
"Ganti pakaianmu Mas! Aku tidak mau melihatmu memakai pakaian itu!"
Satu titah yang tidak mungkin bisa untuk dibantah terdengar memenuhi langit-langit kamar pribadi milik Dewa dan juga Mara. Hampir satu jam mereka bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Krisna namun hingga detik ini pun mereka belum juga keluar dari kamar. Sedari tadi Dewa teramat bingung dengan apa yang diinginkan oleh sang istri sampai membuatnya berkali-kali berganti pakaian seperti ini.
"Tapi Sayang, jika tidak memakai pakaian ini, aku harus berpakaian apa? Pakaian ini cocok aku kenakan untuk menghadiri acara pernikahan Krisna lho Sayang!"
Dari setelan jas, tuxedo, kemeja, bahkan sampai baju batik pun sudah terpasang di badan lelaki itu. Namun selalu saja mendapatkan sebuah penolakan dari sang istri. Lagi-lagi Mara menggelengkan kepalanya. Meminta sang suami untuk mengganti pakaiannya.
"Tidak Mas, aku tidak mau melihatmu memakai pakaian itu. Kamu terlalu tampan jika memakai pakaian itu, Mas!"
Dewa terperangah. Alasan sang istri sungguh sangat terdengar menggelitik telinga. Baru kali ini ia mendapati seorang istri yang tidak menginginkan suaminya terlihat tampan. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh istrinya ini?
"Sayang... Jika aku terlihat tampan, memang salahnya di mana? Bukankah kamu akan semakin bangga, jika berjalan beriringan dengan lelaki tampan, hemmm?"
Lagi-lagi Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas. Pokoknya aku tidak mau. Bisa-bisa para tamu wanita yang hadir di pernikahan mas Krisna terpesona pada penampilanmu ini!"
Bibir Dewa menganga lebar dan kedua bola matanya membulat sempurna. Ia benar-benar terperangah mendengar alasan yang keluar dari bibir istrinya ini. Sebuah ucapan yang menjadi jawaban akan perilaku aneh yang sering ditampakkan oleh istrinya ini.
Akhir-akhir ini Mara memang terlihat sedikit aneh. Dewa merasa jika sang istri semakin posesif terhadapnya. Wanita itu seakan tidak mau berjauhan dari dirinya. Pernah satu hari, seharian sang istri memenjarakannya di dalam kamar dan tidak boleh sejenakpun keluar dari sana. Berbaring di atas ranjang, dipeluk oleh sang istri tanpa memberikan kesempatan untuk beranjak dari sana.
"Aku tidak bisa tenang jika tidak mencium aroma tubuhmu Mas. Aku ingin tetap seperti ini!"
__ADS_1
Itulah yang diucapkan oleh sang istri saat memintanya untuk berada di dalam kamar seharian. Tidak bisa kemanapun dan hanya bisa bergulung-gulung di atas tempat tidur. Sampai agenda meeting dengan relasi yang sudah terjadwal di hari itu, terpaksa harus ia batalkan.
Tidak hanya itu saja. Pernah suatu hari ketika akan berangkat ke kantor, ia yang sudah rapi dengan pakaiannya, terpaksa harus berganti pakaian. Sang istri tiba-tiba memintanya untuk mengganti dengan pakaian santai. Sebuah t-shirt dan celana di atas lutut. Hal-hal semacam itu sempat berlangsung beberapa hari. Namun ternyata lelaki itu memiliki banyak akal. Dari rumah ia memakai pakaian santai dan ketika tiba di kantor, ia berganti dengan pakaian kerja lagi.
"Tapi Sayang, aku...."
Niat Dewa untuk bernegosiasi dengan Mara justru menjadi kesia-siaan belaka. Baru saja tiga patah kata yang terucap namun ucapannya tetiba dipangkas oleh sang istri.
"Jadi kamu mau terlihat tampan agar kamu bisa tebar-tebar pesona dengan para tamu wanita yang hadir di acara pernikahan mas Krisna, Mas?"
"Eh...? Bukan seperti itu Sayang!"
"Hiks ... kamu jahat Mas. Mentang-mentang perutku sudah terlihat sedikit membuncit kamu berniat untuk tebar-tebar pesona dengan wanita di luar sana. Kamu sudah tidak cinta kepadaku lagi?"
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Mara meneteskan air mata. Wanita itu terisak dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Hati Dewa mencelos jika sudah melihat sang istri mengisakkan tangisnya ini. Perlahan, ia mendekat ke arah Mara, dan memeluknya.
Dengan penuh sayang, Dewa mengusap-usap rambut Mara yang masih tergerai itu. Tidak hanya itu saja. Dewa juga menghujani pucuk kepala sang istri dengan kecupan-kecupan lembut dari bibirnya. Apa yang ia ucapkan bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Karena memang benar jika semenjak hamil, sang istri terlihat jauh lebih cantik. Dan aura kecantikannya pun seakan semakin keluar.
"Kamu sedang berbohong kan Mas? Jika kamu masih mencintaiku mengapa kamu ingin selalu terlihat tampan? Bukankah itu bisa menjadi salah satu jalan bagimu untuk digandrungi oleh wanita-wanita di luar sana? Dan... Pasti kamu juga akan tertarik dengan pesona mereka, bukan?"
Dewa hanya bisa tersenyum simpul. Memang butuh kesabaran ekstra tatkala menemani sang istri melewati masa-masa kehamilannya ini. Karena terkadang apa yang diinginkan oleh sang istri tidak dapat diterima oleh akal sehatnya.
"Sayang, untuk perkara tampan bukankah aku ini sudah tampan semenjak lahir? Jadi memakai pakaian apapun, aku pasti akan tetap terlihat tampan. Itu sudah menjadi hal yang mutlak Sayang..."
__ADS_1
"Tuh kan... Kamu malah berbangga diri kan Mas? Aku yakin di acara nanti kamu akan tebar pesona di depan para wanita. Dan kamu pasti akan mengabaikan aku. Lebih baik, kita tidak usah hadir di acara mas Krisna saja Mas!"
Dewa semakin terperangah. Tidak mungkin jika ia tidak menghadiri acara pernikahan seseorang yang selama ini sangat berjasa dalam membantunya mengelola perusahaan yang diwariskan oleh sang oma. Sebuah acara yang begitu istimewa untuk Krisna, dan ia ingin sekali terlibat dalam acara itu. Meski tidak dapat melakukan apa-apa, setidaknya ia bisa menjadi saksi atas kebahagiaan sahabat, saudara laki-laki sekaligus asisten pribadinya itu.
"Ya sudah, begini saja Sayang. Sekarang kamu pilihkan pakaian untukku yang menurutmu tidak akan berpeluang bagi wanita-wanita di luar sana untuk terpesona kepadaku. Bagaimana? Kamu setuju bukan?"
Mara melerai sedikit pelukannya sembari menghapus air mata yang masih berkumpul di telaga beningnya. "Benarkah? Aku boleh memilihkan pakaian untukmu Mas?"
Dewa tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. "Tentu Sayang. Aku akan memakai pakaian yang dipilihkan oleh istriku!"
Mara berbalik badan. Gegas ia menuju almari pakaian dan mulai memilihkan pakaian untuk sang suami. Sedikit lama Mara berdiri di depan almari pakaian ini. Ia menyapu pandangannya ke setiap pakaian yang tertata rapi di dalam sana. Hampir sepuluh menit wanita itu terpaku sembari memilih dan memilah dan pada akhirnya tangannya mengambil satu setel pakaian yang ia anggap tidak akan membuat wanita-wanita di luar sana terpesona dengan ketampanan sang suami.
"Pakailah ini Mas! Dengan pakaian ini kamu pasti tidak akan terlihat tampan. Dan aku yakin tidak ada wanita yang terpesona akan ketampananmu!"
Dewa terperangah. Ia seperti kesusahan untuk menelan salivanya. Apakah mungkin ia memakai pakaian ini untuk menghadiri acara pernikahan Krisna?
Jika sudah seperti ini, tidak ada yang dapat dilakukan oleh calon papa itu selain mengangguk pasrah sembari membuang nafas sedikit kasar menuruti apa yang menjadi keinginan sang istri.
.
.
. bersambung....
__ADS_1
Hayooloohhhhh... Baju apa yang dipilihkan oleh Mara untuk Dewa? Hihihihihi hiiihii kita lihat di episode selanjutnya ya Kak...πππ
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..