Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 86 : Pelangi


__ADS_3


Mara dan Dewa terduduk lemas di samping gundukan tanah pemakaman yang masih terlihat basah. Beberapa saat yang lalu, jenazah Baskara dikebumikan. Dan saat ini hanya terlihat taburan bunga di atas tanah dengan sebuah papan dari kayu yang menjadi tanda kepemilikan makam itu.


Jenazah Baskara dikebumikan di samping makam milik Paramitha Andadari. Mara berharap dengan seperti itu ayah dan juga ibunya bisa senantiasa berdekatan.


"Ayah?" ucap Mara lirih. Matanya terlihat sedikit sembab, karena menangisi kepergian sang ayah.


Seketika, ingatannya tertuju pada masa-masa di mana sang ayah selalu mendekapnya dengan penuh cinta. Pastinya masa-masa sebelum sang ayah gila bermain judi. Sungguh satu kebahagiaan yang sempat menghampiri kehidupannya. Ia pernah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dengan adanya dekapan dari kedua orang tuanya yang utuh. Namun itu semua hanya sekejap karena kebahagiaan itu berakhir tatkala sang ibu mulai pergi meninggalkan dunia, sang ayah memilih untuk menikah lagi dan terakhir saat sang ayah terkena stroke.


Air mata Mara kembali mengalir deras dan semua itu tidak luput dari pandangan orang-orang yang kebetulan mengelilinginya. Mereka nampak ikut bersimpati dengan apa yang terjadi kepada wanita berusia dua puluh tahun ini.


"Ikhlaskan ayah ya Sayang. Oma yakin bahwa ayahmu sudah tenang di alam sana," ucap oma Widuri sambil mengusap-usap punggung cucu menantunya.


"Mara sekarang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi Oma. Orang tua Mara sekarang sudah tiada."


Tangis perih yang keluar dari bibir Mara terasa begitu menyayat hati bagi orang-orang yang kebetulan berada di dekatnya. Sehingga membuat mereka turut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh wanita itu.


"Ra, kamu masih kami. Kami saat ini adalah keluargamu. Jadi kamu tidak boleh berkata seperti itu," ucap Krisna mencoba turut menguatkan.


"Terimakasih banyak mas Krisna!"


"Benar apa yang dikatakan oleh Krisna, Sayang. Kami yang ada di sini adalah keluargamu, jadi kamu tidak akan pernah merasakan sendiri," sambung oma Widuri membenarkan apa yang diucapkan oleh Krisna.


"Ra, ayahmu sudah tenang. Jangan membuat jalan beliau semakin berat dengan tangismu. Relakan ayah Ra, relakan!" timpal Pramono yang juga turut menguatkan wanita yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya ini.


Mara mengangguk pelan. "Iya Mas, aku akan selalu berusaha untuk ikhlas melepas kepergian ayah."

__ADS_1


Mara masih terpaku menatap gundukan tanah di hadapannya ini. Pandangannya kosong dan menerawang seolah merasakan tekanan batin yang begitu dahsyat. Gejolak emosionalnya seakan diaduk-aduk, karena untuk kedua kalinya ia kehilangan seseorang yang begitu ia cintai.


Seakan tahu dengan apa yang dirasakan oleh Mara, Dewa mengusap-usap lengan Mara, berupaya mentransfer kekuatan untuk sang istri. "Sayang, kita pulang yuk. Hari sudah semakin sore dan sepertinya akan turun hujan."


Mara mengangguk. Sebelum ia beranjak, wanita itu mencium papan nama milik Baskara dengan lekat. "Mara sudah mengikhlaskan Ayah. Saat ini Ayah pasti tidak akan merasakan sakit lagi. Terimakasih banyak telah menjadi sosok Ayah yang terbaik untuk Mara selama ini, Ayah. Semoga Ayah selalu tenang berada di alam sana."


Mara mulai bangkit dari posisi jongkoknya. Ia dan semua rombongan mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan area pemakaman ini. Sedangkan Dewa, masih setia menggandeng tangan Mara, berupaya untuk memberinya kekuatan. Sebelum benar-benar keluar dari area pemakaman, ia membalikkan badan dan kembali menatap makam ayah mertuanya.


Selamat beristirahat Ayah... Semoga kali ini engkau tidak lagi merasa kesakitan. Terimakasih karena dari dari mu dan almarhum ibu lah yang telah menghadirkan sosok wanita yang begitu cantik dan berhati malaikat seperti istriku ini. Aku berjanji pada kalian berdua bahwa dengan segenap jiwa, aku akan membahagiakan putri kalian seumur hidupnya. Sama seperti ayah dan juga ibu, kehadiran putri kalian lah yang juga menjadi anugerah terindah dari Tuhan untukku setelah oma.


Ya seperti inilah sebuah roda kehidupan. Kita yang masih hidup, sejatinya hanya sedang menunggu giliran untuk kembali dipanggil ke pangkuanNya. Kelak di tempat yang begitu sepi seperti ini kita ditinggal sendirian, dan apalagi yang akan menjadi teman kita jika bukan amal kebaikan?


***


Sepulang dari makam, Mara masih terlihat larut dalam kesedihan yang mendalam. Sedari tadi wanita itu masih betah berlama-lama berdiri di depan jendela sembari menatap hamparan laut biru dengan tatapan kosong dan menerawang. Rupa-rupanya air mata dari telaga beningnya itu tidak mampu untuk ia hentikan. Air mata itu masih mengalir dengan deras tidak bisa untuk ia hentikan sama sekali.


Hati Dewa terasa bak tersayat pisau tak mata yang begitu menghujam melihat sang istri yang masih terlihat larut dalam kesedihan itu. Perlahan, ia langkahkan kakinya untuk mendekat ke arah sang istri dan kemudian memeluknya dari belakang. Ia letakkan kepalanya di ceruk leher sang istri dan menciuminya dengan intens.


Masih dengan tatapan menerawang, Mara mengendikkan bahunya. "Mungkin karena hari tengah mendung, Mas."


"Ya, itu benar Sayang. Langit hari ini nampak begitu muram, karena ia juga ikut bersedih melihat wanita bak bidadari ini tengah merasakan kesedihan yang mendalam."


Seutas senyum tersungging di bibir Mara. Mendengar ucapan gombal dari suaminya ini, mau tidak mau membuatnya terkekeh kecil. "Kamu sedang menggombali ku Mas?"


Dewa menggeleng. "Tidak Sayang, aku sedang tidak menggombal. Apa yang aku ucapkan ini memang benar adanya. Apakah kamu tahu caranya membuat langit kembali cerah?"


Kedua alis Mara saling bertaut. Dahinya sedikit mengerut. "Memang bagaimana caranya Mas?"

__ADS_1


Dewa membalikkan tubuh Mara. Kini keduanya dalam posisi saling berhadapan dan saling bertatap netra. Dewa mendekatkan wajahnya ke wajah Mara, berusaha mengikis jarak yang terbentang di antara keduanya. Perlahan, Dewa mulai mengecup kening, mata, pipi, hidung, bibir, dan dagu sang istri dengan intens.


"Tersenyumlah Sayang. Dengan begitu, langit pasti akan kembali cerah!"


Mara terkekeh kecil. "Kamu berbicara apa Mas? Sebuah hal yang mustahil langit yang muram ini tiba-tiba berubah cerah hanya karena aku tersenyum."


"Apakah kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan Sayang?"


Mara menggeleng. "Tidak Mas, aku tidak percaya."


"Sekarang coba tersenyumlah! Kita saksikan, apakah langit akan kembali cerah atau tetap menghitam."


Seakan didorong oleh rasa ingin tahu tentang apa yang diucapkan oleh suaminya ini, Mara mulai tersenyum lebar. Gurat-gurat kesedihan dan lara hati yang sebelumnya menghiasi wajah cantiknya, kini berganti dengan binar-binar kebahagiaan.


Dewa tersenyum lebar. Ia kembali membalikkan tubuh Mara untuk memunggunginya. Lagi, Dewa mendekap erat tubuh sang istri dari belakang. "Lihatlah langit itu Sayang. Bukankah langit sudah kembali cerah? Mendung yang sebelumnya terlihat memuramkan bumi, kini sedikit demi sedikit mulai menghilang."


Mara menatap takjub dengan apa yang nampak di depan matanya ini. Bahwa benar apa yang dikatakan oleh sang suami. Awan mendung yang sebelumnya terlihat begitu pekat menghiasi langit, kini mulai terganti dengan kemunculan sinar mentari senja berwarna jingga yang terlihat begitu memanjakan mata.


"Mas... I-ini?"


Dewa menganggukkan kepalanya. "Tetap tersenyum Sayang, dengan begitu dunia pun akan turut berbahagia untukmu dengan. Dan apa yang kamu lihat di hamparan langit itu?"


Bibir Mara menganga lebar. Melihat sesuatu yang begitu cantik menghiasi langit sore ini. "Mas... Itu pelangi?"


"Ya, itu pelangi Sayang. Percayalah pelangi itu merupakan salah satu gambaran kehidupan yang kamu jalani. Setelah badai besar berhasil memporak-porandakan batin dan juga hidupmu, yakinlah bahwa hanya akan ada kebahagiaan di kehidupanmu selanjutnya."


.

__ADS_1


.


. bersambung....


__ADS_2