
Detik berganti dengan menit. Menit berganti dengan jam. Jam berganti dengan hari. Hari berganti dengan minggu dan minggu pun berganti dengan bulan. Sang waktu telah berputar sesuai dengan perannya masing-masing. Menyisakan sebuah cerita yang telah terlewat dan membangun secercah harap di masa depan.
Tiga bulan telah berlalu. Kehidupan sepasang pengantin yang bukan lagi pengantin baru itu pun nampak semakin bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika sang suami selalu melimpahinya dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar. Diimbangi dengan sang istri yang menjalankan perannya dengan baik. Baik menjalankan perannya sebagai seorang istri dari Rangga Danabrata Dewandaru dan juga seorang pemilik 'Demara Cake & Bakery' . Terlebih sang oma. Kebahagiaan wanita berusia senja itu karena mendapatkan sebuah anugerah berupa kehadiran sang cucu menantu yang begitu baik seakan membuatnya semakin awet muda saja.
"Sayang, aku berangkat dulu ya."
Memeluk tubuh Mara dari belakang, melingkarkan lengan tangannya di pinggang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri, Dewa berpamitan akan pergi ke kantor pagi ini. Sembari menyesap harum aroma tubuh Mara, Dewa memberikan pelukan erat dan hangat untuk sang istri tercinta.
Mara yang tengah berdiri menghadap cermin, seketika membalikkan badannya. Sedikit ia lerai pelukan erat yang diberikan oleh sang suami. Menggiring sorot matanya untuk menatap lekat wajah suaminya ini.
"Masih jam enam pagi, mengapa kamu buru-buru berangkat kerja Mas? Apa kamu sudah mulai bosan berada di rumah?"
Dengan bibir sedikit mengerucut, Mara mulai melancarkan aksi protesnya. Rupa-rupanya wanita itu mulai sedikit mencium aroma-aroma tak lazim yang dilakukan oleh sang suami.
Dewa terhenyak. "Loh Sayang, mengapa kamu mengatakan hal seperti itu? Bagaimana mungkin aku merasa bosan berada di rumah, kalau di rumah aku bisa dekat dengan istriku?"
Mara mendengkus lirih. Tanpa terduga, kedua matanya mulai berembun dan sedikit demi sedikit mulai membentuk titik-titik bening di pelupuk matanya.
"Jika kamu tidak bosan, mengapa kamu selalu berangkat pagi dan selalu pulang larut Mas?" Satu bulir kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata wanita itu. "A-Apa aku sudah tidak menarik lagi di matamu? Sampai membuatmu bosan tatkala melihatku? Sehingga membuat kamu tidak ingin berlama-lama berada di dekatku?"
Mara mengisakkan tangisnya. Dada wanita itu terlihat naik turun seakan berupaya untuk menahan segala rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya. Hal itulah yang semakin membuat Dewa terperangah. Tidak paham dengan apa yang terjadi pada istrinya ini.
"Sssssttt Sayang.... Aku berangkat lebih pagi dan pulang sedikit larut karena pekerjaan di kantor sedikit menumpuk. Kamu tahu bukan, jika akhir-akhir ini Krisna disibukkan dengan keperluannya sendiri untuk mempersiapkan pernikahannya bersama Sekar? Sehingga pekerjaan yang sebelumnya aku limpahkan kepada Krisna, kini aku tambah handle sendiri."
__ADS_1
Dewa membawa tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Dengan penuh kelembutan, lelaki itu mencoba memberikan pengertian kepada sang istri. Bahwa kondisi yang terjadi akhir-akhir ini murni karena pekerjaan di kantor sedikit lebih banyak.
Mara berupaya untuk menghentikan tangisnya. Ia mencoba mengatur nafasnya yang sedikit tersengal-sengal. "Benarkah seperti itu Mas? Apakah benar ini semua karena pekerjaanmu di kantor? Bukan karena kamu merasa bosan berada di rumah atau mungkin bosan denganku?"
"Astaga Sayang!" Dengan gemas Dewa mencium pipi dan bibir sang istri, kemudian ia peluk kembali tubuh istrinya ini. "Bagaimana mungkin aku bosan terhadap istriku yang semakin hari semakin cantik dan semok ini, Sayang?"
Mara terkesiap. "Semok? Maksud kamu apa Mas?"
"Seksi dan montok, Sayang. Lihatlah, tubuh kamu saat ini terlihat semakin berisi dan itu ....."
"Apa? Berisi? Maksud kamu tubuhku gendutan Mas? Hiks... Hiks.... Hiks... Tuh kan, kamu mengatakan badanku gendutan dan pastinya tidak terlihat seksi lagi di depan matamu!"
"Eh? Siapa yang bilang kalau kamu gendutan Sayang? Aku tidak mengatakan hal itu. Aku mengatakan bahwa tubuh kamu sedikit berisi dan itulah yang semakin membuatku gemas untuk bisa sering-sering menjamahnya."
Dewa nampak kebingungan sendiri bagaimana caranya untuk memberikan pengertian kepada Mara, bahwa montok sangat jauh berbeda dengan gendut. Namun lagi-lagi sang istri salah tanggap akan hal itu.
"Kamu tadi mengatakan bahwa tubuhku lebih berisi kan Mas? Itu sama halnya kamu mengatakan bahwa aku ini bertambah gendut, bukan? Kamu jahat Mas. Jahat!"
Gegas, Mara melenggang pergi meninggalkan kamar untuk bersegera menuju ruang makan di mana biasanya di jam segini, sang oma sudah menunggunya untuk sarapan pagi. Sedangkan Dewa, ia hanya bisa mengacak rambutnya frustrasi karena tidak paham dengan apa yang terjadi pada istrinya ini.
"Selamat pagi Sayang!" sapa oma Widuri tatkala melihat sang cucu menantu sudah duduk manis di kursi makan yang berada di hadapannya.
Mara hanya tersenyum simpul. Rupanya wanita itu masih merasa dongkol dengan sang suami yang mengatakannya gendut. "Selamat pagi Oma!"
Dahi oma Widuri sedikit mengernyit tatkala melihat raut wajah sang cucu menantu yang terlihat sedikit sendu. "Loh Sayang, apa yang terjadi kepadamu? Mengapa wajahmu terlihat sedih seperti itu?"
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks... Oma..."
Mara menghamburkan tubuhnya di pelukan sang oma. Di dalam pelukan Oma Widuri itu seakan menjadi tempat paling nyaman baginya untuk menumpahkan segala rasa yang ada.
"Loh Sayang? Ada apa denganmu? Mengapa kamu menangis seperti ini? Apakah Dewa melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu?"
Sembari mengusap punggung Mara dengan lembut dan penuh sayang, oma Widuri mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi terhadap cucu menantunya ini. Karena tidak biasanya Mara mau menumpahkan tangisnya di hadapannya. Namun kali ini ia merasa bahwa ada hal serius yang tengah dialami Mara sehingga ia tidak sanggup lagi untuk menopang beban itu sendiri dan ia tumpahkan di hadapannya.
"Mas Dewa, Oma! Mas Dewa!"
Oma Widuri terkesiap. "Dewa? Ada apa dengan Dewa Sayang? Apakah dia melukai perasaanmu? Menyakiti hatimu? Atau berbuat kasar kepadamu? Coba katakan kepada Oma Sayang!"
Mara menggeleng samar di dalam dekapan oma Widuri. "Tidak Oma. Mas Dewa tidak melakukan hal itu. Hanya saja...."
Mara menggantung ucapannya yang membuat oma Widuri semakin penasaran. "Hanya apa Sayang? Coba ceritakan kepada Oma!"
"Mas Dewa mengatakan tubuh Mara semakin berisi, Oma. Bukankah itu artinya secara tidak langsung mas Dewa mengatakan kalau Mara bertambah gendut dan tidak terlihat seksi lagi?" Mara melerai sedikit pelukannya. Ia seka air mata yang membasahi pipinya. "Karena Mara bertambah gendut, sehingga membuat mas Dewa tidak betah berlama-lama berada di rumah Oma. Mas Dewa jadi sering berangkat pagi dan pulang larut. Apa itu artinya jika mas Dewa mulai bosan kepada Mara, Oma?"
Panjang lebar Mara mencoba mengeluarkan apa yang terpendam di dalam dadanya. Oma Widuri mencoba menelaah apa yang tengah terjadi pada cucu menantunya ini. Wanita berusia senja itu sedikit keheranan dengan perubahan emosi Mara yang sedikit labil akhir-akhir ini.
Seperti ada yang tidak beres dengan cucu menantuku ini. Emosinya seakan begitu labil. Sama seperti saat aku mengandung ayah Dewa, dulu. Apakah mungkin cucuku ini tengah hamil?
.
.
__ADS_1
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.