Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 41 : Rencana Kedua


__ADS_3


Sinar matahari mulai menelusup melalui celah-celah jendela kamar milik Dewa. Memberikan sedikit rasa hangat bagi jiwa yang tengah dilanda oleh rasa dingin yang menyerangnya semalaman. Kelopak mata perjaka sedikit duda itu terlihat bergerak-gerak meskipun masih dalam keadaan terpejam. Perlahan ia membuka kelopak matanya dengan sedikit memincing tatkala merasakan anak-anak sinar matahari itu mulai terasa menusuk indera penglihatannya.


Dewa menggeser tubuhnya untuk bersandar di head board ranjang sembari mencoba untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Setelah dikerik oleh Mara, lelaki itu benar-benar merasa jika tubuhnya terasa lebih ringan. Kepala yang semalaman terasa berat kini sudah pulih seperti sedia kala. Ia merasa jika tangan Mara memang ajaib, karena bisa memulihkan kondisi tubuhnya dalam tempo waktu yang singkat. (Yeee bang duda mulai lebay nih🙄)


"Hei Kris, bangun!"


Dewa melihat keadaan sekeliling, nampak Krisna tertidur pulas di sisinya. Melihat sang asisten yang tidak merespon sama sekali membuat Dewa sedikit kesal. Ia pun mengguncang-guncangkan tubuh Krisna.


"Hei ayo bangun!"


"Eeennnggghh... Apa sih Wa? Kamu itu selalu saja menjadi pengganggu jika aku sedang nyenyak seperti ini!"


Masih dengan mata yang terpejam, Krisna uring-uringan sendiri merasakan kualitas tidurnya diganggu. Padahal semalaman lelaki itu tidak bisa tidur dan baru bisa memejamkan mata tatkala hari sudah hampir pagi.


Dewa mendengkus kesal. "Lagipula mengapa bisa kamu yang tidur di sisiku? Bukankah semalam Mara yang berada sini?"


"Aku minta dia untuk kembali ke kamar. Akan sangat berbahaya jika dia sering-sering berada di dekatmu," ucap Krisna masih dalam keadaan mata yang terpejam.


"Hei, kamu pikir aku ini lelaki seperti apa? Aku bukanlah kamu yang selalu berganti-ganti teman tidur," sungut Dewa yang tidak terima jika ia disamakan dengan lelaki itu.


"Huh kamu ini. Sudah, cepat nikahi Mara agar dia bisa selalu tidur di sampingmu. Bukan hanya tidur saja namun juga kamu tiduri," timpal Krisna asal.


Lelaki itu benar-benar unik. Meskipun dalam keadaaan mata yang masih terpejam, ia bisa menanggapi semua obrolan-obrolan dari Dewa, bahkan sama sekali tidak pernah salah dalam memberikan sebuah respon.


Mendengar Krisna berujar tentang kata menikah, seketika membuat pikiran Dewa tertuju pada rencana malam nanti yang akan ia lalui bersambung Mara.


"Kris, bantu aku untuk mempersiapkan semua untuk acaraku nanti malam bersama Mara. Ingat, persiapkan dengan sempurna. Aku tidak mau jika sampai ada sedikit pun yang terlewat."


"Hmmmmm kamu yakin, akan keluar malam-malam untuk dinner? Bukankah kamu masih tidak enak badan? Bisa jadi kamu akan kembali masuk angin jika terkena angin malam!" celoteh Krisna seakan memberi peringatan kepada bos nya, jika angin malam tidak baik untuk kondisi tubuhnya yang masih sedikit tidak fit.


Senyum seringai terbit di bibir Dewa. "Seandainya aku kembali masuk angin, ya aku minta saja Mara untuk mengerik punggungku lagi. Tidak hanya mengerik tapi juga full servis untuk memijat seluruh tubuhku. Dijamin akan segera sembuh."


"Ccckkk ccckkk... Memang duda tidak punya akhlak kamu Wa! Sudah dikasih hati masih saja meminta ampela!" timpal Krisna sedikit kesal.


"Haaahaa haaahhaa... Tapi nanti jika dia sudah menjadi istriku, bukankah tidak hanya hati dan ampelanya saja yang bisa aku nikmati? Bagian dada dan juga pahanya juga bisa aku nikmati pula?" seloroh Dewa sembari pikirannya menerawang jauh, entah sampai mana.


Ucapan Dewa ini sukses membuat mata Krisna yang sebelumnya terpejam, kini terbuka sempurna. Ia menoleh ke arah Dewa yang masih dalam posisi bersandar di head board ranjang. Buru-buru ia melempar bantal ke wajah bos nya itu.


"Heh duda tidak laku! Kamu pikir Mara itu ayam bakar yang bisa kamu nikmati hati, ampela, dada dan juga pahanya? Perasaan, kamu baru sebentar menyandang status duda, tapi mengapa otak kamu jadi soak seperti ini?"

__ADS_1


Dewa tergelak sambil otaknya terus bekerja untuk membayangkan bagaimana saat-saat ia menikmati paha dan dada milik Mara.


"Kamu jangan salah Kris. Sebentar lagi aku akan melepaskan masa-masa duda ku ini. Tentunya dengan menjadikan Mara sebagai istriku."


Krisna tergelak mendengarkan ucapan Dewa yang sungguh sangat percaya diri sekali itu. "Kamu yakin kalau Mara akan menerimamu?"


Dewa mengangguk mantap. "Aku tidak hanya yakin, tapi sangat, sangat yakin. Aku rasa, Mara sudah mulai jatuh hati kepadaku."


"Hahaha haahaahaa... Terlalu percaya diri sekali kamu Wa. Bisa jadi bukan kamu yang dicintai Mara."


Dewa terkesiap. "Maksud kamu apa?"


"Bisa jadi Mara jatuh cintanya kepadaku, bukan kepadamu. Ya, itu semua bisa saja terjadi karena ketampananku ini berada jauh di atasmu," ucap lelaki itu memberikan sebuah penjelasan.


Kedua bola mata Dewa terbelalak dan membulat sempurna. Gegas, ia mengambil bantal dan mulai menindih tubuh Krisna dan ia gunakan bantal itu untuk membekap wajah Krisna. "Awas saja kalau kamu berani menyentuh apa yang menjadi milikku. Aku tidak akan segan-segan untuk memotong ular milikmu Kris!"


"Hhmmmphhhh... Hhmmmphhhh... hemmmpphh.. Lepaskan Wa! Aku tidak bisa bernafas!"


"Tidak bisa. Ini peringatan untukmu!"


"Hmmpphh... Iya, iya, aku bercanda!"


Pada akhirnya Dewa membuang bantal yang sebelumnya ia pakai untuk membekap wajah Krisna. Lelaki itu terlihat begitu engap dan berupaya untuk mengatur nafasnya.


"Cih, rasakan. Itu salah satu peringatan untukmu jika kamu berani menggoda ataupun menyentuh gadisku, Kris!"


Ceklek ..


Pintu kamar terbuka dan....


"Astaga Tuan! Apa yang sedang Tuan-Tuan ini lakukan? Kalian homo?"


Mara, yang baru saja masuk ke kamar Dewa terkejut setengah mati melihat apa yang ada di depan matanya. Posisi Dewa yang tengah menindih Krisna, sungguh bisa membuat orang-orang berekspektasi yang buruk terhadap mereka.


"Mara?!" pekik Dewa yang tak kalah terkejutnya ketika melihat Mara sudah berada di ambang pintu. Gegas Dewa menggeser tubuhnya. Dan kembali duduk di atas ranjang.


"Ya Tuhan, ternyata Tuan-Tuan ini benar-benar homo," ucap Mara sedikit prihatin.


"Ra, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Krisna hanya sedang bermain-main," ucap Dewa berusaha menjelaskan.


Senyum seringai terbit di bibir Krisna. "Mas Dewa... Itu benar sekali. Kita bermain kuda-kudaan, bukan? Mari kita lanjutkan lagi Mas!"

__ADS_1


Dengan nada bicara yang dibuat sedikit manja, Krisna mencoba menggoda bos nya ini. Tidak hanya sampai di sana saja, Krisna juga mengusap-usap pipi Dewa sembari mengedipkan mata.


Mara semakin terkesiap. "Ya Tuhan... Sungguh menyedihkan keadaan Tuan-Tuan ini. Kalau begitu saya permisi Tuan."


Mara mengayunkan kakinya untuk meninggalkan kamar Dewa. Sedangkan Krisna terkikik geli melihat wajah Dewa yang sudah semakin pias.


"Ayo Mas Dewa, kita lanjutkan lagi."


Rasa kesal tidak lagi dapat dibendung oleh Dewa. Ia pun hanya bisa menunjukkan ekspresi geram dengan apa yang telah asisten pribadinya ini lakukan. "Krisnaaaaaaaaa!!!!"


"Haahaa hhaaaa...."


***


"Kamu tidak perlu datang menemuiku sebelum kamu berhasil membawa Mara sampai di hadapanku!"


Di sebuah rumah mewah, megah, nan besar dengan model klasik Joglo-Limasan, terlihat Tanti sedang duduk di salah satu kursi yang berada di ruang tamu. Dan di hadapan wanita paruh baya itu sudah terlihat seorang lelaki yang hampir memasuki usia senja tengah menikmati pipa rokok yang ia hisap kemudian ia kepulkan asapnya.


"Juragan, saat ini saya sudah mengetahui di mana keberadaan Mara. Juragan tenang saja. Saya pastikan, malam nanti, saya sudah bisa membawa Mara sampai di hadapan Juragan."


Ucapan Tanti terdengar begitu menarik perhatian Karta. "Benarkah yang kamu ucapkan itu?"


Tanti mengangguk mantap. "Betul Juragan, saya sudah memiliki rencana untuk bisa membawa Mara sampai di hadapan Juragan. Namun, sepertinya saya juga membutuhkan bantuan dari Juragan."


Dahi Karta sedikit mengerut. "Rencana seperti apa itu? Dan apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?"


Tanti mendekat ke arah Karta dan mulai memaparkan rencana yang telah ia buat bersama sang anak. Tanti begitu bersemangat untuk menceritakan semua rencananya ini. Ia sangat yakin jika Karta akan sangat menyetujui apa yang menjadi skenario dalam membawa Mara sampai di hadapan Karta.


"Bagaimana Juragan? Apakah rencana saya ini sangat sempurna?" ucap Tanti meminta pendapat setelah memaparkan apa yang ia rencanakan.


Senyum lebar muncul di bibir Karta yang terlihat hitam itu. "Haaahaa haaahhaa... Aku tidak menyangka jika kamu memiliki rencana sesempurna ini Ti. Aku yakin, sebentar lagi Mara akan benar-benar menjadi milikku."


"Haaahaa haaahhaa... Itu benar sekali Juragan. Jadi apakah lahan jati itu bisa kembali saya miliki?" ucap Tanti tanpa malu-malu mengingatkan Karta perihal lahan jati yang telah dijanjikan oleh Karta.


"Kamu tenang saja. Aku akan kembali memberikan lahan jati itu untukmu."


Raut wajah Tanti berbinar seketika. "Terimakasih banyak Juragan, terimakasih."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2