
"Terlambat Mas!"
Mara menggeser tubuhnya untuk sedikit menjauh dari rengkuhan tubuh Dewa. Gadis itu kembali menikmati suasana jalanan yang terlihat begitu ramai di jam-jam seperti ini. Beberapa kendaraan seperti bus, mobil, motor, terlihat mengular, memadati salah satu jalan protokol kota ini. Sesekali terdengar bunyi klakson bersahutan dari beberapa kendaraan yang melintas seolah menambah keramaian suasana siang hari ini.
Dua kata sederhana yang membuat dunia Dewa runtuh dalam sekejap. Dua kata yang terucap dari bibir Mara, yang seketika membuat sendi-sendinya melemas, tulang-tulangnya remuk dan membuat lelaki itu kehilangan kekuatan untuk berpijak.
"Apa Ra? Terlambat?"
Dewa mencoba untuk menegaskan sekali lagi. Barangkali pendengarannya keliru. Keliru karena bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. Yang ia inginkan, Mara menerima lamarannya.
Mara mengangguk pelan. "Iya Mas. Kamu terlambat. Karena aku telah menerima lamaran dari orang lain."
"L-lamaran dari siapa Ra? Mengapa aku tidak mengetahuinya? Bukankah selama kita kenal, kamu tidak memiliki kenalan lelaki manapun, selain aku, Pramono dan juga Krisna?"
"Itu benar Mas. Aku baru mengenalnya beberapa saat, tapi entah mengapa hatiku sudah seperti terjerat olehnya dan aku sungguh sulit untuk menolaknya."
Raut wajah Dewa mendadak berubah sendu. Ia merasa saat ini sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan gadis yang begitu ia cintai ini.
"Ra, apakah kali ini aku harus berjuang lagi untuk mendapatkanmu? Apakah sebegitu lambat kah langkahku untuk menjadikanmu sebagai istriku? Hingga orang lain mendahuluiku?"
Mara ingin tertawa keras-keras melihat wajah lelaki di depannya ini begitu sendu dan frustrasi. Namun demi melancarkan rencananya, ia harus berupaya untuk menahannya.
"Jika kamu memang masih ingin memperjuangkanku, maka perjuangkan aku Mas. Aku persilakan."
"T-tapi bukankah kamu sudah menerima lamaran dari orang lain? Apa mungkin kamu akan membatalkannya Ra?"
Semua masih sangat sulit untuk dimengerti oleh Dewa. Apa mungkin seorang gadis yang telah menerima pinangan dari lelaki lain, tiba-tiba menggagalkannya begitu saja? Ini sungguh sangat sulit untuk dipahami.
Gadis itu hanya mengendikkan bahunya. "Entahlah Mas. Mungkin saja aku bisa berpindah ke lain hati dengan menerimamu. Namun bisa juga aku justru tetap pada pendirianku untuk menerima pinangan orang itu."
Tubuh Dewa luruh di hadapan Mara. Kepalanya menunduk seakan tidak mampu untuk menatap hari-harinya yang terasa begitu suram karena tidak berhasil untuk mendapatkan hati gadis ini.
"Ra, apakah ini salah satu hukuman untukku? Karena aku sempat membuatmu kecewa? Sehingga membuatmu tidak ingin menjalani sisa hidupmu bersamaku?"
Mara terkesiap saat melihat posisi Dewa yang sudah berlutut di hadapannya. Ia merasa menjadi wanita yang jahat karena membuat bos besar PT WUW ini berlutut di hadapannya. Mara memegang pundak Dewa, bermaksud untuk membuat tubuhnya kembali tegak.
"Mas... Jangan seperti ini... Berdirilah!"
Dewa kekeuh menggelengkan kepalanya. "Tidak Ra. Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidupku jika tanpamu. Aku benar-benar mencintaimu Ra. A-Aku tidak akan bisa jika harus kehilanganmu."
Mara tersenyum simpul. Ia benar-benar tidak menyangka jika akan dicintai begitu besar oleh lelaki ini. "Mas, bangunlah!"
Sekuat tenaga Mara mencoba untuk membangunkan tubuh kekar lelaki ini. Lelaki itu menangis dan isak tangisnya begitu terdengar menyayat hati.
"Nanti malam datanglah ke kafe Monokrom Mas. Di sana akan aku putuskan siapa yang aku pilih."
Dewa terkesiap. "Apakah itu berarti masih ada kesempatan untukku Ra?"
"Berdoa saja Mas. Semoga hatiku menjatuhkan pilihannya kepadamu."
Senyum tipis terbit di bibir Dewa. Meskipun hanya setitik namun bisa menjadi sebuah harapan untuknya. Mungkin saat ini, ia tinggal banyak-banyak merapalkan doa agar hati Mara menjatuhkan pilihan kepadanya.
"Baiklah, aku akan datang Ra. Jika lelaki itu memiliki tampang di bawahku, aku harap kamu tidak memilihnya."
Dahi Mara berkerut. "Mengapa bisa seperti itu Mas?"
"Ra tolong, jangan membuatku merasa rendah diri. Masa aku kalah saing dengan lelaki yang tingkat ketampanannya jauh di bawahku? Apa kata dunia Ra?"
Mara dan penulis cerita hanya bisa berdecak dalam hati. Ternyata tingkat ke narsisan duda itu tidak berkurang sama sekali meskipun sedang mengalami lara hati.
***
Tepat pukul tujuh malam suasana Monokrom kafe nampak begitu ramai oleh para pengunjung. Sebuah kafe dengan konsep kekinian milik pengusaha muda sukses Rama Gilang Pradana yang sangat cocok digunakan sebagai tempat melepas penat setelah seharian bekerja dengan bersantai ria.
"Ra... Kita berada di tempat ini sebenarnya dalam rangka apa?"
Baskara yang masih setia duduk di kursi roda terlihat begitu kebingungan karena baru kali ini lelaki paruh baya itu menginjakkan kakinya di kafe. Ada sedikit rasa minder akan keadaannya. Namun sedari tadi sang putri selalu berusaha menguatkannya.
__ADS_1
"Ayah, sebentar lagi calon menantu Ayah akan hadir. Mara minta doa restu dari Ayah untuk Mara bisa menjalani kehidupan bersama lelaki yang telah Mara pilih."
Baskara sedikit terkejut. "Calon menantu. A-apakah itu pak Dewa?"
Mara hanya tersenyum manis di hadapan Baskara. Ia menggenggam jemari sang ayah dengan erat. "Sebentar lagi Ayah akan melihatnya secara langsung. Mara hanya meminta doa restu dari Ayah."
Baskara menganggukkan kepalanya. "Ayah merestuimu Nak, selama itu bisa membahagiakanmu."
Dengan penuh kasih Mara mengecup kening sang ayah yang sudah berkeriput. "Terimakasih Ayah."
Tak selang lama, yang dinantikan telah tiba. Dewa nampak lebih muda dengan pakaian casual yang ia kenakan. Dengan pakaian itu, ia nampak sepuluh tahun lebih muda.
"Ayah?"
Dewa menyapa Baskara sembari mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu. Sebagai salah satu bentuk rasa hormat dan sebagai upaya untuk merebut hati calon mertua.
"Nak Dewa sehat?"
Dewa mengangguk. "Dewa sehat, Yah!"
"Syukurlah."
Dewa mengambil posisi duduk di hadapan Mara. Meskipun rasa gugup menyerangnya namun ia berusaha keras untuk mengendalikan. Ia sudah teramat tidak sabar untuk melihat wujud lelaki yang diam-diam telah mencuri incaran hatinya itu.
"Ra, apakah rival ku masih lama tiba di tempat ini?"
Pertanyaan Dewa sukses membuat Mara tergelak. "Sebentar lagi pasti akan tiba Mas. Sabar ya."
Dewa mendengkus lirih. "Menghadiri acara seperti ini saja dia sudah tidak tepat waktu. Bagaimana bisa dia menepati janjinya untuk menjaga dan melindungimu dan juga Ayah Ra!"
Mara terkikik geli. Sorot matanya tertuju pada wanita berusia senja yang berada di belakang punggung Dewa, dan....
Pletakk!!!
"Aaaahhhhh... Apa-apaan ini? Siapa yang berani me....."
"Oma? Mengapa Oma ada di sini? Dan ada angin apa yang membuat Oma memiliki hobi nongkrong di kafe anak muda seperti ini?"
Oma Widuri berdecih. "Bukan urusanmu Wa. Aku ada urusan penting dengan Mara."
Oma Widuri mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di sebelah Dewa. Ia melirik ke arah Mara sembari menganggukkan kepalanya.
"Mas, wanita yang duduk di sampingmu inilah yang sudah menimangku!"
Dewa terperanjat. "Oma? Oma meminangmu? Ini apa-apaan Ra? Mengapa Oma tetiba meminangmu? Kalian penyuka sesama jenis?"
Pletakk...
Lagi, Oma Widuri kembali melayangkan jitakannya ke kepala Dewa.
"Heh Duda! Dalam hal semacam ini mengapa kamu lola sekali?"
"Maksud Oma bagaimana? Dewa datang kemari untuk melihat lelaki mana yang meminang Mara. Tapi mengapa justru Oma yang datang?"
Oma Widuri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ke- ogeban cucunya ini sungguh sangat kebangetan.
"Mas, Oma Widuri sudah lebih dulu meminangku untukmu. Beliaulah yang lebih dahulu memintaku untuk bersedia menjadi istrimu."
Dewa terperangah, bibirnya seketika menganga lebar. "O-Oma sudah lebih dahulu meminangmu untukku?"
Mara mengangguk. "Iya Mas."
"L-Lalu, apa jawabanmu Ra?"
Mara hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mulai mengayunkan kakinya ke arah space yang dikhususkan untuk perform para pemusik yang sering kali manggung di kafe ini.
Mara berbisik lirih kepada salah satu personil pemusik yang tengah perform di kafe ini. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, paham dengan apa yang menjadi maksud Mara.
"Selamat malam semua... Mohon maaf jika kehadiran saya di sini mengganggu kenyamanan para pengunjung. Namun, malam ini izinkan saya untuk membawakan sebuah lagu. Sebuah lagu yang saya khususkan untuk lelaki yang sedang duduk di sana."
__ADS_1
Mara menunjuk ke arah tempat duduk Dewa, hal itu yang sontak membuat mata para pengunjung tertuju kepada lelaki itu.
"Mas Dewa... Satu lagu ini aku persembahkan untukmu. Dan sebagai jawaban.... atas pinanganmu."
Pertama, kurasakan getaran
Yang kerap goyahkan rasa
Serasa ada sentuhan baru
Sinari hari-hariku
Pertama, dirikupun tergoda
Kilaunya matamu
Runtuhkan angkuhnya dinding hati
Koyakkan batas sepiku....dinginku
Pertama untukku dan tak kulupa
Diriku terjerat cintamu
Dan aku tak ingin lepas
Larutkan aku dalam nyata
Riak belaimu yang akan
Temani setiamu padaku
Suara merdu Mara berhasil menghipnotis semua pengunjung kafe ini. Tidak mengherankan jika gadis itu memiliki suara yang merdu, mengingat sang ibu dahulunya juga merupakan salah satu penyanyi terkenal meski hanya di tingkat kecamatan. Bukan hanya suara gadis itu, wajahnya yang cantik juga seolah semakin membuat mereka tidak bisa mengalihkan tatapan mata mereka.
Oma mengambil kotak beludru warna merah dari dalam tasnya. "Wa, majulah ke depan dan pakaikan cincin ini di jari Mara!"
Dewa terperangah. "Oma? Ini Oma semua yang menyiapkannya?"
Oma Widuri berdecih. "Bahkan aku bisa bergerak jauh lebih cepat daripada kamu Wa."
Gegas Dewa memeluk tubuh sang Oma. Ia cium pipi oma Widuri dengan lekat. "Terimakasih banyak Oma, terimakasih."
Ada keharuan yang tetiba oma Widuri rasakan. Matanya memanas dan air mata itu lolos begitu saja dari telaga beningnya. "Sambutlah kebahagiaanmu Wa. Aku percaya bahwa Mara adalah perempuan yang terbaik untukmu."
Dewa bangkit dari duduknya. Ia berjalan dengan gagah menyusul Mara yang tengah berada di atas stage kecil kafe ini. Dewa berdiri di samping Mara. Ia membuka kotak beludru warna merah itu.
"Sayang... Dengan segenap hati dan rasa cinta yang aku miliki untukmu, malam ini aku ingin melamarmu. Nismara Dewani Hayati, bersediakah kamu untuk menjadi istriku? Menghabiskan sisa usia kita bersama-sama?"
Lolos sudah bulir bening dari pelupuk mata Mara. Gadis itu hanya bisa mengangguk perlahan. "Aku menerimamu Mas. Aku bersedia untuk menjadi istrimu!"
Rasa bahagia itu terasa begitu membuncah dalam dada Dewa. Ia mengambil sebuah cincin dari dalam kotak beludru warna merah itu dan kemudian memasangkannya di jari manis Mara. Dewa mendekatkan wajahnya di wajah Mara, dengan lembut lelaki itu mengecup kening sang gadis.
"Aku mencintaimu Sayang... Sungguh sangat mencintaimu!"
"Aku pun juga begitu Mas. Aku mencintaimu mas Dewa!"
.
.
. bersambung....
Haaahaa biasanya si cowok yang menyanyikan lagu untuk kekasihnya, tapi di sini terbalik ya kak😅😅 Tidak apa-apa lah, anggap saja kita menyenangkan hati sang Duda...😂😂
Alhamdulillah kita sampai di part 70. Terimakasih banyak untuk dukungan juga apresiasinya sampai saat ini ya kak... Mohon maaf jika akhir-akhir ini saya jarang membalas komentar kakak-kakak semua... Murni karena pekerjaan di dunia nyata...🙏🙏
Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua....
Salam love, love, love ❤️❤️❤️
__ADS_1