
"Ampun Oma.... Ampun....!!!"
Lelaki yang telah berhasil melepas masa dudanya itu meringis kesakitan tatkala jeweran sang Oma terasa begitu panas menyerangnya. Mungkin jeweran dari oma nya inilah yang semakin membuka matanya bahwa apa yang telah ia lakukan terhadap sang istri sudah sangat berlebihan, hingga membuatnya sakit seperti ini.
Oma Widuri mendengkus lirih. "Huh, mentang-mentang sudah sembuh dari impet*en, kamu tidak melewatkan kesempatan untuk menggempur habis-habisan fisik istrimu? Benar-benar cucu tidak ada akhlak kamu Wa!"
"Tapi Oma... Dewa memberi jeda waktu untuk beristirahat, jadi tidak serta merta empat kali pelepasan itu terjadi seketika. Sungguh, Dewa tidak seperti itu Oma."
Dewa masih mencoba untuk mengelak agar terkesan tidak terlalu bersalah. Namun ucapan yang keluar dari bibir lelaki itu justru semakin membuat oma Widuri bertambah gemas.
"Jeda waktu yang kamu berikan paling hanya lima atau sepuluh menit. Dan kamu juga tidak membiarkan istrimu untuk mengisi perutnya? Kamu bahkan mungkin lupa, kapan terakhir kali istrimu makan."
Mendengar kata 'makan' yang dilontarkan oleh oma Widuri membuat Dewa terkesiap. Matanya membulat sempurna dan bibirnya menganga lebar. "Astaga... Dewa baru ingat jika Mara terakhir kali mengisi perutnya kemarin siang!"
"Apa? Sungguh terlalu kamu Wa!" Oma Widuri mencoba mengatur nafasnya. Jika ia memiliki riwayat penyakit asma, mungkin seketika sudah kambuh akibat keteledoran sang cucu dalam menjaga istrinya. "Sudah, sekarang kamu ke dapur, membuat bubur, dan juga jahe hangat. Setelah itu lekas suapi cucu menantuku. Awas saja kalau sampai cucu menantuku sakit parah. Aku pastikan tidak akan pernah bisa berdiri lagi pisang tandukmu itu Wa!"
Dewa terperangah. "Tidak bisa berdiri? Maksud Oma bagaimana?"
Oma Widuri menyeringai. "Jelas tidak akan pernah bisa berdiri lagi, karena akan aku potong pisang tandukmu itu!"
Wajah Dewa mendadak sendu. Baru saja ia kembali merasakan apa itu surga dunia, akan musnah lagi jika sampai pisang tanduknya dipotong oleh oma Widuri. "Oma tega sekali!"
"Hahahaha haahaahaa!"
***
"Ya ampun cucu menantu kesayanganku.....Ada apa denganmu Sayang?"
Dari ambang pintu oma Widuri sedikit berteriak tatkala melihat Mara meringkuk di bawah selimut tebal. Pandangan mata Mara yang sebelumnya fokus pada pemandangan laut lepas yang bisa ia lihat dengan jelas dari ranjang tempatnya terbaring, seketika ia arahkan ke sumber suara. Dan terlihat, oma Widuri sudah berjalan mendekat ke arahnya. Tidak hanya oma Widuri, ternyata sang ayah, dan Pramono juga ikut memasuki kamar Dewa dan juga Mara.
Mara tersenyum simpul. "Oma? Ayah? Mas Pram?"
Oma Widuri menggeser kursi kecil yang ada di dalam kamar ini, ia tempatkan di sisi ranjang milik Mara. Sedangkan Baskara tetap setia berada di atas kursi roda miliknya dan Pramono duduk di sofa kecil yang berada di dalam kamar ini.
"Sayang... Ada apa denganmu? Apakah cucu Oma terlalu menggempur tenagamu?"
__ADS_1
Mara hanya tersenyum kikuk. Memang benar jika Dewa begitu habis-habisan menggempur fisiknya, namun tidak mungkin bukan jika ia harus mengatakan hal itu di depan orang-orang yang berkumpul di sini? Bisa-bisa ia menjadi malu setengah mati.
"Tidak Oma... Ini bukan kesalahan mas Dewa. Mungkin karena Mara yang lupa belum mengisi perut sehingga membuat Mara demam seperti ini," ucap Mara berkilah.
"Ckkkccckkk... Bisa-bisanya kamu masih membela suami kamu itu Sayang. Padahal sudah jelas jika suami kamu itu terlalu bersemangat untuk menggempur tenagamu." Oma Widuri melirik ke arah Baskara yang masih setia duduk di atas kursi roda. "Pak Besan, maafkan atas sikap cucu saya ya. Mentang-mentang dia baru sembuh dari ketidaksempurnaannya, langsung melakukan ini kepada putri Bapak."
Baskara hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh sang menantu. Setengah tahun tidak dapat menyalurkan hasrat, pastilah sangat membuatnya tersiksa. Dan kini setelah hasrat itu bisa kembali tersalurkan, merupakan hal yang wajar jika menantunya ini merasa ingin, ingin, dan ingin lagi.
"Tidak apa-apa bu Besan, saya mengerti akan apa yang dirasakan oleh nak Dewa." Baskara menautkan pandangannya ke arah sang putri yang masih meringkuk di bawah selimut tebal. "Nak, kamu mau makan apa? Biar Ayah yang mengambilkannya untukmu."
"Tidak perlu Ayah. Tadi Mara sudah meminta mas Dewa untuk mencarikan bubur ayam. Mara ingin sekali makan bubur ayam."
"Sudah minum obat Ra?" tanya Pramono ikut sedikit cemas dengan apa yang terjadi pada Mara.
Mara menggelengkan kepalanya. "Belum Mas, nanti setelah makan, aku pasti akan minum obat."
"Ya sudah, sembari menunggu Dewa membawakan bubur ayam untukmu, lebih baik kamu istirahat ya Sayang. Kalau perlu tidur kembali, agar tubuh kamu ini tidak semakin lemas."
Oma Widuri beranjak dari posisi duduknya. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Mara. Dengan penuh sayang, oma Widuri mengecup kening cucu menantunya ini.
Mara tersenyum simpul. Ada kehangatan yang tetiba mengalir memenuhi aliran darahnya. Diperlakukan penuh cinta seperti ini, membuat Mara teringat akan belaian lembut kasih sayang sang bunda yang telah lama tiada.
Baskara yang melihat sikap sang besan yang begitu mengistimewakan putrinya mendadak seperti tertikam oleh pisau tak kasat mata yang tepat mengenai jantungnya. Nampaknya, pria paruh baya itu sedikit menyesal karena pernah mengabaikan putri kandungnya sendiri. Melupakan sebentuk rasa cinta dan kasih sayang yang seharusnya ia curahkan kepada sang anak, dan menggantinya dengan kepelikan hidup yang harus ia jalani.
Tanpa terasa bulir bening itu lolos dari pelupuk mata Baskara. Rasa bersalah tetiba menggelayut manja di hatinya.
"Ayah, mengapa Ayah menangis?" ucap Mara yang sedikit terkejut saat melihat sang ayah meneteskan air matanya.
Baskara menyeka air mata yang membasahi pipi. Senyum simpul menghiasi bibir pria yang terlihat sedikit berkeriput itu. "Tidak apa-apa Nak. Ayah merasa bahagia karena saat ini sudah ada yang mendekapmu dalam kehangatan dan cinta. Jika besok Tuhan mencabut nyawa Ayah, Ayah bisa pergi dengan tenang Nak."
Mendengar ucapan sang ayah membuat mata Mara berembun. Hatinya serasa ngilu tatkala mendengar sang ayah berbicara tentang kematian. "Ayah bicara apa? Ayah akan tetap sehat sampai nanti. Bukankah Ayah ingin melihat cucu-cucu Ayah?"
Lolos sudah kristal bening dari pelupuk mata Mara. Meski selama ini ia begitu kurang mendapatkan kasih sayang dari sang ayah, namun sungguh ia mencintai sang ayah sepenuh hati, tanpa cela sedikit pun. Ia paham bahwa sang ayah sedikit melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Namun ia selalu percaya bahwa suatu saat nanti sosok ayah yang dulu selalu mendekapnya dalam kehangatan pasti akan kembali, dan semua itu terbukti tatkala sang ayah sudah tidak dapat melakukan apapun dan hanya bisa duduk di atas kursi rodanya.
Baskara tersenyum simpul. "Kalaupun Ayah belum sempat melihat cucu-cucu Ayah, Ayah pasti akan ikut berbahagia di sana Nak. Ayah bahagia melihatmu mendapatkan limpahan kebahagiaan dari nyonya Widuri dan nak Dewa yang begitu besar seperti ini."
"Ayah...."
__ADS_1
Suara Mara tercekat di dalam tenggorokan. Gadis itu menangis sesenggukan. Ucapan sang Ayah benar-benar seperti menjadi sebuah firasat buruk untuknya. Entah mengapa ia merasa bahwa sang ayah akan pergi jauh meninggalkannya.
"Ssstttt sudah Sayang.. Kamu jangan bersedih lagi ya. Semua pasti akan baik-baik saja." Sembari memeluk tubuh Mara, Oma Widuri menautkan pandangannya ke arah Baskara. "Pak Besan, jangan berbicara seperti itu. Pak Besan harus yakin bahwa pak Besan akan kembali sehat."
"Bu Besan, jika memang saya tidak ada umur, saya titip putri saya. Tolong jaga lahir maupun batinnya."
Oma Widuri mengangguk mantap. "Itu sudah pasti pak Besan. Itu sudah pasti."
***
"Saya benar-benar minta tolong chef, tolong buatkan bubur ayam untuk istri saya. Dia tengah sakit Chef."
Berkali-kali Dewa mencoba memohon kepada kepala koki di kitchen resort, berharap agar Chef itu mau untuk membuatkan bubur ayam. Bahkan lelaki itu sudah memasang wajah memelas, berharap agar sang koki merasa iba kepadanya.
"Maaf Pak Dewa, saya tidak bisa. Kebetulan saya dan tim sedang sibuk mempersiapkan breakfast untuk rombongan dari Malang. Jadi saya tidak bisa membuatkan bubur ayam seperti kemauan pak Dewa."
Berkali-kali Dewa memohon, berkali-kali pula sang koki menolak. Dewa sampai frustrasi gegara bubur ayam ini.
"Lalu saya harus bagaimana Chef?"
Koki itu terlihat sedikit berpikir. Tetiba senyum manis terbit di bibir koki itu. "Bagaimana kalau pak Dewa membuat sendiri saja. Saya persilakan untuk menggunakan dapur ini?"
"Saya ha....."
Ting....Ting... Ting.... Bubur ayam... Bubur ayam....!!!
Tatkala Dewa akan menimpali ucapan koki ini, tiba-tiba terdengar suara penjual bubur ayam yang ada di luar resort. Dewa dan koki pun sama-sama tersenyum.
"Nah, itu ada penjual bubur ayam Pak. Rezeki untuk pak Dewa ini mah."
"Yeaaaaaayy...."
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Apakah Dewa berhasil mendapatkan semangkuk bubur ayam sesuai keinginan sang istri?? Hihihihihi tunggu episode selanjutnya ya kak 😘😘