
"Apakah kepalamu terbentur sesuatu? Sehingga membuatmu seperti orang gila yang tengah senyum-senyum sendiri?"
Tatapan Dewa yang sebelumnya fokus pada sebuah layar datar di hadapannya, dan jemari tangannya bermain-main di atas keyboard, sedikit terusik akan sebuah penampakan seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan jendela. Lelaki itu berdiri terpaku, pandangan matanya terlihat menerawang namun di bibirnya tiada henti melukiskan senyum termanis yang ia punya.
"Aku sedang bahagia, Wa! Bahagia!"
Krisna sedikit memekik girang dengan raut wajah yang bersinar terang layaknya bintang di langit yang gelap. Lelaki yang beberapa hari terakhir nampak murung dan muram karena cintanya kandas di tengah jalan dengan gadis Makasar bernama Dyandra, kini wajah murung dan muram itu seperti tenggelam dengan terbitnya seraut wajah yang bersinar penuh kebahagiaan.
Dahi Dewa sedikit mengerut. "Apa yang membuatmu bahagia, Kris? Apakah kamu kembali merajut kisah cintamu bersama Dyandra?"
Krisna menggeleng samar. "Bukan Wa. Bahkan saat ini Dyandra telah menikah dengan lelaki yang menjadi pilihannya."
"Lalu, apa yang membuatmu bahagia seperti itu?"
"Aku baru saja bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis cantik!" Krisna menjawab pertanyaan Dewa dengan binar bahagia yang tidak sedikitpun meredup.
Dewa terkesiap. Apa istimewanya dengan sebuah pertemuan dan berkenalan? Bukankah lelaki itu sering kali bertemu, berkenalan, bahkan berkencan dengan para gadis?
"Lalu apa poin istimewanya?" Dewa bertanya dengan menyisakan sebuah tanda tanya besar di dalam otaknya.
Krisna sedikit menghela nafas dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan sang bos yang sudah seperti seorang penyidik KPK. "Poin istimewanya, hatiku mengatakan, dia akan menjadi jodohku."
Dewa terkikik geli mendengar celotehan asistensi ini. Di matanya, Krisna memang salah satu lelaki dengan tingkat keyakinan tinggi akan hal yang mungkin hanya menyisakan sebuah peluang kecil. Sering ia mengatakan setiap wanita yang menjadi teman kencannya adalah jodoh untuknya. Namun pada akhirnya hanya menjadi sebuah isapan jempol belaka.
"Apa yang membuat kamu yakin bahwa wanita itu adalah jodohmu?"
Krisna hanya mengendikkan bahu. "Ya, aku merasa yakin saja bahwa Sekar adalah gadis yang kelak akan menjadi istriku. Dia adalah gadis yang telah dikirimkan oleh Tuhan kepadaku untuk menjadi oase di gersangnya jiwaku."
Dewa berdecak lirih. Semakin hari asistennya ini semakin bertambah puitis saja. Namun entah, apakah kali ini apa yang menjadi keyakinan Krisna akan terjadi juga atau tidak.
Dewa membuang nafas kasar. "Haaahhh... Terserah kamu saja lah."
Dewa kembali fokus dengan layar laptop yang berada di hadapannya, sedangkan Krisna kembali menautkan pandangannya ke arah luar melalui jendela yang ada di depannya ini. Jika seperti ini posisi bos dan anak buah seakan terbalik. Dewa yang menjadi anak buah Krisna karena dia lah yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Krisna, ia berdiri santai sembari memandang hiruk pikuk keramaian kota yang tersaji di luar sana.
"Sedari tadi aku lihat, kamu tidak bersemangat Wa! Apa yang tengah terjadi kepadamu? Apakah kamu sedang bertengkar dengan Mara?"
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Krisna melemparkan pertanyaan itu. Karena sejatinya, wajah sang bos memang terlihat begitu sendu.
"Aku libur!"
"Libur? Libur apa maksudmu?"
Bahkan hari ini sang bos terlihat lebih sibuk dari biasanya. Mengapa dia mengatakan libur? Sebuah hal yang aneh bukan?
Dewa menghentikan aktivitasnya. Tubuh yang sebelumnya dalam posisi tegak, kini ia sandarkan di kursi kebesarannya. Berkali-kali lelaki itu membuang nafas kasar seakan mengeluarkan sesuatu yang terasa menghimpit dada.
"Libur menjamah istriku!"
"Maksudmu, kamu tidak dapat menjamah Mara, karena dia sedang haid?"
Dewa mengangguk samar. Dipijitnya pelipis yang sudah terasa begitu pening. Baru dua hari saja tidak bercinta dengan sang istri sudah membuat kepalanya pusing seperti ini, lalu apa yang akan terjadi jika sampai lima hari ke depan?
Krisna terperangah, tidak menyangka jika hanya perkara haid yang membuat sang bos terlihat tidak bersemangat seperti ini. "Apakah kamu benar-benar tidak dapat menahannya Wa?"
"Bagaimana bisa aku menahannya? Melihat jempol kaki Mara saja aku sudah terangsang, apalagi jika melihat milik Mara yang menyembul dari balik pakaian yang ia kenakan. Aku benar-benar tidak dapat menahan itu semua. Bahkan rasanya, kenikmatan yang dihadirkan oleh tubuh Mara, seakan selalu saja menggodaku untuk bisa terus menjamahnya!"
Tok... Tok.. Tok....
Pembahasan dua lelaki itu terpangkas tatkala terdengar suara pintu ruangan diketuk dari luar. Setelah Dewa mempersilakan masuk, terlihat seorang wanita cantik yang berdiri di ambang pintu. Sepasang netra milik Dewa dan Krisna tertuju pada pintu ruangan. Seketika membuat Dewa melukiskan sebuah senyum manis di bibirnya.
"Sayang?" ucap Dewa saat mengetahui sang istri menyambanginya di kantor.
"Apakah aku mengganggu?" Mara bertanya masih belum beranjak dari pintu.
Kehadiran sang istri benar-benar bisa merubah mood nya. Bukan hanya mood, bahkan raut wajah yang sebelumnya muram, kini berseri kembali.
"Tentu tidak Sayang. Aku justru bahagia melihat kamu datang kemari. Ayo masuk! Mengapa malah masih berdiri di depan pintu seperti itu sih?"
Mara mengayunkan kakinya untuk mendekat ke arah sang suami. Ia letakkan sebuah rantang susun di meja yang ada di ruangan suaminya ini. Dan ia pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Apa yang kamu bawa itu Ra?" Krisna bertanya saat melihat sebuah rantang susun yang ia letakkan di atas meja.
"Aku membawakan makan siang untuk mas Dewa, Mas. Aku khawatir jika ia sampai lupa untuk makan siang!"
__ADS_1
"Apa hanya Dewa saja yang kamu bawakan makan siang? Aku? Tidak kamu bawakan?" seloroh Krisna asal.
Sedangkan Dewa hanya terkesiap. Buru-buru ia menimpali ucapan Krisna ini. "Memang kamu siapanya Mara, Kris? Hingga minta dibawakan makan siang pula?"
"Ya, biasanya aku dan kamu itu tidak terpisahkan kan? Jadi ketika kamu dibawakan makan siang, seharusnya aku juga dibawakan pula bukan?" ujar Krisna dengan santai.
Dewa mendengkus kesal. Bisa-bisanya perjaka tua itu melontarkan sebuah ucapan yang menggelitik telinga. "Dasar tidak ada akhlak kamu Kris! Kamu pikir aku mau berbagi istri denganmu?"
"Ya, bisa dikatakan seperti itu Wa. Namun hanya sebatas berbagi kebutuhan isi perut saja kok bukan kebutuhan bawah perut."
Dewa semakin terperangah. Bisa-bisanya sang asisten mengatakan hal seperti itu. "Benar-benar gila kamu Kris!"
Mara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua lelaki yang tengah berdebat yang sama sekali tidak berfaedah itu. "Sudah, sudah Mas. Hentikan perdebatan kalian itu. Lebih baik sekarang kita makan sama-sama. Aku sudah memasak rawon untuk kalian."
"Itu artinya, aku juga bisa ikut makan siang kan Ra?"
Mara mengangguk mantap. "Tentu bisa Mas. Kebetulan aku juga membawa dalam porsi yang banyak."
"Sayang, seharusnya kamu tidak perlu membawakan makan siang untuk Krisna. Biarkan dia mencari makan di luar." timpal Dewa seakan tidak rela jika harus berbagi masakan sang istri pula.
"Sudahlah Mas. Ayo kita makan. Mumpung masih hangat."
Mara mulai membuka rantang susun yang ia bawa. Diiringi Dewa yang juga mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sang istri. Dan ketiganya pun larut dalam suasana hangat sembari menikmati sajian rawon yang dimasak oleh nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu.
Ceklek....
Terdengar pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar. Mara, Dewa, dan juga Krisna yang sebelumnya fokus dengan menu makanan siang yang ada di hadapannya, kini mereka alihkan ke arah pintu. Dan seketika netra milik mereka terbelalak sempurna dan bibir mereka menganga lebar.
"Dita!!"
.
.
. bersambung....
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1