
"Benar-benar brengsek!! Berani-beraninya mereka secara terang-terangan bermesraan di hadapanku! Awas kamu gadis kecil, aku pastikan hidup kalian tidak akan tenang!"
Toilet, menjadi tempat paling nyaman bagi Dita untuk meluapkan segala kemarahan yang meletup-letup di dalam dadanya. Jika bilik kamar mandi ini dapat berbicara, pastinya akan mengeluh karena sedari tadi wanita ini terus menerus menghujaninya dengan umpatan kata-kata kasar. Toilet yang sejatinya merupakan tempat yang kotor, seakan bertambah kotor dengan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
Ceklek...!!!!!
"Kamu?!"
Dita yang baru saja membuka pintu kamar mandi seketika terkejut setengah mati. Secara tiba-tiba istri mantan suaminya ini berdiri di depan toilet yang ia pakai untuk meredakan emosi jiwanya.
Mara tersenyum simpul. "Iya Mbak, ini saya. Apakah Anda terkejut?"
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini? Apakah kamu membuntutiku?"
Dengan tatapan penuh kebencian, Dita melayangkan pertanyaan itu kepada Mara. Sejak mengetahui bahwa yang berada di depannya ini merupakan istri baru sang mantan suami, entah mengapa dalam diri Dita dipenuhi oleh api dendam yang membara. Dita seperti tidak terima jika Mara lah yang menggantikan posisinya sebagai nyonya Rangga Danabrata Dewandaru.
"Bukankah Anda yang membuntutiku dan juga mas Dewa?"
"Apa maksud dari ucapanmu?"
"Justru pertanyaan itulah yang seharusnya saya tanyakan kepada Anda. Apa maksud Anda masih saja mengusik ketentraman hidup mas Dewa bersama saya?"
Dita tersenyum sinis. Ia merasa bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk memprovokasi Mara. "Sudah aku utarakan sebelumnya, bahwa aku menginginkan mas Dewa untuk kembali ke sisiku. Kamu pasti paham bukan bahwa itu artinya, aku ingin kembali menjadi istri mas Dewa satu-satunya."
__ADS_1
Mara tergelak mendengarkan ucapan mantan istri suaminya ini. Benar-benar wanita tidak tahu malu, masih saja ia kekeuh pada pendiriannya untuk merebut mantan suaminya yang saat ini sudah hidup bahagia.
"Jangan sekali-kali Anda berani menyentuh suamiku. Anda pasti tahu dengan siapa Anda akan berhadapan jika Anda berani mengganggu suami saya."
Dengan penuh ancaman, Mara mencoba memberikan sebuah peringatan kepada Dita. Di mata Mara, sang suami adalah kehormatan baginya. Sehingga apapun yang terjadi sudah selayaknya ia menjaga itu semua.
"Cih, aku benar-benar tidak takut dengan apa yang telah kamu ucapkan. Asal kamu tahu, sebelum kamu menjadi istri mas Dewa, akulah orang pertama yang singgah di dalam hidup mas Dewa. Sehingga kamu pasti juga paham bukan, seperti apa besarnya rasa cinta yang dimiliki oleh mas Dewa untukku?"
Mara tertawa terbahak mendengarkan omong kosong Dita ini. Ia masih saja membahas masa lalu yang sudah musnah dari dalam diri sang suami. "Aku tahu dulu mas Dewa memberikan rasa cinta yang teramat besar untuk Anda. Namun apakah Anda lupa dengan apa yang pernah Anda tinggalkan di dalam hati mas Dewa? Sebuah luka yang begitu menganga lebar yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Beruntung saat itu Tuhan mempertemukan mas Dewa dengan saya. Sehingga membuatnya tidak terlalu larut dalam luka itu."
Dita tertawa seakan meremehkan pertemuan yang terjadi antara sang mantan suami dengan Mara. Di matanya pertemuan keduanya hanya biasa-biasa saja dan sama sekali tidak istimewa. "Apakah kamu tidak sadar jika kamu hanya dijadikan sebagai pelarian atas luka yang dirasakan oleh mas Dewa?"
"Hemmmmm.. Saya tidak terlalu mempermasalahkan akan hal itu. Saya justru bangga bisa menjadi tempat pelarian untuk mas Dewa. Karena pada kenyataannya, saya lah yang berhasil menjadi penawar akan luka yang pernah Anda lakukan dalam hidup mas Dewa. Anda tahu? Hanya saya yang bisa menjadi penawar luka itu."
Mendengar Mara begitu percaya diri mengutarakan hal itu, membuat Dita semakin terbahak. Dalam benaknya, posisi dirinya dalam hidup Dewa pastilah sangat sulit untuk terganti. "Cih, kamu begitu bangga hanya sekedar menjadi penawar luka untuk mas Dewa akan luka yang pernah aku tinggalkan?"
Dita terperangah. "Apa maksud ucapanmu itu? Keadaan mas Dewa yang seperti apa yang kamu maksud?"
Mara menatap lekat tubuh Dita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak selang lama, ia pun tergelak lirih namun masih bisa terdengar di dalam indera pendengaran Dita.
"Pantas saja keadaan mas Dewa tidak pernah bisa pulih ketika hidup bersama Anda. Karena ternyata tubuh Anda tidak menarik sama sekali."
"Apa kamu bilang? Tubuhku tidak menarik sama sekali?" ucap Dita dengan lantang seakan tidak terima jika ada orang lain yang menganggap bahwa tubuhnya tidak menarik.
Mara mengangguk samar. "Ya, tubuh Anda memang tidak menarik sama sekali."
__ADS_1
"Persetan dengan apa yang kamu ucapkan! Kamu belum tahu saja siapa aku. Aku adalah mantan foto model yang sering menghiasi layar kaca dan juga media-media cetak."
"Oh ya? Bentuk tubuh kutilang darat seperti ini pernah menjadi seorang model yang terkenal?" Mara tertawa sinis sebelum melanjutkan ucapannya."Entah apa yang membutakan mata mereka hingga bisa menjadikan Anda sebagai seorang foto model. Padahal, tubuh Anda benar-benar tidak menarik sama sekali. Sama seperti yang saya katakan, kutilang darat!"
Dita terperangah. Ada satu kata asing yang dilontarkan oleh wanita di hadapannya ini yang sama sekali tidak ia ketahui apa artinya. "Kutilang Darat? Apa maksudmu?"
Mara memasang wajah yang dipenuhi oleh ejekan untuk mantan istri suaminya ini. "Kurus, tinggi, langsing dada rata. Pantas saja mas Dewa tidak bernaf*su ketika melihat Anda. Karena ternyata tubuh Anda benar-benar tidak menarik sama sekali. Sangat jauh berbeda dengan apa yang saya miliki. Terlebih di bagian dada Anda. Sama sekali tidak menarik dan pastinya tidak dapat mengalahkan apa yang saya miliki!"
Dengan percaya diri, Mara melontarkan kata-kata yang bisa memprovokasi mantan istri suaminya ini. Dalam benaknya, tidak ada cara lain untuk melawan seseorang yang berniat menjadi duri dalam rumah tangga yang ia bangun bersama sang suami selain dengan cara menjatuhkan mental wanita pengganggu itu sendiri. Beruntung Mara memiliki bentuk tubuh yang begitu sempurna, sehingga bisa menjadi senjata untuk menjatuhkan mental Dita.
Saat ini bukan lagi waktunya untuk bersikap lemah di hadapan wanita yang menjadi bibit-bibit pelakor. Justru ia harus terlihat lebih kuat dan tangguh untuk menunjukkan power yang ia miliki bahwa ia tidak mudah untuk dikalahkan.
"K-kamu?!!"
Dita tidak lagi dapat melanjutkan ucapannya. Semua yang dikatakan oleh Mara sungguh hanya bisa membuatnya semakin tersudut dan tersulut emosi. Seberapa kuat ia mencoba mengingkari apa yang terucap dari mulut Mara, namun semakin menyadarkannya bahwa istri baru mantan suaminya ini benar-benar memiliki bentuk tubuh yang sempura.
Mara mendekat ke arah Dita, mencoba mengikis jarak yang sempat tercipta diantara keduanya. "Jangan macam-macam dengan saya. Karena saya tidak akan pernah tinggal diam tatkala melihat ada wanita di luar sana yang berniat untuk menghancurkan keluarga saya. Jika Anda memiliki niat untuk menghancurkan kehidupan saya bersama mas Dewa, silakan Anda bersiap-siap untuk berhadapan langsung dengan saya."
Dita tidak dapat berkutik sama sekali. Ia hanya bisa berdiri terpaku. Hal itulah yang membuat Mara seperti berada di atas angin. "Lagipula Anda seperti wanita yang tidak tahu malu. Anda sudah membuang mas Dewa tanpa belas kasih dengan perselingkuhan yang Anda lakukan di belakang mas Dewa. Dan sekarang, Anda ingin memungut mas Dewa kembali?" Mara menepuk-nepuk pundak Dita perlahan. "Nyonya Dita, bangunlah! Sepertinya posisi tidur Anda terlalu miring!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca