Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 117 : Angel Iki Angel


__ADS_3


"Maaf Pak, apa ada yang bisa saya bantu?"


Suara lembut dari salah seorang pramuniaga di minimarket yang berada tidak jauh dari hotel, sukses membuat tubuh Dewa sedikit terperanjat. Dewa yang tengah berdiri terpaku sembari menatap lekat rak-rak yang berisi benda-benda asing di depan matanya ini terlihat sedikit kebingungan. Pasalnya ia sama sekali tidak paham pembalut seperti apa yang dibutuhkan oleh sang istri.


"Mbak, aku sedang mencari pembalut!" Dewa berujar dengan raut wajah polos.


Pramuniaga itu tak sengaja terkekeh kecil, namun buru-buru ia hentikan takut jika merupakan salah satu perilaku yang tidak sopan kepada pengunjung. Mungkin pramuniaga itu bertanya-tanya dalam hati. Mengapa lelaki di depannya seperti seseorang yang tengah kebingungan? Padahal di hadapannya sudah tersedia beraneka rupa jenis pembalut dan juga merk nya.


"Oh... Pembalut? Pembalut yang digunakan biasanya yang seperti apa Pak?"


Dewa terperangah. Baru beberapa minggu menjadi suami Mara, lelaki itu benar-benar tidak paham pembalut seperti apa yang sering dipakai oleh sang istri. Dewa sedikit tersenyum kikuk. Dan menggaruk pucuk hidungnya yang tidak gatal. "Memang ada berapa macam jenis pembalut Mbak?"


"Ada dua Pak. Yang reguler dan yang bersayap."


Dewa makin terkesiap. Mendengar kata bersayap seakan membawa imajinasinya ke bentuk sayap yang dimiliki oleh burung. "Sayap? Sayap yang seperti apa ya Mbak?"


Pramuniaga itu terkekeh geli. "Maksud sayap di sini adalah pelindung samping Pak. Jadi ketika malam istri Bapak bisa bergerak bebas, tanpa takut bocor samping."


"Berarti kalau siang, diwajibkan memakai yang reguler Mbak?"


"Ya tidak seperti itu juga Pak. Di siang hari pun juga tidak mengapa jika memakai yang bersayap. Tidak ada yang melarang."


Dewa mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh pramuniaga ini. "Baiklah Mbak, saya ambil yang bersayap saja."


"Mau yang ukuran berapa Pak?"


Mulut Dewa menganga lebar. "Ukuran? Memang apa hubungannya antara ukuran milik istri saya dengan ukuran pembalut itu?"

__ADS_1


Kali ini dahi sang pramuniaga yang mengerut. "Tunggu sebentar, ini yang Bapak maksud ukuran apa ya? Sepertinya pikiran Anda dengan saya tidak sinkron."


"Maksud Mbak ini ukuran dada istri saya kan?"


Ingin rasanya pramuniaga itu menggaruk tembok yang ada di sekelilingnya. Ia benar-benar gemas dengan lelaki yang sedikit tidak waras ini. Apa coba hubungannya pembalut dengan dada milik sang istri? Memang yang mau dibalut payu*dara istrinya?


Pramuniaga itu membuang nafas sedikit kasar. Berupaya untuk membuang semua rasa gemas yang dihadirkan oleh lelaki dewasa ini. "Pak, bukan dada milik istri Bapak, tapi biasanya istri Bapak menggunakan yang berukuran berapa?"


Dewa semakin tak dapat berkutik. Ternyata permasalahan pembalut ini begitu rumit. Jauh lebih rumit daripada membuat strategi pasar untuk bisa meningkatkan omset pabrik miliknya. Namun, tak memerlukan waktu lama, seutas senyum manis terbit di bibir Dewa.


"Kalau begitu aku ambil semua ukuran yang ada Mbak. Ingat ya, yang bersayap dan masing-masing ukuran aku ambil satu item."


Pramuniaga itu menganggukkan kepalanya. "Lalu mau merk apa Pak?"


"Memang ada merk apa saja Mbak?"


Tidak ingin terlalu larut dalam kebingungan yang semakin menjadi karena tidak tahu pembalut merk apa yang disukai oleh sang istri, akhirnya... "Saya ambil semua merk itu, Mbak!"


Pramuniaga itu terperangah. "Apa?"


***


"Astaga Mas.... Mengapa ini pembalutnya banyak sekali?"


Mara yang masih berada di dalam kamar mandi sedikit terkejut tatkala melihat sang suami menyerahkan satu kantong plastik besar yang berisikan beberapa merk pembalut. Mara kesusahan untuk menelan salivanya seakan ada sesuatu yang menjadi penghalang di kerongkongannya. Sedangkan Dewa, lelaki itu hanya memasang wajah santai tanpa merasa terbebani sama sekali.


"Ini semua untukmu Sayang. Karena aku tidak terlalu paham dengan pembalut merk apa yang menjadi kesukaanmu, maka aku beli semua merk pembalut itu. Bagaimana? Ideku cukup cemerlang bukan?"


Mara semakin terperangah, bisa-bisanya lelaki itu masih sempat untuk membanggakan dirinya sendiri. "Tapi ini banyak sekali Mas. Aku hanya butuh dua pack saja. Kalau seperti ini, sayang uang kamu bukan?"

__ADS_1


Dewa tergelak. "Itu tidak masalah bagiku Sayang. Bahkan jika kamu mau, satu pabriknya aku belikan untukmu Sayang!"


Mara tergelak. "Yakin, mau membelikan untukku satu pabriknya sekalian Mas? Sudah siap kalau setiap bulan, kurang lebih selama satu minggu kamu beristirahat dari aktivitas bercinta?"


Dewa terperangah tak percaya. "Libur? Maksud kamu bagaimana Sayang?"


"Ya libur tidak bercinta terlebih dahulu Mas. Kamu dilarang menyentuhku!"


"Haruskah seperti itu Sayang?"


Mara menganggukkan kepalanya. "Ya memang seperti itu Mas. Memang kamu tidak merasa jijik kalau harus mengobok-obok punyaku yang berdarah?"


"Tidak bisa dipangkas kah? Dua hari atau maksimal tiga hari gitu Sayang?"


"Tidak Mas. Kalau dipangkas tidak bisa. Tapi kalau diperpanjang bisa Mas!"


"Apa? Lebih dari tujuh hari? Macam PPKM saja yang diperpanjang terus." Dewa memijit-mijit pelipisnya yang tetiba terasa pening. "Angel iki angel....!!" (susah ini susah)


Mara terbahak. Buru-buru ia kembali masuk ke kamar mandi, dan mulai memasang pembalut yang dibelikan oleh sang suami.


.


.


. bersambung...


Mohon maaf untuk part ini pendek dulu ya Kak... Hehe hehehehehe sedang ada keperluan...πŸ™πŸ™πŸ™


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2