
Brak!!!!
Dewa menghempaskan pintu mobilnya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras di indera pendengaran. Duda setengah perjaka itu mengambil langkah kaki lebar untuk bisa segera menjangkau lelaki yang saat ini masih nangkring di atas motor. Kali ini, ia tidak ingin membiarkan lelaki itu pergi begitu saja.
Dada Dewa terasa begitu bergemuruh. Ia tidak rela jika gadis yang ia cintai mendapatkan penghianatan dari lelaki yang merupakan saingan terberatnya.
"Eiittssss... Tunggu, tunggu, tunggu!"
Dewa mencoba mencegah Pramono agar tidak beranjak dari tempatnya dengan mencekal pundak lelaki itu.
Arimbi dan Pramono sama-sama terkejut setengah mati tatkala melihat kehadiran Dewa dengan raut wajah yang sudah terlihat tidak mengenakkan.
"Anda...?" ucap Pramono menggantung seraya mengingat-ingat siapa lelaki di depannya ini.
"Pak Dewa?" ucap Arimbi saat mengetahui sang bos menghampiri kekasihnya.
Dewa menautkan pandangannya ke arah Arimbi. "Ohhh jadi kamu salah satu karyawan di pabrikku?"
Arimbi mengangguk. "Iya Pak, saya memang karyawan di pabrik Bapak."
"Lalu, siapa lelaki ini? Mengapa dia terlihat begitu dekat denganmu?" Dewa bertanya seraya menunjuk ke arah wajah Pramono.
"Dia kekasih saya Pak. Lebih tepatnya calon suami saya." Tanpa ragu Arimbi menjawab pertanyaan sang bos. Karena memang keduanya akan segera menikah.
Kedua bola mata Dewa berotasi sempurna. "Calon suami?"
"Iya Pak, mas Pram ini adalah calon suami saya!"
Dewa menatap sinis wajah Pramono. Tatapan duda sedikit perjaka itu tidak hanya sinis tapi juga begitu membidik seperti seekor singa sedang kelaparan.
Dasar buaya. Bisa-bisanya dia menjanjikan sebuah pernikahan kepada orang lain, padahal dia juga akan menikah dengan Mara. Lelaki apaan ini? Hmmmmm.. Tapi tenang Wa, kamu harus tenang menghadapi lelaki buaya seperti ini. Setelah ini yakinlah bahwa Mara akan menangis sesenggukan dan menumpahkan segala kesedihannya di atas pundakmu. Dan pasang badanmu untuk bersiap menjadi sandaran hatinya.
"Ayo ikut aku!" titah Dewa kepada Pramono yang masih memasang wajah keheranannya.
"Maksud Bapak bagaimana? Saya harus segera berangkat kerja!"
"Aku akan ganti gajimu hari ini lima kali lipat asal kamu ikut aku sekarang!"
Pramono terkesiap. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia merasa tidak pernah membuat masalah dengan bos di pabrik tempat kekasihnya bekerja ini, namun mengapa ia merasa ada kesalahan besar yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
"T-tapi Pak..."
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu ikut aku!" Dewa kembali menautkan pandangannya ke arah Arimbi. "Dan kamu juga ikut denganku. Akan aku perlihatkan siapa sebenarnya calon suami kamu ini!"
Pramono dan Arimbi saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama terperangah. Namun tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali mengikuti kemauan Dewa. Pramono memasuki pelataran kantor dan memarkirkan motornya di sana. Ia dan Arimbi berjalan beriringan di belakang Dewa mengikuti kemana lelaki itu pergi.
Sedangkan Dewa, duda sedikit perjaka itu berjalan penuh percaya diri. Ia merasa hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan baginya. Hari ini ia layaknya menjadi seorang pahlawan yang berhasil membongkar kebusukan lelaki yang akan menjadi suami gadis yang ia cintai. Padahal, sejatinya ia hanya akan menjadi pahlawan kesiangan yang justru akan membuatnya malu setengah mati.
Ra... Kamu jangan bersedih.. Akan aku pinjamkan pundakku sebagai tempatmu bersandar. Dan jika kamu memerlukan tisu, di ruanganku juga banyak, kamu bisa memakai sepuasmmu. Aku pastikan hanya aku lah yang akan menjadi pelipur laramu, Ra!
***
Ruangan ini terasa begitu dingin, meskipun pendingin ruangan masih berada dalam mode off. Hening, tidak ada yang berucap sama sekali. Pramono, Arimbi dan juga Mara duduk di sofa. Sedangkan Dewa, berdiri sembari menyenderkan pantatnya di meja kerjanya.
"Jadi siapa yang akan berbicara terlebih dahulu?"
Dewa mulai melayangkan sebuah pertanyaan untuk memecah keheningan yang tercipta. Rupa-rupanya lelaki itu sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan akan ada drama memilukan apa setelah ini.
"Mas, sebenarnya maksud kamu mengumpulkan kami di sini dalam rangka apa? Mengapa mas Pram dan mbak Arimbi juga ada di sini?"
Mara setengah terkejut tatkala memasuki ruangan Dewa dengan membawa secangkir kopi, sudah terlihat dua orang yang merupakan kerabat dekatnya juga ikut berada di ruangan Dewa. Dan raut wajah keduanya juga sama-sama nampak kebingungan.
"Oh, jadi kamu juga sudah mengenal Arimbi, Ra?" Dewa bertanya mencoba untuk menegaskan.
Dewa manggut-manggut menelaah setiap kata yang terucap dari bibir Mara.
Hebat sekali lelaki ini, bahkan bisa membuat Mara menganggap Arimbi sebagai saudara sendiri. Padahal ia adalah selingkuhannya.
"Lalu, apakah kamu tidak mencurigai sesuatu Ra?"
Dahi Mara kembali mengerut. "Sesuatu apa Mas?"
"Ya kedekatan Arimbi dengan Pramono?"
Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, aku tidak mencurigai apapun. Memang apa yang harus aku curigai? Aku malah teramat bahagia bisa melihat kedekatan mereka."
Dewa terperangah...
Ya Tuhan, bahkan Mara teramat bahagia melihat kedekatan Pramono dan Arimbi? Apakah itu artinya Mara siap untuk diduakan? Ya Tuhan...
"Apa Ra? Kamu tidak merasa cemburu sedikitpun melihat kedekatan Pramono dan Arimbi? Apa maksudmu Ra? Apa kamu rela jika Pramono menjadikan kamu istri kedua?"
__ADS_1
Dewa berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menjeda ucapannya dan mencoba mengisi rongga dadanya dengan udara. "Ckkkccckkk.. Mengapa kamu rela menjadi yang kedua Ra? Padahal di sini ada aku yang akan menjadikanmu satu-satunya ratu di dalam istana hatiku. Apa yang membutakan hatimu Ra? Apa karena Pramono jauh lebih muda daripada aku? Padahal dari segi ketampanan aku jauh lebih tampan darinya? Tapi mengapa kamu justru memilih lelaki ini?"
Rentetan pertanyaan dilayangkan oleh Dewa layaknya bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki kala itu. Rasa gemas, rasa kesal dan sedikit rasa cemburu menguasai dadanya. Hingga membuat nafasnya terengah-engah.
Krik... Krikk.. Kriikk....
Hening... Mara, Pramono, Arimbi hanya terbengong-bengong melihat apa yang terjadi pada bos besar perusahaan ini. Ketiga orang itu hanya bisa saling melempar pandangan. Sepersekian menit....
"Hahaha haahaahaa...."
Gelak tawa ketiga orang itu membahana, memenuhi ruangan Dewa yang diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Raut wajah sang bos besar yang terlihat begitu konyol seakan membuat perut ketiga orang itu dikocok habis-habisan. Benar-benar sebuah pemandangan langka seorang bos besar namun tingkahnya begitu konyol hanya karena dia tengah mengalami apa itu yang namanya jatuh cinta.
Dahi Dewa berkerut. "Hei mengapa kalian tertawa? Apa yang lucu, hah?"
"Hahaha haahaahaa kamu lucu sekali Mas. Sungguh sangat lucu," kelakar Mara dengan gemas.
"Ra, ini menyangkut masa depanmu. Dan kamu menganggap ini semua sebagai lelucon? Aku benar-benar heran Ra!" ucap Dewa sedikit mendengkus kesal.
Mara berusaha menghentikan tawanya. Ia menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan. "Mas, masa depanku tidak ada hubungannya dengan mas Pram. Karena dia bukanlah orang yang akan menjadi pendamping hidupku."
Raut wajah Dewa sedikit pias. "M-maksud mu? Bukankah kamu dan Pramono akan menikah?"
"Mas, sudah aku bilang bahwa kamu telah salah kira dan salah sangka dalam hal ini. Mas Pram sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Jadi aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kamu selalu saja tidak percaya."
"J-jadi sedari tadi aku marah-marah tidak ada gunanya sama sekali?"
Mara menggeleng. "Memang tidak ada Mas."
"Jadi impianku menjadi sosok pahlawan bagimu untuk membongkar semua keburukan Pramono juga merupakan kesia-siaan?"
Mara mengangguk. "Iya, sia-sia Mas!"
"Hahahaha dasar pahlawan kesiangan kamu Wa! Kalau aku jadi kamu, aku sudah naik ke rooftop gedung ini, kemudian lompat dari sana. Malu, sungguh, sungguh malu!"
Pandangan mata semua orang yang berada di ruangan ini menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata sedari tadi Krisna sudah berdiri di sana, menyaksikan drama konyol di depan matanya ini.
Raut wajah duda sedikit perjaka itu memerah. Ia teramat malu dengan apa yang ia lakukan. Ternyata pikiran buruknya terhadap Mara dan Pramono hanya berakhir seperti ini, yang membuatnya malu setengah mati. Gegas, Dewa masuk ke dalam kamar mandi dan menenggelamkan wajahnya di dalam bak mandi.
.
.
__ADS_1
. bersambung... 😅😅😅😅