
"Aku sungguh tidak melakukan hal itu Mbok. Oma sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri, tidak sampai hati jika aku mencelakainya!"
Duduk di tepian ranjang, menggunakan bantal untuk membenamkan wajahnya, Mara masih terlihat sesenggukan menumpahkan air matanya. Bak sebuah tanggul sungai yang jebol dihantam oleh banjir bandang, air mata wanita yang tengah hamil tua itu tiada henti membanjiri wajah cantik yang saat ini terlihat semakin sendu.
Punggungnya juga terlihat naik-turun tiada beraturan seakan menahan rasa sesak yang teramat terasa menghimpit dadanya. Mbok Darmi yang masih setia berdiri di sisi sang nyonya muda, gegas mendaratkan bokongnya di samping Mara. Seperti apa yang ia lakukan sebelumnya saat berada di dapur, asisten rumah tangga oma Widuri itu mencoba untuk menenangkan Mara.
"Simbok percaya bahwa nyonya muda tidak melakukan hal itu. Ini pasti ada seseorang yang ingin menjadikan nyonya muda sebagai tumbal akan keserakahan seseorang."
Dengan penuh kelembutan, mbok Darmi mengusap punggung majikannya ini. Mungkin di mata kebanyakan orang, mbok Darmi merupakan salah seorang asisten rumah tangga yang kurang sopan karena barani-beraninya melakukan hal sedekat itu kepada sang majikan di mana tidak ada hubungan lain diantara keduanya selain hubungan majikan dan asisten. Namun, inilah perbedaan Mara di mata mbok Darmi sendiri. Nyonya mudanya ini selalu bersikap baik kepada siapapun. Ia selalu bisa membawa dirinya di dalam situasi apapun. Sehingga kehadiran wanita itu selalu mendapatkan respon yang baik dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mara yang mendengar penuturan mbok Darmi sontak mendongakkan kepalanya. Seperti kesusahan menangkap maksud yang diucapkan oleh mbok Darmi ini. "Maksud mbok Darmi bagaimana? Apa ada seseorang yang berniat menjadikan aku sebagai tumbal? Jika memang iya, siapa orang itu Mbok? Aku merasa tidak memiliki musuh. Tapi mengapa sampai ada orang yang berniat menjadikan aku sebagai tumbal?"
Mbok Darmi mengulum sedikit senyumnya. Nyonya mudanya ini terlalu memiliki hati yang begitu murni sehingga menganggap bahwa semua orang yang berada di dekatnya benar-benar baik terhadapnya. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu dari mereka memiliki niat yang buruk.
"Mungkin memang benar jika nyonya muda merasa tidak memiliki musuh. Tapi bagaimana jika orang itu lah yang menganggap keberadaan nyonya muda sebagai musuhnya? Musuh dalam mencapai segala ambisinya?"
Mara semakin terperangah, kata demi kata dari bibir mbok Darmi ini semakin tidak dapat ia cerna sama sekali. "Aku sungguh tidak paham Mbok. Maksud mbok Darmi bagaimana?"
"Sudahlah Nyah. Nyonya muda jangan terlalu sibuk memikirkan hal ini. Lebih baik nyonya muda segera beristirahat."
"Tapi bagaimana jika nanti polisi datang kemari Mbok? Apa yang harus aku lakukan?"
"Nyonya muda yakin bahwa tidak melakukan apapun terhadap nyonya besar bukan?"
Mara menganggukkan kepalanya mantap. "Demi Tuhan, aku tidak melakukan hal itu Mbok. Aku sama sekali tidak tahu mengapa bisa sampai ada tumpahan minyak di lantai dapur."
Mbok Darmi menyunggingkan senyumnya. Memegang bahu sang majikan dengan maksud untuk membuang semua rasa takut yang dirasakan oleh Mara. "Jika nyonya muda yakin tidak melakukan apapun, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu melindungi Nyonya. Dan Simbok rasa, tuan Dewa tengah merencanakan sesuatu untuk membuktikan bahwa Nyonya tidak bersalah sama sekali."
Perkataan mbok Darmi layaknya sebuah celah kecil untuk Mara bisa kembali tenang. Sedangkan mbok Darmi masih saja menampakkan raut wajah terbaik yang ia miliki di hadapan majikannya ini. "Tenanglah Nyonya. Sebentar lagi, perangkap yang telah dipasang oleh orang jahat itu justru akan memasukkan tubuhnya sendiri ke dalam perangkap itu."
Sementara itu di kamar yang berbeda, nampak seorang wanita yang tengah berjingkrak-jingkrak kegirangan. Senyum sumringah tiada henti tersungging di bibirnya sebagai pertanda jika saat ini ia terlampau bahagia.
"Ternyata otakku cukup cemerlang untuk bisa membuat skenario itu. Aku yakin setelah ini Dewa pasti akan segera melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib dan aku yang akan bertindak sebagai saksi kunci. Setelah itu ... tamat sudah riwayatmu Ra. Hahahaha haahaahaa."
Dengan wajah yang berseri bak mentari pagi yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, Dira sudah merangkai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah ini. Rentetan peristiwa yang pastinya akan menjadi akhir dari keberadaan Mara di rumah ini yang ia anggap sebagai penghambat bahkan penghalang untuk mendapat apa yang ia inginkan. Wanita itu gegas menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Ia pandangi langit-langit kamar dengan binar bahagia yang begitu kentara sembari mengkhayal akan sesuatu indah yang akan ia dapatkan setelah ini. Sampai pada akhirnya, kelopak mata wanita itu terpejam akibat rasa kantuk yang teramat mendera.
Biarkan wanita itu menyelami mimpi-mimpi indahnya. Sebelum kenyataan pahit bak empedu itu datang menghampirinya.
***
"Jadi bagaimana keadaan Oma, Dok? Dia baik-baik saja bukan?"
Dokter Ramzi yang merupakan dokter yang selalu menangani kesehatan oma Widuri, nampak membuang nafas sedikit kasar dan wajahnya sedikit pias. Mungkin dari raut wajah dokter itu, seperti menandakan bahwa saat ini oma Widuri sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Akibat benturan keras di bagian belakang kepala nyonya Widuri membuat beliau mengalami hematoma, Tuan!"
Wisnu dan Dewa yang kebetulan berada di ruang dokter Ramzi setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan oma Widuri hanya bisa sama-sama saling melempar pandangan. Tidak begitu paham dengan perkataan yang diucapkan oleh dokter ini.
"Hematoma? Apa itu Dok?" Wisnu bertanya dengan dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang menggebu. Berharap jika hematoma bukanlah salah satu keadaan yang cukup serius.
"Hematoma merupakan salah satu cidera kepala yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang berada di sekitar otak atau tulang tengkorak bagian dalam. Akibatnya, darah mengumpul atau membeku di celah antara otak dan tulang tengkorak, lalu membentuk hematoma (bekuan darah)," ucap dokter Ramzi membuka pemaparannya.
Wisnu dan Dewa sama-sama terperanjat seketika. Mendengar pemaparan awal dokter ini semakin menggiring kedua kakak beradik itu ke dalam rasa cemas yang terlihat jelas melalui sorot mata mereka.
"Oma pasti bisa pulih seperti sedia kala kan Dok? Beliau pasti akan selamat bukan?" cecar Dewa seakan memaksa sang dokter untuk bisa membuat oma Widuri pulih seperti sedia kala.
"Epidural Hematoma, itulah yang saat ini dialami oleh nyonya Widuri, Pak. Yaitu kondisi cidera kepala yang sangat serius. Kondisi ini meningkatkan tekanan dalam tengkorak, kemudian mengakibatkan hilangnya kesadaran dan kerusakan otak permanen."
Dokter Ramzi sedikit membuang nafas kasar. Rasanya begitu berat ia menyampaikan kondisi pasiennya itu, namun mau bagaimana lagi? Ia harus menyampaikan secara detail apa yang dialami oleh pasien kepada keluarganya, sepahit apapun itu.
Seperti disambar petir di siang hari, pemaparan dokter Ramzi sukses membuat tubuh Dewa dan Wisnu lemas seketika. Tulang-tulang yang menopang tubuh keduanya seakan remuk redam hingga membuat mereka kehilangan pijakan.
"Tapi masih ada kemungkinan jika Oma akan pulih kan Dok?" ucap Dewa memecah keheningan yang sempat tercipta setelah kabar buruk itu ia terima.
"Kita sama-sama berdoa saja ya Pak. Semoga akan ada keajaiban dari Tuhan, sehingga membuat nyonya Widuri bisa pulih seperti sedia kala."
Dewa dan Wisnu sama-sama menundukkan kepala. Larut dalam pikiran masing-masing. Namun semakin mereka larut dalam pikiran itu, semakin menyeret keduanya ke dalam siluet mengerikan yang akan dialami oleh wanita yang paling mereka cintai itu.
***
Di salah satu kafetaria yang berada di rumah sakit ini, Dewa dan Wisnu sama-sama menikmati secangkir kopi panas untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah sejak beberapa jam lalu mereka rasakan.
Langit gelap perlahan berubah menjadi goresan warna keemasan di ufuk timur, pertanda pagi telah datang menjelang. Suasana pagi yang biasanya dilewati dengan penuh kebahagiaan dan semangat baru, namun kali ini tidak berlaku untuk kedua kakak beradik yang saat ini tengah dirundung duka itu. Kondisi oma Widuri benar-benar membuat keduanya larut dalam kesedihan yang mendalam.
Wisnu hampir saja tersedak kopi yang tengah ia nikmati. Gegas ia letakkan kembali cangkir kopinya dan meminta penjelasan tentang apa yang dilontarkan oleh adiknya ini. "Maksud kamu apa Wa? Mengapa tiba-tiba kamu ingin memenjarakan istriku?"
"Aku sudah memegang bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh kak Dira di lima tahun yang lalu. Dan aku rasa inilah waktu yang tepat bagi kak Dira untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."
"Lima tahun yang lalu? Apa maksudmu Wa? Aku sungguh tidak mengerti!"
"Kak Dira lah yang berada di balik kebangkrutan perusahaan oma, Kak."
Wisnu terperangah. "Bagaimana bisa istriku melakukan hal itu Wa? Padahal ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan oma? Jadi apa maksudmu kebangkrutan perusahaan oma ada hubungannya dengan istriku?"
"Kak Dira bekerja sama dengan kepala bagian produksi. Pak Wibawa, dialah yang menjadi perpanjangan tangan kak Dira untuk melakukan kejahatannya itu."
"Apa??"
__ADS_1
Dewa menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Aku rasa terpelesetnya Oma di dapur, tidak lain juga merupakan perbuatan kak Dira. Namun untuk lebih jelasnya, kita bisa lihat rekaman CCTV yang mengarah ke bagian dapur. Dari sana, kita akan sama-sama tahu, siapa yang sebenarnya memiliki perilaku jahat. Dan aku harap kak Wisnu bisa diajak bekerjasama."
"Jika memang semua kekacauan ini karena ulah istriku, aku akan mengikuti apa yang menjadi rencanamu Wa!"
"Termasuk menjebloskan kak Dira ke dalam penjara?"
Wisnu mengangguk samar. "Lakukanlah, meski aku teramat mencintai Dira, namun aku tidak bisa menerima jika ia sendirilah yang menjadi duri dalam keluarga besar kita. Apalagi menyangkut keselamatan Oma."
***
Tok... Tok.... Tok....
Terdengar pintu rumah oma Widuri diketuk di jam sembilan pagi. Suasana masih terasa sepi karena di dalam rumah itu hanya ada Mara, Dira, dan juga mbok Darmi.
Dira yang kebetulan tengah duduk santai di ruang tengah, bangkit dari posisi duduknya dan mengayunkan langkah kakinya ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Wajahnya nampak semakin berbinar tatkala melihat siapa yang datang di pagi ini.
"Pak polisi?" ucap Dira saat melihat dua orang polisi berdiri di hadapannya.
"Selamat pagi Bu. Maaf saya ingin bertemu dengan ibu....."
"Sebentar Pak, saya panggilkan orangnya. Saya tahu siapa yang Anda cari."
Masih berdiri di ambang pintu, Dira sedikit menoleh ke belakang. Ia berteriak dari posisinya saat ini.
"Ra... Mara.... Kemarilah! Ada yang mencarimu!"
Mara yang tengah membuat segelas susu untuk ibu hamil sedikit terperanjat tatkala mendengar teriakan Dira. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membuat susu dan memilih untuk menemui Dira yang berada di ruang tamu.
Kedua bola mata Mara terbelalak saat melihat dua orang berseragam polisi berdiri di depan pintu. "A-ada apa ya Kak?"
"Polisi ini mencarimu, Ra." Dira menjeda sejenak ucapannya dan kembali menautkan pandangannya ke arah polisi ini. "Nah pak polisi, ini adalah wanita yang Anda cari. Mara, dialah wanita yang berusaha untuk mencelakai Oma Widuri."
Mendengar ucapan Dira, justru membuat kedua polisi itu keheranan. "Maaf Bu, tapi yang kami cari bukan yang bernama Mara."
Dahi Dira mengernyit. "Bukan Mara? Lalu siapa Pak?"
"Indira Anarawati Anindya, itulah yang kami cari!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1
Sumber berita : Allodok.com