengangguk bersamaan. "Baiklah Pak. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk mengganti nama Edi yang terpampang di tenda itu?"


"Tenang Pak. Itu biar menjadi urusan saya!"


***


"Sayang... Ayo bangun!"


Dengan sebuah kecupan lembut yang mendarat di bibir Mara, Dewa mencoba membangunkan istrinya yang tengah terlelap ini.


Mara sedikit menggeliat dan mulai mengerjabkan mata. Tak selang lama, wanita yang tengah hamil enam bulan itu berhasil meraih kesadarannya. "Mas, ini jam berapa? Mengapa sudah gelap?"


Dewa hanya mengulas sedikit senyumnya. "Jam setengah tujuh malam Sayang."


Mara terperanjat. "Apa? Jam setengah tujuh? Dan kamu belum menemukan mie ayam pak Kliwon, Mas?"


Dewa tergelak. Buru-buru ia mencubit hidung mungil milik istrinya ini dengan gemas, karena bangun dari tidur pun, yang diingat adalah mie ayam pak Kliwon.


"Lihatlah di warung tenda yang ada di sampingmu Sayang!"


Gegas, Mara menoleh ke arah samping. Dan seketika kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna diiringi dengan mulut yang menganga lebar. Saat membaca nama pak Kliwon di tenda itu. "Mas, kamu benar-benar menemukannya?"


Dewa mengangguk mantap. "Tentu Sayang, aku menemukannya!"


Mara kembali menghadap ke arah Dewa dan kemudian memeluk tubuh suaminya ini dengan erat. "Terimakasih banyak Mas, terima kasih!"


Hati Dewa menghangat. Dengan lembut, ia usap punggung istrinya ini. "Sama-sama Sayang. Kalau begitu, ayo kita turun. Bisa kamu nikmati mie ayam pak Kliwon ini!"


"Ayo Mas!"


Semoga tulisan Kliwon yang aku tempel untuk menutupi nama Edi menggunakan kertas, spidol hitam dan aku tempelkan menggunakan double tape itu tidak copot, Tuhan. Jika copot bisa panjang urusannya ini.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Untuk para pembaca yang bertanya siapa Wisnu dan Dira, mohon bersabar ya... Nanti pasti akan saya munculkan, tepatnya menjelang novel ini tamat... Hehehe 😉


__ADS_2