
"Ibu...?"
Untuk kali pertama, Mara memanggil wanita yang tengah berjalan lontang-lantung di pinggir jalan itu dengan sebutan ibu. Meski tubuh wanita itu nampak kurus kering, pakaian yang ia kenakan begitu lusuh, dan ditambah dengan kondisi badannya yang basah kuyup, namun tidak membuat Mara lupa akan siapa sosok ini. Sosok wanita yang pernah menjadi istri sang ayah dan seorang wanita yang membelenggu kebebasan yang ia miliki, memaksanya menjadi istri dari seorang laki-laki yang jauh lebih pantas untuk menjadi ayahnya.
Di dalam mobil, wanita itu menatap wajah Mara dengan tatapan kosong. Terdiam, membisu dan menampakkan wajah tanpa ekspresi sama sekali. Namun, tetiba wanita itu terbahak.
"Hahaha haahaahaa salon.... Spa.... Salon... spa..."
Dewa dan Mara saling menautkan pandangannya. Begitu terkejut dengan apa yang menjadi respon wanita paruh baya ini.
"Ibu...?"
"Hahaha haahaahaa kamu pasti mau perawatan di salon milikku kan? Ayo masuklah, salon ini salon terbaik yang ada di kota ini!"
Dewa terperangah mendengar apa yang diucapkan oleh wanita ini. Ia menautkan pandangannya ke arah sang istri dan berbisik lirih. "Sayang, sepertinya ibu tirimu ini mengalami gangguan jiwa. Kita tinggal di sini saja ya."
Mara menatap nana yar wajah wanita yang terlihat begitu kacau ini. Tanpa terasa setetes bulir bening menetes dari pelupuk matanya. "Jangan Mas. Jangan tinggalkan ia di tempat ini. Tempat ini pasti akan sangat berbahaya untuknya."
"Tapi mau kita bawa kemana ibu tirimu ini Sayang? Masa iya harus kita bawa ke rumah? Oma pasti akan marah. Apalagi jika tahu kalau ibu tirimu ini pernah berbuat jahat kepada cucu menantu kesayangannya."
Mara merotasikan kedua bola matanya. Mencoba mencari sebuah jalan keluar terbaik untuk ibu tirinya ini. Meski wanita itu pernah berperilaku jahat, namun di sudut hati terdalamnya ia tidak tega meninggalkan sang ibu tiri di tempat yang asing seperti ini.
"Mas, antar aku ke rumah sakit jiwa. Kita bawa ibu ke sana. Aku sungguh tidak tega jika harus meninggalkannya di tempat ini."
Lagi, bulir-bulir bening itu kembali lolos dari pelupuk mata Mara. Jika melihat wajah ibu tirinya ini, tetiba memory otaknya berkelana jauh ke depan. Ia takut jika nanti di masa tuanya ia akan mengalami hal seperti ini. Ditelantarkan oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
"Kamu yakin Sayang? Apa tidak sebaiknya kita tinggal di sini saja? Apa kamu tidak merasa sakit hati dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita ini? Dia lah yang hampir membuatmu jatuh ke dalam pelukan juragan Karta loh Sayang!"
Memory otak Dewa kembali memutar ulang kejadian saat ia akan melamar Mara secara langsung. Sebuah kejadian yang berakhir dengan kesalahpahaman yang hampir membuatnya kehilangan wanita yang ia cinta. Akibat karangan cerita bohong wanita inilah yang membuat Dewa dan sang istri larut dalam kesalahpahaman itu.
Mara menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. "Meskipun ibu adalah wanita jahat, namun setidaknya perbuatan yang pernah ia lakukan kepadaku bisa menjadi jalan kebahagiaan untukku, Mas!"
Dewa mengerutkan keningnya. "Maksud kamu bagaimana Sayang?"
Tangan Mara terulur untuk menyentuh pipi Dewa. Dengan lembut, ia mengusap pipi suami tercintanya ini. "Jika saat itu aku tidak kabur dari kejaran anak buah juragan Karta, pastinya kita tidak akan pernah dipertemukan bukan?" Mara mengecup jemari Dewa dengan intens. "Ternyata, melalui perbuatan jahat ibu tiriku ini, Tuhan menitipkan satu kebahagiaan yang lain. Yaitu menjadikanmu sebagai suamiku, Mas. Suami yang memiliki rasa cinta yang begitu besar. Dan menjadikan aku wanita yang paling bahagia karena mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang darimu ini."
Hati Dewa menghangat. Ia baru ingat bahwa istrinya ini memang berhati malaikat. Ia selalu saja bisa mengambil satu sisi positif dibalik semua kesakitan yang ia rasakan. Dewa menarik tubuh Mara. Ia peluk istrinya ini dengan erat. Ia kecup pucuk kepala sang istri dengan penuh sayang. "Begitu pun aku Sayang. Kehadiranmu benar-benar menjadi jalan kebahagiaanku."
Mara mengangguk di pelukan Dewa. "Jadi bagaimana? Kamu setuju kan Mas, kalau kita bawa ibu ke rumah sakit jiwa?"
"Terimakasih banyak Mas... Terimakasih."
Dewa melerai pelukannya. Ia membungkukkan tubuhnya untuk bisa menjangkau perut Mara. Perlahan, ia berikan sebuah kecupan lembut di perut istrinya ini. "Semoga kelak kamu mewarisi sifat-sifat mama ya Sayang. Menjadi seseorang yang berhati besar dan berhati malaikat. Yang pasti akan membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya selalu merasa bahagia."
"Aamiin... Semoga ya Mas."
***
"Saya titip salah satu anggota keluarga saya di sini ya Dok. Semoga di sini keadaannya bisa semakin membaik."
Di sebuah rumah sakit khusus untuk para penderita gangguan jiwa, Mara memutuskan untuk menitipkan sang ibu tiri. Setidaknya di tempat ini, kehidupan sang ibu tiri bisa lebih terurus daripada harus lontang-lantung di pinggir jalan. Ia juga yakin jika suatu saat nanti, keadaan wanita paruh baya itu akan kembali seperti semula.
__ADS_1
"Baik Bu, saya akan berupaya untuk membuat kerabat Anda ini kembali seperti sedia kala."
"Terimakasih banyak Dok. Terimakasih." Mara menyerahkan satu lembar kertas kecil untuk Dokter itu. "Ini kartu nama saya, Dok. Jika ada apa-apa dengan kondisi kerabat saya ini, Dokter bisa langsung menghubungi saya."
"Baik Bu, akan saya save kartu nama ini. Nanti akan saya kirimkan progres kondisi kerabat Anda ini secara berkala via WhatsApp."
"Terimakasih banyak Dok. Kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu."
"Silakan Pak, Bu!"
Dewa dan Mara beranjak dari posisi duduknya. Perlahan, mereka mengayunkan langkah kaki mereka bermaksud untuk kembali pulang. Ketika melintas di depan ruang rawat Tanti, Mara hentikan sejenak langkah kakinya. Wanita itu tertegun melihat sosok Ibu tiri yang terlihat begitu menyedihkan sekali ini.
"Aku sudah ikhlas memaafkan semua perbuatan yang pernah engkau lakukan terhadapku, Bu. Kini semoga kehidupanmu jauh lebih baik lagi daripada berada di luar sana."'
Sepasang suami istri itu kembali melanjutkan langkah kaki mereka. Tatkala tubuh Dewa dan Mara mulai hilang di balik pintu, Tanti menatap nanar punggung keduanya. Tanpa permisi, tetes-tetes air mata Tanti meluncur bebas dari matanya. Ia hanya bisa terdiam. Dan mungkin air matanya lah yang berbicara bahwa ia tengah berada dalam sebuah penyesalan yang begitu mendalam.
"M-Mara...."
.
.
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..
__ADS_1