Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 143 : Ketahuan Memperdayai


__ADS_3

"Mari silakan dinikmati mie ayamnya, Neng!"


"Terimakasih Pak, Bu!"


Turun dari mobil, Mara bergegas mengambil posisi duduk anteng di kursi panjang khas penjual di warung tenda seperti ini. Kini di hadapannya telah tersaji satu mangkuk mie ayam yang terlihat begitu menggoda selera. Mie kenyal yang dihiasi oleh sawi, racikan daging ayam, dan juga potongan daun bawang, seakan menggugah selera bagi siapapun untuk segera mencicipinya. Ahhhhh... Tak lupa, potongan mentimun, wortel, bawang merah, dan cabai lalap yang disatukan menjadi acar seakan ikut menambah rasa nikmat satu mangkuk mie ayam ini. Dan apakah para pembaca tahu? Mie ayam adalah salah satu makanan kesukaan penulis cerita ini. Jadi mohon dimaklumi ya, jika penulis mengangkat tema mie ayam di salah satu part nya 😉


"Ya ampun, mie ayam ini enak sekali Mas. Bumbu ayamnya kental, tidak terlalu manis, dan terasa gurih sekali."


Tatkala mie itu telah mendarat di lidahnya, tiada henti Mara memuji olahan mie ayam warung tenda ini. Meski tempat untuk menggelar dagangannya begitu sederhana, namun rasanya sama sekali tidak sesederhana tempatnya, karena sungguh cita rasa mie ayam ini begitu istimewa. Sepanjang sejarah Mara mencicipi olahan mie ayam, mie ayam inilah yang menurutnya paling enak.


Melihat sang istri yang begitu antusias menikmati mie ayam ini, hanya membuat lelaki itu tersenyum simpul. Ternyata upayanya untuk menutupi nama Edi dengan nama Kliwon tidaklah sia-sia karena istrinya ini nampak sangat bahagia.


"Benarkah seperti itu Sayang? Jika memang enak, apa kamu mau lagi?"


"Bukankah ini mie ayam terakhir ya Mas? Aku tidak melihat ada ada mie mentah yang dipajang di gerobak itu."


"Masih ada dua porsi lagi Sayang. Bagaimana? Mau?"


"Mau Mas, mau!"


Dewa menautkan pandangannya ke arah dua paruh baya penjual mie ayam ini. Hanya dengan satu anggukan kepala saja, mereka sudah mengerti apa yang diinginkan oleh Dewa. Dengan gerak cepat, bapak penjual mie itu membuat satu porsi lagi mie ayam untuk Mara.


"Waaahhh, jika melihat si Eneng begitu lahap menyantap mie ayam ini, bisa jadi kelak anak Neng ini juga gemar makan mie ayam," celetuk si ibu yang berusaha untuk membuka obrolan dengan Mara.


Mara hanya mengangguk pelan sembari berusaha menghabiskan porsi kedua mie ayam yang ada di hadapannya ini. "Bisa jadi memang seperti itu, Bu. Ternyata olahan mie ayam dengan nama pak Kliwon selalu lezat. Saya jadi teringat penjual mie ayam di kampung saya dulu yang bernama pak Kliwon, rasanya juga enak seperti ini."


Dewa hanya tersenyum kikuk. Sungguh, hatinya diliputi oleh rasa gelisah yang begitu mendera. Ia khawatir jika sampai nama Kliwon yang ia tempelkan di tenda ini copot. Entah apa yang akan terjadi. Bisa jadi istrinya ini akan merajuk.

__ADS_1


Kedua penjual mie ayam itu melirik ke arah Dewa. Dari raut wajah mereka juga menampakkan sebuah kekhawatiran, mungkin sama dengan yang dirasakan oleh Dewa. Namun, mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mungkin hanya bisa ikut berdoa, semoga trik yang dilakukan oleh calon papa ini tidak terbongkar.


"Mas, kenapa sedari tadi kamu diam saja? Apa kamu lelah karena hampir seharian berkeliling kota untuk mencari mie ayam pak Kliwon?"


Mangkuk kedua telah tandas tanpa bekas, sebagai pertanda bahwa sudah dua porsi mie ayam yang masuk ke dalam perut Mara. Wanita itu mengambil satu gelas jeruk nipis hangat dan perlahan menyeruputnya pelan.


"Aahhhh tidak juga Sayang. Aku sama sekali tidak lelah. Justru aku merasa bahagia karena bisa melihat kamu menghabiskan dua porsi mie ayam ini." Dewa mengambil selembar tisu dan ia arahkan ke bibir Mara, untuk menghilangkan sisa kuah yang menempel di sudut bibir istrinya ini. "Kalau sudah selesai, kita pulang yuk Sayang. Hari semakin larut dan udaranya dingin sekali. Aku takut jika kamu masuk angin."


Sebenarnya bukan alasan masuk angin yang membuat Dewa ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Ia berpikir mumpung keadaan masih aman karena triknya tetap berjalan lancar, ia mengajak sang istri untuk beranjak dari sini. Karena sungguh, ia begitu khawatir jika sampai tempelan tulisan Kliwon itu copot.


Namun sepertinya nasib baik tidak berpihak pada Dewa. Samar ia mendengar dua orang yang memasuki warung tenda ini. Dua orang pemuda yang sepertinya langganan warung mie ayam pak Edi.


"Loh, pak Edi berganti nama? Di depan kok namanya menjadi Kliwon bukan Edi lagi?"


Ucapan salah seorang pemuda itu sukses membuat Mara sedikit terkesiap. Ia menoleh ke arah dua orang pemuda itu dan menatap lekat wajah mereka. "Mas ini bicara apa? Bukankah mie ayam ini milik pak Kliwon?"


Mendengar penuturan pemuda itu membuat Mara bersegera bangkit dari posisi duduknya. Dengan gerak cepat, ia menuju ke arah tulisan Kliwon yang terpampang di tenda ini.


Mendadak Dewa seperti kesusahan menelan ludahnya. Ia benar-benar dipenuhi oleh firasat yang buruk. Setelah ini pasti akan terjadi sesuatu yang begitu mengerikan.


Mati aku, setelah ini pasti istriku tahu bahwa nama Kliwon hanya rekayasa belaka. Bersiaplah untuk menghadapi amukan istrimu, Wa!


Penjual mie ayam itu hanya bisa menundukkan wajah mereka sembari mengendikkan bahu, sebagai sebuah isyarat bahwa mereka tidak ingin ikut menanggung segala resiko yang ada. Tanpa pikir panjang, Dewa juga ikut bangkit dari duduknya dan menyusul sang istri yang tengah berada di depan tenda.


"Mas Dewa!"


Hanya kata itulah yang keluar dari bibir Mara ketika kertas dengan tulisan Kliwon itu berhasil ia lepas dari tempatnya bersemayam untuk menutupi nama Edi.

__ADS_1


Mata Dewa terbelalak sempurna karena saat ini di depan sang istri terpampang dengan jelas nama Edi dan bukan Kliwon. Gegas, Dewa mendekat ke arah Mara dan bersimpuh di depan istrinya itu.


Lebay banget sih Om pake bersimpuh segala -author-


Hei, bukan aku yang lebay Thor tapi elu, pakai bikin scene bersimpuh segala -Dewa-


"Sayang, maafkan aku... Aku tidak bermaksud untuk membohongimu Sayang. Aku hanya sudah tidak tahu bagaimana caranya untuk mencari penjual mie ayam yang penjualnya bernama Kliwon. Maka dari itu aku memakai cara ini!"


Posisi Dewa terlihat begitu menyedihkan. Ia bersimpuh di bawah kaki Mara seperti seorang laki-laki yang ketahuan berselingkuh dan berupaya untuk mendapatkan pengampunan dari sang istri. Padahal, ini hanya perkara nama Kliwon saja.


Mara terkesiap. Ia meraih bahu sang suami dan membuatnya dalam posisi berdiri. Ditatapnya wajah Dewa yang diselimuti oleh rasa bersalah itu. Namun kemudian...


"Terimakasih banyak atas segala upayamu untuk membahagiakan aku ini Mas. Aku yang minta maaf jika permintaanku ini terlalu berlebihan."


Mara memeluk tubuh Dewa dengan erat. Ia tahu betul bahwa Dewa sudah berusaha mati-matian untuk mencari mie ayam pak Kliwon seperti apa yang ia mau. Hal itulah yang membuat hati Mara menghangat dan tidak bisa untuk meremehkan usaha suaminya ini.


Dewa sedikit terkejut dengan ekspresi yang ditampakkan oleh sang istri. Ia mengira bahwa Mara akan marah, murka, ngambek, atau mungkin mengamuk karena telah diperdayai namun ternyata sebaliknya. Wanita ini justru malah berterima kasih dan meminta maaf.


Dewa melerai sedikit pelukannya. Hingga kini keduanya saling bertatap netra. "Kamu tidak marah karena sudah aku bohongi Sayang?"


Mara menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin aku bisa marah kepada suami yang sudah melakukan berbagai macam cara untuk membahagiakan aku ini Mas? Aku merasa menjadi seorang istri yang tidak tahu terimakasih jika harus marah kepadamu." Mara mendekatkan wajahnya di wajah Dewa. Dan sebuah kecupan lembut ia daratkan di bibir sang suami. "Terimakasih banyak Mas. Aku sungguh bahagia menjadi istrimu!"


Dewa tak kalah berbahagia karena telah dikaruniai seorang istri yang begitu sempurna seperti istrinya ini. Satu kecupan lembut yang diberikan oleh Mara, ia balas dengan kecupan dalam dan berkali-kali di bibir sang istri. Sepasang paruh baya penjual mie ayam dan juga dua orang pemuda yang ada di tempat ini hanya bisa gigit jari melihat kemesraan sepasang suami istri yang tengah larut dalam keintiman ini.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2