Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 98 : Undangan


__ADS_3


Dewa memandang dengan teduh wajah wanita yang berada di bawah kungkungan tubuhnya yang polos ini. Bibirnya tiada henti melukiskan senyum termanis sesaat setelah pelepasan itu berhasil ia raih. Otot-otot tubuh yang sebelumnya menegang karena hasrat yang bergelora, kini perlahan mulai melemas dibarengi dengan puncak kenikmatan yang ia rasakan. Di raut wajah lelaki dewasa ini tidak ada yang terpancar, selain pancaran kebahagiaan yang nampak begitu jelas.


Sedangkan Mara, wanita itu juga hanya bisa tersenyum manis. Perlahan ia usap bulir-bulir peluh yang masih membasahi wajah sang suami. Di mata Mara, peluh-peluh itu justru semakin membuat wajah Dewa nampak jauh lebih tampan. Gurat-gurat ketampanan lelaki itu nampak jauh lebih tegas.


Cup....


Dengan intens, Dewa mengecup bibir Mara. Mencoba mencurahkan segala rasa cinta yang bergelora dalam jantung hatinya. Rasa cinta yang tumbuh begitu pesat, layaknya rumput-rumput liar yang semakin diinjak maka semakin tumbuh lebat. Lelaki itu semakin hanyut dalam perasaannya kepada sang kekasih hati. Sebentuk rasa cinta yang berhasil menyeretnya ke dalam kebahagiaan yang tiada ingin ia akhiri.


"Terimakasih Sayang. Ini benar-benar nikmat. Tubuhmu seakan semakin menjadi candu untukku. Dan jika aku tidak mendapatkannya darimu, rasa-rasanya aku akan mati."


Mara hanya tertawa renyah mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Dewa. Wanita itu menarik tengkuk Dewa dan juga menghadiahkan sebuah kecupan penuh cinta di bibir suaminya ini. "Sama-sama Mas. Aku juga bahagia jika bisa membuatmu bahagia."


"Aaaaaahhh... Sungguh ucapanmu itu begitu membahagiakan aku Sayang."


Mara hanya menganggukkan kepalanya. "Mas.... Bisakah kamu segera menyingkir dari tubuhku? Berat!"


Dewa terkekeh geli. Lelaki itupun menggeser tubuhnya lalu berbaring di sisi sang istri. Meskipun hanya beralaskan papan kayu, namun rasa-rasanya tidak mengurangi kenikmatan yang ada. Mereka serasa berada di hotel bintang lima dengan fasilitas lengkap. Dewa menarik kain pantai untuk menutupi tubuh polos keduanya. Mereka mengambil posisi miring untuk dapat saling berhadapan. Dan sejenak mengistirahatkan tubuh mereka yang terasa sedikit lelah karena pergumulan yang mereka lakukan.


"Hmmmmm badanku lengket semua Sayang. Gerah juga. Kita mandi di mana ya?"


Mara membenarkan apa yang diucapkan oleh Dewa. Tubuh wanita itu juga terasa begitu lengket karena keringat. Ia merotasikan kedua bola matanya. Mencoba memikirkan ke mana mereka harus membersihkan tubuh.


"Bagaimana kalau kita nyemplung ke danau saja Mas? Kita bisa sambil berenang di sana!"


Dewa tergelak. Buru-buru ia cubit hidung mungil istrinya ini dengan gemas. "Apa kamu mau jika suami tampanmu ini dimakan buaya Sayang?"


"Memang ada buaya nya ya Mas?" Masa iya di danau buatan seperti ini ada buayanya?"


Masih dengan tatapan penuh keheranan, Mara mencoba melontarkan pertanyaan itu. Ia tidak percaya jika ada buaya di danau ini.


Dewa terkekeh. "Jika tidak ada buaya, aku takut jika penunggu danau ini jatuh cinta kepadaku Sayang. Kamu tahu sendiri bukan seberapa besar ketampanan suami kamu ini? Yang dapat memukau siapapun yang melihatnya?"


"Termasuk penunggu danau?"


"Ya bisa jadi seperti itu Sayang. Memang kamu mau kalau suami tampanmu ini diseret ke dunia lain dan terpisah darimu?"


"Uuuhhhh jangan lah. Kalau kamu diseret ke dunia lain, lalu yang menemaniku tidur siapa Mas?"

__ADS_1


"Biar ditemani sama genderuwo, hahahaha!"


"Iiihhh... Mas..... Kamu ini!"


Bibir Mara sedikit mengerut yang justru semakin membuat wajahnya semakin menggemaskan. Buru-buru Dewa menarik tubuh Mara, membawanya ke dalam pelukan. Berkali-kali Dewa menghujani sang istri dengan kecupan-kecupan lembut di pucuk kepalanya.


"Untuk sementara kita tidak perlu mandi Sayang. Peluh kita ini cukup kita usap dengan tisu....magic!"


"Tisu magic? Tisu macam apa itu Mas?"


Dewa mendekatkan bibirnya di telinga sang istri. Lirih ia berkata. "Tisu yang membuat milikku tidak bisa tertidur. Bagaimana? Mau?"


Kedua bola mata Mara membulat sempurna. "Mas Dewaaaaaaaa....!!!"


"Hahaha haahaahaa..."


***


"Lihatlah! Bahkan sekarang Dewa sudah kembali menikah. Dan apakah kamu tahu? Jika istri Dewa kali ini terlihat jauh lebih cantik darimu?"


Sembari melempar sebuah undangan berwarna merah mengkilap, Arman berceloteh panjang lebar di hadapan sang anak, Dita. Dita yang melihat undangan merah itu jatuh di lantai, gegas memungutnya dan mencoba membaca dengan seksama setiap kalimat yang terangkai dalam undangan itu.


"I-ini tidak mungkin Pa. Ini pasti hanya rekayasa!"


Arman menatap sinis anak perempuannya ini. "Rekayasa? Rekayasa seperti apa maksudmu?"


"Bisa saja ini semua hanya akal-akalan mas Dewa kan Pa? Papa tahu sendiri bukan jika mas Dewa begitu mencintaiku? Aku rasa tidak mungkin secepat ini mas Dewa menikahi wanita lain!"


Dengan penuh percaya diri, Dita mengutarakan argumentasinya. Wanita itu masih menganggap bahwa sampai ini sang mantan suami masih begitu mencintainya. Sehingga membuatnya berpikir jika pernikahan mantan suaminya ini hanya salah satu rekayasa untuk menjadikan sebuah pelarian dari luka yang ia rasakan.


Arman berdecih. "Semakin kamu mengutarakan argumentasi justru semakin membuatmu terlihat seperti wanita tidak tahu malu Ta! Papa benar-benar tidak habis pikir mengapa kamu memiliki pemikiran untuk bermain serong dengan security di rumah suamimu sendiri? Dan kini apa yang kamu dapat? Kamu bahkan tidak mendapatkan apa-apa bukan?"


Dita mencoba mencerna perkataan sang papa. Memory otaknya seperti merekam ulang kejadian yang ia lewati bersama Damar beberapa minggu yang lalu.


Flashback On...


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu miskin seperti ini, Mas!"


Dita mendaratkan bokongnya di kursi ruang tamu sebuah rumah yang nampak begitu kecil dan sumpek. Jauh berbeda dengan rumah sang mantan suami yang mungkin bisa dijadikan arena bermain sepak bola.

__ADS_1


Damar menatap penuh tanya wajah wanita yang dulunya merupakan majikannya dan saat ini menjadi orang terkasihnya. "Bukankah dulu aku pernah mengatakan Sayang?"


Dahi Dita mengernyit. "Mengatakan apa? Apa yang kamu katakan kepadaku? Bahkan kamu tidak mengatakan bahwa kamu semiskin ini!"


"Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku ini tidak memiliki apa-apa dan hanya kamulah satu-satunya yang aku miliki. Dan bukankah kamu justru menjawab bahwa apa yang aku ucapkan itu terdengar begitu manis di telingamu? Dan kamu juga mengatakan bahwa kamu tidak perduli dengan apapun keadaanku?"


Dita semakin berdecak kesal. Ia tidak pernah menyangka jika jawaban yang ia berikan kepada Damar justru menjadi sebuah bumerang untuknya. Setelah berpisah dari Dewa tanpa membawa satu kekayaan yang Dewa miliki, wanita itu baru sadar jika ia tidak dapat hidup dalam kemiskinan seperti ini. Ternyata hidup dalam kemiskinan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan hidup dalam keadaan tidak pernah dipuaskan oleh sang mantan suami.


"Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini lagi. Aku tidak sanggup!"


Dita kembali beranjak dari duduknya. Namun buru-buru Damar menarik tangan Dita. "Apa maksud dari ucapan kamu itu Sayang?"


Dita membuang nafas kasar. "Aku akan meninggalkanmu Mas. Aku akan pergi dari sisimu!"


Damar teramat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dita. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang, aku tidak mau. Kamu ingat bukan jika kamu tengah mengandung anakku?"


Dita menatap sinis wajah Damar. "Aku tidak menginginkan anak ini Mas. Yang aku butuhkan saat itu hanyalah kepuasan batin. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima kehadiran anak ini!"


"Apa maksudmu Sayang? Apa maksudmu?"


Damar benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Dita. Lelaki itu masih kekeuh untuk menahan Dita pergi dari sisinya.


"Aku akan menggugurkan janin ini Mas. Dan aku akan mencoba kembali kepada mas Dewa!"


"Apa? Tidak, tidak. Tolong jangan lakukan itu Sayang. Aku tidak mau jika kamu sampai menggugurkan buah cinta kita. Aku tidak mau!"


Dita berdecih. Ia menepis lengan tangannya yang digenggam erat oleh Damar. "Persetan dengan cinta itu Mas. Aku tidak perduli. Aku hanya ingin hidupku kembali seperti semula. Berada di dalam gelimang harta yang berlimpah. Dan itu akan aku dapatkan dengan kembali kepada mas Dewa."


Lengan tangan Dita sudah terlepas dari genggaman tangan Damar. Gegas, ia mengambil tas selempang yang berada di atas meja dan kemudian meninggalkan Damar.


Lelaki mantan security rumah Dewa itu hanya bisa terpaku sembari menatap punggung Dita yang sudah mulai hilang di balik pintu.


Flashback off...


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2