
Tetaplah menjadi orang baik. Karena kelak kebaikanmu itulah yang akan mendekatkanmu pada kebaikan-kebaikan pula...
...❤❤❤❤...
Matahari mulai keluar dari peraduannya. Ia merangkak naik menaiki singgasana yang sudah menanti. Kilau anak-anak sinarnya yang berwarna keemasan, masuk melalui celah-celah jendela sedikit mengusik ketenangan gadis yang saat ini masih berada di bawah pengaruh obat bius yang semalam sempat ia terima.
Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka. Ia sedikit memincingkan mata berupaya menyesuaikan pantulan sinar matahari yang terasa begitu menusuk kornea matanya. Pandangannya menyapu ke sekeliling. Sebuah tempat yang sangat asing baginya. Seketika membuat memory otaknya memutar kepingan-kepingan ingatan yang sempat hilang beberapa saat.
Ia sandarkan tubuhnya di head board ranjang sembari menundukkan wajahnya. Sebuah gaun panjang berwarna gold yang masih melekat di tubuhnya. "Tuan Dewa..."
Mara berkata lirih sembari memanggil nama seorang laki-laki yang ia sudah berhasil membuat hatinya terpaut. Meski melalui pertemuan singkat, namun gadis itu percaya bahwa hatinya telah jatuh dan terperangkap di dalam pesona duda berusia 37 tahun itu. Tanpa terasa satu bulir kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Seharusnya semalam adalah saat-saat paling membahagiakan untukku dan untuk tuan Dewa. Namun... kini semua telah hancur berantakan karena kedatangan wanita itu." Mara semakin membenamkan dirinya dalam kesedihan itu. "Ya Tuhan... Jika sudah seperti ini, apakah akan ada keajaiban untukku? Untuk bisa keluar dari tempat ini?"
Derap langkah kaki seseorang dari luar kamar, terdengar mengusik indera pendengaran Mara. Tak selang lama pintu kamar terbuka dan...
"Selamat pagi calon istriku? Bagaimana keadaanmu? Baik?"
Sesosok laki-laki hampir memasuki usia senja terlihat memasuki kamar dimana Mara berada. Gadis itu nampak ketakutan melihat kedatangan laki-laki yang lebih pantas untuk menjadi ayahnya daripada menjadi suaminya.
"Stop Juragan! Jangan coba-coba mendekat! Atau saya akan berteriak?"
Mara mencoba untuk mengancam lelaki itu, ketika tubuh Karta sudah bergerak maju untuk lebih dekat dengan Mara.
Karta tersenyum tipis. "Ternyata kamu ganas juga ya gadis kecil? Tapi tidak masalah. Aku justru lebih menyukai gadis yang ganas. Terlebih lagi ganas ketika melayaniku di atas ranjang."
Mara semakin terperangah dan ia beringsut mundur saat melihat lelaki tua ini mulai menduduki tepi ranjang. "Hentikan Juragan! Dan keluarlah dari kamar ini!"
__ADS_1
Nampaknya lelaki tua itu tidak mendengarkan ancaman Mara. Ia nampak semakin berhasrat dan bergairah tatkala melihat kesempurnaan tubuh Mara yang terlihat begitu menggoda dengan balutan dress berwarna gold ini. Jemari tangan Karta terulur, bermaksud untuk menyentuh pipi gadis itu. Dan...
"Kangmas, di depan ada tamu yang sedang mencari Bapak. Temuilah!"
Niat buruk Karta terpangkas saat Nining yang tak lain adalah istri pertama Karta memasuki kamar yang ditempati oleh Mara.
Karta menoleh ke arah sumber suara. "Siapa yang datang mencariku sepagi ini?"
"Ada pak Margo yang ingin menjual sapinya. Katanya Kangmas mau membeli sapi yang ditawarkan oleh pak Margo?"
Karta membuang nafas kasar. Ia sedikit kecewa karena niatnya untuk menjamah tubuh calon istri kecilnya ini gagal total. "Baiklah. Aku akan segera menemuinya."
Mara sedikit bernafas lega karena kedatangan wanita yang tak lain istri pertama Karta lah yang menyelamatkannya dari jamahan tangan Karta.
Karta kembali melirik ke arah Mara dan tersenyum simpul. "Lusa aku akan menikahimu, gadis kecilku. Dan setelah itu tidak ada yang boleh kamu lakukan selain melayaniku."
Karta bangkit dari posisi duduknya dan mulai melenggang pergi meninggalkan kamar Mara. Ketika ia berpapasan dengan Nining, lirih ia berucap. "Rawat dengan baik gadis itu. Karena dia lah yang akan menjadi istri keempatku. Itu artinya, dia akan menjadi madu sekaligus madu mu."
Bayang tubuh Karta menghilang di depan pintu. Dibarengi Nining yang memasuki kamar tempat Mara berada dan ia pun mendekat ke arah gadis itu dengan duduk di tepi ranjang.
"Siapa namamu cah ayu?" tanya Nining dengan nada lembut saat menangkap sinyal bahwa gadis ini ketakutan.
"S-Saya Mara, Bu."
"Mara? Nama yang sangat cantik, seperti orangnya." Nining menarik nafas dalam-dalam. Melihat Mara dengan jarak sedekat ini membuatnya sedikit merasa iba. "Mengapa kamu bisa sampai ke tempat ini cah ayu?"
Mara menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Bu. Namun sepertinya ini semua karena perbuatan ibu tiri saya."
Nining berupaya memahami apa yang dikatakan oleh Mara. Ia menarik kesimpulan bahwa dua orang wanita yang semalam menemui suaminya ini adalah ibu dan saudara tiri gadis ini.
__ADS_1
"Apakah selama ini hidup kamu tidak baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan dari wanita di depannya ini membuat air mata Mara jatuh tak tertahankan lagi. Ia mengangguk pelan. "Semenjak ayah saya menikah lagi, hidup saya memang tidak pernah baik-baik saja, Bu. Saya kehilangan kebahagiaan itu."
Jleb..
Ada sesuatu yang tetiba menghunus tepat di jantungnya. Mendengar ucapan gadis kecil ini, ia teringat dengan anak perempuannya. Ia memposisikan jika anak perempuannya lah yang bernasib kurang beruntung seperti Mara ini. Yang menjadi korban dari keserakahan orang tuanya.
Tangan Nining terulur. Tanpa membuang banyak waktu ia menarik tubuh gadis belia ini. Dan perlahan, ia mengusap kepalanya. Mara, yang mendapatkan perlakuan penuh sayang seperti ini hanya bisa menangis. Ia sesenggukan di dalam dekapan Nining.
"Jangan khawatir, dan jangan menangis lagi, aku akan menolongmu cah ayu!"
Mara sedikit terkejut. "M-menolong? Maksud Ibu, apa?"
Nining menghela nafas dalam-dalam. Tangannya masih sibuk membelai rambut Mara. "Ibu adalah seorang wanita, dan anak ibu juga ada yang perempuan. Ibu merasa tempat ini tidak pantas untukmu, cah ayu. Kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk mencari dan mendapatkan kebahagiaanmu. Ibu akan membantumu untuk bisa keluar dari tempat ini."
Mara terkesiap. "Tapi, mengapa Ibu mau menolong saya?"
Nining melerai sedikit pelukannya. Ia tatap lekat wajah ayu gadis di hadapannya ini. Dan perlahan, ia mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya. "Kamu masih sangat muda cah ayu, kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu. Dan tidak seharusnya kamu menjadi korban dari keserakahan ibu dan saudara tirimu itu."
"L-Lalu, bagaimana caranya Ibu akan menolong saya untuk bisa keluar dari rumah ini? Penjagaan di rumah ini pasti sangat ketat bukan?"
Nining tersenyum simpul. "Kamu tenang saja cah ayu. Ibu tidak akan bekerja sendirian. Ibu yakin, kamu bisa dengan mudah keluar dari rumah ini."
Mara semakin terperangah. "Maksud Ibu siapa yang akan Ibu libatkan untuk membantu saya keluar dari rumah ini?"
"Ibu juga akan melibatkan istri-istri suami Ibu yang lainnya."
.
__ADS_1
.
. bersambung....