Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 69 : Menikahlah Denganku


__ADS_3


"Mas, hentikan!"


Setelah membenamkan wajahnya ke dalam bak mandi, Dewa memutuskan untuk menuju rooftop gedung. Sepertinya saran dari Krisna merupakan salah satu saran terbaik agar ia bisa melupakan dan juga menghempaskan rasa malunya itu. Dan benar saja, Dewa mengambil langkah seribu untuk gegas menuju rooftop gedung.


Mara yang menangkap sinyal tidak mengenakkan akan apa yang dilakukan oleh Dewa, buru-buru mengikuti ke mana lelaki itu melangkahkan kakinya. Gadis itu sedikit terkejut karena rooftop gedung lah yang menjadi tujuannya. Mara berpikir lelaki itu benar-benar akan menghempaskan rasa malunya dengan cara lompat dari atas gedung.


Dewa bergeming. Tubuhnya berada di tepi tembok rendah yang mengelilingi rooftop ini. Pandangan matanya nyalang ke segala arah. Lelaki itu merutuki kebodohannya sendiri, karena tidak mempercayai apa yang sejak awal dikatakan oleh gadis yang benar-benar ia cinta.


"Aku sungguh malu Ra. Sungguh, sungguh malu. Bisa-bisanya aku melakukan ini semua. Di saat Krisna begitu percaya kepadamu bahwa kamu adalah gadis baik-baik, aku malah sempat berpikir buruk terhadapmu. Aku benar-benar malu Ra. Malu."


Mara tersenyum simpul. Ia yang masih berada jauh di balik punggung Dewa, perlahan mulai mengayunkan kakinya untuk mendekati lelaki itu. Kini ia berdiri tepat di samping Dewa.


Mara menatap takjub segala keindahan yang dapat ia lihat dari tempat ini. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi berpayung langit luas yang berhias awan putih yang membentuk jaring-jaring kapas. Ditambah dengan anak-anak sinar matahari yang mulai memancar di seluruh penjuru bumi, seakan menjadi sebuah sajian alam yang begitu memanjakan mata.


"Kamu boleh saja merasa malu, Mas. Namun kamu juga tidak harus mengambil keputusan untuk lompat dari gedung seperti ini."


Mara sungguh sangat khawatir jika lelaki ini nekat untuk melakukan upaya bunuh diri dari atas gedung hanya karena rasa malu. Karena bagaimanapun juga seseorang yang tengah merasakan frustrasi itu sering mengambil jalan pintas untuk mengakhiri ke-frustrasian yang ia rasakan. Dan ini bisa saja terjadi kepada Dewa.


Dewa membuang nafas kasar. Pandangan matanya masih fokus menatap barisan gedung-gedung tinggi yang berada di hadapannya.


"Siapa yang ingin lompat dari gedung Ra? Meskipun sikap konyolku ini benar-benar membuatku malu setengah mati, namun aku juga masih bisa berpikir jernih. Aku tidak akan pernah lompat dari sini."


Kali ini Mara yang terperangah. Ia mengira bahwa Dewa memutuskan untuk lompat dari atap gedung ini, namun ternyata tidak. Meskipun gadis itu terperangah, namun hal itu tidak dapat menyembunyikan perasaan leganya, karena hari ini dapat dipastikan tidak akan muncul sebuah berita dengan head line "Bos Besar PT WUW Tewas Mengenaskan dari Atap Gedung karena Malu."


"Syukurlah jika kamu tidak memiliki niat untuk itu Mas," ucap Mara dipenuhi oleh rasa syukur.

__ADS_1


Dewa sedikit mengacak rambutnya kasar. "Bagaimana mungkin aku melakukan upaya bunuh diri dalam keadaan menduda seperti ini Ra? Aku pastinya lebih malu jika teman-teman yang ada di sebelah kuburanku menertawakan aku karena aku termasuk salah satu duda yang kurang beruntung. Mati bunuh diri dan tidak ada istri yang menangisi kepergianku."


Ucapan Dewa ini sungguh membuat gadis itu tergelak seketika. Bisa-bisanya lelaki ini berbicara tentang alam kubur seperti ini. "Jadi, maksud kamu naik ke atap gedung seperti ini apa Mas?"


Dewa mengendikkan bahu. "Entahlah, aku rasa tempat ini adalah tempat yang nyaman untuk menyendiri."


Mara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu Mas. Saat ini tidak ada lagi yang harus aku cemaskan dan jika saat ini kamu ingin menyendiri terlebih dahulu, aku persilakan."


Mara membalikkan badan bermaksud untuk membiarkan Dewa memenangkan diri. Namun, tatkala kakinya hampir terayun, lelaki itu tanpa membuang banyak waktu menarik lengan tangannya. Ia bawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Maafkan aku karena sempat tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan dan sempat berpikir buruk terhadapmu."


Dewa mendekap erat tubuh Mara sembari membuat sebuah pengakuan atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Kesalahan yang begitu sepele namun dapat berakibat fatal. Beruntung kesalahan pahaman itu berakhir sampai di sini dan berakhir seperti ini. Jika tidak, mungkin ia benar-benar kehilangan jejak gadis yang ia cintai.


"Apa yang membuatmu yakin bahwa malam itu aku sengaja pergi meninggalkanmu Mas?"


Bagi Mara, pertanyaan inilah yang hingga saat ini belum terjawab. Ia teramat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga Dewa memiliki sebuah pemikiran bahwa dirinya dengan sengaja meninggalkannya.


Mara terkesiap. Ia mengurai sedikit tubuhnya dari dekapan Dewa. Ia tatap lekat netra milik Dewa, meminta sebuah penjelasan yang lebih. "Aku menipu juragan Karta? Menipu bagaimana Mas?"


"Wanita itu mengatakan, kamu menerima lamaran juragan Karta dengan mengajukan syarat meminta uang lima milyar. Dan setelah juragan Karta menyetujuinya, kamu malah melarikan diri bersama Pramono yang merupakan orang kepercayaan juragan Karta yang tak lain kekasihmu dan calon suamimu. Dan pada saat kita akan dinner, kamu dijemput oleh Pramono dan pada akhirnya meninggalkanku."


Mara bergeming. Gadis itu rupa-rupanya semakin mengerti dalang di balik ini semua. "Ternyata rencana mereka sungguh sempurna."


Kedua alis Dewa bertaut dan mengerut. "Mereka? Mereka siapa maksudmu, Ra?"


"Ibu dan saudara tiriku, Mas."

__ADS_1


"Ibu dan saudara tirimu? Maksud kamu?"


Mara menghela nafas dalam. Pandangan matanya menyapu sekeliling dengan tatapan menerawang. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di malam itu.


"Ketika aku akan menemuimu di tempat yang sudah kamu persiapkan, aku dibawa pergi oleh ibu tiriku, Mas. Dia membekapku dengan obat bius yang membuatku hilang kesadaran."


Kedua bola mata Dewa terbelalak sempurna. "K-kamu diculik?"


Mara mengangguk. "Ya, seperti itulah. Aku dibekap untuk dibawa ke kediaman juragan Karta."


"L-Lalu bagaimana bisa kamu melarikan diri Ra? Siapa yang membantumu untuk keluar dari rumah juragan Karta?"


Mara tersenyum getir. "Salah satu istri juragan Karta lah yang menolongku Mas. Bahkan tidak hanya salah satu istri juragan Karta. Semua istri juragan Karta membuat rencana untuk bisa membawaku keluar dari rumah itu." Mara menjeda sejenak ucapannya dan kembali ia lanjutkan. "Di detik-detik terakhir hidupku akan berakhir dengan menjadi istri juragan Karta, ternyata Tuhan kembali mengirimkan pertolonganNya untukku melalui istri-istri juragan Karta. Hingga pada akhirnya, aku bisa tiba di kota ini."


Mendengar penuturan Mara, membuat Dewa semakin tenggelam dalam perasaan bersalahnya. Seandainya saat itu ia mengikuti saran dari Krisna, pasti ia dapat menyelamatkan Mara dengan tangannya sendiri. Dadanya terasa sesak. Ia kembali merutuki kebodohannya karena tenggelam dalam sebuah prasangka buruk terhadap gadis yang ia cinta dan membiarkannya melewati itu semua sendirian.


Dewa kembali mendekap erat tubuh Mara. Ia tumpahkan semua air mata penyesalannya di dalam dekapan gadis itu. "Maafkan aku Ra. Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu jika ceritanya seperti ini. Aku sungguh bersalah kepadamu Ra."


Mara tersenyum simpul sembari mengusap-usap punggung lelaki yang telah berhasil mencuri hati dan juga perhatiannya ini. "Aku sudah memaafkanmu Mas. Bahkan sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu."


Dewa melerai pelukannya. Ia dekatkan wajahnya untuk bisa lebih dekat dengan wajah Mara. Perlahan, ia mengecup kening sang gadis dengan intens. "Saat ini izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku Ra. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku."


Kedua bola mata Mara menyipit. "Caranya?"


Dewa meraih telapak tangan Mara dan mengecup buku-buku jemarinya. "Menikahlah denganku. Dengan begitu aku bisa selalu berada di sisimu untuk melindungimu." Dewa menghela nafasnya. "Nismara Dewani Hayati, jadilah istriku untuk melengkapi separuh jiwaku!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2