Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 72 : Jogja Lagi


__ADS_3


"Aaaaaahhh akhirnya sampai juga!"


Di resort yang pernah di tempati oleh Dewa dan Mara, kini gadis itu kembali tiba di tempat ini. Resort yang menjadi saksi atas perjalanan cinta keduanya dan sebentar lagi akan menjadi saksi terikatnya hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.


Ya, di kota ini Mara dan Dewa akan melangsungkan acara pernikahan mereka. Kota yang telah dipilih oleh Krisna yang pastinya akan menjadi tempat untuk mengabadikan salah satu momen kehidupan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Momen kehidupan Mara untuk kali pertama dan kali kedua untuk Dewa. Meski tidak sama-sama menjadi momen pertama, namun sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan yang ada.


Mara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia angkat tangannya dan ia tatap lekat sebuah cincin bermata biru yang Dewa sematkan di jari manisnya satu minggu yang lalu. Senyum gadis itu tiada henti merekah dan hatinya dipenuhi oleh bahagia yang membuncah. Baginya ini semua terlalu cepat, namun tidak ada yang dapat menghentikan waktu, esok dia akan resmi menyandang gelar sebagai nyonya Rangga Danabrata Dewandaru.


Terimakasih atas semua anugerah yang telah Engkau berikan kepadaku. Esok aku akan resmi menjadi seorang istri. Semoga semua berjalan lancar tanpa satu halangan pun.


Tok.. Tok... Tok...


Suara ketukan pintu menarik paksa kesadaran Mara yang tengah larut dalam pikirannya sendiri. Gegas, ia beranjak dari posisi rebahannya dan membuka pintu kamar.


"Mas Dewa?"


Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Apakah hari ini kamu merasa lelah?"


Mara mengangguk pelan karena memang tubuhnya terasa lelah sekali. "Iya Mas, tubuhku rasanya begitu lelah. Emmmmm tapi ada apa Mas?"


"Aku hanya ingin mengajakmu ke rumah ibu. Sebelum aku menikahimu, aku ingin mengunjungi rumah beliau terlebih dahulu."


Dahi Mara sedikit mengerut. "Rumah ibu? Mas Dewa mau mengunjungi makam ibu?"


"Ya, aku ingin mengunjungi makam ibu. Kenapa? Tidak masalah bukan?"


"Baiklah Mas. Aku bersih-bersih badan sebentar. Setelah itu kita akan ke makam."


Mara bermaksud membalikkan badannya, namun sebelum ia berhasil melakukan hal itu, buru-buru Dewa menarik tangan sang gadis untuk ia bawa ke dalam pelukannya.


"Aku sudah tidak sabar untuk menyambut hari esok. Aku ingin segera menjadi suamimu, Ra."


Mara hanya terkikik geli. "Tinggal beberapa jam lagi Mas. Sabar ya."


Dewa mengecup pucuk kepala Mara dengan lekat. "Besok kita akan kedatangan tamu istimewa Ra. Jadi kamu harus bersiap-siap ya."


"Tamu istimewa? Siapa itu Mas? Apa mungkin relasi-relasi mu yang ada di kota ini?"

__ADS_1


Dewa hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, mereka lebih dari sekedar relasi dari perusahaanku. Mereka adalah tamu-tamu istimewa yang senantiasa memberikan dukungan penuh sehingga cerita kita masih tetap bertahan hingga di part ini."


"Seperti itukah?"


"Ya, seperti itu." Dewa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Selain istimewa, mereka juga selalu memiliki kejutan-kejutan yang tidak terduga Ra. Jadi kita bersiap-siap saja ya akan mendapatkan kejutan apa dari mereka."


Mara ikut tergelak. "Mengapa jadi aku yang ikut deg-deg ya Mas. Kira-kira melalui tamu-tamu istimewa itu, mbak Rasti akan ngasih kejutan apa ya untuk kita?"


Dewa hanya mengendikkan bahu. "Jangan berharap mbak Rasti akan memberikan untuk kita tiket berbulan madu. Itu sebuah hal yang mustahil."


"Lalu, kira-kira kejutan apa Mas, yang akan diberikan untuk kita?"


"Hmmmmm, sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Sekarang ayo lekas siap-siap. Kita ke makam ibu!"


Sebelum Mara mengurai pelukannya dari tubuh Dewa, lelaki itu kembali mengecup intens kening Mara. Rasa-rasanya ia selalu merasakan kedamaian ketika bisa mengecup kening gadis ini. Dan hal itulah yang membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari gadis ini.


"Tahan Wa, tahan! Tinggal besok, tapi kamu masih saja tidak bisa sabar!"


Dewa dan Mara menoleh ke arah sumber suara. Dan terlihat Krisna sudah berdiri tidak jauh dari sana.


"Hmmmmm mengapa kamu masih saja menjadi pengganggu sih Kris? Rasa-rasanya kamu selalu mengikuti kemanapun aku pergi?"


Krisna hanya berdecih. "Dasar tidak punya akhlak kamu Wa. Sekian tahun aku menjadi asisten pribadimu dan sekarang kamu akan melupakanku?"


"Terimakasih banyak untuk semua hal yang telah kamu lakukan untukku, Kris. Pernikahanku dengan Mara yang sebentar lagi akan dilangsungkan juga tidak lepas dari kerja kerasmu. Jadi, aku memang harus berterimakasih banyak kepadamu."


"Berterimakasih lah secara benar Wa. Aku tidak ingin hanya sekedar kata-kata saja."


Dewa terlihat merotasikan kedua bola matanya, mencoba memahami apa yang dikatakan oleh sahabat sekaligus asisten pribadinya ini. "Aahhhh.. Baiklah, aku akan membelikan untukmu sekuter matic keluaran terbaru. Bukankah selama ini kamu menginginkan itu?"


Krisna sedikit tersentak. "Benarkah kamu akan membelikanku sekuter matic itu untukku?"


"Ya benar. Aku akan membelikan untukmu."


"Haha haahaa sungguh mulia hatimu Wa. Aku happy sekali mendengarnya." Krisna menepuk-nepuk pundak Dewa. "Terimakasih banyak tuan Rangga Danabrata Dewandaru!"


Senyum seringai terbit di bibir Dewa. "Ya, aku memang seperti ini. Harusnya kamu juga banyak bersyukur memiliki bos seperti aku ini Kris. Yang pastinya baik hati, tidak sombong, suka menolong dan rajin menabung. Bagiku sekuter matic yang akan aku belikan itu tidak ada artinya apa-apa karena pada akhirnya aku bisa menikahi gadis yang aku cintai."


Krisna hanya berdecak mendengar kenarsisan lelaki di depannya ini. Terkadang tingkat over confidence sang bos menang tidak dapat terkendali. "Namun sayang, kamu sedikit lambat dalam bertindak. Jika tidak ada campur tangan dariku, aku rasa kamu tidak akan pernah bisa menikahi Mara. Untung aku tidak khilaf, jika khilaf mungkin akulah yang akan menjadi suami Mara!"

__ADS_1


Pletak!!


"Jangan asal berbicara kamu Kris! Awas saja jika kamu berani mengganggu apa yang menjadi milikku!" Sungut Dewa dengan mata sedikit melotot.


Krisna hanya bisa mengusap-usap keningnya sembari menahan sedikit rasa sakit karena jitakan yang dilayangkan oleh Dewa. "Iya, iya, aku tidak akan pernah menggangu apa yang menjadi milikmu. Namun sepertinya aku ingin mencari calon istri yang berasal dari kota ini juga. Barangkali aku bisa mendapatkan calon istri yang sama cantiknya dengan Mara."


"Kamu tidak perlu risau. Besok akan banyak tamu istimewa yang hadir. Kamu bisa tebar-tebar pesona kepada mereka. Barangkali salah satu pembaca setia cerita kita ini ada yang terpikat olehmu."


"Hmmmmm ide yang bagus itu Wa. Kali saja memang benar jika salah satu pembaca setia cerita ini ada yang akan menjadi jodohku."


"Ya, berusahalah Kris. Semoga tidak lama lagi, kamu akan segera menyusul."


***


Rintik air hujan baru saja berhenti jatuh dari langit. Menyisakan harum aroma tanah basah yang terasa begitu menyegarkan dan membuat hawa sekitar terasa menyejukkan. Dewa dan Mara sudah tiba di area pemakaman dan keduanya terlihat duduk di samping pusara Paramitha Andadari yang tidak lain adalah ibunda Mara.


"Ibu... Hari ini Dewa kembali datang ke rumah ibu untuk memenuhi janji yang pernah Dewa ucapkan di atas pusara ibu. Untuk memenuhi janji yang pernah Dewa ucapkan, esok hari Dewa akan menikahi putri ibu, semoga ibu memberikan restu untuk Dewa agar bisa selalu membahagiakan putri ibu."


Dewa menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Mungkin ini terlalu cepat. Namun sejak takdir menuliskan skenario hidup mobil Dewa mengalami mogok mesin malam itu, semakin membuat Dewa percaya bahwa itulah yang menjadi jalan bagi Dewa bertemu dengan belahan jiwa Dewa. Dan belahan jiwa Dewa itu tidak lain adalah putri ibu, Mara. Restui kami, ibu.... Sehingga kami dapat menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan penuh kebahagiaan."


"Ibu... Mulai saat ini ibu bisa beristirahat dengan tenang. Mara sudah bertemu dengan lelaki yang kelak akan selalu menjaga, melindungi dan membahagiakan Mara. Dan Mara percaya akan cinta yang dimiliki mas Dewa untuk Mara. Restui Mara, ibu..."


Sama seperti apa yang mereka lakukan di hadapan Oma Widuri dan juga Baskara, keduanya juga mendatangi makam Paramitha Andadari untuk meminta restu. Angin kencang tiba-tiba berhembus kencang. Membelai daun-daun pohon bunga kamboja yang memayungi makam Paramitha Andadari, seakan menjadi sinyal kehadiran sosok tak kasat mata yang berada di sekitar tempat ini.


Kepala Mara sedikit mendongak. Pandangan matanya menatap lekat bagian pojok makam. Ekor matanya menangkap sosok sang ibu yang tengah berdiri tak jauh dari sana. Wanita itu tersenyum manis dan sembari menganggukkan kepalanya.


"Ibu sudah merestui kita Mas!" ucap Mara masih sembari menatap lekat arah pojok makam.


Dewa menoleh ke arah Mara yang sedang berjongkok di sisinya. "Bagaimana kamu bisa tahu, Ra?"


"Ibu berdiri di sana, dan tersenyum ke arah kita!"


Sorot mata Dewa mengikuti kemana arah telunjuk Mara. Namun sayang, lelaki itu tidak dapat melihat apapun. Namun apapun itu, Dewa tetap percaya bahwa Paramitha Andadari memberikan restu untuknya.


"Terimakasih banyak Ibu...."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Part pernikahan inshaallah akan hadir di part selanjutnya ya Kak.. Hehehehe maaf karena kemarin hanya update 1 episode saja .. Pikiran si othor remahan kulit kuaci ini sedang buntu..😅😅🙏🙏🙏


__ADS_2