
Tanpa permisi, setetes bulir bening dari pelupuk mata gadis itu lolos begitu saja. "Ternyata lelaki itu belum juga berhenti mengincar rumah peninggalan ayah!"
Dengan langkah lebar, Sekar mulai mendekat ke arah teras rumah. Daun pintu yang dibiarkan terbuka lebar, seakan menjadi medan magnet yang menjadi pusat perhatian tetangga sekitar. Tidak sedikit dari mereka yang ingin melihat secara langsung apa yang tengah terjadi di kediaman Sekar ini.
"Berhenti mengungkit-ungkit rumah ini! Karena Anda sama sekali tidak berhak untuk memiliki bahkan menjual rumah ini!"
Sekar mencoba berteriak lantang meskipun suaranya terdengar bergetar. Mati-matian gadis itu menahan amarah yang sudah begitu membara dalam dada. Layaknya banjir bandang yang menerjang dan meruntuhkan tanggul-tanggul air, amarah itu tiada lagi bisa ia pendam. Gadis itu dengan berani, menentang seorang lelaki yang tak lain bergelar sebagai ayah tiri baginya ini.
Lelaki paruh baya bernama Prasetyo itu terdengar terbahak. Hingga suaranya menggema memenuhi langit-langit ruang tamu yang tidak terlalu luas ini. Di tangannya ada sebuah botol berwarna hijau yang Sekar yakini membuat ayah tirinya ini mabuk berat. Selain memiliki hobi sabung ayam, lelaki ini juga gemar mabuk-mabukan, dan pastinya gemar bermain perempuan yang seakan membuat lelaki itu sama sekali tidak memiliki hal yang patut dibanggakan oleh Sekar. Di mata Sekar, ayah tirinya ini tidak lebih dari sosok malaikat maut yang akan mencabut nyawanya dan nyawa sang ibu secara perlahan, dengan penderitaan hidup yang mereka rasakan.
"Hei anak kecil, berani-beraninya kamu menentangku!Apa kamu lupa siapa aku, hah?"
Sekar tersenyum miring. "Anda hanyalah lelaki pecundang yang menumpang hidup bersama ibuku. Yang hanya bisa membuat ibu setiap hari menangis dan meraung akibat perilaku Anda!"
Raut wajah Prasetyo berubah muram dan mendung. Ucapan anak tirinya ini benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya. Meskipun pada kenyataannya memang seperti itulah adanya. Dia hanya menumpang hidup bersama sang istri.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun. Apa seperti ini cara ayah kamu mendidikmu? Dengan tidak menghormati orang yang lebih tua?"
Sekar mengusap bulir-bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia mencari oksigen yang masih tersisa di ruangan ini dengan menghirup nafas dalam-dalam. "Anggap saja kesabaran saya dan ibu hampir dua tahun ini sebagai salah satu cara kami untuk menghormati Anda. Namun tidak untuk saat ini. Saat ini, saya sudah tidak lagi bisa bertoleransi akan apa yang telah Anda lakukan. Saya akan memberontak untuk mempertahankan apa yang menjadi milik saya!"
Rahang Prasetyo terlihat mengeras, tangannya mengepal kuat. Jika botol yang ia genggam itu terbuat dari plastik, pastilah sudah berubah bentuk dan mata lelaki itu memerah seakan menjadi isyarat bahwa ia juga tengah menahan kobaran api amarah.
Dengan terhuyung, Prasetyo mencoba mendekat ke arah Sekar. Tangan yang memegang botol berwarna hijau itu, ia ayunkan ke atas seakan bersiap untuk menikam kepala Sekar dengan botol itu.
"Mas hentikan!" teriak Ambar yang tak lain adalah ibunda Sekar tatkala melihat kekalapan sang suami.
__ADS_1
Wanita yang sebelumnya duduk di salah satu kursi ruang tamu, mulai beranjak, mencoba untuk menghentikan sang suami yang sudah dikuasai oleh setan. Ambar bersimpuh di kaki Prasetyo sembari memegang kakinya. "Hentikan Mas! Hentikan!"
"Benar-benar anak tidak punya sopan santun. Enyah saja kamu dari dunia ini!"
Lagi, Prasetyo mengayunkan tangannya di udara, dan bersiap untuk memukul kepala Sekar dengan botol itu.
"Aaaaaaa.... Mas, hentikan!!"
Bugh....!
Prangg.....!!!!
Sebuah tendangan kasar, Krisna layangkan tepat ke arah tubuh lelaki paruh baya ini dan sukses membuat tubuh Prasetyo terkapar di atas lantai. Botol yang ia bawa terlepas dari genggamannya terlempar dan pecah hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"Jangan sekali-kali Anda berani menyentuh gadis ini ataupun melukai gadis ini. Setitik saja ada luka yang membekas di tubuh gadis ini akibat perbuatan Anda, Anda tinggal memilih ingin masuk ke rumah sakit atau liang kubur?"
Krisna tersenyum sinis. "Sebelumnya, saya tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga Anda. Namun, mulai malam ini jika Anda berani menyakiti fisik gadis ini, saya tidak akan segan untuk mengirimkan Anda ke dalam kerak neraka!"
Mendengar ucapan Krisna seakan membuat Prasetyo semakin tersulut emosi. Ia mencoba untuk bangkit dan bermaksud untuk menghajar Krisna.
"Dasar lelaki kurang ajar....."
Bugh... Bughhh... Bughhh....!!!
Sebelum tangan Prasetyo mengenai wajah Krisna, Krisna lebih dulu berhasil menghajar tubuh lelaki paruh baya ini. Tiga hantaman kembali ia berikan ke tubuh Prasetyo dan untuk kedua kalinya lelaki itu terkapar di atas lantai.
Bughhh .. Bugghhh... Bugghhh....
__ADS_1
"Aaaaaahhh...." Prasetyo memekik kesakitan. Tatkala bertubi-tubi Krisna kembali menghujaninya dengan hantaman-hantaman di wajahnya. Krisna duduk di atas tubuh Prasetyo, seakan tidak memberikan kesempatan lelaki paruh baya itu untuk bernafas.
Setelah dirasa puas, Krisna kembali berdiri. "Camkan kata-kata saya. Jangan sekali-kali Anda berani melukai fisik gadis ini. Saya tidak akan tinggal diam jika sampai ada segores luka membekas di tubuh gadis ini."
Krisna menatap Sekar dengan tatapan nanar. Tubuh gadis itu juga terlihat bergetar hebat dan air matanya juga deras mengalir. Mungkin ia begitu banyak shock mengalami kejadian seperti ini. Bahkan sang ibu pun juga nampak menangis histeris dengan apa yang ia alami di malam hari ini. Krisna meraih tangan Sekar, sedikit menariknya dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Krisna memeluk erat tubuh Sekar dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut di kepala sang gadis, seakan menjadi sebuah isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja Sekar!"
Sekar sesenggukan di pelukan Krisna. "S-Saya takut Tuan. Saya takut!"
Hati Krisna mencelos, di balik sikap Sekar yang kuat seakan berani menentang apapun yang dianggap melukai harga dirinya, ternyata gadis ini menyimpan sebuah cerita luka yang cukup menganga. Krisna kembali mengecup pucuk kepala Sekar dengan intens.
"Jangan takut, ada aku yang akan selalu melindungimu." Krisna mengurai sedikit pelukannya. Ia tatap kedua netra milik Sekar dengan lekat. Perlahan, ia mengusap sisa air mata yang masih mengalir membasahi pipi sang gadis. "Sekarang, kemasi baju-bajumu dan juga ibumu. Kita pergi dari sini!"
Sekar terkesiap. "Pergi? Ke mana Tuan?"
"Aku akan membawamu dan juga ibumu ke tempat yang jauh lebih aman!"
.
.
. bersambung...
Mara dan Dewa belum bisa hadir di scene cerita ya kak.. Sepertinya mereka sedang tidak ingin diganggu... hihihihihi 😘😘😘
__ADS_1