Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 36 : Tanda Bahaya


__ADS_3


"Gila, gila, gila... Ternyata setelah kehilangan Dita, kamu bertemu dengan gadis super hot seperti itu Wa!"


Krisna tiada henti memuji kesempurnaan tubuh yang dimiliki oleh gadis yang baru beberapa hari Dewa kenal itu. Ia yang tengah berjalan bersisihan dengan Dewa di belakang Mara, tidak henti-hentinya memandang sebuah pemandangan yang begitu memesona. Seakan membuat kewarasannya hilang entah kemana.


"Hot, hot, hot, kamu pikir gadis itu hot and cream?"


Dewa yang mendengar celotehan tidak berfaedah dari mulut asistennya ini berkali-kali berdecak kesal. Pasalnya sedari tadi, perjaka tua itu tiada henti memuji gadisnya.


Hello... gadisnya? memang sejak kapan elu jadian sama Mara, Om?? (author 🙄)


"Tapi sumpah Wa, sepanjang sejarah aku bermain-main dengan wanita di luar sana, hanya Mara lah gadis yang terlihat begitu berbeda. Waaaoowwww body nya Wa... Uuhhhhh membuat milikku tiba-tiba berdiri!"


Pletak!!!


"Jangan macam-macam kamu Kris! Awas saja kalau kamu sampai berani menggoda gadis itu!"


Dewa tidak segan-segan memberikan sebuah peringatan jika sampai asisten pribadinya itu berani mengganggu Mara. Meskipun sampai saat ini keduanya belum memiliki hubungan yang jelas, namun ada sedikit rasa tidak rela jika sampai Krisna mengganggu apa yang menjadi miliknya.


Sedangkan Krisna, lelaki itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Ia sangat tidak paham mengapa bos nya ini teramat sangat tidak menyukai jika dirinya sampai menyentuh gadis itu.


"Hei, Wa... Ada hak apa kamu melarangku untuk mendekati Mara? Memang kamu siapa? Kekasih Mara?"


"Aku katakan jangan ya jangan. Kamu terserah ingin mencari wanita seperti apa saja di kota ini, namun yang pasti, jangan mengganggu ataupun menyentuh Mara, dia....."


"Waaaaaowwww.... Sungguh sangat sempurna ciptaan Mu Tuhan!"


Ucapan Dewa terpangkas tatkala terdengar celetukan lirih yang terlontar dari bibir Krisna. Dewa menatap heran wajah asistennya ini yang sepertinya tengah terperangah dengan sebuah objek yang ia lihat. Mata lelaki itu tiada berkedip sama sekali dan mulutnya kembali menganga lebar.


Dewa menautkan pandangannya ke arah sorot mata Krisna dan....


Dewa berlari menyusul Mara yang sudah berjalan jauh di depannya. Angin yang berhembus kencang, membuat bagian belakang dress motif floral yang dipakai oleh Mara berayun-ayun dan sedikit terangkat ke atas, hingga memperlihatkan paha putih mulusnya.


"Tuan, apa yang Tuan lakukan?!"


Mara terkesiap tatkala Dewa memeluknya dari belakang.


"Sssstttt diam, aku hanya sedang melindungi tubuhmu dari incaran buaya."


Kedua alis Mara saling bertaut. "Buaya? Ini pantai Tuan, bukan rawa ataupun sungai. Jadi tidak akan ada buaya di sini."


Dewa meletakkan kepalanya di ceruk leher Mara dan lirih ia berucap. "Ini lebih berbahaya daripada buaya rawa ataupun sungai, Ra. Jika buaya rawa tidak pandang bulu akan memangsa siapa saja, namun jika buaya ini, hanya gadis-gadis cantik yang akan menjadi mangsanya."


Mara seakan kian tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. "Benarkah seperti itu? Buaya apa itu Tuan?"


"Buaya darat yang berekor buntung."


Mara hanya berdecak, tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Tuan asing di dekatnya ini. "Tuan, bisakah Tuan melepaskan pelukan ini?"

__ADS_1


Tidak dapat dipungkiri jika tubuh Mara seakan meremang, merasakan hembusan nafas Dewa di ceruk lehernya seperti ini. Hembusan nafas yang terasa begitu sensual dan intim yang membuatnya merasakan sesuatu yang.... aaahhhhh.... entah apa itu. Mara sendiri pun tidak sanggup untuk mendeskripsikannya.


Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak Ra, aku merasakan begitu nyaman jika dalam posisi seperti ini." Dewa menghirup aroma tubuh Mara dalam-dalam yang sudah menjadi sebuah candu untuknya. "Jika dalam posisi seperti ini, apa yang kamu rasakan Ra?"


"S-Saya?" ucap Mara sedikit kikuk.


"Ya, katakan. Apa yang kamu rasakan?"


Mara sedikit membuang nafas kasar. "Saya merasa merinding Tuan. Terlebih dengan hembusan nafas Tuan yang begitu terasa ini."


"Apakah hanya itu? Tidak ada yang lain?"


Hati Mara seakan dipenuhi oleh tanda tanya dengan apa yang diucapkan Dewa. "Yang lain? Maksud Tuan?"


Dewa melerai sedikit pelukannya. Tubuh Mara yang sebelumnya membelakanginya, ia putar dan kini keduanya saling berhadapan. Dewa tersenyum manis. Ia usap pipi Mara dengan lembut.


"Jika kita berjarak dekat seperti ini, apakah di dalam dadamu, kamu merasakan sebuah getaran asing yang sama sekali belum pernah kamu rasakan sebelumnya?"


Mara menatap teduh kedua manik mata lelaki yang ada di hadapannya ini. Ia seakan terpukau dengan segala pesona yang tersimpan di raut wajah lelaki dewasa ini. Pesona itulah yang seakan membuat kepala Mara mengangguk begitu saja. Membenarkan apa yang diucapkan oleh Dewa.


"Iya Tuan. Saya merasa jantung saya berdegup kencang tiada beraturan. Apakah mungkin Tuan merupakan sumber penyakit untuk saya?"


Kedua bola mata Dewa membulat. "Sumber penyakit? Maksud kamu bagaimana Ra?"


"Ya, saya merasakan degup jantung yang tiada beraturan seperti ini selalu ada hanya ketika saya berada di dekat Tuan. Mungkinkah semenjak bertemu dengan Tuan, saya terkena penyakit kelainan jantung?"


Dewa tergelak lirih. Ia bergumam dalam hati, mungkinkah gadis ini benar-benar polos? Sampai-sampai ia tidak paham dengan perasaan cinta yang tiba-tiba menyapanya.


"Ra... Sadarkah kamu, jika aku juga merasakan hal yang sama? Sama sepertimu. Aku pun juga merasakan debaran jantung yang seolah tiada terkendali tatkala berada di dekatmu." Dewa mengangkat dagu Mara dan ia usapkan jemarinya di bibir lembab gadis itu. "Besok malam, aku ingin kembali mengajakmu untuk dinner. Pada saat itu, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"Sesuatu apa itu Tuan? Tidak bisakah Tuan mengatakan saat ini saja?"


Dewa mendekatkan wajahnya ke arah bibir Mara. Lagi, lelaki perjaka setengah duda itu mendaratkan kecupannya di atas bibir Mara. Ia sedikit menarik tengkuk Mara untuk dapat memperdalam ciumannya. Tak selang lama, Dewa mengakhiri kecupannya itu dan kembali menatap teduh manik mata milik sang gadis.


"Kamu adalah gadis istimewa yang pernah aku temui, Ra. Dan aku pun ingin mengatakan itu semua dalam sebuah suasana yang istimewa pula."


Mara hanya menunduk malu. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini dari seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kehidupannya. Kehidupan yang sebelumnya ia lalui dengan monoton, kini seakan jauh lebih berwarna dengan kehadiran duda itu.


Dewa kembali mengangkat dagu Mara, dan ia kecup lagi bibir gadis itu. Kini keduanya larut dalam pagutan-pagutan mesra disaksikan oleh deburan ombak, burung-burung camar yang menghiasi langit, dan gumpalan awan putih yang membentuk bulu-bulu domba. Tidak ketinggalan beberapa pasang mata menatap intens apa yang dilakukan oleh dua manusia berbeda usia itu.


"Akhirnya tanpa aku bujuk pun, Dewa akan membawa Mara ke Bogor, dan bisa aku pastikan mereka akan segera menikah. Dan aaahhhh... rumah baruku... aku akan datang menyambutmu." lirih Krisna sedikit girang, karena misi yang dilimpahkan oleh oma Widuri akan segera berhasil.


Tidak jauh dari tempat Dewa, Mara, dan Krisna berada, nampak dua pasang sorot mata yang terlihat begitu membidik ke arah gadis belia itu. Pemilik mata itu seakan tidak menyukai jika sang gadis mendapatkan perlakuan manis seperti itu. Tangannya sedikit mengepal dan rahangnya mengeras. Seperti menandakan emosi dalam jiwanya tengah menguasainya.


"Benar-benar wanita penggoda. Entah apa yang ia pakai hingga bisa mendapatkan laki-laki kaya raya seperti itu," ucap Tanti sedikit geram karena melihat sang anak tiri mendapatkan sebuah keberuntungan.


"Sepertinya kita harus bergerak cepat Bu. Jika kita menunda-nunda lagi, aku khawatir mereka akan segera pergi dari sini," timpal Puspa memberikan sebuah usul.


"Ya, itu benar Pus. Kita ikuti dia. Jika keadaan sudah memungkinkan, kita langsung melakukan rencana kita."

__ADS_1


"Baik, Bu."


***


"Apa benar, kamu tidak mau ikut bersamaku Ra? Aku hanya ingin melihat lahan kosong yang akan dijual. Karena aku berencana untuk melebarkan sayapku dengan mendirikan pabrik konveksi di kota ini."


Kedatangan Krisna di kota ini tidak hanya dalam misi khusus yang diberikan oleh oma Widuri kepadanya. Selain itu, sudah sejak lama Dewa membuat sebuah rencana untuk melebarkan sayapnya dengan mendirikan pabrik konveksi di kota ini. Sehingga saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai rencana itu. Setelah mendapatkan informasi bahwa ada lahan kosong yang lumayan luas yang akan dijual, Krisna gegas mem-follow up informasi itu kepada Dewa, dan Dewa pun menyetujuinya.


"Saya di sini saja Tuan. Rasa-rasanya tubuh saya juga sedikit lelah. Saya ingin beristirahat saja dengan duduk-duduk di tepi pantai seperti ini."


"Tapi aku khawatir dengan keselamatanmu Ra, kamu ikut saja denganku," ucap Dewa kembali membujuk.


"Benar apa kata Dewa, Ra. Kamu ikut saja dengan kami. Jika kamu sampai diculik bagaimana? Kami kan jadi sedih," timpal Krisna dengan memasang wajah imut meskipun ia tidak imut sama sekali.


Mara terkekeh. "Tuan tenang saja. Saya akan baik-baik saja di sini. Lagipula duduk di bawah pohon cemara sambil memandangi laut lepas seperti ini sangatlah menenangkan, dan saya tidak ingin kehilangan momen seperti ini. Karena sebentar lagi, mungkin saya akan sangat jarang menikmati suasana pantai seperti ini."


Dewa dan Krisna saling melempar pandangan dan sama-sama mengendikkan bahu.


"Baiklah jika memang seperti itu. Namun, kamu harus berjanji jika kamu tidak akan kemana-mana. Dan jika hari sudah semakin terik, kamu harus segera kembali ke kamar. Aku tidak ingin kulitmu terbakar dan kemudian menghitam karena sengatan sinar matahari, Ra."


Mara tergelak. "Tuan ini ada-ada saja. Bukankah jika kita sering berada di bawah terik sinar matahari, kulit kita akan terlihat jauh lebih eksotis? Lihatlah para turis-turis asing itu. Mereka rela berjemur di bawah terik sinar matahari seperti ini untuk membuat kulit mereka eksotis."


"Hemmmm kamu ternyata pandai berdebat Ra." Dewa beranjak untuk segera pergi meninjau lahan kosong yang ditawarkan kepadanya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan...


Cup...


"Kamu hati-hati Ra. Aku akan segera kembali," ucap Dewa sembari mencium pucuk kepala Mara. Sedangkan yang dikecup hanya malu-malu meong.


"Tuan juga hati-hati di jalan."


"Hemmm... Sepertinya aku sudah mencium aroma-aroma budak cinta di sekitar sini. Ingat umur Wa, ingat umur!"


Dewa hanya bersikap acuh. Ia mulai melangkahkan kaki meninggalkan Mara, diikuti oleh Krisna di belakang punggung sang bos. Sedangkan Mara, ia masih terlihat begitu menikmati suasana pantai di siang hari ini. Ia bersandar di batang pohon cemara dan melihat laut lepas yang terbentang luas di hadapannya.


Pohon-pohon yang tengah melakukan proses fotosintesis di siang hari seperti ini semakin membuat tubuh Mara terasa lebih segar. Dengan oksigen yang dihasilkan oleh proses fotosintesis itu seakan membuat tubuh Mara disuplay oleh udara baru yang masih sangat segar. Udara yang sama sekali belum terkontaminasi oleh polusi.


Semilir angin yang membelai wajah Mara, membuat mata gadis itu terasa berat seakan didera oleh rasa kantuk yang teramat sangat. Matanya, semakin lama semakin terpejam dan sepertinya ia larut dalam buaian mimpi-mimpinya.


Dua orang yang sedari tadi mengawasi pergerakan Mara, seakan tersenyum lebar tatkala melihat Mara sudah dalam keadaan tertidur pulas.


"Pus, ini saatnya menjalankan rencana pertama kita!"


"Hahaha benar sekali Bu. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjadi orang kaya."


"Begitu pun dengan aku." Pandangan mata Tanti sedikit menerawang. "Oohhh tiga hektar lahan jatiku... Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku Sayang..."


"Hahaha haahaahaa..."


.

__ADS_1


.


. bersambung....


__ADS_2