
"Ra, tolong percaya padaku! Aku bukanlah homo seperti yang ada di dalam pikiranmu. Aku lelaki normal, Ra!"
Selepas Mara melenggang pergi meninggalkan kamar, Dewa bergegas menyusul gadis itu. Entah apa yang terjadi, namun rasa-rasanya Dewa sangat khawatir jika sampai sang gadis berpikiran bahwa ia memang benar-benar homo. Bisa jadi mimpi dan angannya untuk bersegera melepas masa duda bisa berantakan.
Mara berdiri di balik jendela kamar sembari menatap lekat laut lepas yang nampak jelas dari tempatnya berdiri saat ini. Birunya air laut terlihat begitu kontras dengan warna putih awan yang berarak menghias langit.
Mara menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Tuan dengan tuan Krisna. Namun jika saya lihat dari seringnya Tuan selalu bersama, rasanya sangat memungkinkan bahwa Tuan memang homo."
Dewa terkesiap. Ternyata memang benar jika gadis ini telah salah sangka. Dewa yang sebelumnya duduk di kursi kecil yang berada di dalam kamar Mara, kini ia bangkit dari posisi duduknya untuk mendekat ke arah gadis itu.
"Ra, tolong percaya padaku! Aku tidak homo. Yang kamu lihat tadi bukan seperti yang kamu bayangkan. Tadi aku hanya sedang memberi pelajaran kepada Krisna, karena..."
Dewa menjeda ucapannya. Lelaki itu ragu akan mengatakan jika ia cemburu karena Krisna menggodanya perihal lelaki yang dicintai oleh gadis ini.
Dahi Mara sedikit mengerut. "Karena apa Tuan?"
Dewa yang sebelumnya menegakkan pandangannya, kini beralih menunduk. "Karena Krisna sempat mengatakan bahwa kamu menyukainya. Dan itu yang membuatku tidak terima."
Mara sempat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. Namun seketika, senyum manis terbit di bibirnya. "Dan Tuan percaya yang dikatakan oleh tuan Krisna itu?"
Dewa mengendikkan bahunya. "Entahlah. Aku mencoba untuk tidak percaya, namun banyak kemungkinan jika itu memang benar adanya. Krisna masih terlihat sangat muda meskipun usiaku dengannya tidak terpaut jauh. Dan ketampanannya juga selisih sedikit denganku, jadi bisa jadi memang kamu lebih menyukainya bukan?"
Mara tergelak. "Jika Tuan berpikiran seperti itu, itu artinya pikiran Tuan terlampau jauh. Bagaimana bisa saya menyukai seorang laki-laki yang baru sekali saya temui?"
Dewa terkesiap. "Itu berarti kamu juga tidak mungkin untuk menyukaiku dan jatuh cinta kepadaku, karena kita baru beberapa hari bertemu. Maksudmu seperti itu Ra?"
Perasaan Dewa tiba-tiba terasa begitu tidak mengenakkan. Ia berpikir ucapan gadis ini merupakan salah satu kode ataupun isyarat jika gadis ini tidak memiliki perasaan apapun. Dan dari ucapan itu, sang gadis ingin Dewa untuk mundur perlahan. Sebelum rencana malam nanti berjalan.
__ADS_1
Mara sedikit menyunggingkan senyumnya. "Kalau untuk kasus Tuan, sepertinya ada yang berbeda."
"Berbeda? Maksud kamu bagaimana, Ra?"
Mara masih enggan untuk beralih titik pandangnya dari laut lepas yang terlihat begitu memukau di indera penglihatannya. "Saya sendiri juga tidak paham Tuan. Namun, sejak pertama kali saya bertemu dengan Tuan, rasa-rasanya ada sesuatu aneh yang saya rasakan. Apa mungkin karena cara pertemuan kita yang sedikit unik? Ataukah karena hal lain?"
Dewa terkekeh kecil. "Iya, aku juga baru menyadari jika aku memiliki perasaan yang berbeda kepada kuntilanak zaman now yang tersangkut di atas pohon."
Mara yang sebelumnya menatap lekat suasana pantai yang begitu memesona, kini ia geser pandangan matanya untuk menatap Dewa. Gadis itu pun juga hanya bisa tersenyum simpul. "Kuntilanak yang saat ini selalu mengikuti kemana pun Tuan pergi?"
Dewa, perjaka sedikit duda itu juga menautkan pandangannya ke arah Mara, hingga kini tatapan keduanya saling bersirobok. Perlahan, ia meraih tangan Mara dan menggenggam jemari tangan sang gadis. "Ya, biasa jadi seperti. Namun baru kali ini aku merasa bahagia diikuti kuntilanak. Sepertinya, aku memang benar-benar telah terpesona dengan kecantikan kuntilanak itu."
Mara hanya bisa menundukkan wajahnya. Gadis itu tersipu malu dengan apa yang diucapkan oleh lelaki di depannya ini. Dewa sedikit mengangkat dagu Mara. Perlahan, ia usap bibir merah gadis itu dengan jemari tangannya.
"Sebenarnya, aku ingin mengatakan ini semua nanti malam, namun rasanya juga tidak ada salahnya bukan, jika saat ini aku mengatakannya kepadamu?"
Mara mengerjapkan mata. "Maksud Tuan?"
Cup....
Sebuah kecupan kembali Dewa daratkan di bibir Mara. Seperti biasa gadis itu terlihat sedikit terkejut, namun ia mulai membuka bibirnya, mempersilakan lidah Dewa untuk menjelajahi semua yang ada di dalam rongga mulutnya. Beberapa hari diperlakukan intim oleh lelaki di depannya ini, membuatnya semakin lihai dalam membalas setiap pagutan yang diberikan oleh Dewa. Ia terbuai dalam nuansa intim yang tercipta.
Dewa melepaskan pagutan bibirnya tatkala melihat sang gadis sedikit kesusahan untuk bernafas. Sorot matanya kembali menatap teduh gadis cantik yang berada di hadapannya ini.
Dewa mengusap lembut bibir Mara yang terlihat sedikit basah karena salivanya. "Aku terpesona dengan ini, ini, ini, ini, ini, dan....."
Dewa menunjuk mata, hidung, bibir, pipi, rambut Mara. Namun gadis itu sedikit keheranan karena Dewa menggantung ucapannya. Hal itulah yang membuat gadis itu begitu penasaran.
"Dan apa Tuan?"
__ADS_1
Dan bagian dadamu Ra. Huh... Kalau saja aku tidak teringat dengan bayang-bayang ibumu dan semua pesan yang ia ucapkan kepadaku, bisa habis kamu Ra.
Dewa tersenyum kikuk. Tidak mungkin jika ia menunjuk bagian dada Mara yang terlihat begitu menggoda iman.
"Dan... Semua yang ada di dalam diri kamu, aku menyukainya."
Mara semakin tersipu malu dan seperti biasa, ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Dewa mengangkat dagu Mara, dan lagi, ia mengecup bibir tipis gadis itu.
Dan ciuman bibir itu kembali terjadi. Keduanya seakan larut dalam keromantisan yang tercipta, sembari menyelami lebih dalam apa yang sebenarnya mereka rasakan satu sama lain. Apakah cinta? Rasa nyaman? Atau justru kedua-duanya? Namun dari sini, dapat mereka pastikan, jika ini semua bukan hanya sekedar perasaan sesaat. Mulai saat ini, mungkin mereka sama-sama harus mempersiapkan diri untuk menyambut takdir apa yang telah tergaris untuk keduanya.
Ceklek....
"Ra, cobalah baju ini. Aku ra..... Ya Tuhan, kalian?!!"
Krisna yang tanpa permisi memasuki kamar Mara terkejut setengah mati melihat adegan si bos dan gadisnya ini. Keduanya benar-benar nampak intim sekali, meski hanya sebuah pagutan bibir.
Krisna yang bermaksud membawakan sebuah gaun untuk Mara di acara malam nanti, malah melihat sajian yang begitu membuatnya gigit jari. Ya, gigit jari karena saat ini ia terbelenggu oleh status jomblo akut. Dan disuguhi dengan adegan yang begitu mesra seperti ini? Sungguh, rasa-rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar samudera.
"Kalian ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya berciuman di hadapanku!" kesal Krisna dengan bibir sedikit mengerucut.
Dewa dan Mara menghentikan pagutan bibir masing-masing. Dan menoleh ke arah sumber suara. Keduanya sama-sama terbahak melihat ekspresi wajah Krisna yang terlihat begitu menyedihkan.
"Haaaaahhaaa... Dasar jomblo! Sungguh sangat malang nasibmu!"
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Part dinner inshaallah akan hadir di part selanjutnya ya kak.. Apakah akan sukses besar? Atau porak poranda? hehehehe ditunggu yah 😘😘😘