Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 63 : Segeralah Menikah


__ADS_3


"M-Menikah?"


Oma Widuri melerai pelukannya untuk Mara. Wanita berusia lanjut itu memegang pundak sang gadis sembari menatap lekat kedua netra bening milik Mara. Sepasang netra yang memancarkan sinar-sinar keteduhan, cinta, dan kasih sayang. Dan sepasang netra yang memancarkan binar-binar ketulusan yang merupakan cerminan dari hatinya.


Oma Widuri mengecup kening Mara dengan intens. Sebuah sensasi rasa asing tiba-tiba memenuhi aliran darah gadis itu. Sebuah kecupan yang terasa sama hangatnya dengan kecupan yang dulu selalu diberikan oleh sang ibu. Dan sebuah kecupan yang dapat membawanya kembali untuk merasakan apa itu keluarga yang utuh.


"Iya, kapan kamu siap untuk menikah dengan cucuku, Cantik? Tiga bulan yang akan datang? Dua bulan? Satu bulan? Ataukah satu Minggu yang akan datang?"


"T-tapi Nyonya, saya dan tuan Dewa tidak memiliki hubungan apapun. Hubungan kami hanya sebatas seorang bos dan karyawan saja." Mara menoleh ke arah Dewa. "Benar seperti itu kan Tuan?"


Gadis itu mencari pembelaan kepada Dewa. Karena memang pada dasarnya, antara dirinya dan Dewa sama sekali belum mencapainya kesepakatan apapun. Mereka masih terjebak dalam perasaanya masing-masing.


"Apa yang dikatakan oleh Mara benar, Oma. Dewa dan Mara sama sekali tidak memiliki hubungan spesial."


Oma Widuri berdecak kesal. Bisa-bisanya dua orang ini saling mengingkari perasaan masing-masing padahal dari cara keduanya berinteraksi sudah menunjukkan bahwa hati mereka saling terpaut satu sama lain.


"Atas dasar apa kalian berbicara seperti itu. Kalian sama-sama menikmati ciuman yang kalian lakukan, bahkan hanyut dalam kemesraan itu, namun mengapa kalian masih belum bisa untuk saling mengakui perasaan masing-masing?"


"Tapi Oma, Dewa dan juga Mara sama sekali belum jadian. Jadi kami memang belum memiliki hubungan apapun," timpal Dewa mencoba berargumentasi.


Oma Widuri berdecih. Ia teramat geli mendengar ucapan cucunya itu. "Jadian? Hei Duda, kamu itu bukan lagi abg-abg labil yang sedang dimabuk cinta. Kamu lelaki dewasa yang seharusnya mengikat Mara dalam sebuah hubungan yang jauh lebih bermakna dari sekedar kata jadian. Menikah, ya kalian harus segera menikah."


Oma Widuri seakan begitu menggebu untuk bisa membujuk sang cucu agar segera menikahi gadis di hadapannya ini. Sejak pertama melihat Mara di sebuah pemberitaan yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, oma Widuri merasa klik dengan gadis itu. Sebelum bertemu secara langsung dengan gadis itu saja, ia sudah merasakan begitu mantap untuk menjadikan Mara cucu menantu, dan hari ini saat ia bisa bertemu secara langsung dengan Mara ia semakin yakin bahwa Mara merupakan wanita terbaik untuk sang cucu. Yang kelak bisa selalu membahagiakan cucunya itu.


"Tapi Oma, Mara sudah memiliki calon pendamping. Usianya lebih muda daripada Dewa, dan Dewa merasa bahwa lelaki itulah yang pantas untuk menjadi pendamping hidup Mara."


Oma Widuri semakin dibuat jengah oleh duda yang tidak terlalu banyak pengalaman tentang percintaan ini. Begitu pula dengan Krisna yang sedari tadi mendengarkan celotehan-celotehan sang bos. Ia hanya bisa memijit-mijit pelipisnya, pusing melihat dua orang yang sudah saling jatuh cinta tapi masih terbelenggu oleh perasaannya masing-masing.


"Lalu, kamu ingin berusaha menjadi perebut kekasih orang?" Oma Widuri bertanya kepada sang cucu dengan sorot mata tajam penuh penekanan.


Dewa terperangah. "M-maksud Oma?"

__ADS_1


"Kamu sudah mengetahui bahwa gadis ini telah memiliki kekasih, tapi mengapa kamu mencium gadis ini? Apakah kamu berusaha merebut gadis ini dari tangan kekasihnya?"


Dewa tersentak. Pertanyaan telak dari sang oma sungguh tidak bisa ia jawab sama sekali. Dalam hatinya memang terselip sebuah niat dan rencana ingin menikung Mara dari Pramono, dan ternyata rencana itu bisa dibaca oleh sang oma? Sungguh oma yang serba tahu. Bahkan ia tahu apa-apa yang tersimpan di dalam hatinya.


"Tapi Oma... Mara sudah memiliki kekasih..."


"Aku tidak perduli Duda! Yang jelas kalian harus segera menikah." Oma Widuri kembali menautkan pandangannya ke arah Mara. Ia mendekat ke arah telinga sang gadis dan membisikkan sesuatu. "Aku tahu Dewa telah terjebak dalam pemikiran yang keliru tentang hubungan kamu dengan lelaki yang ia anggap sebagai kekasihmu. Bisakah kita berbicara empat mata, Cantik?"


Mara pun hanya mengangguk pelan. "Baik, Nyonya."


Oma Widuri kembali menatap lekat wajah sang cucu. Ada sedikit rasa kasihan terhadap cucunya itu. Ia merasa Dewa tidak lah memiliki pengalaman yang baik dalam hal percintaan yang membuatnya sedikit lambat untuk dapat mewujudkan segala keinginannya.


Bahkan aku jauh lebih cepat dalam bertindak Wa. Semoga aku bisa menghadirkan kebahagiaan untukmu sebelum Tuhan mencabut nyawaku, Wa. Di sisa akhir usiaku ini, aku hanya ingin melihatmu hidup bahagia bersama wanita yang tulus mencintaimu. Dan gadis inilah yang tepat untukmu.


***


"Ini adalah uang yang akan aku gunakan untuk membuka salon dan spa seperti yang aku mau!"


Mata Rizal dan Anton membulat sempurna tatkala melihat gepokan-gepokan uang berwarna merah yang tersimpan di dalam sebuah tas yang cukup besar. Kedua bola mata lelaki itu hampir saja terlepas dari tempatnya bersemayam saking terkesimanya. Karena, bagaimanapun juga ini adalah kali pertama mereka melihat secara langsung wujud uang tiga milyar di depan mata.


Kedua lelaki itu berusaha untuk tetap tenang. Pengakuan mereka sebagai orang kaya pastinya akan berantakan jika mereka terlihat terkejut dengan wujud uang tiga milyar yang ada di hadapan mereka ini. Oleh karenanya, mereka mencoba untuk mengendalikan semua rasa yang ada di dalam hati mereka.


Anton menganggukkan kepalanya. "Ya, aku rasa semua uang ini akan cukup untuk membuka langsung tiga salon dan spa di tempat yang berbeda. Dengan seperti itu, modal yang kamu keluarkan ini bisa kembali pulih."


Wajah Tanti dan Puspa nampak semakin berbinar. Ibu dan anak itu seakan tidak sabar untuk bisa segera menambah pundi-pundi kekayaannya yang akan semakin menaikkan status sosialnya.


"Apakah kamu sudah memiliki pandangan di mana saja usaha salon dan spa ku ini akan dibuka?"


Rizal mengangguk sekaligus tersenyum simpul. "Tante tenang saja, saya dan om Anton sudah terbiasa menangani hal-hal seperti ini. Kami tahu, tempat-tempat strategis yang sangat cocok untuk membuka salon dan spa seperti yang Tante inginkan."


"Benarkah seperti itu?"


"Ya itu semua benar Tante. Nanti akan kami carikan tempat yang berdekatan dengan kawasan-kawasan elite yang pastinya banyak pula orang-orang berstatus sosial tinggi yang akan menjadi pelanggan salon dan spa yang Tante miliki."

__ADS_1


Wajah Tanti semakin berbinar. "Ya sudah, bawa semua uang ini. Dan segera mulai rencana kalian untuk membuatkan aku tiga salon dan spa di tempat yang berbeda. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bisa segera menambah pundi-pundi kekayaan yang aku miliki."


Rizal dan Anton saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama tersenyum penuh arti.


"Baik Tante, besok kami akan segera memulai pekerjaan kami. Karena sejatinya, kami sudah memiliki pandangan di mana salon dan spa yang Tante inginkan akan dibangun."


"Lalu, apakah setiap hari aku bisa melihat proses pembangunannya?"


Mendadak wajah Anton dan Rizal berubah pias. Namun sebisa mungkin mereka mengendalikan hal itu.


"Aku rasa tidak perlu, Ti," ucap Anton sedikit kikuk.


Dahi Tanti mengerut. "Mengapa seperti itu?"


"Ehemmm.. " Anton berdehem mencoba untuk membuang semua kegugupannya. "Begini Ti, aku dan keponakanku ini ingin membuat kejutan untukmu dan juga Puspa. Jadi aku rasa nanti saja setelah salon dan spa itu jadi, kamu dan Puspa melihatnya secara langsung. Karena rasa-rasanya tidak begitu asyik jika kamu melihat secara langsung proses pembangunannya. Nanti jatuhnya tidak akan menjadi kejutan lagi untuk kalian."


Tanti mencoba menelaah apa diucapkan oleh Anton. Dan pada akhirnya ...


"Baiklah, aku tidak akan melihat proses pembangunan salon dan spa itu. Semuanya aku serahkan kepada kalian."


Rizal dan Anton tersenyum senang. Ternyata semudah ini rencana penipuan yang telah mereka susun akan menjadi kenyataan.


Rizal mengambil tas besar yang berisikan uang tiga milyar itu. "Baiklah Tante, kami permisi terlebih dahulu. Saat ini Tante dan Puspa tinggal duduk manis sambil menunggu kejutan dari kami."


"Baiklah. Kalian segeralah bekerja dan aku tunggu kabar baik dari kalian."


Rizal dan Anton melenggang pergi meninggalkan kediaman Tanti dan Puspa dengan perasaan bahagia yang tiada terkira. Ternyata dua orang yang kesehariannya bekerja sebagai sopir angkot itu dapat dengan mudah mendapatkan uang tiga milyar yang bahkan untuk memimpikannya pun tidak sanggup untuk mereka lakukan. Namun hari ini bak mendapatkan durian runtuh, mereka dengan mudah menguasai uang tiga milyar ini.


.


.


. bersambung..

__ADS_1


__ADS_2