Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 37 : Gagalnya Rencana Pertama


__ADS_3


Gadis belia itu nampak tertidur pulas di bawah pohon cemara. Tubuhnya ia sandarkan di batang pohon dan kakinya selonjoran di hamparan pasir pantai. Semilir angin khas suasana pantai seakan kian menambah gadis itu larut dalam buaian mimpinya.


"Mara!"


"Mara!"


"Mara!"


Getaran suara seseorang yang tiba-tiba mengaliri aliran syaraf-syaraf indera pendengaran, membuat kenyamanan gadis yang tengah tertidur lelap itu sedikit terusik. Kesadarannya seakan ditarik paksa oleh suara-suara yang sedikit memekakkan telinga.


Kelopak mata Mara sedikit demi sedikit terbuka. Dan tatkala kelopak matanya terbuka penuh, seketika ia terperanjat melihat siapa yang ada di hadapannya ini.


"Anda...?"


Tanti mendekat ke arah sang anak tiri. Tanpa berpikir panjang, wanita paruh baya itu tiba-tiba meluruhkan tubuhnya di hadapan Mara dan menundukkan kepalanya.


"Mara... Maafkan Ibu. Maafkan atas segala perilaku buruk yang pernah Ibu lakukan terhadapmu. Ibu sangat menyesal Mara, sangat menyesal."


Air mata wanita paruh baya itu mengalir deras dari sumber mata air miliknya seolah menumpahkan semua rasa yang bercampur menjadi satu. Rasa sesal, rasa bersalah dan rasa ... yang hanya ia sendiri yang mengetahuinya.


Mara masih tertegun melihat adegan yang mungkin terlihat begitu mengharukan yang ada di depannya ini. Wanita paruh baya, bersimpuh di dekat kakinya dengan kepala menunduk seperti meminta sebuah pengampunan atas semua kesalahan yang ia lakukan.


"Mara... Untuk menebus semua kesalahan yang pernah Ibu lakukan terhadapmu, maukah kamu kembali ke rumah kita? Kita buka kembali lembaran hidup yang baru." Wanita paruh baya itu mengusap air mata yang membasahi pipi. "Semua yang sempat diberikan oleh juragan Karta telah ibu kembalikan. Dan saat ini kamu bisa hidup dengan tenang, karena juragan Karta tidak akan pernah lagi memaksamu untuk menikah dengannya."


Tanti mengulurkan tangannya. Ia raih jemari tangan Mara dan menggenggamnya dengan erat. "Pulang ya Nak, kita mulai lagi semua dari awal."


Mara tertegun. Setelah sekian tahun hidup bersama sang ibu tiri, baru kali ini ia mendengar Tanti memanggilnya dengan panggilan 'Nak'. Mungkin, bagi seorang gadis yang begitu merindukan kasih sayang seorang ibu, saat ini akan menjadi sebuah momen yang begitu mengharukan, mendengar sang ibu tiri yang memanggilnya dengan penuh sayang. Namun nampaknya hal itu sama sekali tidak berpengaruh apapun terhadap Mara.


Gadis itu nampak masih tak bergeming sedikitpun. Rasa sakit yang pernah ditorehkan sang ibu tiri semenjak masuk ke dalam hidupnya seakan menyangsikan jika saat ini wanita paruh baya itu benar-benar telah berubah. Meskipun ada sedikit rasa iba, namun sama sekali tidak dapat menyentuh sudut hati terdalamnya.

__ADS_1


"Aku juga ingin minta maaf kepadamu Ra. Maaf jika selama menjadi saudaramu, aku sering melakukan sesuatu yang tidak baik kepadamu. Aku sungguh sangat menyesal Ra, sangat menyesal."


Tidak hanya sang ibu, satu-satunya anak perempuan Tanti yang selama ini selalu bersikap buruk terhadap Mara pun juga ikut meluruhkan tubuhnya. Ia juga bersimpuh dengan kepala menunduk. Sungguh sebuah pertunjukan yang terlihat begitu dramatis. Namun sayang, hal itu sama sekali belum mampu untuk menyentuh hati Mara.


Mara sedikit melirik manik mata milik Tanti yang telah dipenuhi oleh derai air mata yang turun dengan lebat. Namun di mata Mara sama sekali tidak nampak ketulusan yang tersirat. Justru malah sebuah akting yang ia perankan dengan sempurna. Perlahan, Mara menarik tangannya dari genggaman tangan Tanti.


"Saya sudah memaafkan Anda. Sehingga Anda tidak perlu lagi untuk bersimpuh seperti ini."


Di luar ekspektasi Tanti. Tanti yang mengira anak tirinya ini akan menyambutnya dengan penuh kehangatan, justru terdengar begitu dingin layaknya bongkahan es di tengah samudra. Berdiri kokoh tak mencair sedikitpun.


Tanti mencoba untuk tersenyum simpul meski dalam hati, ia merasakan begitu kesal karena tidak mendapatkan balasan seperti apa yang ia inginkan. Namun ia harus berusaha mati-matian untuk menahan rasa kesal itu, demi keberhasilan rencananya.


"Ibu sangat berterimakasih kepadamu, Nak. Saat ini kamu dan ayahmu pasti mau untuk kembali ke rumah bukan? Kita mulai lagi dari awal sebagai keluarga?"


Mara menatap sinis dengan apa yang diucapkan oleh ibu tiri di depannya ini. Keluarga? Keluarga seperti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu? Bahkan Mara sendiri sudah kehilangan makna dari sebuah kata keluarga, semenjak kehadiran Tanti, dan kini ia kembali dengan membawa kata keluarga? Sungguh sangat tidak bisa ia percaya sama sekali.


Bertahun-tahun Mara kecil selalu menguatkan dirinya sendiri dengan membentuk sebuah cangkang untuk melindungi hatinya agar hatinya tidak terkoyak, kini wanita itu datang kepadanya dan mencoba untuk meremukkan cangkang itu? Satu hal yang sampai kapanpun tidak akan dilakukan oleh Mara.


Tanti dan Puspa sama-sama terperangah mendengar ucapan Mara. Kedua ibu dan anak itu seakan tiada percaya jika Mara memiliki keteguhan hati untuk tidak mudah percaya begitu saja dengan sandiwara yang telah ia buat sesempurna mungkin. Ternyata, di mata Tanti dan Puspa, gadis itu memang tidak mudah dibodohi ataupun ditipu.


"Tapi Ra, di sisa usia Ibu ini, Ibu ingin menebus semua kesalahan Ibu dengan kembali hidup bersamamu dan juga ayahmu. Tolong penuhi permintaan Ibu Nak. Kembalilah ke rumah, dan kita mulai lagi dari awal."


Tanti masih belum menyerah. Ia kembali memohon, pastinya dengan derai air mata buaya yang semakin deras mengalir. Sedangkan Mara, ia kembali menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Tidak, saya tidak mau untuk kembali lagi ke rumah itu. Jika Anda ingin menebus semua kesalahan yang pernah Anda lakukan, tidak perlu Anda membujuk ataupun memaksa saya untuk kembali hidup bersama Anda. Cukup jalani saja kehidupan Anda dengan menjadi orang baik, itu sudah cukup untuk menebus semua kesalahan yang pernah Anda lakukan."


Mara mulai bangkit dari posisinya. Perlahan, ia menepuk-nepuk dress yang ia kenakan untuk menghilangkan pasir-pasir yang menempel. Ia kembali menatap lekat dua wanita yang masih duduk bersimpuh itu. Ada sedikit rasa kasihan yang berhasil menembus cangkang hati milik Mara, namun sungguh saat ini ia teramat paham dengan mana yang disebut dengan ketulusan dan mana yang disebut dengan tipu daya.


"Setelah ini, kehidupan saya maupun ayah akan jauh lebih baik lagi. Dan biarkan kehidupan yang akan kami jalani nanti, kami lalui berdua saja, tanpa adanya Anda maupun Puspa. Sama seperti sebelum Anda masuk ke dalam kehidupan kami."


Mara sedikit menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan. "Dan sampai kapanpun, tidak akan ada yang pernah bisa menggantikan posisi ibu saya di dalam hati saya pribadi maupun hati ayah. Saya permisi!"

__ADS_1


Mara mengayunkan kakinya untuk melenggang pergi meninggalkan Tanti dan Puspa. Setelah bayang gadis itu tak lagi nampak di mata Tanti dan Puspa, kedua ibu dan anak itu saling melempar pandangan. Dari raut wajah keduanya sangat jelas tersirat sebuah kekecewaan yang mendalam karena rencana pertama mereka gagal total.


"Breng*sek, ternyata gadis sialan itu tidak selemah yang kita kira Pus. Dia sepertinya tahu jika apa yang kita lakukan ini hanyalah sebuah sandiwara."


Sebuah umpatan lolos begitu saja dari bibir Tanti. Ya, Tanti tetaplah Tanti. Seseorang yang begitu ambisius yang rela melakukan apa saja demi tercapai segala yang ia mau. Mungkin jika tadi Mara meminta wanita paruh baya itu untuk mencium kakinya agar ia mau diajak untuk kembali hidup bersama pastinya sudah akan dilakukan oleh Tanti. Namun ternyata, kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan angan-angannya. Wanita paruh baya itu ditolak mentah-mentah oleh Mara.


"Lalu, saat ini apa yang harus kita lakukan Bu? Aku benar-benar tidak sabar untuk bersegera menjadi orang kaya. Aku lelah hidup miskin seperti ini terus-menerus Bu," timpal Puspa dengan intonasi yang menyedihkan.


Tanti tersenyum miring. Gagalnya rencana pertama ini, tidak membuat wanita paruh baya itu kehabisan cara. Karena, ia sudah memiliki segudang rencana untuk bisa membawa kembali sang anak tiri ke hadapan juragan Karta.


"Kamu tenang saja Pus. Saat ini keberadaan Mara sudah kita ketahui, oleh karena itu jangan biarkan ia sampai terlepas lagi." Senyum seringai terbit di bibir Tanti. "Jika kita tidak dapat membujuk Mara dengan cara baik-baik, maka kita harus melakukan cara kotor."


Dahi Puspa sedikit mengerut. Ia memang belum tahu apa-apa saja yang menjadi rencana sang ibu. "Cara kotor? Maksud Ibu cara kotor seperti apa?"


Tanti mendekat ke arah wajah Puspa dan lirih ia bisikkan sesuatu di telinga sang anak. Seketika mata Puspa membulat sempurna dengan raut wajah yang berbinar. Ucapan sang ibu layaknya sebuah pemantik api semangat dalam diri Puspa yang sempat padam karena gagalnya rencana pertama ini.


"Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan rencanaku?" ucap Tanti meminta pendapat dari sang anak akan rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan.


"Hahahaha Ibu benar-benar cerdas. Aku yakin, cara seperti itu pasti akan berhasil."


"Haaahaa jangan panggil aku Tanti, jika tidak bisa membuat gadis sialan itu sampai di hadapan juragan Karta."


.


.


. bersambung....


Hari Senin datang lagi Kakak... Jangan lupa untuk terus mendukung author remahan kulit kuaci ini dengan sumbangan tiket vote, poin maupun yang lainnya ya... Agar tambah bersemangat untuk update tiap episodenya. 😘😘😘


Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...

__ADS_1


Salam love, love, love❤❤❤


__ADS_2