
"Bagaimana? Apakah kamu pulang nanti saja? Terpisah dari rombongan dari Makasar?"
Krisna, perjaka tua itu tiada henti dan pantang menyerah berupaya membujuk Dyandra. Wanita cantik dengan segala pesonanya yang mampu menaklukkan hati seorang playboy cap kadal. Permainan Krisna nampaknya harus terhenti sampai di sini tatkala hatinya sudah terpaut dengan salah satu tamu kehormatan acara pernikahan sang bos.
Saat ini mereka duduk berdua di bawah pohon palem yang berada di taman belakang. Letak taman ini berdekatan dengan pintu keluar yang tadi di lewati oleh Dewa untuk mengejar penjual bubur ayam.
Dyandra hanya bisa menundukkan wajahnya sembari tersipu malu. "Aku rasa tidak perlu seperti itu Mas. Biarkan aku pulang bersama rombongan dari Makasar."
"Kamu tidak perlu khawatir Dyan, semua akomodasi biar aku yang tanggung. Kamu tinggal terima beres. Setidaknya sampai Dewa dan Mara menghabiskan waktu mereka di sini. Jadi aku tidak sendirian layaknya obat nyamuk untuk pengantin baru itu."
Bukan Krisna namanya jika tidak berupaya mati-matian untuk berhasil membujuk wanita cantik ini. Namun sayang seribu sayang, Dyandra tetap menggelengkan kepalanya sebagai isyarat tidak menyetujui rencana Krisna.
"Aku pulang hari ini saja Mas. Jika memang mas Krisna memiliki niat yang baik kepadaku, silakan langsung datang ke rumahku untuk bertemu dengan ayah dan juga ibuku."
Sebuah jawaban telak yang tidak mungkin dapat untuk dihindari oleh Krisna. Jika selama ini ia selalu bermain-main dengan wanita, kini ia langsung ditantang keseriusannya dari seorang wanita.
"Baiklah Dyan. Paling lambat tiga bulan lagi aku akan datang ke rumahmu untuk bertemu dengan ibu dan juga ayahmu. Jadi saat ini kita LDR-an?"
"Bisa dikatakan seperti itu Mas."
"Apakah di sana kamu tidak akan menduakan aku?" Krisna bertanya dengan nada penuh intimidasi.
Dyandra tergelak. "Seharusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan kepadamu Mas."
"Hmmmmm.... Kamu tidak perlu khawatir Dyan. Aku ini adalah salah satu tipe lelaki setia. Jadi kamu tidak perlu meragukan kesetiaanku."
"Jangan percaya Dyan. Lelaki ini memang setia yang berarti setiap tikungan ada dan selingkuh tiada akhir!"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar, sukses membuat Krisna dan Dyandra menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Dewa yang masih berpakaian piyama masuk dari pintu belakang sembari membawa sebuah rantang susun.
"Ccckkk.. Apa-apaan kamu Wa? Menurunkan pasaran saja!" ucap Krisna sembari berdecak kesal.
Dewa hanya mengendikkan bahunya. "Itu fakta yang tidak terbantahkan lagi Kris. Dan sudah menjadi rahasia umum jika kamu itu playboy cap kadal." Dewa melirik ke arah Dyandra. "Dyan, pokoknya jangan percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki ini. Namun jika kamu ingin membuktikan keseriusan lelaki ini, minta lelaki ini untuk segera menikahimu. Dan satu lagi, jangan lupa minta uang panaik dengan jumlah fantastis!"
Krisna hanya terperangah sedangkan Dyandra terkekeh lirih. "Iya pak Dewa. Pasti saya akan meminta uang panaik yang banyak dari mas Krisna."
"Nah bagus itu!"
"Sudahlah Wa, lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar dan urusi Mara. Merusak suasana saja kamu ini!" Krisna mendengkus kesal.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi. Tapi aku ada tugas untuk kamu Kris!"
Dahi Krisna sedikit mengerut. "Tugas apa lagi Wa? Bukankah selama kamu berbulan madu, aku bebas tugas?"
Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini mendesak sekali!"
"Memang tugas apa sih tuan Rangga Danabrata Dewandaru?"
"Tolong kamu cari toko sepeda yang berada di dekat-dekat sini, dan carikan tiga sepeda anak-anak. Dua untuk anak lelaki dan satu untuk anak perempuan!"
"Sepeda untuk siapa? Memang Mara sudah langsung hamil? Kok kamu minta dicarikan sepeda?"
"Tidak perlu banyak bertanya Krisna! Lakukan saja perintahku. Dan ingat jika kamu sudah sampai di toko sepeda itu kamu kirim foto-fotonya, biar aku yang memilih!"
Tanpa menunggu jawaban dari Krisna, Dewa melenggang pergi untuk meninggalkan Krisna dan juga Dyandra. Sedangkan Krisna hanya bisa terbengong melihat tingkah sang bos yang sedikit aneh itu.
"Dasar pria aneh! Kesambet setan apa pria itu? Tiba-tiba minta dicarikan tiga buah sepeda kecil?"
Dyandra hanya mengulas sedikit senyumnya melihat ekspresi wajah Krisna yang mendadak pias itu. "Yang sabar ya Mas!"
Krisna mengangguk sembari tersenyum manis. "Itu sudah pasti Sayang. Selain setia, calon suami kamu ini juga selalu sabar!"
Dengan gerak perlahan, Dewa menarik tuas pintu kamar. Terlihat sang istri kembali terlelap dalam buaian mimpinya. Dewa meletakkan rantang di atas nakas, dan ia coba untuk memegang pelipis sang istri. Lelaki itu sedikit melonjak karena ternyata demam istrinya ini semakin tinggi.
Cup....
"Sayang, ayo bangun! Kita sarapan dulu ya. Setelah itu minum obatnya!"
Sembari mengecup bibir Mara, Dewa mencoba membangunkan istrinya ini. Tak selang lama, Mara mulai menggeliat dan kelopak matanya perlahan terbuka.
"Mas.... Kamu sudah datang?"
Dewa mengulas sedikit senyumnya. Ia bantu sang istri untuk bangun dan ia sandarkan di head board ranjang. "Maafkan aku Sayang. Karena lama sekali aku mendapatkan bubur ini. Sekarang kamu sarapan ya. Setelah itu minum obat!"
Mara ikut menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa Mas. Yang terpenting kamu mendapatkan bubur ayamnya!"
"Itu sudah pasti Sayang. Demi istriku yang paling aku cintai ini apa sih yang tidak bisa aku berikan?" Dewa membuka rantang yang ia bawa. Kemudian ia duduk di tepi ranjang. "Aku suapi kamu ya Sayang!"
"Terimakasih Mas!"
Dengan telaten dan penuh curahan rasa cinta, Dewa mulai menyuapi sang istri. Sesuap demi sesuap bubur ayam itu mulai masuk ke dalam mulut Mara. Dan benar saja, Mara terlihat sangat lahap menerima suapan bubur itu yang artinya wanita itu benar-benar kelaparan.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan oleh almarhum ibu mertua jika sampai dia tahu bahwa aku membiarkan putri kesayangannya ini kelaparan? Bisa-bisa aku didatangi setiap malam oleh beliau. Maafkan aku Sayang. Lain kali jika aku ingin mengajakmu bercinta, akan aku pastikan perutmu sudah terisi penuh terlebih dahulu.
"Mas... Ini bubur ayamnya enak sekali. Kamu beli di mana Mas?"
Mara yang sedari tadi nampak hening, kini mulai membuka suaranya. Perempuan itu memuji rasa bubur ayam yang begitu memanjakan lidahnya.
Dewa tersenyum simpul. "Tidak jauh dari sini kok Sayang. Enak?"
"Iya Mas, ini enak sekali. Kuah kuning dan adonan buburnya terasa gurih sekali!"
Dewa meletakkan rantang yang sudah tandas tanpa bekas. "Apa kamu mau nambah lagi Sayang?"
"Boleh?" ucap Mara dengan malu-malu.
Dewa tergelak lirih. Sekilas, ia kecup bibir tipis istrinya ini. "Tentu boleh Sayang. Aku membelikan bubur ini spesial untuk kamu, jadi harus kamu habiskan!"
"Terimakasih Mas!"
"Sama-sama Sayang!"
Dewa mulai membuka rantang kedua. Dan perlahan ia mulai menyuapi istrinya lagi. Sembari menyuapi sang istri, Dewa melihat foto-foto sepeda yang dikirim oleh Krisna.
"Sayang, coba pilih dua sepeda untuk anak laki-laki dan satu buah sepeda untuk anak perempuan!" ucap Dewa sembari menyerahkan ponselnya ke arah sang istri.
Dahi Mara sedikit mengerut. "Sepeda? Sepeda untuk siapa Mas?"
Mara menerima ponsel yang diberikan oleh Dewa dan mulai melihat-lihat foto sepeda yang dikirim oleh Krisna.
"Untuk anak-anak penjual bubur ini, Sayang. Kamu tidak keberatan bukan jika aku membelikan mereka sepeda? Ya, aku anggap ini adalah salah satu ungkapan rasa terima kasih karena penjual bubur itu sudah membuat masakan seenak ini dan membuat istriku ini bahagia."
Ada rasa hangat yang tetiba mengaliri aliran darah Mara. Ia begitu terharu melihat niat baik dan tulus suaminya ini. "Tentu saja aku tidak keberatan Mas. Selama itu untuk hal yang baik, aku pasti akan mendukungmu."
"Terimakasih Sayang!"
.
.
. bersambung...
Mohon maaf telat update episode terbarunya ya Kak.. Qodarullah, saya sedang dikasih nikmat sakit karena kelelahan. Harap dimaklumi jika sedikit lambat ya Kak...🙏🙏
__ADS_1