
Duduk berdua di dalam mobil, bercengkerama, bercerita tentang segala hal sembari menikmati suasana pagi kota Bogor di pagi hari seakan menjadi satu awal yang indah bagi dua insan yang tengah dimabuk asmara itu. Berkali-kali sang gadis terlihat tersipu malu mendengar kata-kata gombal yang diucapkan oleh pria dewasa yang duduk di sampingnya ini, namun entah mengapa hal itulah yang membuatnya merasa bahagia tiada terkira.
"Ra, taukah kamu? Apa perbedaan antara kamu dan ilmu fisika?"
Sembari fokus dengan kemudinya, duda setengah perjaka itu kembali meminta sebuah pertanyaan receh namun nampak membuat sang gadis kebingungan untuk menjawabnya.
Gadis itu mengerutkan keningnya. "Hmmmmm jelas beda Mas."
"Iya, apa bedanya?"
"Ya beda saja."
"Mau tahu apa perbedaan antara kamu dengan ilmu fisika?"
Mara menoleh ke arah Dewa dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu. "Memang apa Mas?"
Duda setengah perjaka itu juga menoleh ke arah si pemilik wajah cantik yang duduk di bangku sebelah kemudinya. Hingga pandangan keduanya pun bersirobok.
"Kalau ilmu fisika susah untuk diingat, sedangkan kamu sukar untuk dilupakan!"
Gombal receh sang duda sedikit perjaka itu sukses membuat pipi si gadis merona merah. Kata-kata gombal layaknya para abg-abg labil kepada kekasihnya namun tetap saja dapat membuat hati berbunga-bunga. Membuat bahagia seorang wanita begitu sederhana bukan? Sesederhana kata-kata gombal namun terasa begitu bermakna.
Si gadis hanya bisa menundukkan wajahnya. "Apa sih Mas. Ayo kembali fokus ke jalan. Kamu sedang mengemudi, Mas!"
Dewa tersenyum simpul. "Namun sepertinya aku tidak bisa fokus, Ra."
"Mengapa bisa seperti itu Mas?"
Dewa mengusap pipi Mara dengan lembut dan menatap wajah ayu gadis ini dengan intens. "Karena, kehadiranmu sudah mengalihkan duniaku, Ra."
Mara hanya bisa berdecak lirih, meskipun tak dapat ia sembunyikan perasaan bahagianya. "Kalau begitu aku turun di sini saja Mas."
Kini dahi Dewa yang mengerut, karena tetiba sang gadis meminta turun. "Mengapa ingin turun di sini Ra? Perjalanan kita sampai kantor masih jauh bukan?"
"Ya, daripada kehadiranku mengalihkan duniamu hingga membuatmu tidak fokus dengan kemudi, lebih baik aku turun di sini Mas. Itu semua akan berbahaya untuk keselamatan kita."
Dewa hanya tergelak. "Itu salah besar Ra. Justru karena kehadiranmu lah yang akan menyelamatkan fu...."
"Menyelamatkan apa Mas? Kok tidak dilanjutkan ucapannya?" Menatap penuh rasa heran ke arah lelaki yang tiba-tiba menjeda ucapan yang ia utarakan.
__ADS_1
Dewa hanya bisa tersenyum kecut sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Menyelamatkan fungsi pisang tandukku, Ra. Karena hanya denganmu lah pisangku ini dapat memberikan respon. Tidak dengan yang lain. Kamu tidak hanya akan menjadi pelengkap hidupku, namun kamu juga telah menjadi obat mujarab perkara pisang tandukku ini.
"Hmmmmm bengong lagi!"
Dewa kembali terkesiap. Seketika kesadarannya pulih kembali. "Karena kehadiranmu lah yang akan menyelamatkan hidupku dari rasa sepi karena sendiri."
Mara terkikik geli. Sungguh di matanya, pria dewasa ini sangat pandai bermain kata yang bisa membuatnya berbunga-bunga. "Kamu ini ada-ada saja Mas!"
Mobil Dewa masih melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Bogor yang masih terlihat sedikit lenggang di pagi hari ini. Suatu keputusan yang tepat membelah jalanan di jam-jam seperti ini karena sedikit saja lebih siang, maka jalanan juga akan bertambah padat merayap dan mungkin keduanya tidak akan dapat menikmati ruas-ruas jalan dengan santai seperti ini.
***
Di sebuah kontrakan kecil, terlihat dua orang lelaki beda generasi itu duduk berhadapan sambil menatap lekat gepokan-gepokan uang yang masih tersimpan di dalam tas. Di hadapan mereka juga telah tersaji dua gelas kopi hitam dan juga odading untuk menikmati suasana pagi hari ini. Hanya bermodalkan pakaian-pakaian layaknya pengusaha sukses dan menghabiskan waktu di kafe, dua sopir angkot itu sukses memperdayai orang kaya baru yang berambisi untuk menambah pundi-pundi kekayaan mereka dengan cara cepat.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang Om? Apa kita langsung kabur saja dengan membawa uang ini?"
Sembari menyeruput kopi hitamnya, lelaki berusia tiga puluh tahun itu menanyakan rencana apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Tentunya setelah uang tiga milyar itu berhasil ada di dalam genggaman tangan mereka. Mereka memanglah harus mengatur strategi yang tepat, agar tidak menimbulkan sebuah kecurigaan.
"Kita harus bergerak cepat Zal! Sehingga uang ini juga bisa segera kita nikmati."
"Itu aku sudah paham Om. Tapi bagaimana caranya? Apakah kita mulai mencari tanah kosong untuk kita jadikan kamuflase salon dan spa yang telah kita janjikan?"
"Lalu, apa yang akan menjadi rencana Om?"
"Kita sewa tempat saja. Nanti kita buat desain yang di luarnya nampak seperti salon dan spa. Sedangkan di dalamnya kosong."
"Tapi bagaimana jika Puspa dan ibunya memaksa untuk masuk dan ingin melihat-lihat isi di dalamnya, Om?"
Anton menyeringai. Lelaki paruh baya itu nampaknya sudah memiliki rencana yang begitu matang. "Jangan sampai kita biarkan mereka masuk. Kalaupun mereka ingin masuk, pastikan mereka masuk sendiri, tanpa kita dampingi!"
Dahi Rizal semakin mengerut. "Maksud Om? Aku sungguh tidak mengerti."
"Setelah kita berhasil mendapatkan tiga tempat itu dan semua yang kita perlukan telah berjalan sesuai rencana, kita berikan kunci tempat yang kita sewa kepada Tanti kita berikan alamatnya. Setelah itu kita buat alasan bahwa kita tidak bisa menemani mereka untuk melihat kamuflase salon dan spa yang telah kita buat. Dan pada saat itu kita mulai melarikan diri."
"Bukankah itu malah justru semakin ribet ya Om? Saat ini jika kita langsung pergi dengan membawa uang ini, pastinya juga bisa, bukan?"
Anton menggigit odading yang ia genggam dan menyeruput kopi hitamnya. "Ini adalah salah satu strategi kita Zal. Kita buat Tanti dan anaknya percaya kepada kita terlebih dahulu, setelah itu baru kita tinggal pergi."
Rizal mencoba memahami apa yang dikatakan oleh om nya ini dan ia pun akan mengikuti semua rencana yang telah dipersiapkan oleh Anton. Ia yakin jika apa yang telah Anton rencanakan akan sukses besar. Dan mereka tinggal menunggu waktu untuk menikmati hasilnya.
__ADS_1
Memang benar jika ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa kejahatan itu tidak hanya terjadi karena ada niat dari pelakunya tapi juga karena ada kesempatan. Maka waspadalah, waspadalah. 😅
***
"Aku siap-siap untuk bekerja dulu ya Mas!"
Tiba di parkiran kantor, Mara berpamitan untuk segera memulai pekerjaannya sebagai cleaning service. Meskipun saat ini ia telah menjalin hubungan dengan bos besar perusahaan ini, namun gadis itu tetap berada pada posisi sebelumnya yaitu seorang cleaning service.
"Tunggu Ra!"
Hampir saja tangan Mara berhasil membuka pintu, namun buru-buru dicegah oleh Dewa.
"Ada apa Mas?"
"Mulai sekarang kamu berhenti menjadi cleaning service. Dan jangan kerjakan pekerjaan itu lagi!"
"Tapi Mas. Ini adalah pekerjaanku. Jadi aku harus bertanggung jawab atasnya."
Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak Ra. Kamu berhentilah menjadi cleaning service."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan di tempat ini Mas?"
Dewa tersenyum penuh arti. "Masuklah ke ruanganku. Mulai hari ini, tugasmu adalah menemaniku melakukan pekerjaanku."
Mara tersentak. "T-tapi Mas...."
Dewa menempelkan jemarinya di bibir Mara yang seketika memangkas ucapan gadis itu. "Sssstttt... Aku tidak menerima sebuah penolakan, Ra. Masuklah ke ruanganku. Dan temani aku di sana. Emmmmm... Kalau kamu mau, kamu juga bisa sambil membuatkan untukku secangkir kopi."
Mara hanya tersenyum simpul. Jika memang seperti ini yang diinginkan Dewa, ia bisa apa. "Baiklah Mas, akan aku buatkan kopi untukmu terlebih dahulu."
Mara keluar dari mobil dan menuju pantry untuk membuat secangkir kopi yang diinginkan oleh Dewa. Sedangkan lelaki itu masih terlihat sibuk membereskan lembaran-lembaran kertas yang ada di dalam tasnya.
Saat ia hendak turun dari mobil, sorot matanya menangkap sebuah bayangan seorang laki-laki yang begitu familiar di dalam ingatannya. Lelaki itu menaiki motor, berhenti tepat di depan kantor dan tengah menurunkan seorang wanita cantik. Mata Dewa terbelalak sempurna saat melihat lelaki itu cipika-cipiki dengan wanita yang baru saja turun dari motornya.
Senyum seringai muncul di bibir Dewa. "Cih, ternyata benar dugaanku bahwa kamu adalah lelaki buaya yang sering memangsa kaum hawa. Lihatlah, belum menjadi suami Mara saja, kamu sudah berselingkuh, bagaimana nanti kalau kamu menikah dengan Mara?"
Dewa menghela nafas dalam. "Pramono! Aku pastikan saat ini hubungan kamu benar-benar akan berakhir bersama Mara!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...