
"Sudahlah Sayang, hentikan semua rencanamu itu. Biarkan tuan Dewa bahagia dengan kehidupannya!"
Raja siang mulai terbangun dari tidurnya, menggantikan posisi sang dewi yang telah lelah berjaga semalaman. Sebuah siklus alam di mana keduanya saling bersinergi untuk memberikan secercah penerangan di dua waktu yang saling bergantian.
Di sebuah rumah kecil di sudut kota, terlihat dua manusia tengah larut dalam obrolan yang terdengar begitu serius di salah satu ruangan yang ada di rumah itu. Seorang lelaki dan wanita yang tak lain adalah Damar dan juga Dita.
Dita, hampir tiga bulan ia berupaya untuk lari dari kejaran polisi, ia memilih untuk bersembunyi di kediaman Damar. Seorang lelaki yang masih begitu mengharapkannya kembali dan yang ia yakini masih bisa ia andalkan untuk membantu menjalankan misinya. Misi untuk mendapatkan mantan suaminya kembali.
"Kamu pikir, aku akan membiarkan mas Dewa bahagia hidup bersama istri barunya? Tidak akan Mas, tidak akan pernah!"
Sembari menatap lekat suasana luar rumah di balik jendela, Dita menolak mentah-mentah sebuah saran yang diutarakan oleh Damar. Wanita itu masih saja belum rela jika melihat sang mantan berbahagia dengan pendamping hidupnya yang baru.
"Tapi tuan Dewa pantas untuk berbahagia dengan istri barunya Sayang. Dia pantas bahagia, mengingat luka yang pernah tertoreh di hatinya begitu dalam." Damar menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas dalam sembari menundukkan wajahnya. "Dan kita berdualah yang menorehkan luka itu."
Hembusan nafas sedikit kasar terdengar keluar dari indera penciuman Dita. Masih dengan tatapan lekat ke arah luar rumah, pandangan matanya masih terlihat sedikit menerawang, seakan mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang pernah terjadi.
"Iya, aku memang salah. Seandainya saja waktu itu aku tidak tergoda kepadamu untuk memuaskan segala hasratku, pastinya saat ini aku sudah hidup bahagia bersama mas Dewa. Aku memang menyesal, maka dari itu untuk memupus semua rasa sesal itu, mati-matian aku berupaya untuk mendapatkan mas Dewa kembali."
"Bukan dengan cara seperti itu Sayang. Penyesalan yang kamu rasakan cukup kamu tebus dengan membiarkan tuan Dewa hidup berbahagia bersama keluarga kecilnya."
Tidak bosan Damar mencoba untuk memberikan sebuah pemahaman kepada wanita yang masih saja bertahta di dalam hatinya. Meski berkali-kali Dita menunjukkan sebuah perangai yang tidak baik di hadapannya, namun lelaki itu tidak pernah berhenti untuk bisa kembali merengkuh wanita itu. Damar sadar bahwa apa yang telah ia lakukan terhadap Dewa merupakan sebuah kesalahan besar dan fatal, dan hanya dengan berupaya membujuk Dita agar tidak mengganggu kehidupan Dewa, ia yakin dapat menjadi penebus segala rasa bersalahnya itu.
__ADS_1
Namun, Dita tetaplah Dita. Seorang wanita yang memiliki sebuah obsesi dan ambisi yang teramat besar dengan apa yang menjadi keinginannya. Sekuat apapun Damar mencoba untuk menghentikan niat buruknya, wanita itu tetap abai dan hanya menganggap perkataan Damar hanya sebagai angin lalu.
Dita tersenyum sinis. "Membiarkan wanita itu menggantikan posisiku? Tidak akan pernah terjadi! Mas Dewa hanyalah milikku, dan tidak ada satu orangpun yang akan aku biarkan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Dita berbalik badan. Perlahan ia melangkahkan kakinya dan segera meraih jaket kulit warna hitam yang sudah ia persiapkan di atas kursi. Ia pakai jaket itu dan bersegera menuju area teras rumah.
Damar terperangah, telah habis segala cara yang ia lakukan untuk menghentikan niat buruk wanita ini. "Apa yang akan kamu lakukan Sayang?"
"Jika aku tidak dapat memiliki mas Dewa, maka tidak akan pernah ada yang bisa memiliki mas Dewa. Pilihannya hanya dua. Aku yang mati, atau wanita itu yang enyah dari kehidupan mas Dewa!"
Ucapan Dita sukses membuat Damara terkesiap. Lelaki itu merasa jika Dita akan melakukan sesuatu yang buruk. "Sayang aku mohon, urungkan niatmu itu. Semua niat burukmu itu hanya akan merugikanmu!"
Dita berdecih, sedikitpun tidak menggubris perkataan Damar. "Aku tidak perduli Mas. Aku justru akan semakin merasa rugi, jika aku hanya diam saja dan tidak melakukan apapun."
"Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Aku harus mengikuti kemana Dita pergi untuk menghentikan niat buruk wanita itu."
Damar ikut bersiap-siap. Ia keluarkan satu motor lagi yang masih berada di dalam garasi dan gegas menyusul Dita agar tidak kehilangan jejak. "Tuan Dewa, semoga dengan cara ini, aku bisa menebus semua kesalahanku."
***
"Ini sungguh menakjubkan Sayang. Aku tidak menyangka jika toko kue milikmu ini mendapatkan respon yang baik dari para pelanggan, sampai selalu ramai seperti ini!"
__ADS_1
Mata Dewa menatap takjub tatkala memperhatikan suasana toko kue milik sang istri. Lelaki itu tidak menyangka jika di jam tujuh pagi seperti ini, suasana toko kue milik sang istri sudah ramai dengan para pembeli yang berdatangan dan memenuhi outlet ini.
Mara hanya tersenyum simpul. Ia mendekat ke arah Dewa dan bergelayut manja di lengan suaminya ini. "Semua ini tidak akan pernah aku dapatkan jika tidak ada dukungan darimu Mas. Terimakasih banyak karena kamu bersedia menjadi perpanjangan tanganku untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi ibu dan tentunya juga mimpiku."
Dewa tergelak lirih sembari mengecup lembut kening istri tercintanya ini. "Aku hanya melakukan apa yang bisa lakukan Sayang. Sedangkan toko kue milikmu yang ramai oleh pengunjung seperti ini, merupakan kerja kerasmu."
"Bukan hanya kerja kerasku Mas, namun juga kerja keras semua karyawan yang terlibat di dalam sini. Tanpa mereka, toko kue ini tidak akan pernah seperti ini."
Dewa semakin dibuat takjub dengan apa yang diucapkan oleh Mara. Satu sifat yang dimiliki oleh sang istri yang selalu membuatnya selalu jatuh cinta setiap hari. Wanitanya ini selalu bisa menghargai apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Toko kue yang selalu ramai dikunjungi oleh para pecinta olahan kue tidak lantas membuat wanita itu jumawa. Ia selalu mengatakan bahwa keberhasilan yang ia dapatkan merupakan kerja keras semua tim yang ia miliki.
"Apakah kamu tidak berencana untuk membuat cabang baru Sayang?"
Wajah Mara terlihat berbinar. Ucapan suaminya ini seakan menjadi angin segar untuk ia dapat melebarkan sayapnya. "Apa kamu mengizinkan aku untuk membuka cabang Mas?"
Dewa terkekeh sembari mencubit pipi sang istri dengan gemas. "Pertanyaan macam apa itu Sayang? Selagi itu bisa membuat nama toko kue milikmu ini semakin besar, aku pasti izinkan. Sembari kamu perbaiki sistem kerja di toko kue milikmu ini, siapa tahu banyak investor yang tertarik untuk ikut memakai brand Demara Cake & Bakery ini."
"Terimakasih banyak Mas, terimakasih!"
Sepasang suami istri itu larut dalam sebuah obrolan yang terasa begitu hangat. Sebuah obrolan untuk mencari celah agar toko kue ini bisa semakin besar dan berkembang. Berawal dari sebuah mimpi kecil yang sederhana dan mereka yakini suatu saat nanti bisa menjadi besar. Begitu larutnya dalam obrolan itu, sampai-sampai mereka tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang diam-diam mengintai pergerakan mereka.
.
__ADS_1
.
. bersambung...😘😘😘