Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 81 : Bubur Ayam Penebus Dosa #2


__ADS_3


Ting.... Ting.... Ting..... Bubur Ayam.... Bubur Ayam...


Suara nyaring dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk terdengar jelas di indera pendengaran Dewa dan koki resort. Wajah dua orang yang sebelumnya terlihat begitu frustrasi perihal bubur ayam, pada akhirnya nampak berbinar seketika.


"Nah itu ada penjual bubur ayam Pak. Rezeki untuk pak Dewa ini mah!" ucap koki resort dengan raut wajah yang sumringah.


"Yeeaaaayy....."


Wajah Dewa nampak berseri karena happy. Pada akhirnya, apa yang ia cari dapat ia temui. Lelaki yang masih memakai piyama berwarna biru dongker kemudian melenggang pergi dari area kitchen. Ia melewati pintu belakang dan kemudian menuju ke penjual bubur ayam itu.


"Mas, bubur ayamnya satu porsi ya," ucap Dewa dengan wajah berbinar. Di depan matanya sudah terbingkai dengan sempurna satu makanan yang mungkin akan membuat rasa cinta sang istri bertambah besar untuknya.


"Maaf Pak, bubur ayamnya sudah habis!" ucap penjual itu sembari mengelap bagian yang dilapisi kaca di gerobaknya dengan serbet.


Dahi Dewa mengernyit. "Habis?"


"Iya Pak, habis."


"Sejak kapan bubur ayam ini habis?" Dewa bertanya dengan nada menginterogasi. Layaknya seorang petugas kepolisian yang tengah menginterogasi seorang pencuri.


Kedua bola mata penjual itu berotasi seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. "Sepertinya sejak setengah jam yang lalu Pak!"


Netra Dewa terbelalak sempurna. "Apa setengah jam yang lalu?"


"Iya Pak setengah jam yang lalu."


Raut wajah Dewa yang sebelumnya dipenuhi oleh binar-binar kebahagiaan sekaligus kelegaan, tiba-tiba menggelap seketika. Ada goresan awan mendung yang tergambar jelas di wajah tampannya itu. "Jika sejak setengah jam yang lalu bubur ayam ini habis mengapa masih kamu bunyikan mangkuk ini Mas? Bahkan kamu masih berusaha memanggil-manggil pelanggan dengan memberitahukan keberadaanmu?"


"Oh itu... Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan saya Pak!" sang penjual menjawab pertanyaan Dewa dengan makna yang masih terkesan ambigu.


"M-maksud kamu apa? Bukankah dengan cara seperti itu kamu justru mengecewakan pelangganmu?"


Nampaknya Dewa masih ingin berdebat dengan sang penjual bubur ayam. Perkara sepele seperti ini seakan menjatuhkan harga dirinya karena secara tidak langsung, penjual bubur ayam ini sudah mempermainkannya.


"Ah tidak juga Pak. Karena dengan cara seperti ini saya bisa mengabarkan kepada dunia bahwa dagangan saya laris manis. Dan itu artinya asap dapur di rumah saya bisa tetap mengepul untuk bisa menyajikan makanan terbaik untuk keempat anak-anak saya. Lagipula dengan cara seperti ini, bisa mensugesti para pembeli agar bersegera membeli dagangan saya agar tidak kehabisan." Penjual bubur ayam itu meletakkan kembali serbet yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan bagian kaca yang ada di gerobak yang ia dorong. Ia kembali ke posisi semula untuk melanjutkan lagi perjalanannya. "Kalau begitu saya permisi Pak!"


Dewa terperangah. Bahkan ia hanya bisa tertegun tatkala mencoba memahami setiap kata yang diucapkan oleh penjual bubur ayam itu. Ada satu hal yang menyentil relung hatinya, bahwa sesederhana itu kebahagiaan bagi seorang tulang punggung keluarga untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan.


"Mas tunggu!"


Penjual bubur ayam yang baru beberapa langkah menjauh dari tubuh Dewa, bersegera menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badannya. "Ada apa Pak?"

__ADS_1


Dewa mendekati penjual bubur ayam itu. Ia merogoh saku piyama yang ia pakai dan mengambil lembaran uang seratus ribuan dari dalam sana. "Ini untuk Mas-nya."


Penjual bubur ayam itu sedikit terkejut. "Ini uang untuk apa Pak?"


Dewa hanya mengulas sedikit senyumnya. "Tadi rencana saya uang ini akan saya gunakan untuk membeli bubur. Tapi karena bubur yang Anda jual sudah habis, maka saya bermaksud untuk memberikannya kepada Anda saja."


"T-tapi Bapak kan tidak mendapatkan apapun dari saya? Mengapa Bapak tetap memberikan uang ini?"


"Anggap saja ini rezeki untuk anak-anak Anda yang diberikan melalui saya. Terima lah. Semoga bermanfaat untuk keluarga Anda."


Meski ragu, tangan penjual bubur ayam itu tetap terulur untuk menerima uang yang diberikan oleh Dewa. "Terimakasih banyak Pak."


"Sama-sama Mas!"


Dewa membalikkan badannya bermaksud untuk kembali ke kitchen. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain membuat bubur ayam dengan tangannya sendiri. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan penjual bubur ayam itu tiba-tiba...


"Pak, tunggu!"


Dewa menghentikan langkah kakinya dan kemudian membalikkan badannya. "Ada apa Mas?"


"Mari ikut saya ke rumah. Saya rasa sebelum saya berangkat berdagang, istri saya menyisakan beberapa porsi bubur ayam di rumah."


Harapan di hati Dewa yang sebelumnya pupus kini seakan kembali bersemi. Wajahnya nampak berbinar lagi. Ucapan penjual bubur ayam ini layaknya sebuah oase yang ia cari di hamparan padang tandus.


Penjual bubur ayam itu mengangguk mantap. "Tentu saja benar Pak. Mari ikut saya. Rumah saya tidak begitu jauh dari sini."


Pada akhirnya Dewa mengekor di belakang tubuh penjual bubur ayam untuk menuju ke kediaman penjual itu tentunya demi mendapatkan satu mangkuk bubur ayam penebus dosa.


***


"Mohon maaf ya Pak, gubug kami ini sempit sekali."


Ucapan sang penjual bubur ayam sontak membuat Dewa memperhatikan dengan seksama keadaan rumah yang ditempati oleh penjual bubur ini. Sebuah rumah yang terkesan begitu sempit namun tetap terlihat rapi. Mungkin istri dari penjual bubur ayam ini termasuk salah satu istri yang pandai menata ruangan, sehingga meskipun rumah ini sempit, namun tetap terlihat luas.


"Mas, Bapak ini siapa?" ucap istri penjual bubur yang baru saja keluar dari arah dapur.


"Dek, Bapak ini sedari tadi kebingungan mencari bubur ayam untuk istrinya yang sedang sakit. Di dapur masih ada sisa bubur ayam bukan?"


Sang istri mengangguk. "Masih Mas. Masih panas juga. Butuh berapa porsi Mas?"


Penjual bubur itu melirik ke arah Dewa. "Bapak mau berapa porsi?"


"Satu porsi saja Mas. Cukup untuk istri saya saja."

__ADS_1


"Betul satu porsi cukup? Nanti siang kalau istri Bapak ingin bubur lagi Bapak bakal kerepotan lagi." Penjual bubur itu menoleh ke arah sang istri. "Dek, buatkan dua porsi ya. Taruh di dalam rantang saja."


Sang istri pun mengangguk patuh. "Baik Mas, tunggu sebentar."


"Bapak!"


Keheningan suasana di dalam rumah ini tetiba dipecah oleh kehadiran tiga orang anak yang tetiba menghambur di pelukan penjual bubur. Penjual bubur itu sedikit mengambil posisi jongkok dan kemudian memeluk erat tubuh anak-anaknya itu.


"Aaahhhhh anak-anak Bapak sudah wangi semua. Pasti sudah mandi ya?" ucap penjual bubur sambil menciumi pipi anak-anaknya satu persatu.


"Sudah Pak. Kami sudah mandi semua. Bapak kok sudah pulang? Dagangannya laris manis ya?" celoteh anak lelaki yang sepertinya anak sulung penjual bubur itu.


"Tentu laris manis. Ini semua berkat doa anak-anak Bapak ini."


"Horeeee.... Itu berarti sebentar lagi kita bisa beli sepeda kan Pak?"


Penjual bubur itu hanya tersenyum simpul. "Doakan sebentar lagi tabungan Bapak cukup ya Sayang, biar bisa segera membelikan sepeda untuk kalian."


"Itu sudah pasti Pak!"


Tanpa terasa setetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Dewa. Kehidupan serba ada tanpa kurang seakan membuatnya lupa bahwa masih banyak sesamanya yang hidup dalam keadaan pas-pasan. Namun mereka tetap nampak bahagia dengan adanya rasa syukur.


"Nah Pak, ini bubur ayamnya. Semoga istri Bapak segera sembuh seperti sedia kala," ucap istri penjual bubur ayam sembari menyerahkan sebuah rantang susun ke arah Dewa.


Dewa terkesiap. Buru-buru ia menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya. "Terimakasih banyak ya Mbak, Mas. Nanti saya kembalikan lagi rantang ini kemari."


"Tidak perlu terlalu dipikirkan Pak. Yang terpenting saat ini istri Bapak bisa segera pulih."


"Terimakasih banyak Mas."


.


.


. bersambung....


Fiuhhhhh... Akhirnya dapat juga tuh bubur ayam... Hehehe 🤗🤗



Jika di dunia halu saya diserbu sama kaum wanita-wanita cantik sedangkan di dunia nyata saya diserbu sama para driver ojek online 😂😂... Itu gambaran pekerjaan saya di dunia nyata ya Kak... Sedang ada promo menggila dari salah satu merchant di tempat saya bekerja. Rata-rata untuk jaket oranye itu bisa sampai 150 driver setiap harinya. Dan rata-rata setiap driver ada 3 menu pesanan. Ditambah lagi dengan dua jaket hijau. Dari sana mungkin kakak-kakak semua bisa tahu bagaimana kesibukan author remahan kulit kuaci seperti saya ini. Jadi sekali lagi saya mohon maaf dengan sangat jika jarang membalas komentar kakak-kakak semua. Bukan bermaksud sombong, tapi ini murni karena kesibukan saya di dunia nyata.


Doakan author remahan kulit kuaci ini tetap sehat ya Kak... Agar bisa memberikan yang terbaik untuk para pembaca semua...❤❤❤

__ADS_1


Salam love, love, love❤❤❤


__ADS_2