
Dita mengacak rambutnya sedikit kasar, tatkala permasalahannya dengan Damar tetiba menghampiri ingatannya. Sejatinya permasalahan itu muncul bukan karena Damar yang mengawalnya, namun dirinya sendirilah yang menciptakan permasalahan itu. Keluar dari rumah sempit dan sumpek milik Damar, Dita bergegas menjalankan misi untuk menggugurkan janin yang berada di dalam kandungannya. Dan benar saja, saat ini, janin itu sudah tidak lagi bertumbuh di dalam rahim yang ia miliki.
Dita semakin terlihat frustrasi dengan undangan resepsi pernikahan berwarna merah mengkilap yang berada di dalam genggaman tangannya. Wanita itu masih berupaya mati-matian untuk mengingkari kenyataan bahwa yang ia alami ini merupakan mimpi buruk yang hanya sesaat menghampirinya. Namun semakin ia berpikir bahwa itu semua adalah mimpi buruk, namun semakin nampak jelas potret kemesraan yang terpampang di salah satu sisi undangan itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan Pa. Aku harus melakukan sesuatu!"
Dengan sorot mata tajam layaknya burung elang yang siap membidik mangsa, Dita nampak begitu bersemangat untuk melakukan sesuatu.
Sembari menghisap lintingan tembakau yang berada di sela-sela jari telunjuknya dan mengepulkan asap dari benda mematikan itu, Arman mencoba memahami tiap kata yang diucapkan oleh Dita. "Apa maksudmu? Sesuatu apa yang akan kamu lakukan?"
Pandangan mata Dita terlihat sedikit menerawang. "Apapun itu akan aku lakukan Pa. Bahkan jika harus berlutut di bawah telapak kaki mas Dewa pun akan aku lakukan. Asal aku bisa kembali kepadanya."
Arman tersenyum miring. "Papa rasa akan sangat berat bagimu untuk melakukan itu semua. Kamu ingat betapa murkanya Dewa saat mengetahui kamu tidur satu ranjang dengan Damar bukan? Dan dari foto yang ada di dalam undangan ini, nampak jelas bahwa Dewa mencintai wanita yang saat ini menjadi istrinya."
Dita membuang nafas sedikit kasar. "Aku masih meyakini bahwa apa yang nampak di dalam undangan ini hanya sebuah rekayasa Pa. Kemesraan dan keintiman yang tergambar dalam foto ini, tidak lain hanyalah salah satu arahan dari sang fotografer saja. Tidak lebih dari itu."
Arman terkesiap. Ternyata anaknya ini sama sekali tidak ingin menyerah akan keadaan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan berusaha untuk kembali mendekati mas Dewa. Pastinya dengan memberikan perhatian-perhatian kecil untuknya. Dengan cara seperti itu, aku percaya bahwa rasa cinta yang pernah mas Dewa miliki untukku akan kembali bersemi."
__ADS_1
Arman hanya terkikik geli mendengar ucapan sang anak yang terdengar menggelitik telinga. "Papa tidak yakin dengan cara seperti itu kamu akan berhasil mendapatkan apa yang kamu mau. Istri Dewa saat ini terlihat jauh lebih muda dan lebih memesona daripada kamu. Jadi Papa harap kamu urungkan niatanmu itu. Daripada nantinya akan menjadi sebuah kesia-siaan."
Dita menggelengkan kepalanya. "Tidak Pa. Tidak akan ada yang sia-sia. Semuanya pasti akan kembali dalam posisi sebelumnya. Aku akan kembali menjadi istri mas Dewa." Dita kembali menatap lekat foto pernikahan Dewa dan juga Mara. "Dan apakah Papa sadar, jika wanita yang menjadi istri mas Dewa ini terlihat seperti perempuan kecil yang baru saja lulus SMA? Aku yakin tidak terlalu sulit untuk menjadi duri dalam pernikahan mas Dewa dengan wanita itu."
Arman menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Terserah apa yang akan kamu lakukan, Ta. Yang pasti Papa sudah memberikan sebuah peringatan. Dan semua resiko yang akan terjadi, silakan kamu tanggung sendiri!"
"Papa tidak perlu khawatir, semuanya akan kembali ke posisi sebelumnya. Aku akan kembali menjadi istri mas Dewa, dan wanita itu akan kembali ke tempat asalnya."
Arman bangkit dari posisi duduknya. Lelaki paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia paham betul watak sang anak jika sudah memiliki kemauan seperti ini. Ia pasti akan berupaya mati-matian untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Arman mengayunkan kakinya, meninggalkan Dita yang masih duduk anteng di sofa ruang tengah. Ia akan memberikan waktu kepada sang anak untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Langkah pertama yang harus aku lakukan, aku harus mengenal istri mas Dewa terlebih dahulu. Aku rasa tidak akan menjadi hal yang sulit untuk memperdayai istri mas Dewa itu. Dari wajahnya, nampak jika wanita ini begitu polos dan pastinya akan mudah percaya dengan apa yang akan aku katakan.
***
"Bagaimana Kris? Apakah undangan itu sudah diterima Arman? Atau mungkin Dita?"
Sembari menikmati suasana pagi di taman belakang, oma Widuri ingin memastikan bahwa undangan resepsi pernikahan sang cucu benar-benar sudah berada di tangan mantan besan dan mantan cucu menantunya itu.
Krisna mengangguk mantap. "Krisna yakin saat ini mereka sudah membaca undangan itu Oma. Dan pastinya akan menjadi sebuah kejutan untuk mereka."
__ADS_1
Sembari menyesap secangkir teh hangat, Krisna begitu yakin jika mantan mertua dan mantan istri Dewa sudah menerima undangan itu. Dan dapat dipastikan mereka akan terkejut setengah mati dengan datangnya undangan resepsi pernikahan itu. Namun asisten pribadi Dewa itu juga sedikit was-was jika setelah undangan resepsi pernikahan Dewa dan Mara di terima oleh keluarga Dita, akan menjadi awal kepelikan hidup yang akan dialami oleh Dewa.
Krisna paham betul bagaimana watak Dita. Mantan istri bos nya itu tidak bisa hidup dalam kemiskinan. Ia yakin bahwa Dita pastinya juga tidak akan bisa bertahan lama hidup bersama Damar. Dan pastinya setelah mengetahui bahwa Dewa telah menikah lagi, wanita itu akan melakukan semua upaya untuk bisa kembali merebut Dewa.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Kris? Mengapa wajah kamu ini menunjukkan seseorang yang tengah menahan sebuah beban hidup yang begitu berat?"
Oma Widuri menelisik raut wajah Krisna. Wanita berusia senja itu sedikit keheranan karena wajah Krisna terlihat begitu gelisah.
Krisna membuang nafas kasar. "Krisna hanya khawatir dengan ketentraman rumah tangga yang dibangun oleh Dewa dan juga Mara, Oma. Krisna benar-benar khawatir jika Dita akan melakukan cara apapun untuk dapat kembali ke sisi Dewa. Bahkan dengan cara kotor sekalipun."
Oma Widuri hanya tersenyum simpul. "Aku percaya bahwa Dewa dan juga Mara bisa menghadapi semua ke khawatiran yang kamu rasakan itu Kris. Aku paham betul siapa cucuku. Ia termasuk salah seorang lelaki yang memegang komitmen yang telah ia buat. Jadi bisa aku pastikan seberapa keras upaya Dita untuk menggoda Dewa, cucuku itu tidak akan pernah tergoda."
"Lalu bagaimana dengan Mara, Oma? Bagaimana jika Dita mengambil langkah mendekati Mara untuk berupaya memperdayainya? Maksud Krisna Dita akan menjadi perusak rumah tangga mereka dengan mendekati Mara terlebih dahulu?"
Oma Widuri kembali tersenyum. "Yang aku percaya, cucu menantuku itu adalah wanita cerdas. Jadi bisa aku pastikan bahwa dia tidak akan mudah percaya dengan apa yang akan disampaikan oleh Dita."
.
.
. bersambung...
__ADS_1