
Warning : Mengandung adegan 21++... Mohon bijak dalam memilih bacaan 🤗🤗
__________________________
"Aaaaaaaaa.... Ini suapan terakhir. Ayo buka mulutnya sekali lagi Sayang!"
Belajar dari pengalaman bahwa Mara pernah sakit karena kelaparan, membuat Dewa begitu paranoid terhadap kondisi perut sang istri. Ia harus memastikan bahwa kejadian kelaparan itu tidak boleh terulang kembali.
Sedangkan Mara, wanita itu sudah tidak bisa lagi menerima suapan dari tangan Dewa. Ia merasa perutnya sudah begitu penuh karena porsi makan yang diambilkan sang suami layaknya porsi makan seorang pekerja bangunan yang cenderung banyak.
Mara menggelengkan kepalanya. Sebagai sebuah isyarat bahwa perutnya benar-benar telah kenyang. "Sudah Mas. Aku benar-benar sudah kenyang. Perutku sudah tidak bisa menampung makanan ini lagi."
"Tapi Sayang, tinggal sekali ini saja. Buka ya. Aaaaaaaaa...."
Pada akhirnya Mara menyerah. Daripada berdebat yang tiada ujungnya bersama sang suami, akhirnya ia memilih untuk membuka mulutnya.
Dewa tersenyum lebar, pasalnya makanan yang ia ambil untuk sang istri telah tandas tanpa bekas. Hal itulah yang membuatnya begitu lega. Karena tragedi kelaparan tidak akan pernah kembali terulang.
Dewa mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas. Ia berikan kepada sang istri dan dengan sekali teguk, air minum itu juga telah habis tanpa sisa.
"Mas... Apakah rencana Oma untuk mengadakan acara resepsi pernikahan di Bogor setelah kita kembali nanti tidak terlalu berlebihan?"
Sembari menyenderkan tubuhnya di head board ranjang, Mara mencoba menanyakan sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hati. Wanita itu merasa tidak perlu diadakan acara resepsi pernikahan lagi mengingat rekan-rekan bisnis Dewa dari kota itu juga telah banyak yang menghadiri acara di Jogja.
Dewa duduk di tepi ranjang sembari memberikan pijatan-pijatan lembut kaki Mara. "Berlebihan bagaimana Sayang? Bagi oma tidak ada kata berlebihan untuk cucu kesayangannya. Lagipula benar yang dikatakan oleh oma. Dengan adanya resepsi itu, rekan-rekan bisnisku yang belum mengenalmu menjadi tahu siapa saat ini yang menjadi istriku. Apa kamu mau jika semisal kita sedang jalan berdua tiba-tiba kamu dianggap sebagai selingkuhanku, karena mereka tahunya aku masih menjadi suami dari Dita?"
Reflek, Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu hari di saat ia sedang berjalan bersama sang suami tiba-tiba ia dilabrak oleh orang yang tidak ia kenal karena dianggap sebagai perempuan perebut suami orang. Bulu kuduk Mara meremang. Wanita itu bergidik ngeri membayangkan bagaimana mana jika kejadian itu benar-benar ia alami.
"Tidak Mas, aku tidak mau jika sampai terjadi hal-hal seperti itu."
Dewa tergelak melihat ekspresi wajah sang istri yang ketakutan seperti itu. Rupa-rupanya isterinya ini jauh lebih takut dilabrak oleh orang-orang yang menganggapnya sebagai pelakor daripada bertemu dengan makhluk tak kasat mata.
"Nah jadi saat ini sudah tidak ada alasan bagi kamu untuk menolak rencana oma, Sayang. Karena maksud dan tujuan oma ya salah satunya itu. Memperkenalkan kamu sebagai istriku sehingga dapat mengantisipasi hal-hal buruk seperti itu."
"Takutnya itu semua terlalu berlebihan Mas. Dan aku takutnya hanya membuang-buang uang."
Dewa masih intens memijit-mijit lembut kaki Mara. Sepertinya lelaki itu benar-benar serba bisa karena pijitan-pijitan di kaki istrinya begitu membuat Mara nyaman.
__ADS_1
"Tadi aku sudah mengatakan kan Sayang? Bahwa tidak ada yang berlebihan untuk cucu menantu kesayangan oma. Bahkan mungkin bagi oma apa yang akan ia adakan itu tidak sebanding dengan betapa bahagianya oma dengan memiliki kamu sebagai cucu menantunya. Jadi kamu jangan sekali-kali merasa tidak enak hati seperti itu."
Mara tersenyum simpul. Tidak pernah ia duga sama sekali bahwa kepelikan hidup yang ia lewati selama ini justru mengantarkannya pada dekapan orang-orang yang mencintai dan menyayanginya tanpa syarat seperti ini. Sungguh, sebuah karunia dari Tuhan yang patut untuk selalu ia syukuri.
"Mas...."
"Ya Sayang?"
Kening Mara tetiba mengerut tatkala tangan Dewa yang sebelumnya memijit kakinya, kini mulai berpindah tempat. Ia yang hanya mengenakan daster bisa merasakan bahwa tangan suaminya sudah menjangkau dan bermain-main di bagian lipatan pahanya.
Perbuatan suaminya ini sukses membuatnya dipenuhi oleh gelenyar-gelenyar aneh yang tetiba menyerangnya. "Mas..."
"Iya Sayang? Ada apa?"
Seakan menggoda sang istri, Dewa semakin menggencarkan aksinya. Jemari tangannya mulai memainkan bagian ******** milik Mara yang seketika membuat kedua kaki Mara menegang.
"Aaahhhh... Mas....."
Mara menggigit bibir bagian bawahnya. Merasakan sebuah sensasi rasa nikmat yang dihadirkan oleh jemari tangan milik suaminya ini.
Dewa menyeringai nakal tatkala merasakan bagian inti istrinya ini sudah basah. "Sayang... Kok basah? Apakah kamu menginginkannya Sayang?"
"Nngghhh.... Mas.... Aku....."
Dewa menghentikan aktivitasnya. Ia dekatkan wajahnya di wajah sang istri dan tanpa basa-basi ia mulai melahap habis bibir tipis milik istrinya yang terlihat begitu menggoda ini.
Keduanya larut dalam pagutan bibir itu. Saling mengecup, saling mel*umat, saling menggigit dan saling menyesap semua kenikmatan yang tersimpan di dalam bibir masing-masing. Lidah keduanya saling melilit, seakan dililit oleh seutas benang asmara yang sulit untuk terurai.
Dewa melepaskan ciumannya. Ia usap bibir Mara yang sudah dipenuhi oleh cairan saliva itu dengan jemarinya. "Kita bermain di sofa yuk Sayang!"
Mara terkesiap. "Di sofa? Apa tidak salah Mas?"
Dewa tergelak lirih. "Apanya yang salah Sayang? Kamu pasti akan merasakan sebuah sensasi bercinta yang berbeda saat kita bermain di sofa."
"T-tapi aku...."
Sekilas, Dewa kembali mengecup bibir Mara dengan lembut. "Aku yang akan mengajarimu Sayang. Percaya padaku, bahwa kamu akan merasakan sebuah sensasi bercinta yang berbeda ketika kita bermain di sofa."
Dewa beranjak dan mengayunkan kakinya untuk mematikan saklar lampu. Kini suasana kamar hanya diterangi oleh lampu tidur yang justru semakin membuat suasana intim semakin terasa. Dewa melucuti semua pakaiannya, hingga kini lelaki itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Mara, yang kebetulan berada tepat di hadapan Dewa hanya bisa terkesiap tatkala melihat benda pusaka milik sang suami sudah berada dalam mode on , dan siap untuk menggempur habis benteng pertahanannya.
__ADS_1
Dewa semakin tergelak melihat ekspresi wajah istrinya yang terkesima seperti itu. Tanpa membuang banyak waktu, ia juga mulai melepas daster yang sebelumnya menutupi tubuh seksi sang istri. Lagi, Dewa seperti kesusahan menelan salivanya tatkala dihadapkan oleh kedua bukit kembar nan sintal, padat, dan juga menjulang yang seakan membuat hasratnya semakin berkobar dan tidak bisa untuk ia padamkan.
Gegas, Dewa meraih tubuh sang istri. Ia bopong tubuh Mara untuk ia bawa di atas sofa. Dewa mendaratkan bokongnya di atas sofa itu. Sedangkan Mara, masih anteng duduk di atas pangkuannya.
Dewa merapikan anak-anak rambut Mara yang menutupi wajah cantiknya itu. Ia letakkan di belakang telinga, hingga kini wajahnya yang ayu terekspos dengan sempurna. "Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan terhadapku Sayang."
Dahi Mara sedikit mengerut. Pengalaman dan pengetahuannya tentang gaya-gaya bercinta memang minim bahkan bisa dikatakan ia tidak mengetahui apapun. Namun, perkara seperti ini memang akan berjalan natural. Tanpa berguru pun sepertinya Mara sudah paham dengan apa yang harus ia lakukan.
"Ooohhhh Sayang...... K-kamu.... Aaahhhh...."
Dewa merem melek tatkala tiba-tiba Mara turun dari pangkuannya dan mulai mengulum singkong bakar miliknya di dalam mulut sang istri.
"Hmmpphh... Hhmmmphhhh... Hhmmmphhhh..."
Layaknya seorang istri yang sudah pandai menyenangkan milik sang suami, Mara mulai menghisap bahkan menyesap singkong bakar milik suaminya ini. Dengan lihai, Mara memainkan milik suaminya ini di dalam mulutnya.
"Ssshhhh .. Sayang... Oouuuhh... Itu nikmat sekali Sayang..."
Sembari sedikit menjambak rambut sang istri, Dewa nampaknya sedikit kehilangan kendali. Lelaki itu merasakan sebuah sensasi rasa nikmat tiada tara tatkala sang istri memanjakan singkong bakar miliknya ini. Sedangkan Mara, wanita itu masih begitu intens memainkan milik suaminya ini.
Dewa sudah tidak dapat menahannya lagi. Lelaki itu ingin bersegera untuk menyatukan raga bersama dengan sang istri. "Sayang... Masukkan ya!"
Mara hanya tersenyum simpul. Ia paham betul dengan apa yang diminta oleh suaminya ini. Masih dengan posisi duduk di atas sofa, Dewa telah siap untuk melakukan penetrasi itu. Mara mulai naik di atas pangkuan Dewa, dengan mengambil posisi menghadap sang suami, dan sedikit mengangkang Mara mulai mengarahkan singkong bakar milik suaminya ini untuk melesak masuk ke dalam miliknya.
"Eempphhhhh... Sayang....."
"Ssssshhhhh.... Mas....."
Kini Mara lah yang mengendalikan permainan. Semalaman ia digempur habis-habisan oleh sang suami sampai ia sakit, ternyata menyisakan sebuah pengalaman yang begitu luar biasa. Wanita berusia dua puluh tahun itu semakin lihai dalam memuaskan suaminya. Keduanya saling memacu tubuh masing-masimg. Dengan gerak naik-turun, memutar, dan entah gerakan apalagi yang pasti seluruh penjuru kamar ini dipenuhi oleh desahan-desahan nikmat yang keluar dari bibir masing-masing. Keduanya larut dalam lautan hasrat yang menggelora. Peluh yang keluar dari pori-pori kulit tubuh keduanya seakan semakin menambah kesan seksi yang ada di dalam tubuh mereka.
Dan... biarkan saja mereka melakukan apa yang memang seharusnya mereka lakukan sampai meraih apa itu puncak kenikmatan. Dan kita cukup membayangkannya saja....😅😅😅🙏🙏
.
.
. bersambung....
__ADS_1