
Ckiiittt ... Dug.. Dug...
"Aaaaadddduuuuhhh.... Astaga Wa, apa yang kamu lakukan? Mengapa ada lubang di jalan tidak kamu hindari sama sekali?"
Krisna memekik kesakitan tatkala kepalanya sedikit terbentur dashboard setelah mobil yang dikemudikan oleh Dewa melintasi jalanan yang berlubang.
"Hhaaaa haahaahaa maaf, maaf. Aku tidak melihat jika tadi ada lubang," timpal Dewa sedikit terbahak.
Krisna memutar kedua bola matanya sembari mencebik. "Lubang sebesar dan sedalam itu tidak nampak di penglihatanmu? Hei Tuan Dewa, apa yang menutupi pandangan matamu?"
Dewa mengendikkan bahunya. "Entahlah, yang ada di dalam penglihatanku rasa-rasanya hanya ada gadis itu." Dewa sedikit menghela nafas dalam. "Lagipula nikmat juga bukan merasakan sensasi lubang di jalan?"
Pletakk!!!!
Kali ini Krisna yang menjitak kepala Dewa. "Eh kamu pikir lubang di jalan sama nikmatnya dengan lubang yang bisa berjalan? Kalau lubang yang bisa berjalan, berapa kalipun aku terjebak di dalam sana tidak akan aku sudahi, malah mungkin aku akan nambah lagi."
Dahi Dewa mengernyit. "Lubang yang bisa berjalan? Itu lubang apa? Sepertinya aku baru mendengar."
Krisna berdecak lirih. "Ckkkccckkk kamu ini benar polos atau pura-pura polos?"
"Aku memang tidak tahu. Bukankah kamu tahu jika aku itu polos?"
Bibir Krisna mencebik. "What?? Tuan Rangga Danabrata Dewandaru polos? Polos apanya?" Krisna membuang nafas sedikit kasar. "Lubang yang bisa berjalan itu lubang hidung, lubang telinga, dan... lubang-lubang yang lain."
"Dasar otak mesum kamu Kris!"
"Eh Wa, kamu berbicara seperti itu bukankah menunjuk pada diri kamu sendiri? Otak kamu juga sama mesumnya dengan otakku bukan?"
Dewa hanya tersenyum simpul sembari fokus dengan kemudinya. Sedangkan Krisna, terlihat begitu menikmati suasana sore hari di kawasan yang dipenuhi oleh pohon jati seperti ini.
"Sejak kenal dengan Mara, sudah kamu apakan gadis itu? Apakah sudah kamu nikmati tubuhnya?"
Pletakk...
Kedua lelaki itu sibuk saling jitak menjitak, bergantian satu sama lain.
"Jaga mulut kamu Kris! Mana pernah aku melakukan hal-hal seperti itu? Memang aku kamu, playboy cap kadal?"
"Hahaha haahaahaa... Iya aku lupa. Mana bisa kamu menikmati tubuh Mara, burung kamu kan tidak bisa berdiri," cebik Krisna sedikit menghina sang bos.
Mata Dewa terbelalak. Kali ini ia tidak terima jika burungnya dianggap tidak bisa berdiri. "Kata siapa burungku tidak bisa berdiri? Aku sudah sembuh."
"Apa? Sudah sembuh?"
Kali ini Krisna yang terkejut setengah mati. Setengah tahun Dewa menjalani therapy burung tidak membuahkan hasil, dan sekarang ia sudah sembuh? Krisna sedikit tidak percaya.
Dewa mengangguk mantap. "Ya, aku sudah sembuh."
"Bagaimana bisa Wa? Coba, coba ceritakan kepadaku."
Dewa menghentikan laju mobilnya tatkala lampu lalu lintas menyala merah. "Entahlah, aku tidak tahu pastinya seperti apa. Namun, saat tanpa sengaja dadaku menyentuh dada milik Mara, tiba-tiba 'ular' ku ini langsung bereaksi. Dia berdiri!"
Krisna terperangah. "Sesimpel itu? Hanya dengan dadamu menyentuh dada milik Mara?"
Dewa mengangguk pelan sembari menginjak pedal gasnya untuk kembali melaju. "Ya, memang sesimpel itu."
"Lalu, apakah kamu sudah mencobanya?"
__ADS_1
Dewa mengerutkan keningnya. "Mencoba untuk apa?"
"Mencoba untuk memasukkan ular mu ke dalam sarangnya."
"Aku hampir saja melakukan itu, namun ..."
Dewa menjeda ucapannya. Seketika sekelebat bayangan seorang wanita yang pernah mendatanginya terlintas di dalam benaknya.
"Namun apa Wa? Coba ceritakan, aku benar-benar penasaran."
Beberapa hari terpisah dari soulmate yang senasib dengannya ini (senasib sama-sama menyedihkan dalam hal percintaan) ternyata sudah banyak sekali berita yang tidak ia ketahui.
"Namun ibunda Mara mendatangiku, dan memberi sebuah peringatan agar aku tidak melakukannya."
"Ibunda Mara? Di mana dia sekarang? Mengapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Ibu Mara sudah lama meninggal. Dan dia sempat beberapa kali datang menemuiku dan memintaku untuk menjaga gadis itu."
Krisna semakin terperangah. "Ya Tuhan, ibu Mara sampai mendatangimu? Itu artinya....."
Krisna menggantung ucapannya. Untuk permasalahan ini, ia merasa jika secara tidak langsung Dewa lah yang harus menjadi pelindung untuk Mara.
"Ya, aku berencana untuk membawa hubunganku dengan Mara ke tahapan yang lebih serius lagi, Kris."
Kedua alis mata Krisna saling bertaut. "Kamu ingin melamarnya? Langsung menikahinya? Atau apa?"
Laju mobil Dewa berhenti di depan resort. "Aku ingin mengungkapkan terlebih dahulu apa yang aku rasakan kepada Mara. Dan mungkin setelah itu aku akan melamarnya."
Huh... mengapa tidak langsung kamu nikahi saja sih Wa? Kalau langsung kamu nikahi, rumah baruku kan bisa segera aku tempati.
"Mengapa tidak langsung kamu ajak menikah saja Wa? Dengan begitu, kamu bisa segera mencoba kembali fungsi burungmu bukan?"
Dewa membuang nafas kasar. Tidak menyangka jika di dalam otak asisten pribadinya ini yang ada hanya perihal burung dan burung saja. Dewa sampai heran mengapa bisa sampai ada spesies seperti Krisna ini? Yang otaknya selalu saja mesum.
"Apa itu? Coba jelaskan kepadaku!"
"Mara masih sangat muda, pastinya dia memiliki mimpi-mimpi yang ingin diraih. Aku akan membantunya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya terlebih dahulu. Di samping itu, saat ini baru berjalan beberapa hari semenjak hubunganku dengan Dita berakhir. Aku tidak ingin jika sampai Mara menganggap jika aku hanya menjadikannya pelampiasan saja."
Krisna mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba menelaah setiap perkataan Dewa. "Namun kamu harus ingat jika umur kamu sudah semakin tua Wa! Apa kamu mau orang lain beranggapan jika Mara menikahi om-om yang tidak laku?"
Dewa berdecih. "Apakah kamu tidak sadar jika wajahku ini masih terlihat seperti pemuda berumur dua puluh delapan tahun? Umur boleh saja tua, namun wajahku masih terlihat muda kok!" ucap Dewa sembari membenahi kerah kemeja yang ia pakai dan bercermin di spion mobil.
"Dasar narsis!"
***
"Ayo kita makan di sana Ra! Kata orang-orang sekitar sini di resto itu menjual menu masakan seafood yang begitu nikmat!"
Sesampainya di resort, Dewa membersihkan diri dan kemudian mengajak Mara untuk makan di salah satu restoran yang begitu terkenal dengan olahan seafood yang nikmat. Selain dimanjakan dengan olahan makanan yang bisa menggoyang lidah, para pengunjung resto juga akan disuguhi dengan pemandangan sunset yang pastinya sangat memukau.
Wajah Mara seketika berbinar, karena sedari tadi ia memang telah kelaparan. "Ayo Tuan. Saya juga sudah sangat lapar."
"Jadi hanya Mara saja yang diajak? Aku tidak diajak nih?" ucap Krisna dengan seringai menggoda.
Mara dan Dewa saling melempar pandangan. Dan sama-sama tersenyum simpul.
"Kamu boleh ikut denganku. Tapi nanti kamu duduk di tempat yang terpisah dariku dan juga Mara," timpal Dewa memberikan peringatan.
Krisna terperangah. Gegas ia memukul-mukul dada Dewa. "Kamu benar-benar tega Mas! Kamu lupa dengan apa yang pernah terjadi diantara kita? Kamu kejam Mas! Kamu kejam!"
__ADS_1
Layaknya seorang istri yang diselingkuhi suaminya, Krisna seperti merajuk dengan apa yang dikatakan oleh Dewa. Lelaki itu memasang tampang sendu seakan menjadi seorang wanita yang tersakiti.
"Memang sebelumnya, Tuan-Tuan ini melakukan apa?" kini giliran Mara yang penasaran.
"Tahukah kamu Ra? Dulu Tuan mu ini sering menggodaku!" ucap Krisna begitu meyakinkan.
"Apa? Menggoda?" Mara menautkan pandangannya ke arah Dewa. "Tuan Dewa penyuka sesama jenis?"
Mata Dewa terbelalak. Buru-buru ia meninju perut asistennya ini dengan keras. "Jangan ngadi-ngadi kamu Kris!" Dewa menoleh ke arah Mara. "Jangan percaya apa yang diucapkan oleh lelaki setengah gila ini Ra!"
"Cih, lelaki setengah gila? Tapi kamu selalu nyaman berada di dekatku bukan?," celetuk Krisna asal.
Dewa menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. Gegas, ia menggandeng tangan Mara untuk mengajaknya ke resto itu.
Letak resto yang dekat dengan kampung nelayan, membuat mereka harus berhati-hati pada saat melintas, pasalnya di sore hari seperti ini di kampung nelayan itu ramai dengan orang-orang yang sibuk menyiapkan jala maupun perahunya untuk melaut.
"Ra, ketika di Jogja, jika kita berjalan di depan kerumunan orang, diharuskan untuk membungkukkan badan ya?" Krisna bertanya ingin tahu.
Mara mengangguk. "Itu benar Tuan. Itu sebagai salah satu bentuk rasa hormat kita."
"Lalu, apa yang kita ucapkan saat membungkukkan badan kita Ra?" timpal Dewa yang juga sedikit tertarik dengan pembahasan Krisna dan juga Mara.
Senyum seringai terbit di bibir Mara. "Saya beri tahu ya Tuan. Nanti saya berjalan terlebih dahulu. Dan Tuan-Tuan ini berjalan di belakang saya. Nah pada saat itu, Tuan-Tuan bisa mengucapkan 'ndherek langkung segawon'."
"Ndherek langkung segawon?" ucap Krisna belajar mengucap kata-kata yang diajarkan oleh Mara.
Mara mengangguk. "Iya Tuan. Kita coba ya? Anggap saja ini ujian praktek Bahasa Jawa."
Dewa dan Krisna mengangguk bersamaan. Benar saja, Mara berjalan lebih dahulu. Sedangkan di belakangnya dua lelaki itu mencoba untuk mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Mara.
"Ndherek langkung segawon..."
"Ndherek langkung segawon..."
Dengan senyum manis yang mengembang di bibir, dan rasa percaya diri yang tinggi, kedua lelaki itu membungkukkan badannya tatkala melintasi kerumunan para nelayan. Mereka merasa sudah mahir untuk berbahasa Jawa.
Para nelayan yang mendengar ucapan Dewa dan Krisna seketika raut wajah mereka berubah memerah. Mereka seperti menahan amarah.
"Koe ngomong opo? Segawon? Dasar ora urus! Eh Bapak-bapak, wong lanang loro iki njaluk di clurit kok!"
"Iyo Pak, ayo di beleh wae lanang loro iki! Opo arep diuncalke segoro?"
Dewa dan Krisna sama-sama terperangah. Merasakan atmosfer sekitarnya sudah tidak mengenakkan, kedua lelaki itu mengambil start untuk berlari.
"Kris, Kris, ayo lari ! Sepertinya Bapak-bapak itu emosi!"
"Tapi apa yang kita ucapkan sudah sesuai dengan yang diajarkan Mara bukan? Tapi mengapa mereka terlihat emosi?"
"Ayo buruan lari Kris!"
Pada akhirnya Dewa dan Krisna berlari tunggang langgang. Dan kumpulan nelayan itu terlihat mengejar keduanya gegara segawon.
.
.
. bersambung...
😅😅😅😅😅
__ADS_1
Jadi ingat salah satu teman sekolah saya yang berasal dari Medan. Dia baru beberapa hari tinggal di Jogja dan diajari oleh salah satu teman saya yang lain jika berjalan di hadapan kerumunan orang silakan mengucapkan 'ndherek langkung segawon'.. Benar saja, itu di praktekkan dong sama teman saya yang berasal dari Medan itu di depan guru-guru. Dan pada akhirnya dia menjadi buah bibir di kantor guru..😂😂
Segawon itu artinya anjing... 😅😅 Memang jahil kok orang-orang yang mengajarkan hal itu, termasuk Mara.. Haahaahaa...