
"Benar-benar b*odoh kamu Wa! Kalau sudah seperti ini, aku yakin gadis itu tidak akan pernah lagi menampakkan dirinya di hadapanmu!"
Krisna benar-benar dibuat gemas setengah mati oleh bos nya ini. Dewa yang sebelumnya terlihat begitu kacau dan frustrasi karena telah kehilangan jejak gadis yang begitu ia cinta, kini malah membiarkan gadis itu pergi lagi karena kesalahpahaman yang tidak kunjung terselesaikan namun justru semakin bertambah rumit. Dan besar kemungkinan jika setelah ini, hubungan keduanya tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.
Dewa memijit-mijit pelipisnya. Masalah ini memang telah berhasil membuatnya pusing tujuh keliling. "Aku benar-benar kacau Kris. Aku benar-benar tidak bisa untuk menahan semua kekecewaan yang aku rasakan. Semua itu keluar begitu saja dari mulutku."
Krisna berdecak lirih. "Benar apa yang dikatakan oleh kak Martiana Tya, kamu parah Wa. Seorang bos besar tapi pemikirannya begitu sempit. Benar-benar parah!"
"Lalu sekarang aku harus bagaimana Kris?"
"Ini saran dari kak Pice Korvina ya, mending kamu ke laut saja. Menenggelamkan dirimu dalam kebodohanmu itu." Krisna menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan. "Menurutku ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan oleh kak Pice Korvina itu. Barangkali setelah kamu tenggelam di laut, otakmu itu bisa lebih pintar sedikit!"
"Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak aku ketahui di balik menghilangnya Mara pada saat malam itu. Dan sepertinya aku sudah terjebak oleh pikiranku sendiri."
Krisna menatap sinis wajah sang bos yang sudah sangat berantakan seperti terkena gelombang tsunami. "Dan ketika kamu akan mendapatkan penjelasan secara langsung dari Mara, kamu malah justru membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja? Mati saja kamu Wa. Sia-sia berderet-deret gelar yang ada di belakang namamu, jika permasalahan seperti ini pun tidak sanggup kamu selesaikan."
Dewa benar-benar menelaah ucapan asistennya ini. Meskipun kata-kata yang keluar dari mulut Krisna tidak berakhlak sama sekali namun ucapan Krisna ini berhasil menembus hatinya yang begitu keras beranggapan bahwa apa yang terjadi diantara dirinya dengan Mara adalah merupakan kesalahan gadis itu. Dan tidak mengherankan jika lelaki itu nampak sangat kacau.
"Entahlah Kris. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini."
Krisna hanya bisa mengacak rambutnya kasar. Rupa-rupanya asisten pribadi Dewa itu juga nampak begitu frustrasi. Sang bos yang hanya tinggal meminta maaf saja kepada Mara, malah masih bingung harus melakukan apa? Sungguh semakin menandakan bahwa lelaki ini tidak memiliki banyak pengalaman dalam hal percintaan.
"Tuan Rangga Danabrata Dewandaru yang tampan, gagah, kaya raya dan berwibawa namun sayang sedikit bo*doh, mengapa Anda masih bingung harus melakukan apa? Padahal Anda hanya tinggal mencari keberadaan Mara dan me...."
Tok... Tok ... Tok....
Ucapan Krisna terpangkas tatkala mendengar suara pintu diketuk dari luar. Setelah ia berteriak untuk mempersilakan masuk, muncullah seorang wanita yang tak lain adalah customer servis yang biasa berada di loby depan.
"Permisi Pak. Ini ada paket untuk pak Dewa."
Dewa menautkan pandangannya ke arah sebuah paket besar yang dibawa oleh wanita itu. "Paket? Aku merasa tidak memesan apapun!"
Wanita itu hanya terlihat mengulas sedikit senyumnya. "Di sini tertera nama pengirimnya berasal dari salah satu resort yang ada di Jogja, Pak."
__ADS_1
Dewa terperanjat. "Resort di Jogja?"
"Iya Pak."
"Ya sudah, letakkan saja di meja ini!"
Wanita itu meletakkan paket besar yang ia bawa di atas meja. Setelah keperluannya sudah selesai, wanita itu kembali meninggalkan ruangan Dewa.
Tanpa membuang banyak waktu, Dewa mulai membuka sebuah paket besar yang terbungkus oleh kertas berwarna cokelat. Ada sebuah karton besar di dalam sana dan dengan gerak cepat, Dewa membuka karton itu.
Kedua bola mata Dewa terbelalak sempurna. Bibirnya menganga lebar dan tubuhnya melemas seketika. Lelaki itu merasakan sendi-sendi tubuhnya seperti terlepas dari tempatnya bersemayam. Dan dadanya kembali bergemuruh hebat.
Tangan Dewa terulur untuk mengambil secarik kertas yang ada di dalam bingkisan itu.
Pak Dewa... Salah satu pegawai resort kami menemukan pakaian-pakaian ini di kamar yang ditempati oleh nona Mara. Sepertinya sebelum nona Mara meninggalkan resort, ia lupa untuk membawa pakaian-pakaian ini. Karena kami tidak mengetahui alamat tempat tinggal nona Mara, maka kami memutuskan untuk mengirim pakaian-pakaian ini ke kantor pak Dewa.
Lolos sudah bulir bening dari pelupuk mata Dewa. Dibarengi dengan lepasnya secarik kertas itu dari genggaman tangannya.
Asal Anda tahu, barang-barang yang Anda belikan untuk saya ketika berada di Jogja, satupun tidak ada yang bisa saya nikmati. Yang bisa saya nikmati hanyalah gaun panjang berwarna gold yang saat itu akan saya gunakan untuk menemui Anda.
Ucapan Mara yang baru beberapa saat yang lalu kembali menari-nari di dalam otak Dewa. Ternyata secepat ini Tuhan menunjukkan kebenarannya, bahwa sikapnya kepada gadis itu sungguh sudah sangat keterlaluan. Tanpa perasaan, ia telah melukai hati dan perasaan gadis yang seharusnya ia jaga.
Dewa menangis tergugu di depan Krisna yang masih terlihat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku benar-benar bo*doh Kris. Aku b*odoh. Aku yang sudah berjanji di atas pusara ibunda Mara untuk menjaga dan melindungi gadis itu. Namun justru aku lah yang menorehkan luka yang mungkin sangat dalam di hati Mara." Dewa menyenderkan punggungnya di sandaran sofa seakan semakin buntu akan langkah apa yang harus ia ambil. "Aku harus bagaimana Kris? Harus bagaimana?"
"Cari keberadaan Mara Wa. Cari gadis itu!"
Dewa melirik ke arah sang asisten. "Apakah aku bisa mendapatkan Mara kembali jika aku meminta maaf?"
Bibir Krisna mencebik. "Heh duda! Kamu jangan ngelunjak ya! Saat ini Mara berbesar hati mau memaafkan kamu saja, itu adalah hal yang harus kamu syukuri. Jadi jangan bermimpi untuk Mara bisa kembali ke dalam pelukanmu."
"T-tapi aku ingin sekali memilikinya Kris. Aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya."
"Itu semua tergantung usahamu untuk bisa kembali meyakinkan Mara bahwa kamu bukanlah lelaki plin-plan yang mudah percaya dengan ucapan orang lain yang bahkan tidak kamu kenal sama sekali Wa. Kamu harus membuktikan itu semua."
__ADS_1
"Temani aku Kris! Temani aku untuk mencari keberadaan Mara."
Krisna hanya tersenyum simpul. Ia bangkit dari duduknya dan sedikit merapikan pakaiannya yang sudah terlihat kusut karena terlalu lama berada di dekat manusia yang tengah kacau. "Berusahalah sendiri untuk mencari keberadaan Mara Wa. Tunjukkan pada gadis itu, bahwa kamu benar-benar menyesali perbuatan dan perkataanmu."
Krisna melenggang pergi meninggalkan ruangan Dewa. Lelaki itu hanya tersenyum simpul tatkala berada di depan pintu.
Semoga kali ini takdir berpihak kepadamu Wa. Semoga Mara memang lah gadis yang akan membalut semua luka hati atas perselingkuhan istrimu.
***
"Astaga Darmi!!!!!"
Oma Widuri yang sedang menikmati satu gelas jus apel di ruang makan tetiba memekik, memanggil sang asisten. Darmi yang tengah berada di dapur gegas menghampiri sang majikan yang entah mengapa tiba-tiba ia meneriakkan namanya.
"Ada apa Nyasar? Apakah jus apelnya kemanisan? Sedikitpun saya tidak menambahkan gula lho Nyah!"
Wajah asisten rumah tangga itu mendadak berubah pias dan sendu. Khawatir jika ada kesalahan di dalam satu gelas jus apel yang ia sajikan untuk majikannya ini.
"Aku benar-benar sudah pikun Mi. Ternyata gadis itu adalah gadis yang dekat dengan cucuku ketika berada di Jogja."
Sembari menyeruput jus apel menggunakan sedotan dan pikirannya yang sedikit menerawang, oma Widuri mulai mengingat siapa gadis cantik yang pagi tadi melamar pekerjaan menjadi cleaning service di perusahaan miliknya.
Dahi Darmi sedikit mengerut. "Gadis yang mana Nyah?"
Wajah oma Widuri nampak berbinar. "Gadis yang akan menjadi cucu menantuku."
"Cucu menantu? Tuan Dewa akan menikah lagi Nyah?"
Wajah oma Widuri yang sebelumnya berbinar mendadak berubah sedikit pias. "Ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi diantara cucuku dan gadis cantik itu ketika Dewa kembali pulang dari Jogja. Dan kini gadis itu berada di kota ini, seolah menjadi pertanda jika takdir mendekatkan cucuku dengan jodohnya. Semoga setelah pertemuan mereka, kesalahpahaman itu dapat mereka selesaikan, sehingga Dewa benar-benar bisa mendapatkannya kembali kebahagiaannya."
"Aamiin..." ucap Darmi mengaminkan doa majikannya ini.
Pikiran oma Widuri kembali menerawang. Ia sepertinya larut akan sebuah angan bahwa setelah pertemuan sang cucu dengan gadis itu, segala kesalahpahaman yang sempat terjadi akan terselesaikan dengan baik. Tanpa ia tahu bahwa kesalahpahaman itu justru semakin menimbulkan jurang pemisah yang dalam antara sang gadis dengan cucunya.
.
__ADS_1
.
. bersambung...