Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 51 : Kota Hujan


__ADS_3


"Oh... Cucu Oma.... Bagaimana keadaanmu Sayang? Oma benar-benar merindukanmu!"


Binar-binar kebahagiaan nampak memenuhi raut wajah oma Widuri tatkala melihat siapa yang tiba di rumah pagi hari ini. Seorang laki-laki yang sudah hampir berkepala empat, namun selalu saja ia anggap lelaki kecil yang harus ia manjakan. Jadi, sudah merupakan hal yang begitu wajar, jika oma Widuri selalu memperlakukan sang cucu layaknya seorang pemuda yang bisa ia peluk dan ia cium pipi kanan dan kirinya, semaunya.


Terlebih, sudah hampir satu minggu lamanya ia tidak pernah bertemu dengan sang cucu. Membuat wanita yang telah memasuki usia senja itu ingin selalu menguyel-uyel (nah loh, apa lagi itu menguyel-uyel?😅) sang cucu untuk ia cium sepuasnya.


Dewa hanya tersenyum tipis. "Dewa baik-baik saja Oma. Kalau begitu, Dewa langsung ke kamar ya Oma. Dewa lelah!"


Sekilas, oma Widuri menatap ke arah Krisna yang berada di belakang punggung Dewa. Oma Widuri seakan meminta penjelasan kepada asisten cucunya itu, namun Krisna hanya mengendikkan bahunya.


"Eh... Ada apa denganmu Wa? Mengapa Oma melihat wajahmu begitu muram dan murung? Apa yang terjadi kepadamu?"


Oma Widuri melihat gelagat aneh dari raut wajah cucunya ini. Kembali dari kota Jogja yang ia katakan akan ia jadikan sebagai kota untuk menenangkan diri dan sebagai kota yang akan mengembalikan senyum dan keceriaannya, namun yang nampak saat ini adalah seraut wajah yang dipenuhi oleh mendung yang menghitam. Ya, lelaki itu terlihat seperti sedang dilanda oleh duka yang mendalam.


Dewa tersenyum getir. Ia memang sedang dirundung oleh duka yang mungkin karena kesalahannya sendiri. Ya, kesalahan karena ia tidak mendengarkan perkataan sang asisten untuk mencari keberadaan gadis yang tanpa sadar sudah berhasil mencuri sepotong hati yang ia miliki. Dan kini, saat gadis itu sudah tidak lagi dapat ia temui, ia benar-benar merasakan tiada gairah untuk menapaki hari-harinya.


"Dewa baik-baik saja Oma. Mungkin Dewa hanya sedikit kelelahan. Maka dari itu, Dewa pergi ke kamar dulu ya Oma. Dewa ingin segera beristirahat."


Dewa berusaha untuk mengingkari apa yang ia rasakan, bahwa ia akan baik-baik saja setelah kepergian nona asing itu. Namun tetap saja, sekeras apapun ia berupaya untuk mengingkari kata hatinya, kehampaan itu benar-benar semakin menggelayut manja di dalam relung hatinya.


Meskipun dipenuhi oleh berjuta pertanyaan yang berputar-putar di dalam benaknya, namun oma Widuri tetap mengangguk jua. "Baiklah Wa. Bersihkan dahulu badanmu. Kemudian beristirahatlah."


Dengan langkah kaki gontai, Dewa meninggalkan sang oma dan sang asisten yang masih terpaku dengan apa yang ada di dalam pandangan mereka. Dewa meniti anak-anak tangga yang akan mengantarkannya ke kamar pribadinya.


"Ppsssstttt... Ada apa dengan Dewa? Mengapa dia terlihat begitu murung?"


Oma Widuri sudah tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya tentang apa yang tengah dialami oleh Dewa. Wanita yang telah memasuki usia senja itu menangkap sinyal tidak baik dari wajah sang cucu.


"Cucu Oma sedang patah hati."


Kedua alis oma Widuri saling bertaut. "Patah hati? Dewa masih belum juga bisa move on dari Dita?"


"Bukan Oma, bukan Dita yang membuat cucu kesayangan Oma itu patah hati."


"Lalu?"


"Mara, Oma!"


Dahi oma Widuri semakin mengerut, mendengar Krisna menyebutkan sebuah nama yang begitu asing di telinganya. "Mara? Siapa itu Mara? Aaahhh.. Ayolah Kris, ceritakan apa yang belum aku ketahui sama sekali. Aku benar-benar penasaran."


"Iya Oma, akan Krisna ceritakan. Tapi tidakkah Oma menjamu Krisna terlebih dahulu? Dengan masakan yang dibuat oleh mbok Darmi? Krisna lapar Oma!"

__ADS_1


Dengan wajah memelas, Krisna meminta makan kepada oma Widuri yang sudah ia anggap seperti oma kandungnya sendiri. Memang menemani seseorang yang tengah patah hati itu benar-benar tidak mengasyikkan. Karena patah hatinya itu membuatnya tidak merasakan lapar sama sekali. Dan hal itu berimbas pada Krisna yang kebetulan berada di dekat Dewa yang tengah patah hati. Duda itu seakan melupakan, jika sejak keluar dari rumah resort, mereka sama sekali belum mengisi perut dengan makanan. Dan itulah yang dirasakan oleh Krisna. Lelaki itu kelaparan setengah mati.


Oma Widuri hanya berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Darmi!!!"


Tak selang lama terlihat mbok Darmi berlari kecil menghampiri oma Widuri. "Iya Nyasar. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Siapkan makanan yang banyak dan yang paling lezat untuk cucuku ini. Sudah tiga tahun dia tidak makan. Lihatlah, tubuhnya terlihat begitu kurus bukan?"


Darmi terkekeh geli. Majikannya ini memang benar-benar memiliki kualitas humor yang tinggi. Hal itulah yang membuat Darmi betah bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk menjadi asisten rumah tangga oma Widuri.


"Baik Nyasar. Akan saya siapkan makanan yang banyak dan yang lezat untuk tuan Krisna."


Darmi melenggang meninggalkan Krisna dan oma Widuri. Dibarengi dengan Krisna yang mendekat ke arah sang oma dan bergelayut manja di lengan oma Widuri.


"Terimakasih banyak Oma-ku tercinta. Tapi itu tadi mengapa mbok Darmi memanggil Oma dengan Nyasar? Nyasar itu apa sih? Memang siapa yang kesasar Oma?"


"Hmmmmm nyasar itu kependekan dari nyonya besar. Jadi beberapa hari ini, Darmi memanggilku dengan sebutan itu."


"Ooohhhh.. Nyonya besar? Hahaha lucu juga ya Oma?"


"Hmmmmm sudahlah. Kamu segeralah makan. Setelah itu ceritakan semua yang terjadi kepada Dewa saat ia berada di Jogja!"


"Asiyaapp Oma-ku!"


***


Mara berteriak sembari melambaikan tangan tatkala melihat bayangan tubuh seorang laki-laki yang baru saja keluar dari angkot warna biru. Setelah berada di dalam perjalanan selama sepuluh jam lebih, akhirnya untuk kali pertama, gadis belia itu menginjakkan kakinya di kota Bogor. Atas instruksi dari Pramono, Mara diminta untuk turun di pasar Cibinong yang berjarak tidak begitu jauh dari kontrakan yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.


Pramono menoleh ke arah sumber suara. Seutas senyum manis terbit di bibir lelaki itu. "Mara!"


Gegas, Pramono mengayunkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan Mara yang kebetulan tengah duduk di salah satu warung makan kecil yang ada di pasar ini.


"Mas Pram, bagaimana keadaan ayah? Apakah ayah baik-baik saja?"


Keadaan sang ayah lah yang menjadi pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Mara tatkala bertemu dengan Pramono. Mara yang tidak terbiasa jauh dari Baskara, membuat gadis itu sedikit khawatir karena sudah beberapa hari ini ia tidak bersama-sama dengan sang ayah.


"Kamu tenang saja Ra. Ayahmu dalam keadaaan yang baik."


Mara menarik nafas lega. Ternyata Pramono memang orang baik yang bisa ia percaya untuk menjaga ayahnya. "Apakah tempat tinggal aku dan ayah nanti jauh dari sini Mas?"


Pram menggeleng pelan. "Tidak Ra. Sepuluh menit kamu menaiki angkot berwarna biru itu, kamu sudah bisa sampai di kontrakan yang akan kamu tinggali." Pramono terlihat sedikit mengulas senyum. "Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mencarikan kontrakan untukmu dan juga ayahmu. Dan untuk tiga bulan ke depan, kamu bisa menempati kontrakan itu secara cuma-cuma."


Mara sedikit terperangah. "Maksud mas Pram, apa?"

__ADS_1


"Aku sudah membayar kontrakan itu untuk tiga bulan yang akan datang Ra. Jadi kamu bisa fokus untuk merawat ayahmu dan mungkin bisa sambil mencari pekerjaan."


Mata Mara mengembun, membentuk bulir-bulir kristal di sudut matanya. "Aku tidak tahu lagi harus berkata apa Mas. Aku benar-benar banyak berhutang budi kepadamu."


Mara menangis. Entah sudah keberapa kalinya ia menitikkan air mata karena bisa bertemu dengan orang-orang baik yang menolongnya, tanpa pernah ia duga sama sekali. Pramono hanya bisa tersenyum simpul. Ia tarik tubuh Mara dan ia bawa ke dalam pelukannya. Bagi Pram sendiri, Mara sudah seperti adik kandungnya, adik yang memang harus selalu ia jaga keselamatannya.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk membalas semua yang sudah aku lakukan untukmu, Ra. Kamu hanya perlu untuk selalu bersemangat dalam mewujudkan semua mimpi-mimpi yang kamu miliki. Berjanjilah kepadaku, bahwa setelah ini hidupmu akan jauh lebih baik dari sebelumnya."


Mara mengangguk pelan. "Aku berjanji Mas."


Pram mengurai sedikit pelukannya. Ia hapus air mata gadis belia yang tengah menangis ini dengan jemarinya. "Kamu harus berbahagia, adikku. Dengan begitu, bulik Paramitha pasti akan selalu tenang berada di alam sana."


"Iya Mas. Aku akan berupaya keras untuk kebahagiaanku dan juga kebahagiaan ayah."


***


"Ayah....!!"


Mara mengambil posisi jongkok di depan sang ayah yang tengah duduk di atas kursi roda. Gegas, gadis itu memeluk tubuh sang ayah dengan erat. Ia tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sesak di dalam dada atas kerinduan yang ia rasakan untuk sang ayah. Dan kini, saat ia melihat sang ayah dalam keadaan yang baik tanpa kurang satu apapun, air mata penuh rasa lega itu mengalir deras tak dapat ia hentikan lagi.


"M-Mara... Putriku!"


Sama halnya dengan Mara, Baskara juga ikut menumpahkan semua rasa bahagia sekaligus rasa haru yang bercampur menjadi satu. Lelaki itu menangis di dalam pelukan sang anak. Sang anak yang sempat tidak ia pedulikan sama sekali, justru saat inilah yang menjadi satu-satunya orang yang selalu ada untuknya. Tanpa pernah mengeluh, putrinya ini selalu sabar dalam merawatnya tatkala penyakit yang ia derita ini menggerogoti tubuhnya hingga membuatnya tidak bisa melakukan apapun.


Mara mengurai sedikit pelukannya. Ia raih jemari tangan sang ayah yang sudah berkeriput itu dan ia genggam dengan erat dan ia kecup dengan lekat. "Mulai hari ini, kita akan mengawali kehidupan baru kita di kota ini Ayah. Hanya ada kita berdua. Ayah harus memiliki semangat untuk sembuh. Sehingga kita bisa melewati hari-hari baru kita ini dengan penuh kebahagiaan."


Baskara hanya mengangguk pelan. Mara kembali memeluk tubuh sang ayah dengan erat. Sebesar apapun kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahnya ini, bagi Mara Baskara tetaplah laki-laki yang begitu itu ia cintai. Sama halnya dengan ia mencintai sang ibu. Mara paham betul bahwa bagaimanapun juga ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan.


Dalam pelukan sang ayah, pandangan mata Mara terlihat sedikit menerawang. Ada sesuatu yang tetiba datang mengisi relung hatinya.


Tuan Dewa... Aku sudah berada di kota ini. Mungkinkah suatu saat nanti kita bisa berjumpa kembali?


.


.


. bersambung...


Hari Senin datang lagi Kakak... Jangan lupa untuk terus mendukung author remahan kulit kuaci ini dengan sumbangan tiket vote, poin maupun yang lainnya ya... Agar tambah bersemangat untuk update tiap episodenya. 😘😘😘


Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...


Salam love, love, love❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2