Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 78 : Lagi, Di Dalam Kamar Mandi


__ADS_3


"Ya Tuhan, apa ini?"


Setelah menuntaskan pergumulan itu, Mara dan Dewa sama-sama tertidur pulas. Dalam posisi masih polos dan Dewa terlihat memeluk tubuh sang istri dari belakang dengan posesif, seakan tidak ingin sedikit pun terlepas dari tubuh Mara. Ia membenamkan wajahnya di tengkuk sang istri dan tangannya tidak ingin lepas dari dua benda sintal, padat, nan kenyal yang saat ini telah berhiaskan bercak-bercak merah yang memenuhinya. Sebuah pemandangan yang begitu kontras, kulit tubuh Mara yang putih seakan semakin mempertegas jejak-jejak kemerahan itu.


Kedua bola mata Mara seketika terbuka saat ia merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba menggeliat, mengeras, dan sedikit menegang di antara lipatan pahanya. Ia sedikit menggeser tubuhnya dan melihat dari mana asal pergerakan itu dan ...


"Aaaaaaaaaa...."


Teriakan Mara sontak membuat Dewa yang tengah larut dalam buaian mimpinya seakan ditarik paksa kesadarannya. Lelaki itu melonjak dan mendudukkan posisi tubuhnya.


"Sayang... Ada apa? Mengapa kamu berteriak seperti itu?"


Sembari mengucek-ucek matanya Dewa bertanya penuh rasa heran akan hal apa yang membuat istrinya ini berteriak. Pasalnya sedari tadi ia merasa sang istri tidur dengan nyenyak. Dewa menyandarkan tubuhnya pada head board ranjang dan mulai mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Lihatlah itu Mas! Singkong bakar milikmu kembali membengkak!"


Mara menunjuk ke arah singkong bakar milik Dewa sembari menutup mata dengan telapak tangannya. Bahkan ia pun memalingkan wajah, seakan takut jika akan diterkam lagi oleh benda itu.


Dewa tergelak. Wajah sang istri yang seperti ini seakan terlihat semakin menggemaskan saja. Gegas, Dewa menarik lengan tangan Mara dan ia bawa ke dalam pelukannya.


"Sayang, jangan takut. Singkong ini sudah jinak. Jadi kamu tidak perlu menutup mata seperti itu!"


Berkali-kali Dewa mengecup pucuk kepala Mara dengan penuh sayang, seakan mentransfer alunan-alunan rasa cinta yang bergelora dalam dadanya. Meskipun peluh masih menghias pori-pori tubuh mereka, namun aroma tubuh Mara yang seperti inilah yang membuat lelaki itu seakan kecanduan.


"Apakah itu artinya kamu ingin lagi Mas?"


Dengan perasaan takut Mara mencoba mengeluarkan isi hatinya. Sedangkan Dewa terlihat semakin menyeringai nakal. "Kalau iya bagaimana Sayang? Apakah kamu siap untuk bermain lagi?"


Wajah Mara mendadak pias. Rasa perih di area sensitifnya masih begitu terasa, lalu bagaimana mungkin ia akan kembali melakukan lagi bersama sang suami?


"Mas... Tapi rasanya masih perih. A-Aku tidak sanggup Mas."


Dewa terkikik geli melihat wajah sang istri yang sudah berubah pias itu. Ingin rasanya Dewa kembali membenamkan miliknya ke dalam liang surgawi milik Mara namun melihat sang istri yang begitu kesakitan ini seakan membuatnya urung untuk melakukannya.


"Hahahaha bercanda Sayang. Malam ini cukup satu kali. Entah jika untuk malam-malam selanjutnya." Dewa kembali memagut bibir Mara dengan intens. "Terimakasih banyak sudah menjaga baik-baik apa yang menjadi milikmu ini Sayang. Taukah kamu jika aku terlalu bahagia mendapatkan itu?"


Dahi Mara sedikit mengerut. Ia tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh Dewa ini. "Bukankah saat ini merupakan pernikahan kedua mas Dewa? Lalu, mengapa mas Dewa mengatakan bahagia mendapatkan itu semua?"


"Itu karena aku dapat merasakan apa itu keperawanan dari kamu seorang Sayang, bukan dari yang lainnya."


"M-maksud kamu?"


"Ya, intinya dulu saat aku menikahi Dita kondisi dia sudah tidak perawan. Dia mengatakan pernah menjadi korban pemerkosaan di saat dia sekolah dulu."


Mara hanya menganggukkan kepalanya. "Ooohhhh seperti itu?"

__ADS_1


Dewa kembali mengecup kening sang istri dengan penuh sayang. "Ya sudah, sekarang mandi yuk. Sedari tadi kita belum mandi loh Sayang."


"Ayo Mas!"


Mara gegas menggeser tubuhnya untuk beranjak dari atas ranjang. Ia melilitkan selimut untuk membalut tubuhnya yang polos. Namun ketika ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba...


Brukkkk....


"Aaaaaahhh..... Sakit!"


"Sayang!!!"


Dewa pun tak kalah memekik tatkala melihat tubuh Mara ambruk di atas lantai. Seakan tidak perduli dengan kondisi tubuhnya yang polos, ia gegas menghampiri Mara untuk membantunya kembali berdiri.


"Huhuhuhuhu... Perih sekali Mas. Sepertinya aku tidak bisa jalan lagi, huhuhuu."


Dewa terkesiap melihat sang istri tetiba menangis. Tadi, ketika pergumulan panas yang mereka lakukan di atas ranjang tidak begitu membuatnya tergugu seperti ini, sekarang justru malah membuatnya tersedu-sedu. Dewa hanya bisa tersenyum simpul sembari merangkum pipi Mara dengan kedua telapak tangannya.


"Siapa bilang kamu tidak bisa berjalan Sayang? Kamu bisa berjalan, hanya saja harus beradaptasi terlebih dahulu. Karena cara jalanmu pasti akan berbeda dari sebelumnya."


"Berbeda? Maksudmu seperti apa Mas?"


Dewa sedikit mengulas senyum di bibirnya. "Mungkin, akan seperti pinguin."


Bibir Mara sedikit mencebik. "Issshhh mana bisa seperti itu Mas. Aku tidak mau!"


Dewa hanya bisa terkekeh. Gegas, ia membopong tubuh Mara ala-ala bridal style untuk ia bawa ke kamar mandi. "Akan aku sembuhkan rasa sakitmu ini Sayang!"


Tetiba firasat Mara dipenuhi oleh atmosfer yang tidak begitu mengenakkan. "M-maksud kamu apa Mas?"


Senyum seringai terbit begitu saja di bibir Dewa. "Rasa sakitmu ini akan menghilang jika terbiasa dengan kunjungan singkong bakarku ini Sayang!"


Buru-buru Mara memukul kecil dada bidang Dewa. "Aaahhhh ini masih teramat sakit Mas!"


"Maka dari itu, mari kita lakukan lagi di kamar mandi. Sehingga rasa sakit itu segera pergi dan berganti menjadi rasa nikmat tiada tara."


"Mas Dewaaaaaaaa!!!"


Brakkkkk!!!!.


Pintu kamar mandi terhempas kuat-kuat. Dan sepasang suami istri itu kembali melakukan ritual malam pertama mereka di dalam kamar mandi.


***


Tubuh Mara terkulai lemas di dalam bathtub kamar mandi setelah penyatuan raga yang entah untuk ke berapa kalinya itu terjadi. Sedangkan Dewa masih terlihat dalam posisi wuenak di bawah tubuh Mara sembari memainkan dua buah benda sintal milik sang istri yang terasa begitu memanjakan tangan.


"Mas.... Aaahhhh.... Sudah dong... Aku benar-benar sudah lelah..."

__ADS_1


Sembari memejamkan mata dan sedikit melenguh, karena perbuatan sang suami yang memainkan kedua benda miliknya ini, Mara mencoba bernegosiasi dengan sang suami. Pasalnya permainan mereka di dalam kamar mandi jauh lebih banyak daripada tatkala berada di atas ranjang tadi. Jika di atas ranjang tadi Dewa hanya mencapai satu kali klimaks, sedangkan di kamar mandi lelaki itu sampai mencapai tiga kali pelepasan. Dan itulah yang membuat Mara merasa lelah tiada terkira.


"Iya Sayang, iya... Aku tidak akan minta jatah lagi kok. Tapi biarkan aku memainkan milikmu ini. Rasa-rasanya aku kecanduan sekali dengan benda ini."


Tangan Dewa masih intens meremas-remas bukit kembar milik Mara seakan tidak mau untuk ia lepaskan. Tidak hanya itu saja, ia berikan juga gigitan-gigitan kecil di pundak mulus milik istrinya ini.


Mara berdecak. "Tapi kalau kamu tidak menghentikan aktivitasmu ini, bisa-bisa aku....."


Mara terpaksa memangkas ucapannya, ia khawatir jika apa yang ia katakan justru akan semakin membuat Dewa bernafsu. Namun ternyata dugaan Mara keliru, ternyata suaminya ini semakin bersemangat dalam mencumbuinya.


"Kalau kamu terangsang, mari kita lakukan lagi Sayang. Sepertinya dengan posisi WOT akan lebih mengasyikkan. Karena dengan posisi itu, aku kamu bisa mengendalikan permainan kita. Bagaimana? Mau?"


Kedua bola mata Mara terbelalak sempurna. Buru-buru ia cubit paha suaminya ini.


"Aaaaaahhh... Sakit Sayang.. Mengapa kamu mencubitku?"


Bibir Mara sedikit mengerucut. Ia teramat kesal karena sang suami masih saja menggodanya. "Mas... Apa kamu tidak merasa lelah? Aku saja lelah sekali. Tapi mengapa kamu terlihat semakin bertenaga?"


"Entahlah Sayang... Mungkin aku merasakan virgin effect , yang membuatku bahagia dan selalu ingin lagi, lagi, dan lagi."


"Hooooaaaammm...."


Dahi Dewa mengernyit. "Sayang, kamu mengantuk?"


Mara mengangguk pelan. "Iya Mas... Aku mengantuk sekali. Bisakah kita tidur Mas? A-Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa kantukku."


Dewa membuang nafas sedikit kasar. Sebenarnya lelaki itu masih ingin bermain-main dengan Mara, namun melihat sang istri, sudah begitu mengantuk membuatnya tidak tega untuk melanjutkannya lagi.


"Baiklah Sayang... Ayo kita tidur. Tapi besok kita lanjutkan lagi ya...," ucap Dewa sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Ya Tuhan.. Mengapa suamiku ini masih membahas perihal esok hari? Padahal esok, aku ingin istirahat total. Sungguh, tubuhku benar-benar lemas... Ah tapi lihat nanti saja lah, yang terpenting saat ini aku bisa tidur nyenyak ya meskipun harus berbohong dengan pura-pura mengantuk.


"Iya Mas, iya!"


Pada akhirnya dua manusia itu keluar dari dalam bathtub. Mereka keringkan tubuh masing-masing dengan handuk dan mulai mengenakan piyama masing-masing. Seperti biasa, Dewa membopong tubuh Mara dan ia hempaskan di atas pembaringan.


Cup...


"Selamat tidur Istriku. Mimpi indah ya..."


Mara tersenyum simpul. "Selamat tidur juga Mas..."


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2