
Jarum penunjuk waktu menunjukkan pukul tujuh petang dan membuat kota Bogor berpayung warna kelam. Meski malam sudah mulai merangkak naik namun sepertinya tidak menyurutkan niat Krisna untuk tetap stay di kediaman Dewa. Sejak pagi, tepatnya setelah dirinya diusir oleh sang istri, lelaki itu memilih untuk tetap berada di rumah bos nya ini.
"Apakah kamu tidak mau kembali ke rumahmu sendiri?"
Ucapan yang dilontarkan oleh Dewa sukses membuat Krisna yang sedang menyeruput kopi hitamnya tersedak seketika. Entah sudah cangkir ke berapa yang dinikmati oleh lelaki ini. Yang pasti kedatangan Krisna di hari ini berhasil membuat stok kopi hitam di dapur hanya tinggal seperempat saja. Dan pastinya hal itu yang membuat mbok Darmi sedikit kewalahan karena sedari tadi ia disibukkan dengan kegiatan membuatkan kopi untuk Krisna.
"Kamu mengusirku?"
Maksud itulah yang tertangkap dari ucapan yang sebelumnya dilontarkan oleh Dewa. Krisna merasa bos nya ini sedang mengusirnya secara halus.
Dewa hanya mengendikkan bahu sembari tersenyum miring. "Ya bisa dikatakan seperti itu. Apakah kamu tidak sadar bahwa sudah sejak pagi tadi kamu bertandang ke rumahku ini? Kamu seperti seorang tunawisma saja yang tidak memiliki tempat untuk kembali. Bahkan kehadiranmu di sini sudah membuat stok kopi di dapur semakin menipis."
"Astaga, sebegitu perhitungannya kamu dengan tempat dan kopi yang aku habiskan di sini, Wa. Padahal sebelum aku menikah, aku juga sering bermalam di rumahmu ini."
Dewa berdecak sembari menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruang keluarga ini, sepertinya ia akan membisikkan rahasia kepada asistennya ini. "Bukan persoalan tempat ataupun kopi, namun gara-gara kedatanganmu membuat istriku tidak mau untuk memberikan jatah harian kepadaku!"
Krisna memasang wajah penuh tanda tanya. Seakan terlalu bo*doh untuk mencerna ucapan bos nya ini. "Kamu ini suami macam apa Wa? Masa iya istrimu yang memberikan jatah harian untukmu? Bukankah seharusnya suami lah yang memberikan jatah?"
Apakah bos nya ini mendadak miskin? Apakah pabrik yang dikelola oleh bosnya ini tiba-tiba bangkrut? Padahal sejauh ia membantu Dewa mengelola pabriknya, kondisi keuangan sangat baik bahkan profit dari bulan ke bulan semakin naik. Tapi mengapa bos nya ini meminta jatah harian kepada istrinya? Sungguh, semakin ia mencoba mencerna ucapan Dewa, ia justru merasa semakin bo*doh saja.
"Issshhh bukan jatah itu, tapi jatah di atas ranjang!" Dewa membuang nafas sedikit kasar. Dipijitnya pelipisnya dengan perlahan untuk mengusir segala rasa pening yang tiba-tiba menyerangnya.
"Mara mengatakan bahwa aku harus menemanimu selama kamu berada di sini karena kata istriku sangat tidak sopan jika aku meninggalkanmu sendirian," sambung Dewa pula dengan wajah memelas.
"Hahahaha haahaahaa sungguh malang nasibmu Wa. Padahal aku berencana untuk bermalam di sini."
"Apa? Kamu ingin bermalam di rumahku?" Kepala Dewa seakan semakin berdenyut nyeri. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana jika sampai sang asisten bermalam di sini pastinya akan membuat Mara semakin tidak bersedia untuk memberinya jatah ranjang.
"Tidak ada yang salah bukan? Karena hanya rumah kamu inilah satu-satunya tujuanku untuk berteduh!"
"Hei, apa maksudmu mengatakan hal itu Kris? Ada apa dengan rumah mewah yang telah oma berikan untukmu? Sampai kamu ingin bermalam di sini? Lagipula kamu sudah beristri dan bukan bujangan lagi, mana bisa kamu seenak jidat meninggalkan istrimu sendiri?"
__ADS_1
Krisna membuang nafas kasar. Sejak kedatangannya ke rumah Dewa, ia memang belum mengatakan dengan apa yang terjadi perihal tingkah laku sang istri setelah ia dinyatakan positif hamil.
"Justru karena itu aku..."
Drrttt.... Drrrtttt.... Drrttt...
Getaran ponsel milik Krisna yang tergeletak di atas meja memangkas ucapan lelaki itu. Ia raih ponsel miliknya dan terlihat nama my sweety muncul di layar ponselnya.
"Iya Sayang?"
"Mas... Kamu di mana? Mengapa sampai malam seperti ini belum pulang?"
"Aku di rumah Dewa Sayang..."
"Kamu itu ingat tidak sih kalau sudah punya istri? Sudah punya istri kok masih senang main ke rumah mas Dewa sampai malam?"
"Eh...?"
"Sayang, aku sungguh sedang berada di rumah Dewa. Sama sekali tidak sedang pergi bersama mantanku. Mengapa kamu sampai memiliki pemikiran seperti itu sih Sayang? Mana mungkin aku pergi bersama mantanku kalau sudah ada istri di rumah?"
"Nah itu kamu paham Mas. Tapi mengapa sampai malam seperti ini kamu masih saja belum sampai rumah? Kamu lupa jalan pulang?"
"Loh, loh, loh, bukankah tadi pagi kamu yang memintaku untuk jauh-jauh darimu Sayang? Kamu tidak ingin dekat denganku karena aku membuatmu mual bukan? Jadi aku memilih untuk bertandang ke rumah Dewa."
"Hiks... Hiks.. Hiks... Jadi kamu menyalahkan aku Mas? Jadi kamu sampai larut seperti ini tidak pulang karena aku yang salah?"
"Eh, bukan seperti itu Sayang... Aku hanya tidak ingin membuatmu mual ketika berada di dekatku, maka dari itu sampai malam seperti ini aku tidak pulang."
"Hiks... Hiks.. Hiks... Jahat kamu Mas. Posisi hamil seperti ini kamu malah sering meninggalkan aku. Kamu jahat Mas, jahat!"
Krisna menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Ya sudah sekarang kamu mau bagaimana Sayang? Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Kok masih tanya harus bagaimana? Pulang Mas, pulang! Aku tidak mau tahu pokoknya dalam waktu sepuluh menit, kamu harus sampai rumah. Kalau tidak, aku akan marah!"
Tut... Tut.... Tut....
"Ya Tuhan... apakah seperti ini nasib calon seorang ayah? Padahal pagi tadi istriku seperti alergi jika berdekatan denganku, tapi sekarang ia seolah menjadi istri paling menyedihkan karena aku tinggal."
Ucapan lirih Krisna terdengar jelas di pendengaran Dewa yang kebetulan masih duduk anteng di dekatnya. Ia hanya bisa tergelak melihat apa yang dialami oleh asisten pribadinya ini.
"Haha haahaa sepertinya kita bakalan senasib Kris!"
Krisna gegas beranjak dari posisi duduknya. "Aku harus segera pulang Wa. Jika dalam waktu sepuluh menit aku belum tiba di rumah, bisa-bisa istriku marah besar!"
Krisna mengayunkan kakinya untuk bersegera meninggalkan rumah Dewa. Lelaki itu teramat takut jika sampai terlambat tiba di rumah. Namun tatkala ia sampai di depan rumah, ia tetiba menghentikan langkah kakinya.
"Wa, di mana mobilku? Mengapa tidak ada di halaman rumahmu?" teriak Krisna tatkala tidak melihat mobil yang ia kendarai di halaman rumah Dewa.
Dewa yang mendengar teriakkan Krisna gegas menghampiri lelaki itu. "Apa sih Kris? Mengapa kamu berteriak seperti itu?"
"Mobilku mana Wa? Mobilku mana?"
Pletakk!!!
Satu sentilan Dewa berikan di kepala Krisna. "Kamu itu amnesia atau bagaimana? Kamu datang ke sini jalan kaki. Sama sekali tidak membawa mobil!"
Krisna terkesiap sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru ingat bahwa ia datang ke rumah Dewa jalan kaki karena jarak rumah yang ia tempati hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Dewa.
"Ahaahaahhaa aku benar-benar lupa!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...