
Air mata Tanti tetiba mengalir deras. Wanita paruh baya itu memijit-mijit kepalanya yang terasa begitu berat. "Kita ditipu Pus. Kita ditipu oleh Anton dan juga Rizal! Uang tiga milyar kita raib dibawa oleh dua manusia penipu itu! Kita jatuh miskin Pus! Kita jatuh miskin!"
Tanti, wanita paruh baya itu tiada henti berteriak histeris sembari mengacak rambutnya kasar. Rupa-rupanya wanita itu sangat frustrasi dan terpukul hebat akibat kasus penipuan yang menimpanya. Uang sejumlah tiga milyar yang ia miliki, kini raib begitu saja tanpa ada sisa sama sekali.
"Hahahaha haahaahaa... Uangku! Uangku tidak mungkin hilang begitu saja. Uangku pasti masih ada di rumah!"
Pandangan mata Tanti nyalang ke depan. Wanita paruh baya yang sebelumnya berderai air mata, kini ia tertawa terbahak-bahak. Hal itulah yang membuat Puspa terkejut setengah mati. Tidak hanya Puspa, lelaki berbadan tegap pemilik ruko ini pun juga tidak kalah terkejut dengan apa yang terjadi kepada Tanti.
"Ibu.... Ada apa dengan Ibu? Mengapa Ibu tertawa terbahak-bahak seperti ini?"
Puspa menggoyang-goyangkan tubuh sang ibu, berupaya untuk menyadarkan akal sehatnya yang saat ini terbang entah kemana. Namun sayang, Tanti justru terlihat semakin seperti wanita dengan gangguan jiwa.
Tanti membuka tas yang ia bawa. Ia keluarkan lembaran-lembaran uang kertas yang ada di dalam dompet dan kemudian ia sebar. "Waaaaaa uangku! Lihatlah begitu banyak uang yang aku miliki! Dengan begini, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan."
"Sepertinya ibu Mbak ini kena gangguan jiwa. Ada baiknya Mbak segera berkonsultasi dengan dokter ahli penyakit jiwa. Takutnya semakin parah."
Lelaki pemilik ruko ini juga tidak kalah pias. Melihat gelagat Tanti, ia bisa menyimpulkan bahwa wanita paruh baya di depannya ini benar-benar telah gila.
Puspa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak mungkin ibu saya ini gila. Ini tidak mungkin!"
"Hahahaha uang.... Uang tiga milyar.... Uangku.... Uangku... Hahahaha haahaahaa hahahaha..."
Puspa memeluk tubuh Tanti dengan erat. "Ibu... Sadar Bu... Sadar... Jangan seperti ini!"
"Uang... Uang... Uangku.... Aku kaya... Aku kaya... Aku kaya.... Apa yang tidak bisa aku beli? Semua bisa aku beli. Dan salon juga spa... Semuanya menjadi milikku... Hahaha haahaahaa!!"
Tanti masih saja merancau sembari menyebar uang kertas yang ada ada di dalam genggaman tangannya. Sedangkan Puspa, ia hanya bisa memeluk tubuh sang ibu dengan erat dan juga sembari menangis tergugu.
"Mbak, bagaimana? Apakah Mbak ini jadi menyewa ketiga ruko milik saya?"
Melihat keadaan Tanti yang terguncang hebat, membuat lelaki pemilik ruko ini sungguh tidak tega. Maka dari itu ia mencoba untuk bernegosiasi dengan Puspa akan apa jalan terbaik yang bisa ditempuh.
"Jika saya membatalkan sewa ruko ini bagaimana Pak? Kami benar-benar menjadi korban penipuan. Kami tidak tahu jika ceritanya akan seperti ini."
Si pemilik ruko mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah Mbak. Kalau begitu saya kembalikan uang yang tempo hari diberikan oleh pak Anton. Semoga dengan uang ini dapat memperingan beban Anda dan ibu Anda ini."
__ADS_1
Pemilik ruko mengambil sebuah amplop coklat yang di dalamnya terdapat uang yang tempo hari diberikan oleh Anton. Nuraninya sungguh ikut terkoyak melihat ada korban penipuan seperti ini. Maka dari itu, ia memilih untuk mengembalikan uang yang ia terima dari Anton.
"Terimakasih banyak Pak... Terimakasih." Puspa menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia teramat terharu bisa bertemu dengan lelaki baik seperti pemilik ruko ini. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Pak."
"Tidak mengapa Mbak. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk Mbak sendiri."
"Iya Pak. Terimakasih!"
Puspa dibantu pemilik ruko itu mencoba membuat Tanti untuk berdiri dari posisi bersimpuhnya. Tatkala telah berhasil berdiri, keduanya memapah tubuh Tanti hingga sampai di pelataran depan di mana motor matic milik Puspa terparkir. Tak selang lama, Puspa meninggalkan ruko ini dan kembali ke kediamannya.
***
Malam mulai merangkak naik ke singgasananya. Hari yang sebelumnya terang benderang kini mulai menghitam. Suasana pekat kian mendominasi dan hanya terdengar binatang-binatang malam yang berada di sekeliling.
"Mas... Mengapa kita berhenti di sini? Bukankah seharusnya kita sudah sampai di tempat tujuan? Tapi mengapa kita justru berada di sini?"
Tatkala Dewa memberhentikan mobil yang ia kendarai, Mara sedikit keheranan melihat suasana sekitar. Pasalnya, Dewa berhenti di salah satu vila yang berada di Puncak Bogor. Itulah yang membuat wanita itu bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan di tempat ini.
Dewa melepas safety belt yang ia kenakan. "Kita bermalam di sini terlebih dahulu ya Sayang. Ya, anggap saja ini bulan madu ke dua kita."
"Tapi Mas, bukankah Oma sudah menunggu kedatangan kita? Bagaimana jika Oma menghawatirkan keadaan kita karena belum juga sampai ke rumah Mas?"
Mara menurut. Ia mulai keluar dari dalam mobil dan mengekor di belakang tubuh Dewa. Kedua bola mata Mara menatap takjub bangunan yang berada di hadapannya ini. Sebuah bangunan berlantai dua yang nampak begitu mewah nan asri karena di sekelilingnya di penuhi oleh pohon cemara hias yang semakin membuat suasana sejuk di sekitar tempat ini.
"Selamat malam tuan Dewa! Bagaimana perjalanan Tuan kemari, apakah lancar?"
Seorang lelaki paruh baya menyambut kedatangan Dewa dan juga Mara dengan ramah. Ya, lelaki itu adalah pak Maman yang tak lain adalah penjaga vila milik Dewa ini.
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Perjalanan kami lancar Pak. Maaf jika kedatangan saya kemari serba dadakan seperti ini."
"Tidak mengapa Tuan. Saya malah senang Tuan bisa kemari untuk bermalam di vila ini. Rasa-rasanya sudah sangat lama tuan Dewa tidak kemari."
"Ya, memang sudah sangat lama saya tidak kemari Pak." Dewa menoleh ke arah Mara yang masih takjub dengan suasana sekitar. "Sayang, perkenalkan, ini adalah pak Maman. Pak Maman ini adalah penjaga vila milikku ini. Nah pak Maman, ini adalah istri baru saya. Jadi jangan beranggapan saya datang kemari bersama selingkuhan saya lho ya Pak. Karena saat ini istri saya bukan Dita lagi."
Dewa memperkenalkan Mara kepada penjaga vila miliknya ini. Hal ini ia lakukan agar tidak muncul rumor-rumor yang justru akan berdampak buruk terhadap Mara sendiri. Mara dan pak Maman saling berjabat tangan. Lelaki paruh baya itupun menyambut dengan baik nyonya Rangga Danabrata Dewandaru yang baru ini.
"Iya Tuan, saya sudah mengetahui tentang hal ini dari mbok Darmi. Katanya istri baru tuan Dewa ini jauh lebih cantik dari istri Tuan sebelumnya. Dan ternyata memang benar. Tuan Dewa sangat pandai memilih istri."
__ADS_1
Dewa tergelak seketika. "Itu sudah pasti Pak. Untuk kali ini pasti saya tidak akan salah memilih lagi." Dewa melirik ke arah Mara. "Bukan begitu Sayang?"
Mara hanya bisa berdecak. Ia berikan cubitan kecil di perut suaminya ini. "Mas, jangan berbicara seperti itu. Tidak baik jika kamu terlalu berbangga diri."
"Kamu harus tahu Sayang, lelaki manapun pasti akan berbangga diri jika memiliki seorang istri seperti kamu ini. Jadi kamu harus sadar akan hal itu. Bahwa kamu pantas untuk aku banggakan di hadapan semua orang."
Pak Maman juga hanya bisa terkekeh kecil. "Oh iya, apakah tuan Dewa ingin langsung makan? Biar saya panggilkan istri saya untuk memasak makan malam untuk tuan Dewa dan juga istri?"
Dewa menautkan pandangannya ke arah sang istri. "Bagaimana Sayang? Apakah kamu ingin langsung makan malam? Kita bisa minta tolong istri pak Maman untuk memasaknya untuk kita."
Sejenak, Mara terlihat berpikir. Dan kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Mas. Biar nanti aku yang masak untuk makan malam sendiri saja. Pak Maman dan istri biarkan beristirahat. Emmmmm di dalam ada bahan masakan bukan?"
Pak Maman mengangguk. "Ada Nyonya. Di dalam kulkas sudah terdapat berbagai macam sayuran lengkap. Jadi bisa diolah untuk menjadi menu makan malam."
"Terimakasih banyak Pak. Biar nanti istri saya yang memasak. Sekarang pak Maman boleh pulang dan beristirahat di rumah."
"Terimakasih banyak Tuan, Nyonya."
"Sama-sama Pak."
Pak Maman mulai melenggang pergi meninggalkan vila milik Dewa. Sedangkan Dewa mengambil koper yang berada di dalam bagasi untuk ia bawa masuk ke dalam vila.
"Ayo Sayang kita masuk. Pokoknya malam ini kita harus bersenang-senang di vila ini!" ucap Dewa sembari mengerlingkan matanya dengan seringai nakal.
Sedangkan Mara hanya bisa tersipu malu mendengarkan ucapan sang suami dengan nada menggoda seperti itu. Ia tahu persis apa makna bersenang-senang yang dimaksud oleh suaminya ini.
"Kamu bicara apa sih Mas?"
"Ya bicara dari hati ke hati sebagai bentuk ungkapan rasa bahwa ini, ini, ini, ini dan ini sudah seperti candu untukku!" ujar Dewa sembari menunjuk bagian telinga, bibir, dada dan di sela lipatan paha milik Mara.
"Aaaaaaaaa mas Dewa...!!!"
Dewa mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri. Ia gigit kecil telinga Mara dengan gigitan penuh sensual. Hal itulah yang membuat Mara sedikit kegelian. "Hahahaha ayo kita masuk. Aku sudah tidak sabar ingin segera menyantap dua hidangan makan malamku, Sayang!"
.
.
__ADS_1
. bersambung....