
"Jadi maksud saya menemui Ibu kali ini untuk meminang Sekar untuk menjadi istri saya."
Setelah keadaan jauh lebih aman dan dapat Krisna pastikan tidak akan ada lagi kejadian mengerikan yang pernah dilakukan oleh Prasetyo malam itu, Sekar dan juga sang ibu memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Ibu dan anak itu tidak enak hati jika terlalu lama menumpang di rumah yang telah disediakan oleh Krisna.
Krisna bersimpuh di panggung Ambar dengan menundukkan kepalanya, mencoba untuk mengutarakan apa maksud dan tujuan ia menyambangi rumah Ambar di pagi hari ini. Rupa Krisna tidak bermain-main dengan apa yang ia ucapkan. Lelaki itu memenuhi janjinya untuk bersungguh-sungguh mengajak Sekar untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
Kedua netra Ambar berembun tatkala melihat ada seorang laki-laki yang bersimpuh di pangkuannya. Saat-saat seperti ini seakan mengingatkannya pada masa lalu di mana ada seorang lelaki tampan nan gagah yang meminangnya di hadapan orang tuanya. Lelaki yang tak lain adalah ayah Sekar yang kini telah tiada.
Ruang tamu ini mendadak dipenuhi oleh atmosfer penuh rasa haru yang begitu luar biasa. Krisna yang notabene seorang playboy yang di masa lampaunya sering bermain-main dengan wanita, kini bersimpuh di pangkuan seorang wanita bergelar ibu, meminta izin merengkuh anak gadisnya untuk ia jadikan sebagai istri. Sebuah niat baik yang pastinya membuat tersentuh bagi siapapun yang melihatnya.
Ambar menyeka bulir-bulir bening yang sudah mulai membasahi pipinya. Wanita itu nampaknya juga tidak sanggup untuk menutupi rasa bahagia sekaligus rasa haru yang bercampur menjadi satu hingga hanya bisa ia tampakkan melalui air mata yang mengalir dari telaga beningnya itu.
Ambar mengusap kepala Krisna dengan lembut. Ia menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Ibu memberikan restu untukmu, Nak. Ibu merestui niat baikmu untuk memperistri putri Ibu."
"Terimakasih banyak Bu, terimakasih." ucap Krisna masih dalam posisi menundukkan kepalanya di atas pangkuan Ambar.
"Bolehkah Ibu meminta satu hal kepadamu, Nak?"
Krisna mendongakkan wajahnya. Kini pandangannya bersirobok dengan pandangan Ambar. Lelaki itu mengangguk mantap seakan menjadi sebuah isyarat bahwa jangankan satu hal, beberapa hal yang diminta oleh wanita paruh baya itu pasti akan ia kabulkan.
"Katakan Bu. Apa yang Ibu minta dari saya?"
Pandangan mata Ambar kembali menerawang. Mengingat apa yang dialami oleh sang putri satu tahun terakhir ini tepatnya saat dirinya memutuskan untuk menikah dengan Prasetyo, pastinya sedikit banyak menyisakan sebuah trauma. Ambar menarik napas dalam-dalam berupaya untuk menguasai segala rasa haru yang menumpuk di dalam dada.
"Tolong perlakuan putri Ibu dengan baik, Nak. Jangan sekali-kali kamu berperilaku kasar di depan putri Ibu. Ibu sangat paham bahwa Sekar sedikit banyak mengalami sebuah trauma akan kekerasan yang sering ia terima dari ayah sambungnya. Ibu berharap dengan kehadiranmu bisa menjadi penawar akan trauma yang dialami oleh putri ibu."
Satu permintaan yang begitu sederhana namun sejatinya memiliki makna yang teramat dalam. Seiring berjalannya waktu, terkadang seorang suami seringkali lupa bahwa ia memiliki kewajiban untuk selalu berperilaku baik kepada istrinya. Ambar mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Karena satu tahun terakhir ini, ia benar-benar mengalami hal seperti ini. Perangai dan tutur kata baik yang pernah ditampakkan oleh Prasetyo, perlahan mulai berubah hingga menyisakan sosok monster yang mengerikan dan siap untuk membunuhnya pelan-pelan.
Tanpa ragu, Krisna menganggukkan kepalanya. "Saya berjanji Bu. Saya berjanji akan memperlakukan Sekar dengan baik. Meskipun di masa lalu saya juga pernah tertoreh satu perilaku yang kurang baik, namun ketika saya memutuskan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik, saya akan berpegang pada prinsip itu. Saya akan memperlakukan wanita yang menjadi istri saya dengan baik."
__ADS_1
Ambar mengulas sedikit senyumnya. Jika mengingat apa yang telah dilakukan oleh Krisna di malam itu, ia semakin yakin bahwa lelaki yang meminang putrinya ini merupakan sosok lelaki bertanggung jawab dan penuh kelembutan.
"Terimakasih banyak Nak. Jika seperti ini, ibu akan tenang dalam menjalani sisa usia Ibu. Semoga dengan memberikan restu kepadamu, bisa untuk menebus kesalahan Ibu yang telah salah pilih dalam memilih seorang laki-laki yang menjadi ayah sambung untuk Sekar. Satu keputusan yang salah dan mungkin baru dapat Ibu tebus dengan cara mengizinkanmu untuk merengkuh Sekar."
"Saya berjanji Bu, saya berjanji."
Ambar menautkan pandangannya ke arah sang anak yang tengah duduk di salah satu kursi ruang tamu ini. Dibarengi dengan Sekar yang menatap lekat wajah sang ibu hingga kini pandangannya saling bertemu.
"Nak!"
Rasa haru tetiba juga bergelayut manja di hati Sekar. Gadis itu beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri sang ibu. Ikut bersimpuh di pangkuan Ambar di samping Krisna. "Ibu...."
"Maafkan atas apa yang pernah Ibu lakukan terhadapmu, Nak. Apa yang kamu alami selama ini tidak lain juga karena kesalahan Ibu. Kesalahan dalam memilih." Ambar meraup udara dalam-dalam, berupaya untuk mengisi rongga dadanya dengan oksigen. "Kini Ibu bisa tenang. Memberikanmu kepada lelaki seperti nak Krisna ini. Semoga ini semua menjadi awal kebahagiaanmu, Nak."
Sekar mengangguk pelan. "Aamiin, Bu. Sekar pasti akan berbahagia hidup bersama mas Krisna. Sekar juga meminta restu kepada Ibu. Doakan Sekar, agar Sekar bisa menjadi sosok seorang istri yang baik untuk mas Krisna. Sama seperti Ibu yang selalu berperilaku baik di hadapan ayah."
"Itu sudah pasti Nak. Doa Ibu akan senantiasa mengiringi langkah kakimu."
Suara orang yang tengah bertepuk tangan tetiba memenuhi ruangan ini. Memecah segala keheningan yang sempat tercipta di ruang tamu ini. Ketiga orang yang tengah larut dalam suasana haru itu, sontak bersamaan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Prasetyo sudah berdiri di depan pintu sembari menyenderkan tubuhnya di daun pintu yang tengah terbuka itu.
"Wah, wah, wah, ternyata aku ketinggalan berita yang menggembirakan. Ada apa ini? Apa lelaki ini berniat menikahi anak sambungku?"
Krisna beranjak dari posisi bersimpuhnya di pangkuan Ambar. Kini ia berdiri tegak dan berhadapan langsung dengan Prasetyo. Sedangkan Sekar duduk di samping sang ibu.
"Bukan urusan Anda dengan apa yang saya lakukan. Karena Anda sama sekali tidak memiliki keterkaitan apapun terhadap kehidupan Sekar," ucap Krisna dengan lantang.
Prasetyo tersenyum sinis sembari berdecih. "Kamu pikir aku akan melepaskan Sekar untuk menjadi istrimu? Tidak semudah itu wahai anak muda!"
Ambar terkesiap. "Apa maksudmu Mas? Kamu sama sekali tidak berhak untuk melarang nak Krisna untuk menikahi putriku. Kamu sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan kehidupan kami!"
Prasetyo tergelak. "Apa kamu bilang? Kalian tidak memiliki hubungan apapun denganku? Kamu lupa, selama satu tahun ini siapa yang memberikan nafkah untuk kalian?"
__ADS_1
Ambar semakin tersulut emosi. Ia merasa suaminya ini terlalu mengada-ada. Karena sejatinya sang suami jarang memberikan nafkah. Hal itulah yang membuatnya pontang-panting bekerja di salah satu laundry yang berada di dekat rumah dan mengharuskan Sekar juga bekerja.
"Nafkah apa yang kamu maksud Mas? Kamu sama sekali tidak pernah memberikanku nafkah hampir delapan bulan terakhir ini. Jadi apakah kamu tidak merasa malu mengungkit perihal nafkah saat ini?"
"Aku tidak perduli. Aku akan tetap meminta ganti rugi atas apa yang pernah aku keluarkan untuk kalian!"
Krisna berjalan mendekat ke arah Prasetyo. Ia menatap lekat wajah lelaki paruh baya yang ada di hadapannya ini. "Katakan, berapa yang Anda minta untuk mengganti kerugian yang telah keluarkan!"
Prasetyo terbahak. Ia merasa berada di atas angin. Dengan cara seperti ini, ia percaya akan mendapatkan banyak uang secara cuma-cuma. "Berikan aku uang tiga puluh juta. Dengan begitu aku akan ikut merestui pernikahanmu dengan anak sambungku!"
Sekar terkesiap. "Mas, jangan lakukan itu. Lelaki itu hanya ingin memerasmu!"
Krisna menoleh ke arah Sekar, lelaki itu pun hanya mengangguk samar sebagai sebuah isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Krisna kembali menatap Prasetyo sembari mengulurkan tangannya bermaksud untuk membuat kesepakatan dengan Prasetyo. "Deal, saya akan memberikan Anda uang sejumlah tiga puluh juta. Namun harus ada hitam di atas putih terlebih dahulu. Karena saya juga akan meminta satu hal kepada Anda!"
Prasetyo sedikit terkejut karena ternyata pemuda ini sedang melakukan upaya negosiasi dengannya. "Apa yang kamu minta wahai anak muda?"
Krisna mengulas sedikit senyumnya. "Anda harus menandatangani sebuah kesepakatan bahwa setelah uang tiga puluh juta itu Anda dapatkan, Anda tidak akan lagi mengusik ketenangan hidup Sekar dan hidup calon ibu mertua saya!"
Prasetyo nampak sejenak berpikir. Namun tak selang lama, ia pun menyambut uluran tangan Krisna. "Aku setuju. Setelah uang tiga puluh juta itu aku dapatkan, aku tidak akan lagi mengganggu kehidupan Sekar maupun Ambar."
"Deal!" ujar Krisna dengan mantap.
Dasar lelaki tua bo*doh. Mengapa kamu hanya meminta uang senilai tiga puluh juta? Bagiku uang itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan calon istriku. Bahkan tidak hanya tiga puluh juta, lima puluh juta pun sanggup aku berikan untukmu asalkan kamu melepaskan calon istriku dari belenggumu.
.
.
. bersambung...
__ADS_1
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.