Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 165 : Oma ...


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Tidak terasa sudah tiga hari Mara berada di rumah sakit ini, itu artinya sudah tiga hari pula oma Widuri terbaring dia atas pembaringan ruang ICU dalam keadaan tidak sadarkan diri. Satu hal yang setidaknya saat ini disyukuri oleh Dewa. Oma dan istrinya berada di rumah sakit yang sama, sehingga memudahkan ia dalam menjaga sang istri dan sang oma secara bergantian.


Sudah sejak tiga hari yang lalu Mara merengek meminta sang suami untuk mengantarkannya menemui oma Widuri. Namun Dewa selalu menolak dengan alasan istrinya ini baru saja melahirkan. Padahal, Dewa hanya mencoba untuk menutupi keadaan yang sebenarnya dialami oleh oma Widuri dari sang istri. Ia khawatir jika istrinya ini terlalu shock dengan apa terjadi kepada oma Widuri.


Namun, sekeras apapun Dewa mencoba untuk menyembunyikan semua itu, sang istri tetap saja memaksa untuk mempertemukan dengan oma. Mau tak mau, Dewa pun menuruti apa yang menjadi keinginan istrinya ini.


Menggunakan kursi roda, Mara terlihat melintasi koridor rumah sakit untuk menuju ruang di mana oma Widuri dirawat. Wanita itu tentunya tidak sendirian, karena di belakangnya, nampak sang suami yang masih setia membantu mendorong kursi roda itu.


"Oma ..."


Suara Mara tercekat di dalam tenggorokan. Melihat kondisi oma Widuri hanya membuat jantungnya serasa berdenyut nyeri. Ruangan ini terasa begitu dingin dan juga hening. Tidak ada suara yang mampu menembus dinding ruangan ini selain suara berbagai macam alat penunjang kehidupan yang melekat di tubuh wanita berusia senja ini.


Mara menyeka air mata yang mulai jatuh satu persatu. Ia raih tangan sang oma yang sudah nampak sedikit berkeriput itu. "Oma ... maafkan Mara, seandainya saat itu Mara yang lebih dulu menjangkau area dapur, pasti oma tidak pernah mengalami hal semacam ini. Seandainya saat itu Mara tidak tergoda untuk melihat apa yang dilakukan oleh dua ekor kucing yang menjatuhkan jemuran di halaman belakang, pasti saat ini Mara lah yang terbaring di atas ranjang ini. Maafkan Mara, oma ... maafkan Mara."


Dewa memegang pundak sang istri. Memberi sebuah sinyal agar istrinya ini dapat tenang. "Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukanlah kesalahanmu Sayang. Ini kesalahan kak Dira yang memang memiliki niat buruk kepada kita semua."


"Tapi aku lah yang menjadi incaran kak Dira, Mas. Dan seandainya saat itu aku jadi mengambil minum, pasti aku lah yang akan menggantikan posisi oma saat ini."


"Ssstttt ... sudah ya Sayang. Ini semua sudah merupakan salah satu bagian skenario kehidupan dari Tuhan, jadi kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik, kamu berikan kabar bahagia kepada Oma tentang kelahiran putra kita, yang artinya akan menjadi cicit pertama untuk Oma."


Mara mengangguk samar. Ia memang tengah berbahagia atas kelahiran Nendra, namun tidak dapat ia pungkiri jika kesedihan itu teramat dalam ia rasakan tatkala melihat sang oma terbaring dalam keadaan antara hidup dan mati seperti ini.


Perlahan, jemari tangan Mara meraih tangan oma Widuri yang masih lelap dalam tidur panjangnya itu. Ia letakkan telapak tangan sang oma di permukaan pipinya. "Oma ... apakah oma tidak ingin melihat cicit oma? Cicit oma namanya Nendra. Dia sangat tampan, mirip sekali dengan mas Dewa. Oma ingat bukan, jika oma ingin sekali piknik ke pantai yang berada di Jogja bersama Mara, mas Dewa dan Nendra? Jika oma tetap tertidur seperti ini lalu bagaimana kita bisa pergi piknik sama-sama, oma?"


Meski sesenggukan dan dadanya terasa sesak bak dihimpit oleh dua batu besar, namun wanita itu tetap memaksakan dirinya untuk mengajak sang oma untuk berkomunikasi. Ia meyakini akan satu hal, meski kedua netra milik oma Widuri ini terpejam, namun wanita berusia senja itu pasti bisa mendengar semua yang ia ucapkan.


Tetiba Mara terkesiap tatkala jemari oma sedikit bergerak. Meski gerakan itu samar dan pelan, namun bisa dirasakan oleh Mara.


"Mas ... jari oma bergerak. Oma sadar Mas, oma Sadar!"

__ADS_1


Dewa ikut terkejut saat mendengar ucapan sang istri. Ia tautkan pandangan matanya ke arah jemari oma Widuri, dan benar saja jemari tangan oma Widuri memberikan sebuah respon.


Kelopak mata yang sebelumnya tertutup rapat itu, perlahan mulai terbuka dan wanita itu menoleh ke arah di mana Dewa dan Mara berada.


"Oma ... Oma sudah sadar?!"


Oma Widuri hanya mengangguk pelan. "B-buka!"


Dahi Mara dan Dewa sedikit mengerut. "Apanya Oma?"


Oma Widuri menunjuk ke arah ventilator yang menutupi hidung dan juga mulutnya.


"Tapi Oma? Dewa takut jika ini akan berbahaya. Dewa panggilkan dokter Ramzi terlebih dahulu ya Oma."


Oma Widuri menggeleng pelan. "B-buka!"


Pada akhirnya Dewa menurut. Ia melepas ventilator yang terpasang di wajah oma Widuri ini.


Oma Widuri masih tetap menggelengkan kepalanya. "Wisnu ... C-Cucu buyutku ... b-awa kemari!"


Dengan terbata, oma Widuri mencoba untuk menyampaikan maksudnya. Meski terbata, namun Dewa dan Mara bisa menangkap ucapan oma Widuri ini.


"Oma ingin bertemu dengan Nendra dan kak Wisnu?"


Oma Widuri kembali menganggukkan kepalanya. Gegas, Dewa sedikit menjauhkan tubuhnya dari ranjang Oma Widuri dan mulai menghubungi Wisnu. Tak selang lama, Wisnu tiba di ruangan oma dengan seorang perawat yang tengah menggendong Nendra.


"Oma .... maafkan Wisnu Oma ... maafkan Wisnu. Karena Wisnu telah gagal mendidik istri Wisnu untuk bisa menjadi seorang istri yang baik."


Wisnu menghamburkan tubuhnya di atas dada oma Widuri. Menangis, dan menumpahkan segala rasa penyesalannya karena telah gagal dalam mendidik Dira.

__ADS_1


Oma Widuri hanya tersenyum simpul. Ia usap punggung cucu pertamanya ini dengan lembut. "Cu-cu buyutku!"


Wisnu sedikit melerai tubuhnya dari tubuh oma Widuri. Dan menautkan pandangannya ke arah Dewa. "Oma ingin melihat Nendra, Wa!"


Dengan gerak cepat, Dewa mengambil alih sang anak dari gendongan perawat dan ia dekatkan ke arah oma Widuri.


"Ini Nendra, Oma. Cicit Oma. Bagaimana? Tampan bukan?"


Wajah oma Widuri nampak berbinar seketika melihat malaikat kecil yang sangat tampan ada di hadapannya. Tanpa terasa, wanita berusia senja itu meneteskan air matanya. Dengan lembut, ia kecup pipi cicitnya ini. "Cu-cu buyutku ... Oma menyayangimu Sayang. K-kelak, jadilah lelaki yang hebat seperti papa Dewa dan berhati mulia seperti mama Mara..."


Seperti paham dengan apa yang diucapkan oleh oma Widuri, tubuh kecil Nendra menggeliat dan seutas senyum tipis terbit di bibir bayi mungil yang baru beberapa hari lahir ke dunia itu.


Ucapan oma Widuri sukses membuat orang-orang yang berada di ruangan ini dipenuhi oleh rasa haru. Tak ayal, membuat mereka meloloskan kristal bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Nendra yang dirasa sudah cukup berada di dekat oma, Dewa kembalikan kepada perawat yang sebelumnya menggendong Nendra.


"Dewa, Wisnu, Mara ... kemarilah! Mendekatlah kepada Oma!"


Ketiga orang itu mendekat ke arah oma Widuri.


"Peluk Oma!"


Tanpa pikir panjang, Dewa, Wisnu dan juga Mara memeluk tubuh wanita ini bersamaan.


"Oma menyayangi kalian semua. Jangan pernah kalian bercerai berai. Atau saling meninggalkan satu sama lain. Oma titip pabrik kepada kalian." Oma Widuri terlihat mencoba meraup udara dalam-dalam. "Opa sudah menunggu Oma di sana. Jaga diri kalian baik-baik Sayang...."


Mata Oma Widuri terpejam, diiringi dengan suara nyaring yang keluar dari monitor hemodinamik dan saturasi, yang terletak di dekat oma Widuri. Monitor yang sebelumnya menunjukkan garis-garis bergelombang, kini hanya tinggal garis lurus saja. Yang seketika membuat ketiga orang itu berteriak histeris sebagai tanda bahwa mereka kehilangan oma Widuri.


"Omaaaaaaaaaaaaaa....!!!!"


.

__ADS_1


.


. bersambung....


__ADS_2