
"Aduh Sayang... Putra Papa yang tampan, mengapa kamu menangis terus sih? Mama sedang mandi Sayang, tunggu sebentar ya!"
Lengkingan suara tangis bayi yang terdengar nyaring itu memaksa Dewa yang tengah memakai kemeja lengan panjang berwarna navy, bergegas untuk mendekat ke arah sumber suara. Dengan sedikit membungkuk, lelaki yang sudah resmi menyandang gelar papa itu mulai mengangkat tubuh sang bayi untuk ia bawa ke dalam gendongannya.
"Cup... cup... cup... Sayangnya Papa... bukankah kamu sudah kenyang dengan ASI mama, Sayang? Tapi mengapa kamu masih menangis seperti ini?"
Ia kecup pipi gembul Nendra yang saat ini sudah genap berusia tiga bulan. Selama tiga bulan ini, Dewa juga belajar keras untuk menjadi seorang papa yang baik. Tidak hanya Dewa, Mara pun juga masih dalam proses belajar menjadi seorang ibu. Sama-sama merupakan pengalaman pertama mengurus bayi, Dewa dan Mara saling berkolaborasi untuk menjadi orang tua yang baik untuk Nendra. Tidak ketinggalan, mbok Darmi dan pak Kasim pun juga turut membantu keduanya dalam menjalankan peran itu.
"Ckckck cckkkk... Apakah putra Papa ini bosan berada di dalam kamar? Dan memerlukan penyegaran otak? Baiklah, kita keluar ya Sayang. Kita nikmati suasana pagi yang menyejukkan ini. Oke?"
Seakan tidak mempan dengan semua yang dilakukan oleh Dewa, Nendra masih saja menangis sampai membuat lelaki itu kebingungan. Akhirnya, ia memilih untuk membawa putra kecilnya itu ke balkon, barangkali Nendra jenuh dengan suasana kamar ini dan ingin merefresh sejenak pikirannya untuk menikmati suasana yang berbeda. (aduh Bang, Nendra mah belum memiliki beban hidup, jadi ngapain harus merefresh otak segala sih? π)
Udara sejuk suasana pagi khas kota Bogor, membelai lembut tubuh Dewa, tatkala kakinya sudah berpijak sempurna di balkon ini. Tetes-tetes embun masih terlihat bergelayut manja di permukaan daun, mengeratkan pelukannya, seakan tidak ingin terlepas dari sana.
Dewa mengayun-ayunkan lengan tangannya, menimang-nimang putranya ini. Tapi tetap saja, Nendra masih menangis.
"Aduuduuuuhduhhh Papa sampai bingung harus melakukan apa Sayang... Ahhhhh... Apa mungkin kamu ingin mendengarkan Papa menyanyikan sebuah lagu untukmu?"
Dan pada akhirnya...
Awakdewe tau duwe bayangan
Besok yen wis wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe belonjo dasteran (belonjo dasteran)
Nanging saiki wis dadi kenangan
Aku karo kowe wis pisahan
Aku kiri kowe kanan
Wis bedo dalan
Berbekal lirik lagu yang sering ia dengar akhir-akhir ini, Dewa mencoba untuk menghibur sang putra dengan menyanyikan lagu itu. Lagu ciptaan salah satu group yang berasal dari Jogja yang menurut Dewa sendiri begitu enak di dengar. Meski tidak tahu artinya, namun lelaki itu tetap menyanyikan lagu itu.
Sebuah pilihan yang tepat, Nendra yang sebelumnya menangis kekejer (sama sekali tidak mau diam, tersedu-sedu) perlahan mulai menghentikan tangisnya. Bayi gembul berusia tiga bulan itu cekikikan sembari menatap wajah sang Papa dengan lekat. Entah apa yang membuat bayi itu cekikikan. Mungkin logat bahasa yang terdengar begitu lucu yang keluar dari bibir papanya ini.
"Aaahhhh... Ternyata putra Papa ini hanya ingin mendengarkan suara Papa ya? Hmmmmm baiklah, nanti coba cari lagu yang baru lagi, jadi biar banyak yang Papa nyanyikan untukmu. Oke Sayang?"
Mara yang sudah selesai dengan aktivitas mandinya, hanya bisa menahan tawa sembari berdiri di pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Terdengar lucu sang suami menyanyikan lagu yang kental dengan bahasa Jawa itu.
"Sini biar gantian aku yang menggendong Nendra, Mas. Kamu siap-siap ke kantor gih. Ada meeting kan?"
Mara menganyunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah Dewa. Dengan handuk yang ia gulung dia atas kepala untuk membalut rambutnya yang basah dan hanya menggunakan daster rumahan saja, seakan tidak melunturkan kecantikan natural yang dimiliki oleh wanita yang sudah memiliki gelar sebagai mama muda itu.
"Lihatlah Sayang, Nendra sepertinya begitu menyukai lagu yang aku nyanyikan. Dia langsung diam loh Sayang, saat aku nyanyikan lagu ini."
__ADS_1
"Hmmmmm kamu ini aneh Mas, biasanya bayi seperti ini dinyanyikan lagu-lagu yang terdengar menyenangkan seperti twinkle-twinkle little star sama seperti yang sering dinyanyikan oleh tetangga kita, pak Alam ke putrinya yang bernama Shasa. Tapi kamu malah menyanyikan lagu ambyar seperti ini."
"Ambyar? Ambyar itu apa sih Sayang?"
"Ambyar itu istilah patah hati, pupus harapan yang mendalam Mas. Apakah kamu tahu makna lagu yang kamu nyanyikan itu?"
Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang, aku tidak mengerti."
"Lagu itu menggambarkan sepasang kekasih yang sudah memiliki angan-angan tentang kehidupan pernikahan namun ternyata putus di tengah jalan."
"Ooohhh ternyata artinya itu. Tapi booming sekali loh Sayang. Didengar pun juga enak sekali."
Mara terkekeh kecil. Entah sejak kapan suaminya ini jadi salah satu penggemar lagu-lagu bertema ambyar seperti ini. "Memang enak Mas. Tapi kalau untuk Nendra, jangan kamu nyanyikan lagu itu. Ada banyak kok lagu Jawa yang bagus untuk dinyanyikan ketika menimang bayi seperti ini."
"Iya kah Sayang? Apa saja itu Sayang? Aku ingin tahu."
"Ada sluku-sluku bathok, ada gundul-gundul pacul, ada turi-turi putih, dan banyak lagi lagu-lagu macapat yang sarat makna untuk dinyanyikan untuk putra kita ini."
"Bisakah kamu mengajari aku, Sayang? Aku ingin belajar bahasa Jawa."
Dahi Mara sedikit mengerut. Tidak paham, mengapa suaminya ini tiba-tiba ingin belajar bahasa Jawa. "Mengapa kamu ingin sekali belajar bahasa Jawa, Mas?"
"Itu karena sebentar lagi kita akan.... upppsss..."
Hampir saja Dewa kelepasan bicara tentang rencana kepindahannya ke Jogja yang memang sampai saat ini belum diketahui oleh sang istri. Lusa, Dewa baru berencana memberikan kejutan itu untuk Mara. Pastinya setelah menyerahkan PT WUW kepada Wisnu yang telah ia agendakan di pagi ini.
"Kita akan apa Mas?"
Mara hanya tersenyum simpul. "Untuk apa aku keberatan Mas? Kak Wisnu juga masih memiliki hak untuk mengelola perusahaan bukan? Jadi mengapa aku harus keberatan?"
"Apa tidak mengapa jika uang bulanan yang aku berikan kepadamu berkurang karena saat ini aku sudah tidak menjadi pimpinan perusahaan lagi?"
Dewa sengaja memancing Mara dengan pertanyaan seperti itu. Ia ingin tahu bagaimana reaksi sang istri jika dirinya tidak lagi bisa memberikan jatah bulanan seperti biasanya.
Mendengar pertanyaan Dewa, hanya membuat Mara tergelak lirih. "Kamu itu bicara apa sih Mas? Bukankah selain dari perusahaan, Tuhan juga memberikan rezeki untuk kita melalui toko kue yang kita miliki? Jadi mengapa aku harus merasa kurang? Sekecil apapun yang Tuhan berikan untuk kita, harus kita syukuri Mas!"
Dewa melengkungkan seutas senyum di bibirnya. Memang tidak salah, ia memilih Mara untuk menjadi pendamping hidupnya. Wanita yang sangat mengerti bagaimana caranya untuk selalu bersyukur, sekecil apapun pemberian Tuhan.
Dewa menarik tubuh Mara untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Penuh sayang, ia menghujani pucuk kepala sang istri dengan kecupan-kecupan lembut.
"Terimakasih banyak Sayang... Aku sungguh bahagia...."
Ucapan Dewa terpangkas saat ada sesuatu yang terasa hangat tiba-tiba menjalar di area perutnya. Ia tautkan pandangannya ke wajah Nendra yang masih saja cekikikan.
"Sayang... Apakah di gendongan Papa ini adalah tempat yang paling nyaman untuk kamu pipis? Dari kamu bangun tidur sampai saat ini, sudah tiga kali kamu pipis di gendongan Papa dan sekarang kamu...."
Gegas, Mara melihat bagian bokong Nendra, dan .... "Hihihihihi hihihihi jika tadi kamu dipipisin Nendra, sekarang Nendra sepertinya pup, Mas!"
"Ohhhh ya Tuhan..."
__ADS_1
***
"Mulai hari ini saya mempercayakan PT WUW ini untuk dikelola oleh kakak saya, Wisnu Kunto Aji. Semoga para petinggi-petinggi perusahaan ini bisa bekerja sama dengan baik sehingga bisa menjadikan PT ini lebih maju lagi."
Plok... plok... plok....
Suara tepuk tangan terdengar menggema di dalam ruangan ini. Sebagai pertanda jika semua yang hadir di tempat ini menyetujui akan keputusan yang telah dibuat oleh Dewa dengan menyerahkan posisinya kepada sang kakak.
Dewa menatap intens wajah Wisnu yang masih terduduk di salah satu kursi ruangan ini. "Kak, silakan maju ke depan!"
Wisnu terkesiap, tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh adiknya ini. Selama tiga bulan terakhir, ia lebih banyak diam di rumah, membantu pak Kasim merawat tanaman-tanaman yang merupakan tanaman kesayangan oma Widuri, hanya sesekali saja ikut Dewa ke pabrik. Namun pagi tadi ia dipaksa oleh Dewa untuk ikut ke pabrik. Dan ternyata inilah sesuatu yang tersembunyi dibalik pemaksaan yang dilakukan oleh adiknya ini.
Masih dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar, Wisnu melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah sang adik. Ia berdiri di sisi Dewa.
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Kak, mulai hari ini aku serahkan pabrik kepada Kakak. Aku harap Kakak bisa bekerja lebih keras untuk membuat perusahaan yang dirintis oleh oma ini menjadi lebih maju lagi."
"Tapi Wa... Aku tidak pantas untuk mengemban amanah ini."
Menyadari bahwa dulu di saat perusahaan sang oma bangkrut ia tidak melakukan apapun, membuat Wisnu merasa tidak pantas untuk mengemban amanah ini. Sedangkan Dewa hanya bisa tersenyum simpul.
"Aku serahkan perusahaan oma yang ada di sini kepada Kakak, karena aku harus fokus dengan perusahaan yang sudah aku bangun di Jogja, Kak. Aku tidak bisa menghandle keduanya. Maka dari itu, aku serahkan PT WUW ini kepada kak Wisnu."
Wisnu semakin terperangah. "Perusahaan di Jogja? Maksud kamu bagaimana Wa?"
"Aku memiliki rencana untuk menjalani hari tuaku di kota kelahiran istriku. Maka dari itu sudah sejak lama aku berangan-angan melebarkan sayap PT WUW ini di kota itu. Dan saat ini sudah bisa beroperasi. Dan untuk sementara waktu dihandle oleh Krisna."
"Itu artinya kamu akan pindah ke Jogja, Wa?"
Dewa mengangguk pelan. "Betul sekali itu Kak. Lusa, akan pindah ke Jogja."
"Tapi Wa..."
"Ssstttt sudah ya Kak. Untuk saat ini fokuslah pada perusahaan yang sudah susah payah dirintis oleh almarhum opa dan oma. Kita sebagai cucu harus berusaha keras untuk mempertahankan eksistensi perusahaan ini agar tetap bisa bersaing di zaman yang sudah banyak berubah seperti saat ini. Dan aku percaya, kak Wisnu bisa melakukannya."
"Wa..."
Suara Wisnu seakan tertahan di dalam tenggorokannya. Ia peluk erat tubuh adiknya ini. Mungkin sebagai ungkapan rasa terima kasih.
"Aku titip PT WUW, ya Kak... Aku percaya kak Wisnu bisa melakukannya dengan baik. Dan semoga kakak juga segera menemukan pengganti kak Dira, yang pastinya akan menjadi penyemangat kak Wisnu dalam menapaki hari-hari."
Wisnu melerai pelukannya dari tubuh sang adik. "Pengganti Dira? Apa mungkin cerita hidupku di novel ini tidak berakhir sebagai duda?"
Dewa hanya terkekeh kecil. "Aku dengar dari mbak Rasti sih begitu. Ya ditunggu saja Kak... Karena setelah ini kak Rasti ingin fokus dengan nupel yang sudah mengantri terlebih dahulu. Kakak kan tahu sendiri, kak Rasti itu hanya penulis remahan kulit kuaci, paling tidak bisa jika harus jalan dua novel, jadi Kakak yang sabar ya ... Hahahaha."
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Inshaallah tinggal satu part lagi Demara end ya Kak... π.. untuk yang minta Ardi dan ibunya dikasih karma, mohon maaf sekali tidak bisa saya kabulkan, karena bisa tambah panjang sekali ini nanti. Hihihihihi hihihihi Dan untuk kak Novi Aryani yang bertanya tentang juragan Karta, hihihihihi biarkan juragan Karta tenang dengan kehidupannya ya Kak... Anggap saja uang lima milyar yang dibawa kabur oleh Tanti dan Puspa sebagai salah satu sedekahnyaπ π
Setelah ini, saya ingin fokus pada Cahaya cinta untuk Seroja dulu, dan jika kakak-kakak menginginkan dibuatkan cerita tentang Wisnu, inshaallah setelah Seroja ya Kak..πππ