Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 60 : Kan, Kan, Kan, Apes Lagi


__ADS_3


"Masuklah, hibur bos ku yang tengah patah hati itu. Barangkali setelah kedatanganmu dia bisa kembali ceria."


Dengan menggandeng Melly yang merupakan model brand ambassador produk lingerie terbaru PT WUW, Krisna berdiri di depan pintu ruangan Dewa.


Melly yang masih bergelayut manja di lengan Krisna itu hanya bisa menatap penuh tanda tanya apa gerangan yang menjadi maksud asisten bos besar di kantor ini.


"Mengapa harus aku sih Kris? Apa yang bisa aku dapatkan dari bos mu itu?" Melly berbisik lirih ke arah telinga Krisna. "Bukankah bos mu itu tidak bisa ere*ksi? Jadi bagaimana bisa aku mendapatkan kepuasan?"


"Tenang, Dewa sudah sembuh. Jadi kamu akan tetap bisa mendapatkan kepuasan."


"Serius? Kok bisa cepat sekali?" Melly bertanya dengan raut wajah penasaran.


Krisna hanya mengendikkan bahunya. "Entahlah, yang pasti dia sudah sembuh. Masuklah dan hibur Dewa!"


Sebagai seorang asisten pribadi sekaligus sahabat terbaik Dewa, Krisna mencoba untuk menyenangkan hati sang bos dengan mengirimkan untuknya seorang model super seksi ke ruangannya. Krisna berharap penuh dengan kedatangan model ini, sang bos bisa bermanja-manja mesra tentunya bisa sembari mencoba senjata miliknya yang telah kembali pulih.


Pandangan Krisna menerawang jauh. Ia berangan-angan akan apa yang diberikan oleh Dewa tatkala ia berhasil mengirimkan sesosok makhluk seksi untuk dapat ia 'pergunakan."


Model itupun masuk ke dalam ruangan di mana Dewa berada. Yang dituju nampak sedang berdiri di depan jendela ruangan di mana melalui tempat ini, ia bisa melihat dengan jelas gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh menjulang tinggi.


Dihiasi oleh awan putih yang membentuk bulu-bulu domba seakan menjadi perisai bagi para penduduk bumi dari sinar matahari yang terasa begitu terik.


Grep!!


Melly mendekat ke arah Dewa dan kemudian memeluk tubuh lelaki itu dari belakang.


Tubuh Dewa melonjak seketika. "Hei, apa-apaan ini?"


Lelaki itu mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Melly. Namun sayang, untuk hal-hal semacam ini power Melly sangatlah kuat. Sehingga tidak ada satupun celah yang dapat Dewa gunakan untuk bisa lepas dari pelukan Melly.


"Wa... Aku datang untuk menghibur dan memanjakanmu!"


Model itu masih mendekap erat tubuh Dewa. Kini ia mulai melancarkan aksinya. Tangannya turun menyusuri perut Dewa dan turun lagi untuk menyentuh pisang tanduk milik lelaki ini.


Dengan lembut, Melly mulai memijit-mijit buah kebanggaan milik kaum lelaki ini. Tidak hanya memijit-mijit, Melly pun meraba-raba dengan lembut senjata milik Dewa. Berharap senjata itu akan memperlihatkan reaksinya.

__ADS_1


Wanita itu masih berusaha keras untuk membuat pisang tanduk milik Dewa memperlihatkan reaksinya. Bahkan ia mulai mencumbu tengkuk leher milik lelaki di dalam dekapannya ini sembari menggigit kecil lehernya. Tidak sampai di situ, Melly juga mulai menyapu telinga Dewa dengan lidahnya, untuk semakin mempercepat reaksi dari senjata milik Dewa ini.


Dewa bergeming. Lelaki itu mencoba fokus untuk merasakan apa yang dilakukan oleh Melly namun hingga sepuluh menit berlalu, pisang tanduknya bahkan tubuhnya tidak memberikan respon apapun. Pisang tanduk miliknya ini tetap berada dalam mode turn off.


Melly mulai jengah. Model itu mendengkus kesal dengan bibir mengerucut. "Ternyata apa yang dikatakan oleh asisten pribadimu itu hoax. Tadi ia mengatakan bahwa kamu sudah bisa turn on, tapi nyatanya tetap letoy."


Dewa hanya tersenyum simpul. "Lagipula mengapa kamu percaya-percaya saja dengan apa yang diucapkan oleh Krisna? Orang itu bukankah sering melancarkan aksi tipu-tipu? Jadi mengapa kamu percaya begitu saja?"


"Ya barangkali saja memang benar bahwa kamu sudah pulih. Dan aku ingin memanjakanmu dengan bercinta denganku."


Dewa tergelak. Sembari kembali duduk di kursi kebesarannya, ia mencoba untuk menanggapi ucapan Melly. "Meskipun aku sudah sembuh, namun aku tidak akan pernah bermain denganmu Mel. Aku tidak berhasrat kepadamu."


Dahi Melly sedikit mengerut. "Kamu tidak berhasrat kepadaku? Jangan-jangan kamu benar-benar homo?"


Model itu benar-benar tidak habis pikir bahwa bos besar di PT WUW ini sama sekali tidak berhasrat kepadanya. Padahal Melly adalah salah satu model papan atas yang memiliki pesona yang begitu memikat. Wajah, rambut, dan juga lekuk-lekuk tubuhnya sungguh hanya bisa membuat mata para kaum lelaki terbelalak sempurna bahkan sampai mengeluarkan air liur mereka karena begitu terkesima.


"Entah homo atau bukan, yang jelas aku tidak berhasrat kepadamu. Sekarang pergilah dari ruanganku!" titah Dewa tanpa bisa dibantah.


Melly kembali mendengkus kesal. Dengan bibir mengerucut dan hati yang dipenuhi oleh rasa dongkol, wanita itu mulai pergi meninggalkan ruangan Dewa.


Dewa menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Kepala lelaki itu sedikit mendongak ke atas, menatap langit-langit ruangannya. Tanpa mengalihkan pandangan matanya, Dewa merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih yang ada di dalam sana.


Ya Tuhan... Melly yang berusaha mati-matian untuk membuatku terangsang nyatanya gagal total. Namun kini, hanya dengan menatap lekat foto Mara saja, milikku ini bisa langsung memberikan respon. Apakah ini adalah salah satu pertanda bahwa Mara adalah jodoh yang telah Engkau persiapkan untukku?


Dewa sibuk ber monolog dalam hati. Lelaki itu benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi kepada dirinya sendiri. Karena pisang tanduk miliknya ini hanya akan turn on tatkala berada di hadapan Mara. Dan pada akhirnya, duda itu terhanyut dalam pikirannya sendiri.


***


Mara melangkahkan kakinya menyusuri jalan kecil untuk menuju kontrakan dengan raut wajah yang dipenuhi oleh keceriaan. Saat-saat seperti inilah yang disukai oleh gadis itu. Di mana ia pulang dari tempat bekerja dan kembali berkumpul bersama sang ayah.


Setelah menimbang-nimbang dan berpikir jernih, Mara kembali menerima tawaran Dewa untuk bekerja kembali di PT WUW. Ia hanya tidak ingin untuk menganggur di masa-masa seperti ini. Ia paham bahwa kebutuhannya semakin hari akan semakin bertambah besar.


"Ayah... Mari Mara mandikan. Biar badan ayah terasa lebih segar."


"Iya Ra. Ayah juga merasa sangat gerah sekali."


Setelah meletakkan tas yang ia bawa di atas bufet rendah yang berada di ruang tengah, Mara menghampiri sang ayah. Saat pulang seperti ini merupakan waktunya untuk mengurus sang ayah yang masih setia duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Setelah mandi tubuh ayah pasti akan segar kembali."


Mara mulai memapah tubuh sang ayah. Dengan perlahan dan hati-hati, gadis itu menuntun sang ayah untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dan mulailah ritual gadis itu untuk memandikan sang ayah tercinta.


Beberapa saat kemudian...


Setelah selesai semua urusan sang ayah, seperti biasa di sore hari seperti ini Mara disibukkan dengan menyiram tanaman-tanaman hias yang ada di teras kontrakan yang ia tempati. Tanaman-tanaman hias yang tertata rapi di dalam pot plastik putih seakan menimbulkan kesan estetik bagi siapapun yang melihatnya. Tanaman-tanaman yang tumbuh subur juga seakan menandakan si empunya merupakan salah seorang yang telaten merawat tanaman.


Tak jauh dari tempat Mara menyirami tanaman, terlihat seorang lelaki tengah berdiri di bawah pohon waru memperhatikan dengan lekat apa yang dilakukan oleh gadis itu. Entah hal apa yang mendasarinya, ia teramat bersemangat untuk menguntit gadis itu. Hanya dengan melihat gadis itu dari jarak jauh seperti ini sungguh sudah sangat bisa membuatnya bahagia tiada terkira.


Gerombolan anak-anak yang tengah bermain bola sepak di tanah lapang yang berada tak jauh dari tempat lelaki itu berdiri terlihat begitu menikmati aktivitas mereka. Mereka tertawa lepas seakan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka begitu bahagia melewati masa-masa kecil mereka. Hingga pada akhirnya, bola sepak yang ditendang oleh salah satu anak kecil itu melambung tinggi hingga mengenai bagian pohon yang menjadi tempat lelaki itu bersembunyi dalam menjalankan aksinya menguntit.


Namun tiba-tiba....


Nguingg... Nguingg.... Nguingg....


Suara yang berdengung nyaring tiba-tiba terdengar di indera pendengaran lelaki itu. Suara itu terdengar semakin lama semakin dekat. Dahi lelaki itu mengerut. Ia paham betul suara apakah itu. Ia membalikkan badannya dan seketika matanya terbelalak dan membulat sempurna. Dan....


"Aaaaaaaaa..... Tawoonnnnnn!!!!!"


Lelaki itu mencoba lari dari kejaran gerombolan tawon yang mengejarnya. Tawon-tawon itu menganggap bahwa lelaki inilah yang mengganggu ketentraman rumah mereka. Hingga pada akhirnya mereka memilih untuk memberi pelajaran kepada lelaki itu. Naas, lelaki itu tidak dapat menghindar lagi. Dan akhirnya, ia pun dikerubungi oleh gerombolan tawon itu.


"Kyaaaaaaaaaa.... Sakiiiiiitttt!!"


.


.


. bersambung...


😅😅😅😅😅😅


Mohon maaf karena akhir-akhir ini saya jarang sekali membalas komentar kakak-kakak semua ya... Itu semua murni karena pekerjaan saya di RL. Namun percayalah bahwa saya membaca semua komentar-komentar kakak, dan pastinya bisa membuat saya lebih bersemangat. Semoga part ini bisa menghibur ya kak...🤗🤗


Alhamdulillah kita sudah sampai di episode 60. Tetap ikuti kelanjutan cerita DeRa ini ya Kak...


Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua....

__ADS_1


Salam love, love, love ❤️❤️❤️


__ADS_2