Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 154 : Kembali


__ADS_3

"Kamu tidak keberatan kan jika aku minta untuk ke Jogja terlebih dahulu?"


Di ruang kerja miliknya, Dewa nampak tengah duduk di kursi kebesarannya sembari fokus dengan layar laptop yang berada di hadapan. Sedari tadi, pria berusia hampir empat puluh tahun itu disibukkan dengan angka-angka dan grafik tentang perkembangan pabrik miliknya. Lelaki itu teramat bersyukur karena satu tahun terakhir, omset penjualan produk pabriknya selalu meningkat. Bahkan mendapatkan respon yang baik dari pasar.


"Lalu apa yang harus aku lakukan di sana Wa?"


"Kamu pastikan semuanya sudah sempurna. Karena aku memiliki target bulan depan kita akan mulai mengoperasikan pabrik yang ada di Jogja."


"Apakah Oma tahu perihal ini?"


Dewa mengangguk. "Iya, Oma tahu. Karena bagaimanapun juga aku ingin pabrik yang didirikan oleh Oma berkembang pesat, pastinya di kota-kota besar salah satunya Jogja."


"Lalu bagaimana dengan Mara? Apa ia tahu bahwa kamu mendirikan pabrik di kota asalnya?"


"Tidak, istriku sama sekali tidak tahu. Aku ingin membuat kejutan untuknya. Karena bukan hanya pabrik itu yang akan aku persembahkan untuk istriku, tapi juga sebuah rumah yang akan menjadi tempatku dan istriku menghabiskan hari tua kami bersama anak-anak kami."


Krisna terperangah. "Rumah? Kamu membangun rumah di Jogja?"


Dewa mengangguk mantap. "Iya. Lahan yang berada di dekat curug yang merupakan tempat pertama aku bertemu dengan Mara ternyata milik pribadi bukan merupakan lahan milik daerah. Dan beberapa bulan yang lalu, aku mendengar bahwa lahan itu dijual oleh pemiliknya. Dan aku memutuskan untuk membeli lahan itu. Dan sebentar lagi rumah itu juga sudah siap untuk ditinggali."


"Itu artinya kamu memilih kota Jogja untuk menjadi kota masa depanmu?"


"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin sekali tinggal di kota itu."


"Hmmmmm... Baiklah... Lalu kapan aku harus berangkat? Aku boleh mengajak Sekar bukan?"

__ADS_1


"Lusa kamu berangkat." Dewa menganggukkan kepalanya. "Tentu saja kamu boleh mengajak Sekar. Jika Sekar tidak ikut denganmu, aku khawatir jika kamu akan menyeleweng dengan wanita-wanita cantik yang ada di Jogja."


Pletakk!!!!


"Aku sudah taubat Wa! Jangan lagi kamu ungkit-ungkit masa laluku itu!"


"Hahahaha haahaahaa semoga bukan tomat ya!"


"Tomat? Tomat apa maksudmu?"


"Tobat setelah itu kumat!"


"Dasar tidak ada akhlak kamu Wa!"


***


Gelak tawa penuh kebahagiaan menggema memenuhi langit-langit ruang keluarga rumah besar ini. Mara, Oma Widuri dan juga Dewa tengah bercengkerama dalam kehangatan suasana malam hari ini. Saking bahagianya akan mendapatkan cucu buyut pertamanya, sedari tadi oma Widuri tiada henti mengusap-usap perut sang cucu menantu.


Mara dan Dewa saling menautkan pandangan. Sepasang suami istri itu juga sama-sama tersenyum melihat kebahagiaan oma Widuri ini.


"Sepertinya kelak cucu buyut Oma ini akan menjadi seorang laki-laki yang pandai bermain bola. Oma merasakan betul bahwa tendangan Dewa junior ini sangat keras buka?" ucap Dewa mengeluarkan argumentasinya.


"Persis seperti kamu semasa kecil Wa. Dulu, ketika kamu masih kecil, jika sudah bermain bola pasti sangat sulit untuk dihentikan. Sampai Oma kehabisan cara membujukmu untuk menghentikan itu."


"Pasti kalau sudah seperti itu mas Dewa kecil susah dibujuk untuk mandi ya Oma?" timpal Mara yang ikut dalam pembicaraan ini.

__ADS_1


"Aahhhh itu betul sekali Sayang. Suami kamu ini semasa kecil sangat sulit dibujuk untuk mandi. Opa juga sampai kewalahan dibuatnya." Oma Widuri menimpali ucapan Mara dengan wajah sedikit berbinar sembari mengenang masa-masa kecil Dewa dan juga Wisnu. Namun pandangan matanya sedikit menerawang dan tiba-tiba setetes kristal bening meluncur bebas dari mata oma Widuri.


"Oma? Mengapa Oma menangis?"


Dewa sedikit terkejut karena melihat oma Widuri tetiba meneteskan air matanya. Buru-buru Oma Widuri menyeka air matanya. "Aaahhhh.... Tiba-tiba Oma merindukan kakakmu Wa. Bagaimana keadaan ia saat ini? Apakah ia baik-baik saja? Apakah Dira mengurusnya dengan baik...."


"Nyonya!"


Perkataan oma Widuri terpangkas tatkala tiba-tiba mbok Darmi memasuki ruang keluarga. Wajah asisten rumah tangga itu terlihat sedikit gusar. Antara cemas atau bahagia.


Oma Widuri menoleh ke arah Darmi. "Ada apa Mi?"


"I-itu Nyah, ada....."


"Oma!"


Suara bariton yang tetiba terdengar di ruangan ini sontak membuat Dewa, Mara dan juga sedikit terkejut. Mereka tautkan pandangan mereka ke sosok lelaki yang berada di belakang tubuh Darmi dan membuat kedua bola mata milik Dewa dan oma Widuri terbelalak dan membulat sempurna.


"Wisnu!"


"Kak Wisnu!"


Lelaki itu mengulas sedikit senyumnya. "Wisnu kembali, Oma!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...🤗🤗🤗


__ADS_2