
Dita menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Tubuhnya terasa begitu lemas dan berkali-kali ia menahan rasa mual di perutnya yang terasa bergejolak. Sedari tadi wanita itu muntah-muntah hingga hanya cairan berwarna kuning yang keluar dari dalam mulutnya.
Dita menghirup nafas dalam-dalam dan ia keluarkan dari dalam mulutnya. "Ada apa denganku? Apakah mungkin asam lambungku naik? Sehingga membuatku mual dan muntah seperti ini?"
Dita berkata lirih sembari memijit-mijit pelipisnya. Di samping rasa mual yang ia rasakan, ia juga merasa kepalanya begitu berat.
"Aaaaahhhhh... Mungkin asam lambungku memang sedang naik, sehingga membuatku seperti ini."
Gegas, Dita melenggang pergi keluar dari kamar mandi. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua bola matanya menatap lekat langit-langit kamar dan pandangannya nampak kosong dan menerawang.
Bip.. Bip....
Sebuah notifikasi pesan baru, masuk di dalam ponsel milik Dita. Terlihat sang kekasih mengiriminya sebuah pesan. Senyum bahagia merekah di bibir Dita. Setiap kali sang kekasih membahas perihal bercinta, membuat wanita itu semakin tidak sabar untuk segera menyatukan tubuhnya dengan Damar.
Salah satu yang membuat Dita begitu mendamba sentuhan lelaki itu, meski usia Damar sudah memasuki angka empat puluh lima tahun, namun gurat-gurat ketampanan masih terlihat begitu tegas di wajahnya. Tidak hanya itu saja, powernya sebagai lelaki perkasa membuat Dita seakan semakin jatuh ke dalam pesona Damar. Damar lah satu-satunya lelaki yang bisa membuatnya mendesah nikmat dan mengerang panjang ketika ia meraih puncak kenikmatan.
Rasa mual yang sedari tadi menyerang tubuh Dita, kini bagaikan hilang tertiup angin. Tergantikan oleh degup-degup jantung yang tiada henti yang semakin membuatnya ingin bersegera bertemu dengan sang kekasih. Dan wanita itupun larut dalam obrolannya bersama sang kekasih via ponsel.
Di tempat yang berbeda, oma Widuri nampak berdiri di depan pintu kamar yang seringkali dipakai oleh Dita dan juga Damar menyatukan raga mereka. Sedangkan Kasim berada di dalam kamar itu mencoba untuk memasang CCTV sesuai perintah nyonya besar.
"Sim.... Apakah masih lama?"
Sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling, oma Widuri terdengar berbicara dengan Kasim. Beruntung Kasim adalah salah satu orang kepercayaan oma Widuri yang multi talenta. Semua pekerjaan bisa ia kerjakan. Mulai menjadi tukang kebun, tukang instalasi listrik, tukang antar majikan (sopir pribadi) dan juga tukang yang pandai berbenah rumah.
"Sebentar lagi selesai, Nyonya."
Oma Widuri sedikit membuang nafas kasar. "Cepat Sim, nanti keburu wanita ulat bulu itu kemari!"
"Iya Nyah, ini sudah hampir selesai!"
Oma Widuri masih celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar. Khawatir kalau sampai Dita ataupun Damar tahu akan apa yang dilakukan oleh Kasim. Bisa-bisa apa yang menjadi rencana oma Widuri gagal total padahal tinggal selangkah lagi semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
"Saya sudah selesai Nyah."
Oma Widuri memindai ekspresi wajah Kasim dengan seksama. "Bisa kamu pastikan bahwa keberadaan CCTV itu aman bukan?"
Kasim mengangguk mantap. "Itu sudah pasti Nyah. Semuanya aman, sesuai dengan rencana Nyonya besar."
Oma Widuri tersenyum senang. "Bagus, kamu memang bisa diandalkan Sim. Aku benar-benar berterimakasih kepadamu." Oma Widuri menghela nafas dalam. "Sekarang saatnya kita melakukan rencana selanjutnya."
"Rencana apa itu Nyah?"
"Ayo ajak Darmi sekalian! Kita pergi jalan-jalan."
"Baik Nyah!"
Oma Widuri melangkahkan kaki meninggalkan tempat ini. Ia menuju kamar pribadi milik sang cucu menantu.
Tok... Tok... Tok...
Oma Widuri mengetuk pintu di hadapannya menuntut sang pemilik kamar untuk segera membukakannya. Tak selang lama pintu kamar terbuka dan terlihat Dita dengan dress selutut tersenyum manis menyambut sang nenek.
Dengan tatapan penuh selidik Dita memindai ekspresi wajah sang nenek. Sepertinya wanita itu sedikit curiga dengan apa yang dilakukannya oleh oma Widuri yang bertandang ke kamarnya di jam-jam seperti ini.
"Dit, kita jalan-jalan ke mall yuk. Atau kalau tidak, kita spa di salon. Aku merasa sangat bosan terus menerus berada di dalam rumah."
Dahi Dita sedikit mengerut. Tidak paham karena tiba-tiba oma Widuri memintanya untuk menemani ke mall. "Kok tumben Oma ingin nge mall? Memang ada apa Oma?"
"Hemmmm.. Aku hanya sedikit merasa bosan berada di dalam rumah, Dit. Aku ingin menghirup udara segar sembari jalan-jalan." Oma Widuri menatap kedua manik mata Dita dengan lekat. "Kamu bisa menemaniku bukan?"
Dita terlihat sejenak berpikir mencoba menimbang-nimbang apa yang menjadi permintaan oma Widuri. Sebuah tawaran yang cukup menarik jalan-jalan dengan sang oma mertua karena dengan begitu ia bisa memanjakan diri untuk berbelanja barang-barang branded yang menjadi kemauannya. Namun untuk saat ini tidak ada yang ia inginkan selain hanya bermesra-mesraan bersama Damar.
Sejak Dita dan Damar saling berbalas pesan dan membahas hal-hal yang sensual, membuat gairah wanita yang merupakan istri dari Dewa itu memuncak. Saat ini ia benar-benar menginginkan sentuhan tangan Damar. Dan jika sampai sang nenek keluar untuk berjalan-jalan di mall, maka saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menghabiskan waktu berdua bersama Damar.
Oma Widuri menatap lekat wajah Dita dengan tatapan yang sukar diartikan. "Bagaimana Ta? Kamu mau bukan, mengantarkan aku jalan-jalan di mall atau spa di salon?"
__ADS_1
Dita memasang wajah nampak penuh penyesalan. "Maaf ya Oma, sepertinya aku tidak bisa menemani Oma. Aku sedang tidak enak badan Oma."
Oma Widuri nampak seperti seseorang yang terkejut. "Kamu sakit Ta?" Oma Widuri gegas memegang wajah sang cucu menantu seperti seorang ibu yang tengah melihat kondisi anaknya. "Oma antar ke rumah sakit ya? Kita check ke rumah sakit."
Oma Widuri memasang ekspresi wajah yang begitu cemas kepada cucu menantunya.
Aku rasa kamu benar-benar sedang hamil. Wajah kamu nampak begitu sayu, sama seperti wanita yang tengah hamil muda. Kita lihat, berapa lama lagi kamu akan bertahan di dalam rumah ini Ta.
Dita hanya menggeleng pelan. "Tidak perlu Oma. Dita hanya membutuhkan istirahat sebentar, setelah itu pasti akan segera pulih."
"Benarkah seperti itu? Tapi Oma benar-benar khawatir dengan keadaan kamu Ta. Oma antar ke rumah sakit ya."
Layaknya seorang nenek yang begitu perhatian terhadap kesehatan sang cucu, oma Widuri mencoba menawarkan diri untuk mengantarkan Dita ke rumah sakit. Namun dalam batin oma Widuri, ia berharap agar Dita tetap menolak tawarannya dan tetap berada di dalam rumah.
Dita tersenyum tipis. "Tidak perlu, Oma. Aku tinggal istirahat sebentar pasti akan kembali sehat seperti sedia kala. Sekarang jika Oma ingin ke mall atau ke salon, diantar mbok Darmi sama pak Kasim saja ya?"
Oma Widuri sedikit memperlihatkan ekspresi kecewanya. "Hemmmm... Padahal aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu, Ta. Tapi mau bagaimana lagi? Kamu terlihat sangat tidak sehat, jadi terpaksa aku pergi dengan Darmi dan Kasim."
"Maaf ya Oma. Lain kali, Dita yang akan menemani Oma jalan-jalan."
"Baiklah kalau begitu. Kamu perbanyak istirahat saja Ta. Jangan melakukan aktivitas yang berat-berat agar tubuh kamu bisa pulih seperti sedia kala."
"Baik Oma. Aku akan beristirahat di kamar."
Oma Widuri membalikkan badannya, melenggang meninggalkan kamar Dita. Senyum bahagia tiada henti merekah di bibir wanita berusia lanjut itu.
Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan bersama Damar, Ta. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Dan kejutan ini nantinya akan menjadi jalan bagi cucuku untuk menceraikanmu. Selamat menikmati detik-detik terakhirmu di rumah ini, Dita.
Tidak jauh berbeda dengan oma Widuri, Dita pun memandang punggung oma Widuri yang mulai menghilang dari pandangan matanya dengan senyum lebar di bibirnya. Kali ini waktu yang ia miliki untuk bercinta dengan Damar teramat banyak, mengingat sang nenek pasti akan menghabiskan waktu di mall dan salon dalam durasi yang sangat lama. Bisa jadi hingga sore nanti sang nenek baru akan kembali ke rumah.
Akhirnya, aku memiliki kesempatan untuk menuntaskan segala hasratku. Aku benar-benar merindukan sentuhanmu, Damar...
.
__ADS_1
.
. bersambung...