Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 109 : Obsesi dan Ambisi


__ADS_3


"Sial... Sial....Sial....."


Dari dalam toilet, terdengar umpatan-umpatan kasar yang diucapkan oleh Dita. Wanita itu mendudukkan tubuhnya di atas closet, sembari mengacak rambutnya kasar. Tatanan rambut yang sebelumnya terlihat begitu sempurna, kini sudah mulai acak-acakan seperti terkena angin put*ing beliung. Wajah yang sebelumnya dihiasi dengan polesan makeup yang begitu cetar membahana, kini sudah berubah menjadi layaknya seorang pelawak dengan riasan asal-asalan. Bagaimana tidak asal-asalan jika mascara dan eyeliner yang ia pakai sudah luntur hingga membuat kantung matanya menghitam seperti aktris Suzanna saat berperan sebagai sosok sundel bolong di film horor zaman dahulu. Bahkan compact powder yang ia gunakan untuk memoles wajahnya saat ini juga sudah luntur dan belepotan layaknya sisa-sisa adonan kue yang terkena air.


Kekesalan yang menghujam dada, seakan kian bercampur menjadi satu dengan rasa malu saat ia terjungkal dari atas pelaminan. Bahkan rasa malu itu terasa jauh lebih mendominasi dan berhasil meredam rasa nyeri di kakinya akibat terkilir.


"Sepertinya aku tidak bisa menganggap remeh istri baru mas Dewa saat ini. Usia wanita itu masih terlihat sangat muda, namun sepertinya memiliki nyali yang luar biasa untuk melawanku."


Dita semakin frustrasi tatkala ucapan-ucapan Mara kembali memenuhi otaknya. Tanpa sadar, wanita itu menundukkan kepalanya untuk melihat bagian dadanya. Dengan pelan, ia memegang kedua bukit kembar miliknya itu.


"Apa benar jika pay*daraku ini sudah mengendur dan tidak kencang lagi?" Masih sambil meraba-raba kedua bukit kembarnya, wanita itu mencoba untuk mencari kebenaran dari apa yang telah dilontarkan oleh Mara. Namun, semakin intens ia meraba-raba miliknya, perkataan Mara justru semakin terasa semakin benar.


"Haaahhhhh... Ternyata memang benar. Pay*udara milik istri mas Dewa saat ini terlihat jauh lebih indah. Terlihat besar dan kencang!"


Dita membuang nafas kasar. Semakin ia mengingat bentuk dada Mara yang tersembunyi di balik gaun pengantin yang ia kenakan, justru semakin menyeretnya ke dalam jurang perasaan rendah diri. Namun, seketika senyum seringai terbit di bibir Dita.


"Ckkkccckkk... Apa gunanya memiliki bentuk dada yang sempurna jika hanya dianggurin oleh mas Dewa? Bukankah mas Dewa masih impot*en? Itu artinya tubuh wanita itu sama sekali belum terjamah oleh mas Dewa bukan?"


Dita sedikit mengeraskan gelak tawanya. "Setidaknya, aku menang dari wanita itu, karena aku pernah merasakan bercinta dengan mas Dewa meskipun hanya sekali. Dan itulah yang akan aku gunakan sebagai senjata. Aku akan memasuki kehidupan mereka, untuk bisa mengembalikan fungsi milik mas Dewa. Aku percaya jika mas Dewa pasti juga sangat merindukan tubuhku."


Semakin Dita larut dalam pikirannya, justru semakin membuat wanita itu seperti seseorang yang terkena gangguan jiwa saja. Ia semakin didera oleh tingkat imajinasi tinggi dan cenderung terjerumus dalam kehaluan yang begitu luar biasa. Logikanya seakan tidak berjalan, hingga menutup kewarasannya untuk mengakui jika sang mantan suami sudah bucin akut terhadap istri barunya itu.


"Aku bersumpah, tidak akan berhenti sampai kamu kembali menjadi milikku, Mas. Sia-sia aku menggugurkan kandunganku jika pada akhirnya aku tidak dapat kembali ke sisimu." Senyum seringai semakin nampak terlukis di bibir wanita itu. "Nyonya Rangga Danabrata Dewandaru hanya pantas disematkan di dalam namaku!"


Ceklek....


Merasa sudah sangat lama berada di dalam toilet, Dita memilih untuk keluar dari bilik itu. Ia ayunkan kakinya untuk menunju sebuah taman kecil yang terletak di bagian belakang hotel ini.


"Ta!"

__ADS_1


Ayunan langkah kaki Dita terhenti tatkala suars bariton tetiba terdengar memanggil namanya. Wanita itu berbalik badan dan terlihat seorang lelaki mendekat ke arahnya. "Krisna?"


Krisna tersenyum tipis. "Aku peringatkan kepadamu, jangan sekali-kali mengganggu rumah tangga Dewa dan juga Mara!"


Dita berdecih, seperti menyepelekan apa yang diucapkan oleh asisten mantan suaminya ini. "Apa hak kamu melarangku untuk mengganggu rumah tangga mas Dewa dengan istrinya?"


Krisna semakin terkejut melihat Dita yang semakin terlihat menabuhkan genderang perang. "Apakah kamu lupa dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap Dewa? Di saat kamu mencampakkan dan menghancurkan hidup Dewa dengan bermain serong bersama Damar? Dan setelah kehancuran itu berhasil kamu ciptakan di kehidupan Dewa, kamu bermimpi untuk kembali ke sisi Dewa? Sungguh tidak tahu malu, kamu Ta!"


Dita semakin tergelak. Baginya ucapan Krisna ini hanya sebuah angin lewat. "Justru aku ingin kembali ke sisi mas Dewa karena ingin memperbaiki semua kesalahanku. Aku akan menebus semua dosa yang pernah aku lakukan, dengan kembali menjadi istri mas Dewa."


"Hahahaha haahaahaa..." Krisna semakin tergelak mendengar celotehan Dita yang ia rasa semakin terdengar menggelitik telinga. Namun sejenak, ia hentikan tawa itu dan kembali menatap lekat mata Dita. Sejatinya lelaki itu berusaha mati-matian untuk menahan tawa dalam hati melihat wajah Dita yang sudah belepotan dengan make-up yang luntur. Namun biarkan saja seperti itu. Biarkan wanita itu kembali merasakan malu jika dilihat oleh banyak orang.


"Kamu tidak perlu repot-repot untuk memperbaiki semua kehancuran yang sudah kamu ciptakan di kehidupan Dewa. Puing-puing hati milik Dewa telah hancur dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Namun saat ini puing-puing itu telah berubah menjadi sepotong hati yang baru, pastinya semenjak kehadiran Mara di dalam hidupnya."


Dita terkesiap. Terbesit sebuah rasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar yang keluar dari mulut Krisna. Namun jika melihat bagaimana binar-binar kebahagiaan itu nampak terpancar jelas di wajah sang mantan suami, ucapan Krisna bisa dibenarkan.


Dita menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak percaya itu semua Kris! Kamu saksinya, bagaimana mas Dewa mencintaiku. Dan bagaimana mas Dewa memperlakukan aku. Tidak mungkin jika semudah itu mas Dewa melupakan semuanya. Itu tidak mungkin."


"Ya, aku memang menjadi saksi bagaimana dulu Dewa mencintaimu. Namun, kamu melupakan satu hal bahwa aku juga menjadi saksi bagaimana hancurnya hidup Dewa saat melihat istri yang ia cintai bermain api dengan security di rumahnya sendiri. Bahkan dia bermain adegan menjijikkan itu di ranjang yang sama dengan yang ditempati oleh Dewa."


Ucapan Krisna terdengar sederhana namun sukses menohok seonggok daging bernyawa dalam tubuh Dita yang telah dipenuhi oleh obsesi dan ambisi yang begitu besar. Jika di logika, apa yang telah ia lakukan itu memang sudah keterlaluan dan tidak akan mungkin membuatnya kembali ke sisi Dewa. Namun obsesi dan ambisinya itu yang membuat semangat Dita tidak pernah padam untuk bisa kembali menjadi istri Dewa.


Dita mengulas sedikit senyum. Mencoba menyembunyikan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba menyerang dadanya jika teringat akan paras cantik istri mantan suaminya itu. "Jangan panggil aku Dita jika tidak sanggup untuk kembali mendapatkan apa yang memang sudah seharusnya menjadi milikku. Aku pasti akan bisa kembali ke sisi mas Dewa. Pegang kata-kata ku itu Kris!"


Tidak ingin terlalu lama berdebat dengan Krisna, Dita memilih untuk meninggalkan lelaki itu. Ia berjalan masih dengan menatap lekat wajah Krisna tanpa memperhatikan keadaan yang ada di depannya. Dan....


Byuuurrr.... Aaaaawwwhhh....


Tubuh Dita tersiram sisa kuah sayur sup yang dibawa oleh salah satu crew wedding organizer yang membawa sisa makanan dari ballroom yang menjadi tempat diadakannya resepsi pernikahan Dewa dan juga Mara. Disertai dengan sebuah pekikan nyaring yang menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di bagian kitchen hotel ini.


"Apa-apaan ini? Apa kamu tidak punya mata sampai menabrakku seperti ini, hah?"

__ADS_1


Dita berteriak lantang di depan seorang gadis yang kira-kira berumur dua puluh tahun. Ia melimpahkan kesalahan kepada gadis pembawa sisa sayur sup ini karena keteledoran yang membuat tubuhnya basah kuyup oleh kuah sayur sup seperti ini.


"Jaga bicara Anda baik-baik Nyonya. Nyonya sendiri lah yang berjalan dengan tidak fokus memperhatikan keadaan sekitar."


Dita bertambah geram mendengar gadis di hadapannya ini dengan lantang menentangnya. Dita mengangkat lengan tangannya di udara bermaksud untuk menampar pipi gadis ini. "K-kamu....!!!"


Tatkala tangan Dita terayun dan hampir mengenai pipi gadis pembawa sayur sup itu, gegas sang gadis mencengkeram pergelangan tangan Dita.


"Jaga sikap Anda, Nyonya. Di sini Anda lah yang bersalah karena Anda berjalan tanpa memperhatikan jalan yang ada di depan Anda!"


Dita menepis tangannya. Ternyata cengkeraman tangan gadis pembawa sayur sup ini begitu kuat dan sukses membuat jejak kemerahan di pergelangan tangannya.


"Awas kamu. Akan aku laporkan kamu ke manager hotel, sehingga kamu bisa dipecat dari sini!" ucap Dita dengan nada penuh ancaman.


Gadis itu hanya tersenyum tipis. "Saya tidak takut, Nyonya. Karena saya berada di posisi yang benar!"


Dita semakin mendengkus kesal. Buru-buru ia melenggangkan kaki menuju parkiran. Mood nya benar-benar sudah hancur malam hari ini. Dan hanya dengan pulang ke rumah lah yang akan bisa mengembalikan suasana hatinya.


Krisna yang melihat drama sayur sup yang baru saja selesai ini hanya bisa terkesima. Ia begitu takjub dengan apa yang dilakukan oleh gadis belia itu. Ia sama sekali tidak takut berhadapan dengan Dita yang sudah dikuasai oleh emosi jiwa.


Gadis itu kembali mengayunkan langkah kakinya. Pada saat melintas di hadapan Krisna, gadis itu menghentikan langkahnya. "Jika sedang ada masalah keluarga, silakan dibicarakan baik-baik di rumah. Lihatlah istri Anda itu, sudah seperti seorang wanita gila yang kehilangan kendali!"


Sepasang mata Krisna membulat dan terbelalak sempurna. "Hei, itu bukan istriku!"


Krisna berteriak lantang sembari menatap punggung gadis pembawa sayur sup yang semakin menghilang dari pandangan matanya.


"Menarik!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2