
Di dalam kamar pribadi yang temaram, wanita berusia senja itu terlihat tengah duduk di kursi goyang sembari memeluk erat sebuah bingkai foto berukuran sedang. Bingkai foto yang yang di dalamnya terdapat gambar dua lelaki kecil yang dari wajah keduanya memancarkan binar kebahagiaan.
Masa-masa kecil kedua cucu lelakinya yang nampak begitu bahagia. Kepala yang sebelumnya menunduk, ia geser ke arah depan di mana langsung berhadapan langsung dengan taman belakang yang di penuhi oleh pohon cemara kipas yang terlihat begitu indah.
Mengingat pertemuannya kembali dengan sang cucu yang sudah lama meninggalkannya, hanya membuat bulir-bulir bening dari pelupuk matanya lolos begitu saja. Sejatinya, ia tidak ingin menyambut kepulangan sang cucu dengan sambutan yang dingin dan terkesan tidak perduli sama sekali. Namun, apa yang pernah dilakukan sang cucu di masa lalu sungguh hanya membuat wanita berusia senja itu seperti kembali membuka luka lama yang sudah berusaha mati-matian untuk ia tutup rapat.
"Aku paham jika kamu tidak setega itu meninggalkan aku di kala itu, Nu. Namun ternyata kamu tidak cukup memiliki keberanian untuk melawan istrimu, hingga pada akhirnya kamu benar-benar pergi meninggalkanku."
Oma Widuri membuang nafas sedikit kasar. Diusapnya air mata yang sudah mengalir deras dari telaga bening miliknya. "Aku tidak marah, hanya sedikit kecewa dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu, Nu. Kamu memang salah satu sosok seorang suami yang baik dengan selalu melibatkan istrimu dalam mengambil sebuah keputusan, namun sayang keputusan sudah kamu ambil justru hanya membuat hatiku sedikit terluka."
Wanita berusia senja itu mulai bangkit dari posisi duduknya. Ia langkahkan kaki menuju ranjang masih sambil membawa bingkai foto itu. Perlahan, ia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut dan mulai mengistirahatkan tubuhnya.
"Semoga esok, aku sudah bisa bersikap biasa saja di depanmu, Nu. Aku juga merindukanmu, namun kecewa itu masih terasa begitu membelenggu jiwa dan entah sampai kapan bisa terlepas."
***
"Mbok, kamu lupa jika aku tidak terlalu suka teh yang terlalu manis? Ini manis sekali Mbok, ayo buat lagi!"
Suasana hening meja makan pagi ini sedikit dipecah oleh suara Dira yang sedari tadi terlihat ribet dengan sajian makanan dan minuman yang berada di hadapannya. Mbok Darmi yang bertanggung jawab untuk menyajikan semua menu sarapan pagi ini sedikit kewalahan karena sedari tadi apa yang ia buat tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan istri dari Wisnu ini.
"Dir, apa-apaan kamu? Ini sudah ketiga kalinya mbok Darmi membuatkan teh untukmu. Namun masih saja kamu memprotesnya. Jangan keterlaluan kamu!"
Wisnu yang tengah menikmati sepotong roti tawar dengan selai kacang itu terlihat sedikit kesal karena sungguh apa yang dilakukan oleh istrinya ini sangat keterlaluan.
"Tapi Mas, kamu tahu bukan jika aku tidak terlalu suka manis. Teh yang dibuatkan mbok Darmi ini masih saja terasa manis sekali. Jadi wajar bukan jika aku memintanya untuk membuatkan lagi?" Dira celingak-celinguk mencari keberadaan mbok Darmi, setelah ekor matanya berhasil menangkap bayangan mbok Darmi, ia pun kembali berteriak. "Cepat ke sini Mbok! Lekas bikinkan teh untukku!"
Dengan langkah sedikit lebar, Darmi mendekat ke arah meja makan untuk mengambil cangkir ketiga yang juga menerima sebuah penolakan dari nyonya Wisnu Kunto Aji itu. Namun baru saja ia memegang telinga cangkir itu, sebuah suara bariton berhasil menarik perhatiannya.
"Mbok, biarkan tetap di situ. Tidak perlu mbok Darmi membuatkan teh lagi untuk istriku. Biarkan dia yang membuat sendiri seperti apa yang ia mau."
__ADS_1
"Tapi Tuan..."
"Sudah Mbok, jangan lagi mbok Darmi sibuk mengurusi kemauan istriku ini. Biarkan dia yang membuat teh sendiri."
Dira sedikit kesal dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu. Ia mendengus lirih dan bibirnya mengerucut.
"Mas, kamu bicara apa? Jika mbok Darmi tidak membuatkan teh untukku lalu apa yang ia lakukan sebagai asisten rumah tangga? Bisa makan gaji buta mbok Darmi jika tidak mau membuatkanku teh!"
"Pekerjaan mbok Darmi bukan hanya meladeni semua yang menjadi keinginanmu, jadi jangan kamu buang-buang waktu yang mbok Darmi punya hanya untuk menuruti semua keinginanmu itu."
"Tapi aku ini juga nyonya yang berada di rumah ini Mas. Jadi sudah seharusnya aku mendapatkan pelayanan yang baik dari mbok Darmi."
Wisnu hanya berdecih lirih. Ternyata istrinya ini melupakan satu hal. "Kita bukan tuan rumah ataupun nyonya di rumah ini, Dira. Ingat, di sini kita hanya menumpang. Menumpang di rumah Oma!"
Kedua bola mata Dira terbelalak sempurna. Keberadaan sang suami tidak membuat posisinya aman sebagai Nyonya muda tapi justru semakin merendahkannya. "Mas, kamu ini berbicara apa? Kamu masih memiliki hak untuk menempati rumah ini, jadi sama sekali kita tidak menumpang. Aku sungguh tidak....."
Ucapan Dira terpangkas tatkala oma Widuri mulai membuka suara. Wanita berusia senja itu nampaknya juga ikut gemas dengan apa yang terjadi di ruang makan pagi hari ini. Keras hati Dira sungguh tidak berubah sama sekali. Meski saat ini ia telah bangkrut, namun ia tetap memposisikan sebagai nyonya besar yang bisa berbuat seenaknya.
"Maafkan sikap istriku, Oma!"
Hanya itulah kata-kata yang mampu terucap dari bibir Wisnu. Lelaki itu sungguh sangat malu dengan sikap sang istri yang sudah melampaui batas itu. Sedangkan oma Widuri hanya terdiam, tak merespon sedikitpun permintaan maaf dari sang cucu.
Kamu selalu saja seperti itu Nu. Meminta maaf atas kesalahannya yang sama sekali tidak kamu perbuat. Hatimu sungguh baik, tapi mengapa jodohmu seperti itu? Semoga Dira benar-benar bisa berubah. Namun jika Oma mengunjukkan sebuah pinta semoga suatu saat nanti kamu mendapatkan seorang istri yang memiliki hati dan perilaku yang jauh lebih baik dari Dira, apakah itu keliru?
Oma Widuri bermonolog dalam hati. Ada rasa iba tatkala melihat sang cucu mendapatkan pendamping seperti Dira ini, namun mau bagaimana lagi? Mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Dan satu-satunya jalan untuk merubah sikap Dira itu hanya dengan selalu bersabar dan berbesar hati untuk menyadarkannya.
Dewa dan Mara juga hanya bisa terdiam melihat pemandangan di meja makan ini. Mereka tidak ingin ikut campur dengan apa yang dibicarakan oleh oma Widuri, Wisnu dan Dira.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Nanti jika kamu mau ke toko kue, minta tolong pak Kasim untuk mengantarkannya ya."
__ADS_1
Mara meraih tangan sang suami dan kemudian mencium punggung tangannya. "Iya Mas, kamu hati-hati ya."
Dewa mengulas sedikit senyumnya. Ia kecup pucuk kepala sang istri dengan penuh sayang dan kemudian sedikit ia tundukkan kepala untuk bisa mencium perut sang istri yang sudah membuncit ini. "Papa berangkat kerja dulu ya Sayang. Jagoan Papa jangan rewel ya. Jangan buat Mama kesusahan, oke?"
Dug... Dug....
Seakan paham dengan apa yang Dewa ucapkan, Dewa junior yang masih berada di dalam perut Mara ini memberikan sebuah respon dengan tendangan-tendangan kecil. Hal itulah yang sontak membuat Mara dan Dewa terkekeh geli.
"Hmmmmm pintar sekali putra Papa ini. Sehat-sehat ya Sayang!"
Dewa kembali menegakkan tubuhnya. Ia beralih ke arah oma Widuri untuk berpamitan. Seperti biasa wanita berusia senja itu selalu menampakkan wajah termanisnya untuk cucunya ini.
"Kak, aku berangkat dulu," ucap Dewa setelah berpamitan dengan sang Oma.
"Iya Wa, hati-hati!"
Gegas, calon papa itu meninggalkan ruang makan dan mulai berangkat untuk mencari rezeki.
"Loh Mas, mengapa kamu tidak ikut ke pabrik bersama Dewa?" timpal Dira yang sedikit keheranan karena sang suami tidak ikut Dewa untuk pergi ke pabrik.
"Pabrik adalah milik Dewa, sedangkan aku tidak berhak bekerja di sana. Jika aku ingin bekerja di sana, pastinya harus mengirimkan CV dan juga surat lamaran pekerjaan terlebih dahulu!"
"Apa!???"
.
.
. bersambung...
__ADS_1