
"Haaahhhhh... Akhirnya, aku bisa hidup bebas seperti ini. Tanpa memikirkan ibu yang benar-benar membuatku naik darah."
Puspa menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan seakan menunjukkan bahwa ia teramat lega karena telah berhasil menyingkirkan sang ibu dari kehidupannya. Seorang ibu yang tengah terguncang jiwanya akibat kasus penipuan yang baru saja ia hadapi.
"Aku tidak bermaksud durhaka kepadamu, Bu. Aku terpaksa melakukan itu semua karena aku malu memiliki seorang ibu yang mengalami gangguan mental seperti ibu. Jika aku tetap mempertahankan ibu berada bersamaku, pasti akan menyulitkanku untuk mendapatkan jodoh. Aku tidak mau jika sampai tua tidak memiliki pendamping hidup."
Puspa bermonolog lirih sembari menatap langit-langit ruang tengah ini. Pandangannya sedikit menerawang. Hatinya seperti berperang akan apa yang telah ia lakukan. Antara tetap merasa sang ibu atau membuangnya. Namun, ego telah menguasainya bahwa ia benar-benar harus melakukan itu semua.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan pintu tetiba membuyarkan lamunan gadis itu. Sorot mata yang sebelumnya begitu tajam menatap lekat langit-langit ruangan, kini ia tautkan ke arah daun pintu ruang tamu.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan itu kembali terdengar, sehingga memaksa Puspa untuk beranjak dari posisi duduknya. Ia melangkahkan kaki dan tangannya terulur untuk membuka kenop pintu.
"Selamat sore Mbak. Maaf jika kedatangan saya mengganggu," ucap salah seorang lelaki yang kira-kira berusia lima tahun darinya.
Puspa menatap lekat lelaki yang berdiri di hadapannya ini. Lelaki yang terlihat begitu tampan dengan setelan kemeja berwarna biru laut, celana hitam, serta sandal merk swallow yang senada dengan warna celana yang ia kenakan.
"Ya, ada keperluan apa ya?" ucap Puspa langsung pada pokok pembicaraan.
__ADS_1
Lelaki itu sedikit mengulas senyum. "Maaf sebelumnya Mbak, saya kemari ingin meminta garam. Saya berencana memasak tumis tauge, namun ternyata stok persediaan garam di rumah saya habis. Kalau boleh, saya ingin meminta garam dari Mbak."
"Kamu tinggal di sini?" tanya Puspa sedikit menyelidik.
"Betul itu Mbak. Saya tinggal di samping rumah Mbak ini!" lelaki itu menjawab sembari menunjuk ke arah rumah yang berada tepat di samping rumah yang ditempati oleh Puspa.
"Oohhh seperti itu? Tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu ya?" Selama aku tinggal di rumah ini, rumah yang kamu tempati itu terlihat selalu kosong," sanggah Puspa seakan ragu dengan apa yang dikatakan oleh lelaki ini.
Lelaki itu kembali terkekeh. "Jelas Mbak ini tidak pernah melihat saya, karena baru kemarin saya pindah di rumah itu. Sebelumnya saya tinggal di Bandung, namun karena dari perusahaan tempat saya bekerja memutasi saya di kota ini, akhirnya saya memutuskan untuk menepati rumah itu. Rumah di samping Mbak ini merupakan salah satu rumah warisan orang tua saya, dan kebetulan saya adalah ahli waris satu-satunya."
Penuturan panjang lebar dari lelaki yang meminta garam ini membuat Puspa larut dalam pikirannya sendiri. Namun, wanita itu masih bisa mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh lelaki ini.
Tadi dia mengatakan apa? Ahli waris satu-satunya? Itu artinya rumah mewah itu akan menjadi miliknya. Jika dilihat dari pakaiannya, lelaki ini juga terlihat seperti pegawai kantoran yang memiliki jabatan tinggi. Ahhhh... Sepertinya aku bisa untuk mengakrabkan diri dengan lelaki ini. Ya, siapa tahu saja, aku bisa menjadi kekasihnya atau mungkin istrinya.
"Mbak, apakah Mbak baik-baik saja?" tanya lelaki itu sembari memegang pundak Puspa.
Puspa terkesiap. Ia sedikit mengerjabkan mata untuk meraih kesadarannya. Gadis itu pun hanya dapat tersenyum kikuk. "Aaaahhh maafkan aku karena tiba-tiba aku melamun." Puspa menghela nafas panjang untuk menguasai perasaan gugupnya. "Oh iya, tadi kamu mau minta garam ya? Tunggu sebentar, biar aku ambilkan di dapur."
Puspa bergegas melangkahkan kakinya untuk menuju dapur. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, gadis itu dengan langkah lebar langsung menemui lelaki itu kembali.
"Ini garam yang kamu minta," ucap Puspa seraya mengulurkan sebuah wadah kecil dari plastik yang berisi garam dapur.
"Eh, tapi ini terlalu banyak Mbak. Saya hanya memerlukan sedikit saja," ucap sang lelaki mencoba menjelaskan bahwa garam yang ia butuhkan hanyalah sedikit saja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Bawalah semua. Di rumah, aku masih memiliki banyak stok, jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Puspa santai.
Lelaki itu tersenyum lebar. Ia ulurkan tangannya untuk menerima wadah kecil yang diberikan oleh Puspa. "Terimakasih banyak Mbak." Ia pun mengulurkan tangan bermaksud untuk memperkenalkan dirinya. "Saya Ardi. Maaf, jika boleh tahu, nama Mbak cantik ini siapa?"
Mendengar lelaki di hadapannya ini memanggilnya dengan sebutan mbak cantik, membuat Puspa tersipu malu. Ia ulurkan tangan pula dan menjabat tangan lelaki di hadapannya ini. "Aku Puspa."
"Aahhhh... Puspa itu artinya bunga. Ternyata tidak salah orang tua Mbak dulu memberikan nama Puspa, karena mbak Puspa ini benar-benar cantik seperti bunga."
Hati Puspa yang mendengar pujian dari Ardi sukses seperti dihujani oleh ribuan kelopak bunga mawar yang berjatuhan. Gadis itu semakin menundukkan wajahnya karena malu dan juga berbangga diri.
"Kamu ini bisa saja."
"Itu betul sekali Mbak. Mbak Puspa ini benar-benar cantik. Baru kali ini saya bertemu dengan wanita secantik mbak Puspa," sambung Ardi yang semakin membuat Puspa besar kepala.
"Sudahlah, jangan seperti itu. Jika kamu terus memujiku, bisa-bisa aku tidak dapat tidur semalaman karena terngiang oleh pujianmu itu." Puspa hanya dapat meremas-remas ujung pakaian yang ia kenakan karena gugup. "Oh iya, jangan panggil aku Mbak. Panggil aku Puspa saja. Karena aku rasa, usia kamu jauh lebih tua daripada aku."
Ardi semakin tersenyum lebar. "Baiklah Pus. Aku akan memanggilmu Puspa. Semoga setelah perkenalan ini kita bisa semakin dekat ya. Karena sepertinya aku terpesona pada pandangan pertama kepadamu."
.
.
. bersambung...
__ADS_1