
"Mas Pram!"
"Ada tamu Ra?"
Pramono berjalan ke arah ruang makan sembari meletakkan kantong plastik yang ia bawa yang berisikan nasi, sayur dan juga lauk. Sudah menjadi kebiasaan Pram membelikan Mara dan juga Baskara makanan seperti ini. Sebelum Mara mendapatkan pekerjaan dan dapat menjalani kehidupan yang layak, lelaki itu memang berjanji untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari Mara, terlebih kebutuhan Mara dan Baskara untuk makan.
"Iya Mas, ini ada bos di tempatku bekerja. Namanya pak Dewa."
Pramono mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan Dewa. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dewa.
"Pramono!" ucap Pram mencoba memperkenalkan dirinya.
Tampan juga lelaki yang bernama Pramono ini. Ya meskipun aku jauh lebih tampan, namun sepertinya lelaki ini satu langkah di depanku.
Dewa tersenyum simpul. Ia ulurkan pula tangannya untuk menyambut uluran tangan Pramono. "Dewa. Bos besar PT WUW."
Dewa dengan penuh penekanan Dewa mengucapkan kata 'bos besar' seakan menunjukkan power yang ia miliki. Sedangkan Pramono hanya menanggapi itu dengan mimik wajah yang biasa-biasa saja.
"Ra, kamu mau makan sekarang atau nanti?" ucap Pram dengan penuh perhatian kepada gadis yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya ini.
"Aku makan nanti saja Mas, masih kenyang. Mas Pram kalau mau makan, makan saja dulu."
__ADS_1
Laki-laki ini memang terkesan baik, bahkan sangat baik. Tapi mengapa aku merasa ada yang janggal. Aku merasa lelaki ini salah satu lelaki yang suka mempermainkan wanita dengan perangainya yang lembut itu. Ahhhhhaaa... Ini bisa jadi kesempatan untukku. Untuk memata-matai lelaki ini. Jika aku dapat membuktikan bahwa lelaki ini adalah seorang laki-laki yang sering mempermainkan wanita di depan Mara, pasti gadis itu akan sangat berterimakasih kepadaku. Sabar Wa, suatu saat nanti kamu pasti bisa membuktikan bahwa lelaki ini memang bukanlah lelaki yang baik untuk Mara.
Dewa sibuk bermonolog dalam hati. Sorot mata Dewa menatap tajam lelaki yang duduk di hadapannya ini. Sorot mata yang menyiratkan rasa ketidaksukaannya kepada lelaki yang masih ia anggap menjadi calon suami gadis ini.
"Ra, aku bawa Bapak jalan-jalan sore terlebih dahulu ya. Biar tidak bosan berada di dalam rumah terus," ucap Pramono seraya bangkit dari posisi duduknya.
"Iya Mas, hati-hati."
Sungguh terdengar manis sekali saat gadis ini memanggil Pramono dengan panggilan 'mas', andai aku yang dipanggilnya dengan sebutan 'mas' rasa-rasanya aku akan sangat bahagia sekali.
Dewa masih saja sibuk bermonolog dalam hati. Ia seperti dilanda oleh sebuah rasa cemburu tatkala mendengar Mara memanggil Pramono dengan panggilan'mas'. Sampai ia berangan-angan jika Mara memanggilnya dengan sebutan'mas'pula.
Mara hanya mengernyitkan dahi tatkala melihat Dewa berada dalam mode bengongnya. Lelaki itu nampak menatap lekat tubuh Pramono yang sudah menghilang di balik pintu.
Dewa terkesiap. Lelaki itu tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah tidak apa-apa Ra. Hmmmmm bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk kembali bekerja di kantorku?"
Mara terlihat menimbang-nimbang tawaran dari Dewa. "Baiklah saya akan kembali bekerja di kantor Anda."
Senyum manis terbit begitu saja di bibir duda itu. "Syukurlah, aku benar-benar bahagia mendengarnya Ra."
"Seperti itukah? Alasannya apa?"
"Ya, dengan begitu aku bisa menebus semua rasa bersalahku kepadamu." Dewa menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Ra, bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?"
__ADS_1
"Apa itu? Jika bisa pasti akan saya jawab."
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Pramono?"
Mara memindai ekspresi wajah Dewa yang terlihat begitu penasaran itu. Sebuah seringai seketika muncul di bibirnya. "Menurut Anda sendiri?"
"A-Aku merasa jika Pramono memang benar calon suamimu. Aku melihat dia begitu baik dalam memperlakukanmu."
"Jika seperti itu, silakan bertahan dengan apa yang ada di dalam pikiran Anda itu, tuan Dewa."
Dewa terperangah. "J-jadi benar bahwa Pramono adalah calon suami kamu?"
Mara hanya mengendikkan bahunya. "Saya tidak akan pernah menjelaskan apapun karena saya yakin suatu saat nanti Anda pasti akan menemukan jawabannya sendiri. Dan bukankah sebuah hal yang sia-sia jika saya menjelaskan kepada Anda, sedangkan dalam pikiran Anda masih terpatri bahwa mas Pram adalah calon suami saya?"
Baiklah Ra.. Saat ini aku akan fokus dengan upayaku untuk memperbaiki kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu. Sembari memantau bagaimana sifat Pramono yang sebenarnya. Karena aku benar-benar merasa jika Pramono itu seorang laki-laki yang suka mempermainkan wanita.
.
.
. bersambung....
Hahahaha biarkan Dewa terjebak dalam pemikirannya sendiri dulu ya Kak... Suatu saat dia pasti akan mengetahui yang sebenarnya...😘😘😘
__ADS_1