
Dengan diterbangkannya puluhan lampion ke langit yang memayungi tepi pantai ini, menjadi pertanda bahwa pesta telah usai. Para tamu yang sebelumnya memadati tempat di selenggarakannya acara resepsi pernikahan Dewa dan Mara, kini mulai membubarkan diri untuk bisa beristirahat di hotel yang telah dipersiapkan.
"Apa yang kamu impikan dengan pernikahan kita ini Sayang?"
Sembari membaringkan tubuh di bibir pantai, Dewa dan Mara masih terlihat begitu menikmati pesona lampion-lampion yang memenuhi langit. Cahayanya yang terang yang beradu dengan hamparan langit luas nan pekat seakan menjadi pemandangan malam yang terlihat begitu memukau. Lampion-lampion itu laksana mimpi-mimpi serta harapan yang mereka langitkan kepada sang pencipta.
"Aku hanya berharap pernikahan kita ini menjadi sebuah jalan untuk kebahagiaanku, Mas. Kebahagiaan yang dari dulu seperti tidak pernah berteman baik denganku, dan seakan menjauh dari sisiku."
Tatapan mata gadis yang telah resmi menjadi nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu terlihat menerawang sembari menatap lekat puluhan lampion yang beterbangan itu. Sekilas, memory otaknya dipenuhi oleh bayang-bayang kejadian demi kejadian yang selalu menemani jalan hidupnya. Kejadian yang begitu pelik untuk dihadapi oleh seorang gadis yang baru akan menginjak usia dua puluh tahun, dan hanya menyisakan kesedihan yang teramat mendera dalam hatinya.
"Sesederhana itu?"
Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang istri, ia mencoba menegaskan apa yang diucapkan oleh Mara. Hidup yang selalu dilimpahi oleh kemewahan dan serba ada, seakan membuatnya beranggapan bahwa kata 'bahagia' yang diucapkan oleh Mara merupakan kata yang begitu sederhana.
Mara menganggukkan kepalanya. "Ya, aku hanya ingin bahagia Mas. Pastinya hidup bahagia bersamamu."
Pandangan mata Dewa yang sebelumnya fokus melihat hamparan langit yang sudah dihiasi oleh lampion-lampion itu, kini ia geser untuk menatap lekat wajah sang istri yang berbaring di sampingnya. Ia memiringkan posisi tubuhnya, untuk dapat lebih dekat dengan sang istri tercinta. Tangannya terulur untuk menyentuh tangan Mara, dan kemudian ia tarik untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
Dewa mendekap erat tubuh Mara sembari memberikan kecupan-kecupan lembut di pucuk kepala sang istri. "Aku berjanji akan menggunakan seluruh sisa hidupku untuk bisa membahagiakanmu Sayang. Mungkin aku tidak setampan laki-laki yang berada di luar sana dan di matamu pun usiaku sudah tua, namun dapat aku pastikan bahwa aku akan senantiasa membahagiakanmu."
Mara sedikit mengurai pelukannya dari tubuh Dewa. Kepalanya mendongak, dan kini ia bisa dengan jelas menatap wajah sang suami yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat ketampanan yang begitu kentara.
Mara tersenyum simpul. Ia telusuri setiap lekuk wajah sang suami dengan jemarinya dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.
"Bagiku kamu adalah lelaki paling tampan yang pernah aku temui Mas. Meski usia kita terpaut jauh, aku justru semakin merasa nyaman berada di sisimu. Sejak pertama pertemuan kita, aku seperti mendapatkan kembali apa itu kebahagiaan. Dan aku berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir."
Dewa menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Ia raih dagu Mara dan mengecupnya dengan intens. Pagutan bibir yang terasa begitu lembut dan mengalirkan kehangatan di setiap aliran darah keduanya.
"Begitu pula aku Sayang. Kehadiranmu seakan menjadi kebahagiaan untukku. Gadis asing yang pernah tersangkut di atas pohon yang aku temui beberapa waktu yang lalu, ternyata saat ini menjadi pendamping hidupku."
__ADS_1
Mara terkekeh kecil. Memory otaknya memutar ulang saat-saat pertama kali ia dan Dewa dipertemukan. Sebuah pertemuan yang begitu unik yang pastinya sukar untuk dilupakan.
"Dan aku pun juga tidak percaya bahwa lelaki yang berteriak frustrasi di dekat curug ternyata akan menjadi suamiku." Mara menghela nafas, menjeda sejenak ucapannya. "Kalau boleh tahu, mengapa kamu memilihku untuk menjadi istrimu Mas?"
"Kamu benar ingin tahu?"
"Ya, aku ingin tahu Mas."
Dewa kembali meraih dagu Mara dan mengecupnya lagi. "Karena kamu adalah penawar kesakitanku!"
Dahi Mara sedikit mengerut dan kedua alisnya bertaut. "Penawar kesakitanmu? Maksud kamu bagaimana Mas?"
"Dalam luka atas penghianatan yang dilakukan oleh mantan istriku, ternyata takdir justru mempertemukanku denganmu. Gadis cantik dengan segala pesona yang sungguh bisa mengalihkan duniaku. Bahkan tidak hanya aku saja, adikku pun juga hanya menginginkanmu."
Kedua bola mata Mara membola. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. "Adikmu? Adikmu yang mana Mas? Mengapa sampai saat ini aku tidak pernah bertemu dengannya?"
Dewa terkikik geli. Ia baru ingat jika tentang hal-hal seperti ini, sang istri masih belum terlalu paham. Tangan Dewa terulur untuk meraih jemari tangan Mara, perlahan ia pandu untuk memegang juniornya.
"Adikku yang ini!"
Dewa mengangguk. "Ya, aku yang berupaya mati-matian untuk sembuh dari sakitku, ternyata seketika sembuh hanya karena bertemu denganmu."
"M-maksudmu?"
Dewa menghirup udara dalam-dalam. "Karena kecelakaan yang aku alami beberapa bulan yang lalu, membuatku kehilangan fungsi dari yang kamu pegang ini. Aku impot*en hingga pada akhirnya ditinggalkan oleh mantan istriku karena tidak bisa memuaskannya di atas ranjang. Namun taukah kamu Ra, semenjak pertemuan kita, milikku ini kembali normal."
"Normal?" tanya Mara masih menuntut untuk meminta penjelasan.
"Ya, aku sembuh dari impot*enku sejak pertama dadaku bersentuhan dengan dadamu." Dewa menjeda sejenak ucapannya dan kembali ia lanjutkan. "Aku kira aku sudah benar-benar sembuh. Tapi ternyata itu semua sedikit keliru."
"Keliru? Maksudnya bagaimana lagi Mas?"
__ADS_1
Dewa membelai pipi Mara dengan lembut sembari melengkungkan senyum manis di bibirnya. "Ternyata milikku ini hanya memberikan respon ketika bersamamu. Dan jika tidak bersamamu, aku masih tetap berada dalam mode turn off."
"Apa yang menjadi dasar kamu mengatakan hal itu Mas?"
"Sesaat sebelum aku terkena sengatan tawon itu, Melly yang merupakan salah satu model brand ambassador produk yang aku miliki pernah mendatangi ruanganku. Dia mencoba untuk menggodaku, bahkan merangsangku untuk bisa bercinta dengannya. Namun tahukah kamu apa yang terjadi?"
Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, aku tidak tahu."
"Milikku tetap tertidur, sama sekali tidak mengeluarkan respon apapun. Seberapa kuat Melly menggodaku, nyatanya milikku tidak berdiri sama sekali. Sedangkan hanya dengan melihat gambar wajahmu yang tersimpan di ponselku, milikku ini langsung berdiri seketika."
Mara bergeming, mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan oleh Dewa. Dewa kembali mengecup kening sang istri dengan penuh sayang.
"Setelah aku mengatakan hal ini, kamu jangan beranggapan bahwa aku menikahimu hanya sebatas penawar dari impot*enku, Sayang. Meskipun itu merupakan salah satunya, namun aku menikahimu karena aku benar-benar telah jatuh hati kepadamu. Aku sungguh mencintaimu. Hal itulah yang membuatku berupaya mati-matian untuk bisa memilikimu. Dan satu hal lagi..."
"Apa itu Mas?"
"Ibumu pernah mendatangiku, memintaku untuk menjagamu dan membahagiakanmu. Aku menyanggupinya. Dan aku rasa tidak ada cara lain untuk bisa menunaikan janji itu selain dengan mengikatmu ke dalam sebuah ikatan pernikahan seperti ini. Dengan menjadikanmu sebagai istriku, aku percaya bahwa aku sanggup untuk menunaikan itu semua."
Hati Mara menghangat. Kali pertama ia merasakan apa itu jatuh cinta dan ternyata cinta pertamanya itulah yang saat ini menjadi pendamping hidupnya. "Terimakasih banyak Mas, terimakasih."
Dewa semakin mendekatkan wajahnya di wajah Mara. Tanpa basa-basi, lelaki itu memagut bibir merah sang istri yang terlihat begitu menggoda. Keduanya pun larut dalam ciuman intim ini. Pastinya masih disaksikan oleh rembulan, bintang-bintang dan diiringi oleh orkestra alam dari deburan ombak yang bergulung-gulung memecah karang.
Dewa melepaskan pagutannya. Ia tatap netra Mara dengan teduh. "Apakah malam ini kamu sudah siap?"
Kedua bola mata Mara menyipit. "Siap untuk apa Mas?"
Bibir Dewa menyentuh telinga Mara, lirih ia berbisik. "Siap untuk merasakan apa itu surga dunia dan menjadi istriku seutuhnya?"
.
.
__ADS_1
. bersambung...
Part MP, semoga bisa hadir di part selanjutnya ya kak..😅😅🙏🙏