Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 104 : Delapan Kali?


__ADS_3


"Oouuuhh Sayang.... Sedikit lagi Sayang, sedikit lagi..."


Dewa masih saja memacu tubuh Mara di atas ranjang yang dipenuhi oleh gelora cinta yang berbalut dengan hasrat ingin dipuaskan. Ranjang yang sebelumnya tertata rapi, kini sudah seperti kapal yang terhempas oleh badai dan gelombang. Membuatnya berantakan dan juga porak poranda.


Entah bagaimana mereka melakukan permainan itu hingga membuat bantal, guling dan selimut berhamburan di atas lantai. Peluh-peluh sudah bercucuran di tubuh mereka. Meskipun suhu pendingin ruangan sudah diatur dalam posisi paling dingin namun tetap saja mereka merasakan gerah yang teramat mendera.


"Uuuhhhh.... Sayang..."


"Emmmphhh.... Mas...."


"Ssssshhhhh...."


"Aaaahhhhh.... Mas...."


"Sayang.... Sayang... Sayang.... A-aku mau sampai Sayang.... Aaaahhhh.... Uuuhhhh.... Ssssshhhhh..... Aaahhhhh.... Sayanggggggggg......!!!!"


Lenguhan panjang yang keluar dari bibir Dewa dan tubuhnya yang bergetar hebat menjadi akhir dari pergumulan yang ia lakukan bersama sang istri di jam setengah dua belas malam ini. Ini sudah keempat kalinya Dewa mencapai pelepasan itu. Menanam benih-benih kehidupan ke dalam rahim sang istri melalui bagian sensitifnya.


Tubuh Dewa limbung di sisi sang istri. Gegas, ia menarik tubuh Mara untuk ia bawa ke dalam pelukannya.


"Terimakasih banyak Sayang... Terimakasih!" ucap Dewa sembari menghujani pucuk kepala Mara dengan kecupan-kecupan lembut dan penuh cinta.


"Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Oma. Jika seperti ini setiap hari tidak lama lagi aku akan hamil, Mas!"


Dewa hanya tergelak lirih. Ia sedikit menggeser kepalanya untuk menjauh dari kepala Mara. Hingga kini, ia bisa melihat wajah cantik istrinya ini. "Apakah kamu keberatan jika bersegera mengandung benih cinta dariku Sayang?"


Jika sebelumnya Dewa yang tergelak, kini giliran Mara yang tergelak. "Tentu saja aku tidak keberatan, Mas. Aku akan siap kapanpun Tuhan menitipkan sebuah nyawa di dalam rahimku ini."


"Terimakasih Sayang. Usiamu masih dua puluh tahun namun pemikiranmu begitu dewasa. Aku sungguh bahagia memilikimu sebagai istriku, Sayang."


Mara terkikik geli. "Hihihihihi... Aku hanya berpikir, jika aku menunda kehamilan, lalu mau di usia berapa kamu akan memiliki keturunan Mas? Aku dan kamu saja sudah terpaut tujuh belas tahun. Lalu, kamu dan anak kita akan terpaut berapa tahun? Yang aku takutkan nantinya kamu dan anak kita bukan terlihat seperti anak dan ayah, tapi terlihat seperti kakek dan cucunya."


Kedua bola mata Dewa terbelalak sempurna mendengar celotehan panjang istrinya ini. "Itu artinya secara tidak langsung kamu mengatakan jika aku sudah terlalu tua Sayang? Seperti kakek-kakek?"


Mara hanya mengendikkan bahunya. "Ya, memang pada kenyataannya seperti itu kan Mas? Kamu sudah tua, hihihihihi!"


Dewa semakin membelalakkan matanya. "Apa Sayang? Kamu mengatakan aku tua?"


"Ya, kamu memang sudah tua Mas. Itu tidak dapat terbantahkan lagi!"


Gegas, Dewa menggeser tubuhnya. Tanpa permisi, ia memberikan gelitikan-gelitikan di bawah ketiak sang istri. Melihat sang istri menggeliat-menggeliat laksana ulat bulu membuat Dewa semakin bersemangat untuk menggelitiki istri tercintanya ini.

__ADS_1


"Hihihihi lepaskan Mas. Geli! Aaduuduuh geli Mas! Jangan digelitikin!"


"Tidak Sayang. Ini hukuman untukmu karena sudah menganggapku lelaki tua seperti kakek-kakek!"


"Aaawwww.. Hiihihihi hihihihi iya ampun Mas, ampun. Haduuhh geli Mas. Lepaskan, hihihihi!"


Air mata Mara menetes ketika berupaya mati-matian menahan sensasi rasa geli yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika sang suami begitu kekeuh menggelitiknya seperti ini dan tidak mau menghentikannya.


"Ayo katakan dulu kalau aku masih muda!" titah Dewa tanpa mau dibantah.


Mara menghirup nafas dalam-dalam. "Baiklah suamiku yang masih muda. Bahkan terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Ampun... Aku tidak akan mengulanginya lagi!"


Dewa tersenyum simpul, sembari mengangkat sebelah alisnya. "Nah, itu baru benar..."


Mara beringsut mundur untuk turun dari ranjang, bermaksud untuk masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa langkah ia menjauh dari ranjang, wanita itu membalikkan badannya.


"Benar-benar hoaks kalau kamu masih muda Mas. Pada kenyataannya kamu memang sudah tua, wwllleeeee!" seloroh Mara kembali mengejek sang suami dengan menjulurkan lidahnya.


"Apa?!!!"


Dewa terkesiap. Gegas, ia bangkit dari ranjang dan mengambil langkah lebar untuk mendekat ke arah sang istri.


"Aaaaaahhh.... Turunkan aku Mas! Turunkan aku!"


Mara meronta, meminta turun setelah Dewa memanggul tubuhnya layaknya satu karung beras.


"H-Hukuman apa Mas?"


Dewa menyeringai nakal. "Pastinya hukuman yang tidak akan membuatmu kesakitan, tapi justru akan membuatmu keenakan!"


"M-maksud kamu? Kita akan bercinta lagi?"


"Ya, seperti itulah kiranya!"


Mara memukul-mukul punggung suaminya. "Malam ini kita sudah empat kali, Mas!"


"Akan aku genapi menjadi delapan kali, Sayang!"


"Aaaaaaaaa... Mas Dewaaaaaaaa....!!"


Brak!!!


Jika sebelumnya pintu kamar yang ia hempaskan secara kasar, kini giliran pintu kamar mandi yang ia hempaskan dengan kasar pula. Suaranya menggema memenuhi kamar ini. Pada akhirnya Dewa kembali 'menggarap' tubuh sang istri, untuk membuatnya keenakan untuk kedelapan kali, di kamar mandi. Dan mungkin ritual penyatuan raga itu baru akan selesai di jam tiga dini hari nanti.

__ADS_1


***


"Hei, ada apa denganmu Kris? Mengapa wajah kamu terlihat begitu kusut seperti pakaian yang tidak disetrika?"


Hari telah berganti. Wajah cerah sang mentari mulai menyapa para penduduk bumi, seakan ikut mentransfer energi positif untuk bersemangat menapaki hari ini. Namun, cerah dan bersinarnya wajah sang mentari, nampaknya berbanding terbalik dengan wajah perjaka tua yang saat ini sedang duduk di bangku taman belakang rumah milik Dewa. Meskipun di depan matanya terdapat kolam ikan koi dengan aneka warna dan terlihat begitu memanjakan mata, nyatanya tidak bisa menyembunyikan raut wajah Krisna yang terlihat sedikit sendu.


"Pupus Wa! Pupus!"


Jawaban yang keluar dari bibir Krisna, sukses membuat dahi Dewa mengernyit. "Pupus? Apanya yang pupus?"


"Pupus sudah harapanku untuk mengakhiri masa lajangku di tahun ini!"


Dewa terkesiap. "Maksud kamu? Bukankah kamu baru saja menjalin hubungan dengan Dyandra?"


Krisna mengangguk lemah. "Iya, tapi ternyata aku sudah kalah start. Sepulang dari acara resepsi pernikahanmu di Jogja, Dyandra langsung dilamar oleh lelaki yang selama ini diam-diam mencintainya."


"Lalu, Dyandra menyetujuinya?"


Krisna mengangguk perlahan. "Iya, dia menerima lamaran lelaki itu. Karena sejatinya dia tidak sanggup untuk menjalani hubungan jarak jauh denganku. Dan kita putus, setelah dua hari jadian!"


Dewa memasang wajah penuh rasa prihatin dengan apa yang dialami oleh sahabat sekaligus asisten pribadinya ini. Ia pun hanya bisa menepuk-nepuk bahu Krisna berupaya untuk memberinya kekuatan karena telah dilanda oleh patah hati.


"Benar-benar kasihan kamu Kris. Sudah seharusnya di usiamu saat ini, kamu telah memiliki seorang istri. Namun ternyata takdir masih ingin bermain-main denganmu."


Krisna mengendikkan bahu. "Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa kisah cintaku menjadi seperti ini. Di saat aku ingin serius, malah ada saja penghalangnya."'


"Ya, anggap saja semua itu balasan untukmu Kris. Karena sejak dulu kamu hobi bergonta-ganti pacar!"


Krisna membuang nafas dan mengacak rambutnya kasar. "Haaahhhh ... Nasib, nasib...."


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Untuk acara resepsi pernikahanku besok, apakah sudah siap sempurna?"


Krisna mendengkus. "Pekerjaan apa yang tidak sempurna di tanganku? Semua sudah beres. Kamu dan Mara tinggal mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu undangan yang diantara mereka ada mantan istri dan mertuamu!"


Dewa terkesiap. "Dita dan papanya kamu undang?"


"Ini perintah Oma, Wa. Oma ingin menunjukkan kepada mantan istrimu bahwa saat ini hidupmu jauh-jauh lebih bahagia bersama Mara. Dan jauh berbeda dengan saat kamu hidup bersama Dita."


Pandangan mata Dewa tertaut pada kolam ikan koi di hadapannya ini. Ia sepertinya tengah larut dalam lamunannya.


Itu memang benar, bahwa hidupku saat ini jauh terasa lebih bahagia dan berwarna semenjak kehadiran Mara. Wanita yang tidak hanya memiliki paras yang begitu cantik namun hatinya pun juga begitu cantik. Sampai Tuhan memanggilku untuk pulang, aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tangan Mara untuk tetap berada di sisiku. Itulah janjiku...


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2