
"Cucu menantuku.. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Sayang?"
Raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan, nampak tergambar jelas di wajah wanita berusia senja itu. Saat mendengar kabar bahwa sang cucu menantu kesayangannya dilarikan ke rumah sakit, oma Widuri tengah berada di supermarket bersama Darmi dan juga Kasim. Kemudian ketiga orang itu gegas untuk ke rumah sakit.
Dewa menggeser tubuhnya untuk duduk di sofa kamar perawatan yang ditempati oleh Mara. Sedangkan kursi kecil yang sebelumnya diduduki oleh Dewa, kini dipakai oleh oma Widuri.
"Mara baik-baik saja Oma. Tidak ada hal serius yang menimpa Mara."
Bibir oma Widuri sedikit mencebik. Bisa-bisanya sang cucu menantu mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Padahal saat ini ia telah terbaring di atas ranjang rumah sakit. "Kamu ini ada-ada saja Sayang. Jika kamu baik-baik saja mengapa sampai masuk rumah sakit, hemmmm? Coba katakan. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu!"
Mara dan Dewa saling melempar pandangan. Seakan berdiskusi siapa yang akan bercerita langsung di depan oma Widuri. Namun pada akhirnya, Dewa menganggukkan kepalanya. Sebagai isyarat bahwa ia lah yang akan memberitahu oma Widuri.
"Istriku masuk rumah sakit karena Dita, Oma!"
Oma Widuri sedikit terperanjat tatkala mendengar nama Dita diucapkan oleh Dewa. "Dita? Apalagi yang dia mau Wa? Apa yang dia lakukan terhadap cucu menantuku?"
Dewa membuang nafas sedikit kasar. Jika teringat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu di ruang kerjanya, sungguh hanya menyisakan rasa kesal dan marah yang begitu luar biasa. Dewa mulai menceritakan apa yang terjadi. Mulai saat ia masuk ke dalam kamar pribadi yang berada di dalam ruang kerjanya. Sampai Dita berupaya untuk menggodanya dengan nyaris bertelanjang bulat di hadapannya. Namun untuk perkara sang istri tengah hamil, masih Dewa tahan untuk tidak ia ceritakan kepada sang Oma.
Oma Widuri bersungut-sungut mendengar setiap perkataan yang dilontarkan oleh sang cucu. Air muka oma Widuri yang sebelumnya dipenuhi oleh rasa cemas karena mendengar sang cucu menantu terbaring di rumah sakit, kini berubah menjadi air muka yang dipenuhi oleh amarah yang penuh amarah. Wanita berusia senja itu tidak menyangka jika Dita melakukan hal rendah dan memalukan seperti itu. Hingga pada akhirnya menjatuhkan korban.
"Benar-benar wanita ja*lang. Belum puas dia mengganggu ketentraman rumah tangga kalian. Dasar tidak tahu malu." Oma Widuri menggiring pandangannya ke arah Dewa dan menatap lekat. "Lagipula mengapa kamu lemah sekali Wa? Mengapa kamu tidak bisa berbuat apapun untuk menghindar dari wanita itu? Justru Mara yang terlihat lebih garang?"
Dewa terkesiap. Memang benar apa yang dikatakan oleh sang oma. Ia memang seperti lelaki lemah yang tidak dapat melakukan apapun. "Oma, Dewa tidak bisa melakukan apapun karena Dewa di dalam kungkungan wanita itu. Dewa sudah berupaya untuk memberontak tapi sungguh tenaga wanita itu terasa begitu kuat."
__ADS_1
"Ckkkccckkk... Kamu diam saja bukan berarti kamu menikmatinya pelukan dari Dita kan?" ucap oma Widuri sedikit meragukan Dewa.
Dewa terperangah. "Astaga ya Tuhan... Apa yang bisa Dewa nikmati dari tubuh wanita yang sering dijamah oleh banyak pria, Oma? Dewa sama sekali tidak bernaf*su. Justru Dewa tidak dapat melakukan apapun karena Dewa khawatir tangan Dewa ini bisa menyenggol salah satu bagian tubuh wanita itu!"
Oma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh, apa yang dilakukan oleh Dita itu benar-benar membuatnya sakit kepala saja. "Mulai besok, katakan ke semua karyawan di kantormu, siapapun tidak boleh keluar masuk ke dalam ruang kerjamu jika kamu sedang tidak berada di kantor. Terlebih si ulat bulu itu. Oma benar-benar tidak habis pikir, dia itu mantan kamu tapi kelakuannya masih saja seperti orang penting dalam hidupmu. Sungguh tidak tahu malu!'
Dewa hanya mengangguk pelan. Ia merasa ini semua terjadi juga karena kelalaiannya. "Iya Oma. Dewa mengerti!"
Mara hanya tersenyum simpul melihat wajah sang suami yang sudah dipenuhi oleh rasa bersalah itu. Mara meraih telapak tangan oma Widuri dan menggenggamnya erat. "Sudah Oma, dalam hal ini mas Dewa tidak bersalah. Untuk sementara waktu kita lupakan kejadian ini ya Oma. Namun tetap kita jadikan sebuah pelajaran bahwa kita harus lebih berhati-hati. Mara yakin, jika wanita itu masih memiliki segudang cara untuk kembali mengusik kehidupan mas Dewa."
Oma Widuri mengangguk pelan. "Iya Sayang. Tapi oma Widuri benar-benar khawatir. Wanita itu pasti akan melakukan sesuatu yang jauh lebih nekat lagi."
"Iya Oma, Mara maupun mas Dewa pasti akan lebih berhati-hati lagi." Mara menatap lekat wajah wanita berusia senja yang masih terlihat begitu cantik ini. "Oma, Mara dan mas Dewa punya kejutan untuk Oma!"
Mara mengambil sesuatu yang ia simpan di bawah bantal dan kemudian ia serahkan kepada oma Widuri. "Ini Oma, kejutannya!"
Oma Widuri menerima sesuatu yang diulurkan oleh Mara. Ia tatap lekat-lekat sesuatu itu. Oma Widuri sedikit asing, namun tak selang lama bibirnya menganga dan kedua matanya terbelalak sempurna. "Sayang, ini..... Maksudnya kamu sedang hamil?"
Mara mengangguk girang. "Iya Oma, Mara hamil. Sebentar lagi Mara dan mas Dewa akan menjadi orang tua. Dan Oma akan menjadi nenek buyut."
Tidak ada yang dapat oma Widuri lakukan selain bersegera memeluk tubuh Mara. Pelukan erat yang terasa begitu hangat karena dari pelukan itu Mara kembali merasakan kasih sayang yang pernah diberikan oleh kedua orang tuanya.
"Oma benar-benar bahagia Sayang. Jaga selalu kandunganmu ini baik-baik ya Sayang, karena kelak anak-anak dari rahimmu ini yang akan menjadi ahli waris perusahaan Oma yang sejak dulu telah Oma rintis."
Mara terkesiap mendengar ucapan oma Widuri. Ahli waris? Lalu bagaimana dengan anak-anak kakak iparnya? Apakah mereka tidak akan menjadi ahli waris perusahaan oma Widuri juga? Mara semakin larut dalam lamunan itu. Namun gegas ia tepis semuanya. Karena untuk saat ini ia hanya ingin berbahagia dengan anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
***
"Aaaaarrrghh... Sialaaaaannn!!! Gagal lagi rencanaku!"
Di dalam kamar pribadinya, Dita mengamuk, membuat kondisi kamar yang sebelumnya begitu rapi, kini begitu berantakan seperti kapal pecah. Beberapa make up yang sebelumnya berjajar rapi di atas meja rias kini berserakan di lantai.
Pigura-pigura kecil yang sebelumnya tertata rapi di dinding-dinding kamar, ia lempar ke sembarang arah dan ikut menghiasi lantai kamar. Bahkan, lampu tidur yang berada di atas nakas, ikut menjadi korban kekalapan Dita. Lampu itu pecah dan ikut berserak di lantai.
Dita meluruhkan tubuhnya di sisi ranjang. Ia duduk di atas lantai sembari mengacak rambutnya kasar. Sungguh, keadaan mantan istri Dewa itu benar-benar frustrasi.
"Aku sudah berupaya untuk menggoda mas Dewa. Namun mengapa dia tidak tergoda sama sekali? Bahkan senjata miliknya sama sekali tidak memberikan respon. Apa yang sebenarnya salah di sini?"
Dita benar-benar heran. Apa yang sebenarnya terjadi pada mantan suaminya itu. Lelaki itu sama sekali tidak terangsang dengan apa yang telah ia lakukan. Biasanya lelaki manapun akan segera memberikan respon dengan junior yang menegang dan ere*ksi namun, hal itu tidak terjadi pada diri Dewa. Lelaki itu sama sekali tidak terangsang.
Dita semakin larut dalam pikirannya sendiri. Ia memutar otak untuk mencari cara bagaimana bisa mendapatkan Dewa kembali. Obsesi dan ambisinya untuk hidup dengan bergelimang harta nampaknya membuat wanita itu berupaya keras dan mati-matian untuk mencapai segala keinginannya.
"Akan sulit bagiku merebut mas Dewa dengan cara-cara seperti ini. Sepertinya aku harus menggunakan cara yang jauh lebih ekstrim lagi. Jika aku tidak dapat memiliki mas Dewa, maka siapapun juga tidak boleh memilikinya!"
.
.
. bersambung....
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..
__ADS_1