Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 64 : Menerima


__ADS_3


Duduk berhadapan sembari menikmati chamomile tea dan strawberry cheesecake, kedua bola mata oma Widuri menatap intens wajah gadis yang di hadapannya ini. Sebingkai wajah ayu dengan bulu mata lentik, alis dengan tingkat kelengkungan yang sempurna, dua bola mata lebar, hidung mungil dan bibir tipis seakan menjadi tanda akan kesempurnaan ciptaan Tuhan.


"Nyonya? Mengapa Nyonya menatap saya seperti itu? Apakah ada kotoran di wajah saya? Atau mungkin ada sesuatu yang terselip di gigi saya?"


Mara sibuk meraba-raba wajahnya. Khawatir jika ada sesuatu yang mengganggu penglihatan orang lain karena ada kotoran atau mungkin sesuatu yang lain. Wajar saja Mara memiliki pemikiran seperti itu karena sedari tadi nyonya besar di hadapannya ini menatap wajahnya dengan lekat bahkan tidak berkedip sama sekali.


"Cantik. Kamu sangat cantik, Mara. Tidak hanya wajahmu tapi juga perangai, tutur kata dan tingkah lakumu. Pantas saja jika cucuku begitu menginginkanmu untuk menjadi istrinya."


Blussshhh...


Ucapan oma Widuri sukses membuat pipinya merona merah dan gadis itupun hanya bisa menunduk karena malu.


"Terimakasih banyak untuk pujiannya, Nyonya."


Oma Widuri hanya tersenyum tipis. "Jika melihat wajahmu yang seperti ini, aku teringat masa-masa mudaku. Dulu aku juga pernah menjadi wanita paling cantik pada era-ku. Aaahhh... tanpa sadar saat ini usiaku sudah semakin tua dan sudah bau tanah."


Oma Widuri tertawa renyah. Sedangkan Mara juga hanya bisa tersenyum simpul. Ternyata wanita berusia senja ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dibarengi dengan kualitas humor yang tinggi pula sehingga membuat suasana dipenuhi oleh keakraban meski baru dua kali, ia bertemu dengan wanita berusia senja ini.


"Itu benar sekali Nyonya, karena sampai saat ini pun kecantikan Nyonya masih terlihat sangat jelas. Nyonya masih terlihat sangat muda."


Mara tidak main-main dengan ucapannya itu. Bahkan gadis itu tidak bermaksud untuk mencari muka di depan oma Widuri dengan cara memujinya. Karena pada dasarnya, apa yang diucapkan oleh Mara itu benar adanya. Wajah oma Widuri memang terlihat sangat terawat meskipun sudah hampir memasuki seabad.


Oma terkikik geli. "Jika memang seperti itu, ketika aku mendampingi Dewa duduk di atas pelaminan, aku tidak perlu merasa malu bukan? Karena wajahku ini masih terlihat cantik?"


Mara hanya mengangguk pelan sembari menyeruput jus buah naga yang ada di hadapannya. "Itu benar sekali Nyonya."

__ADS_1


Oma Widuri kembali tersenyum simpul. "Ah iya, aku ingin tahu, sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki yang sering disebut Dewa sebagai kekasihmu? Apakah kamu memang memiliki hubungan khusus dengan lelaki yang dimaksud oleh Dewa itu?"


Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Nyonya, hubungan saya dengan lelaki itu murni hanya seperti seorang adik dengan kakak. Karena lelaki itulah yang pernah menolong saya dan ayah saya tatkala melarikan diri dari kejaran orang-orang yang memiliki niat tidak baik terhadap saya. Bahkan, lelaki yang dimaksud oleh tuan Dewa sudah memiliki kekasih, dan mungkin sebentar lagi dia akan segera menikah."


Oma Widuri mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini tiada lagi keraguan dalam hatinya untuk bisa segera menyatukan sang cucu dengan gadis cantik di depannya ini.


"Apakah kamu mencintai Dewa?"


Mara terkesiap. Pertanyaan oma Widuri ini hanya bisa membuatnya tak dapat menjawab sama sekali. Gadis itu dilanda kebingungan akan apa yang harus ia katakan.


"S-Saya...."


Seutas senyum manis terbit di bibir oma Widuri. Perlahan, ia menarik telapak tangan Mara dan menggenggamnya erat. "Aku sudah mengetahui jawabannya, Ra. Apa yang kamu rasakan terhadap Dewa tergambar jelas melalui sorot matamu."


"Nyonya, saya...."


Mara tersentak. "Nyonya, saya..."


"Kamu hanya perlu menjawab ya atau tidak Ra!"


Mara menundukkan wajahnya. Tanpa terasa bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Perasaan untuk lelaki asing yang baru beberapa saat ia kenal itu sungguh berhasil memenuhi ruang-ruang dalam hatinya. Membuatnya kesulitan bernafas dan mungkin rasa lega itu akan kembali ia rasakan tatkala ia telah berhasil mengungkapnya di hadapan Dewa.


"Nyonya, saya memang mencintai tuan Dewa, namun..."


Dahi oma Widuri sedikit mengernyit. "Namun apa Ra? Apa yang masih membuatmu dipenuhi oleh keraguan itu?"


"Saya ini hanya wanita berpendidikan rendah Nyonya. Saya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan tuan Dewa yang notabene seorang pimpinan di perusahaan besar. Saya takut tidak dapat membawa diri saya, Nyonya."

__ADS_1


Oma Widuri bangkit dari duduknya. Ia menggeser kursi yang ia duduki untuk bisa lebih dekat dengan Mara. Ia tarik tubuh gadis ini, untuk ia bawa ke dalam pelukannya.


"Sssstttt... Siapa bilang kamu tidak pantas bersanding dengan cucuku Ra? Malah seharusnya Dewa lah yang tidak pantas untuk menjadi pendamping hidupmu, mengingat usianya dengan kamu terpaut sangat jauh. Namun, aku sangat bersyukur, karena kamu memiliki rasa yang sama terhadap Dewa. Dan aku percaya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyatukan cinta kalian."


Mara sedikit mengurai pelukannya dari tubuh oma Widuri. "Nyonya...."


Oma Widuri tersenyum simpul dan mengusap telaga bening milik gadis ini yang sudah berurai air mata. "Ra, di sisa usiaku ini, aku hanya ingin melihat Dewa bahagia. Aku percaya bahwa kebahagiaan Dewa ada di dalam dirimu. Dan kamulah wanita yang telah dikirimkan oleh Tuhan, untuk dapat membalut semua rasa sakit yang pernah Dewa rasakan." Oma Widuri menjeda sejenak ucapannya. "Jadi, apakah kamu bersedia untuk menjadi istri Rangga Danabrata Dewandaru?"


Mara mengangguk pelan. "Iya Nyonya, saya bersedia."


Oma Widuri tersenyum lebar. Gegas ia memeluk tubuh gadis ini dengan erat. "Terimakasih Mara! Dan mulai saat ini, jangan panggil aku nyonya, tapi panggil aku oma, sama seperti Dewa memanggilku."


"O-Oma...?"


"Ya seperti itu, cucu menantuku. Sungguh, aku begitu bahagia mendengarnya."


Oma Widuri memeluk erat tubuh Mara. Tanpa terasa, setetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Tuhan, jika setelah ini Engkau memanggilku, aku pasti akan kembali pulang dalam keadaan tenang. Aku percaya gadis ini adalah gadis baik yang akan membawa kebaikan pula untuk cucuku.


Mara, gadis belia itu juga dipenuhi oleh perasaan haru. Dekapan oma Widuri seakan mengingatkannya kepada sosok ibu yang telah lama pergi. Dekapan hangat penuh ketulusan dan kasih sayang yang sudah teramat lama tidak ia rasakan.


Tuhan, terimakasih atas anugerah yang Engkau berikan untukku di hari ini. Aku sudah siap untuk menjadi istri tuan Dewa. Semoga hanya akan ada kebahagiaan untuk kami di masa depan nanti.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2